Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Sekarung Beras untuk Ibu

Sekarung Beras untuk Ibu

Guntur kerap dipandang sebelah mata oleh ibunya sendiri karena kondisi ekonominya yang sulit dibanding saudara lainnya. Bahkan, pemberian tulus berupa sekarung beras pun tetap diremehkan. Namun, saat masa tua tiba, hanya Guntur dan istrinya yang terbukti peduli sementara anak-anak kesayangan sang ibu justru berlepas tangan. Kini Guntur dihadapkan pada pilihan sulit, apakah ia sanggup merawat sang ibu dengan tulus meski selama ini selalu diperlakukan dengan sangat tidak adil?
Bab
Bagikan

Bab 2

Perih rasa hatiku bagai tersayat sembiluh. Beras dua kilo jika untukku dan keluarga bisa dimasak untuk makan dua hari, terkadang lebih. Tapi dengan mata kepalaku sendiri beras yang mungkin sangat berharga itu harus kandas dilahap ayam.

Gajiku bekerja di pabrik roti sebesar satu juta dua ratus ribu rupiah dan di bayarkan setiap satu minggu sekali, jadi aku menerima gaji sebesar 300 ribu per minggu, semua sudah ada post-nya masing-masing, 125 ribu aku sisihkan untuk bayar angsuran. Selebihnya untuk kebutuhan sehari-hari, seperti membeli beras, bayar listrik, air uang saku Ridho dan jika bersisa akan ditabung Dahlia untuk biaya tak terduga, tapi lebih sering kurang daripada lebih.

Aku mempunyai angsuran di bank milik pemerintah, yang aku gunakan untuk biaya wisuda Guruh waktu itu.

"Coba kamu ajukan pinjaman di bank, Tur. Ibu sudah gak ada uang untuk biaya wisuda Guruh."

"Pakai jaminan apa bu? Sertipikat rumah ini kan sudah digadaikan." jawabku waktu itu.

"Kan bisa pakai sertipikat rumahmu," ujar ibu sedikit memaksa.

"Tapi rumah itu milik Dahlia bu, Guntur gak ada hak atas rumah itu, karena rumah itu yang belikan bapaknya Dahlia," kilahku. Aku tidak enak jik harus menggadaikan sertipikat rumah yang kami tinggali, sudah bersyukur orang tua Dahlia memberi rumah untuk kami berteduh

"Kan cuma pinjam Tur, gak dijual! Apa susahnya?" Suara ibu mulai meninggi.

"Maaf Bu, bukannya masih ada uang asuransi bapak? Kan itu bisa digunakan untuk biaya wisuda Guruh, kalau pinjam bank, nanti siapa yang kaan bayar bu? Gaji Guntur kan hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari saja." Aku masih berusaha menolak agar ibu tidak memaksa mengajukan pinjaman.

"Gak usah kamu ungkit-ungkit yang bukan urusan ku Tur, uang asuransi bapakmu itu sepenuhnya untuk ibu, bukan untuk bayar kuliah, yg jdi tanggung jawab adikmu kan kamu, setelah bapakmu meninggal!"

"Mas ... Mas ..." Tepukan Dahlia dibahuku menyadarkanku dari lamunan.

"Iya dek, ada apa?" Aku terperanjat.

"Mas itu gang kerumah kita kelewatan lho, rumah kita kan harusnya belok kanan," ujar Dahlia, seketika aku pijak tuas rem untuk menghentikan laju kuda besiku yang sudah sepuluh tahun menemaniku dan Dahlia.

"Astaghfirullah," ucapku beristighfar.

"Kamu melamun Mas?" tanya Dahlia menelisik.

"Gak kok dek, tadi merhatikan mobil didepan kita jadi gak fokus," kilahku.

"Sama pak, Dodo juga lagi lihatin mobil yg didepan, bagus ya pak?"

"Iy Do, bagus," hatiku lega karena Ridho.

"Kapan ya pak kita bisa beli mobil?" sambung Ridho.

"Doain aja rezeki kita lancar ya," hiburku, aku tidak tahu kapan bisa membeli mobil, jangankan mobil, motor saja sudah dikatakan butut, namun belum mampu menggantinya dengan yang baru.

Motor ini aku beli second dengan cara menyicil, sejak aku dan Dahlia masih pacaran dulu. Sampai sekarang masih kami pakai, beruntung motor ini tidak banyak rewel, mesinnya juga masih bgaus, tetapi modelnya sudah ketinggalan jaman.

Segera kubelokan motorku kearah kanan dimana tempat kami tinggal. Rumah yang dibelikan bapak mertua terletak dipinggiran kota.

Sesampainya dirumah, Ridho langsung berlari kesamping rumah, entah yang anak itu lakukan.

"Kamu ngapain Do?" tanya istriku.

"Mau pipis bu, gak tahan."

"Owalah," suhutku sambil terkekeh. Dibelakang rumah ki memanga ada tempat untuk mencuci baju yang tidak menyatu dengan rumah.

Dahlia mengeluarkan kunci rumah, kemudian memasukan anak kunci pada gembok yang terpasang dipintu.

"Mas, Mas tadi melamun apa?" tanya Dahlia.

"Gak melamun dek," jawabku bohong.

"Ibu ya mas?" tebaknya, wanita yang telah membersamaiku selama delapan tahun selalu bisa menebak apa yang aku pikirkan.

"Gak kok dek," kilahku. "Oh iya tadi mas Rahmat ngundang untuk acara aqiqah minggu depan."

"Aqiqah-nya Ceril ya Mas?" tanya Dahli. Sambil mengeluarkan pucuk ubi yang dia petik dari belakang rumah ibu. katanya daripada gak ada yang metik. Padahal memang kami kekurangan bahan masakan. Dibelakang rumah juga aku dan Dahlia banyak menanam sayuran untuk penopang jika kebutuhan makan kehabisan uang.

"Iya, anaknya yang bontot."

"Kebetulan gajiku minggu depan cair mas, jadi bisa bawain ibu sekarung beras, pasti ibu sangat senang."

"Gaji kamu, kamu simpan aja dek, nanti mas biar minta lemburan sama haji Mansur, biar bisa belikan ibu sekarung beras."

Mata Dahlia berkaca-kaca, aku tahu, pasti dia tidak akan terima suaminya direndahkan seperti itu oleh ibunya sendiri, maka dari itu dia berusaha memberikan yang berbaik untukku dan ibu.

Walaupun perlakuan ibu terhadap Dahlia kadang semena-mena, tak serta merta wanita berusia 32 tahun itu membenci ibu, bahkan dirinyalah yang selalu membujukku untuk memaklumi sifat ibu. Katanga orang yang sudah tua itu terkadang sifatnya seperti anak kecil lagi.

---

Sudah tiga hari ini aku minta jatah lembur ke haji Mansur. Satu hari lembur dibayar 20 ribu, kalau satu minggu full lembur, aku bisa mendapatkan 140 ribu. Dengan uang itu aku bisa membawakan ibu beras 10 kilo saat acara aqiqah ditempat mas Rahmat.

Terkadang begitu harus aku paksakan membawa sesuatu ketika mampir ke rumah ibu, kalau tidak, sepanjang hari ibu akan menyindirku dan Dahlia.

Sabtu malam aku pulang dengan perasaan senang, walaupun hanya bisa membawa pulang uang kembur 100 ribu, karena jatah lembur kali ini hanya 5 hari.

Segera aku mampir di toko grosiran di depan gang masuk rumahku. Sengaja aku beli di toko grosiran agar bisa mendapatkan harga miring, walaupun hanya selisih dua ribu dari swalayan, lumayan bisa untuk membelikan Ridho jajan sisanya.

Sekarung beras berisi 10 kg sudah berada diatas motorku, sisa 5 ribu aku belikan ciki untuk Ridho dan 1 bungkus roti sisir kesukaan Dahlia.

"Assalamualaikum," ucapku ketika sudah sampai didepan pintu.

"Wa'alaikumsalam." jawab suara laki-laki kecil dari balik pintu.

"Ye ... Jajan," teriak Ridho melihat tanganku menenteng jajanan.

"Ibu mana?" tanyaku.

"Ada didalam pak." Ridho langsung duduk didepan TV sambil menyemil jajanan yang kuberi.

Di dapur, Dahlia tengah memasukan gula, kopi, mie bihun dan minyak untuk dibawa ke rumah mas Rahmat. Begitulah di desa tempat tinggal ibu, jika ada yang punya hajat, yang bantu masak atau rewang biasanya membawa sembako seikhlasnya.

"Eh mas, aku gak denger mas masuk," Dahlia sedikit terperanjat, kemudian meraih tanganku untuk dia cium.

"Alhamdulillah, mas udah beli beras untuk ibu, semoga ibu mau nerima ya dek," ucapku. Seraya menurunkan satu karung beras didekat Dahlia duduk.

Paginya kami sudah siap diatas motor, Ridho duduk ditengah, biasanya dia duduk didepan, karena didepan penuh dengan belanjaan, jadi dengan terpaksa dia duduk ditengah. Motor bututku melaju dengan pelan, karena beban diatasnya cukup berat.

Dirumah ibu ternyata sudah ada mbak Tika dan mas Rendi, sementara mobil Guruh belum kelihatan, mungkin dia masih dijalan.

"Bawa apa Tur?" Todong ibu saat aku baru saja turun dari motor.

Dengan senyum terkembang aku menurunkan sekarung beras dari atas motor, "ini bu, Guntur bawakan ibu sekarung beras," jawabku sumringah.

Ibu hanya melirik kearah benda yang kubawa, "tarok situ aja!" Ibu menunjuk sudut teras rumahnya. "Tika sudah bawakan ibu 20 kilo beras premium, makan beras merk itu bisa sakit gigi," ucapnya sambil berlalu masuk kedalam rumah.

Rasa sesak didada kembali menghimpit. Kuletakkan sekarung beras itu sesuai perintah ibu, kemudian aku melongok kedalam rumah untuk melihat mbak Tika, namun diruang tamu sungguh pemandangan yang membuat semakin sakit.

Disana ada dua karung beras premium dengan harga dua kali dari yang kubeli, disebalahnya berjejer makanan ringan, perlengkapan mandi, sembako dan masih banyak belanjaan lainnya yang tak mampu kubeli.

"Dek, langsung ke rumah mas Rahmat aja."

****

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta berlapis Dusta
9.3
Setelah terlahir kembali, sang protagonis bertekad mengubah nasib tragisnya. Di kehidupan pertama, tunangannya, Jayden Hanson, berselingkuh dengan Clarisse Smith hingga melumpuhkannya demi merebut posisi penari utama. Kali ini, ia memilih menikah dengan Simon Hanson. Namun, kecelakaan serupa terulang sebelum audisi penting. Meski Simon menjebloskan Clarisse ke penjara, lima tahun kemudian terungkap bahwa Simon dan putra mereka sebenarnya mencintai Clarisse. Ia pun memilih meninggalkan suami dan anaknya.
Sampul Novel Cinta di Tepi: Tetaplah Bersamaku
9.4
Demi melindungi wanita pilihannya, Regan terpaksa menikahi Ella dua tahun lalu. Di mata Regan, Ella adalah sosok licik yang menjeratnya dalam pernikahan, sehingga ia bersikap dingin dan mengabaikan pengabdian tulus Ella selama sedekade. Namun, saat Ella mulai lelah dan berniat menyerah, ketakutan melanda hati Regan. Ketika nyawa Ella terancam saat mengandung anaknya, barulah Regan tersadar bahwa cinta sejatinya selama ini hanyalah untuk sang istri.
Sampul Novel Gadis Pengantar Tidur
8.5
Richard tersenyum puas setelah berhasil menjual seorang wanita demi uang. Maria, wanita malang yang menjadi korban penipuannya, kini terjebak dalam situasi pelik di kamar dua kosong satu. Ia terpaksa mengemban peran sebagai gadis pengantar tidur bagi seorang pria bernama Mark. Di balik kemewahan yang ada, Mark ternyata menderita gangguan insomnia parah. Maria kini harus menghadapi takdir baru melayani pria tersebut akibat pengkhianatan Richard.
Sampul Novel Gulai Daun Singkong Untuk Mertua
7.8
Nek Syam mengalami kepedihan mendalam setelah diusir oleh Jannah, putri kandungnya, hanya karena menginginkan gulai daun singkong. Merasa terhina di rumah sendiri, ia memilih pergi dan berlindung di kediaman putra bungsunya, Ahmad. Mengetahui perlakuan buruk sang kakak terhadap ibu mereka, Ahmad pun naik pitam. Ia langsung bertindak tegas dengan membawa bukti kepemilikan tanah dan balik mengusir Jannah dari rumah tersebut sebagai pembalasan.
Sampul Novel Hari Ketika Aku Mati dan Bangkit Kembali
9.8
Nindi nyaris tewas akibat syok anafilaksis saat suaminya, Bram, justru mengabaikan nyawanya demi Clara. Tragedi memuncak ketika putra mereka, Leo, tewas tertabrak saat mencari bantuan. Namun, takdir berputar balik. Nindi terbangun di masa lalu sebelum petaka itu terjadi. Dengan ingatan tentang pengkhianatan Bram dan kematian Leo, ia bertekad melindungi sang putra. Kesempatan kedua ini menjadi ajang pembalasan bagi mereka yang menghancurkan hidupnya di masa depan.
Sampul Novel Kontrak Cinta - Love Contract
7.8
Demi melunasi utang dan membiayai pengobatan sang ayah, Mahesa rela menunda skripsinya untuk bekerja sebagai pelayan kelab malam. Di sana, ia bertemu wanita mabuk yang baru saja patah hati. Tak disangka, wanita itu tiba-tiba menawarkan pernikahan kontrak sebagai solusi finansial bagi Mahesa. Meski sempat ragu, Mahesa akhirnya menerima tawaran tersebut demi keluarganya. Kini, dimulailah kehidupan penuh sandiwara antara Mahesa dan istri barunya tersebut.