
Sekar
Bab 3
Berulang kali aku mengutak-atik layar ponsel dan mengintip pesan, masih belum ada tanda-tanda suamiku mengirimkan pesan untukku. Aku hampir saja gila, membayangkan bahwa suamiku sudah tidak cinta padaku lagi. Aku semakin sedih, dan tak nafus untuk makan bahkan tidur sekalipun.
Menunggu waktu hingga jam 7 malam itu terasa sangat lama, dan membuatku tak waras. Meleleh lah air mataku ini. Sudah ku tahan dari beberapa hari yang lalu, tapi sekarang sudah tak tertahankan. Aku menangis sejadi-jadinya di ruangan kantorku.
Pekerjaanku pun terbengkalai, lantaran aku terus saja memikirkan nasib suamiku yang tak kunjung memberikan kabar untukku. Apakah dia masih marah, atau ada marabahaya yang sedang ia hadapi.
Pukul 4 sore, yang biasanya aku masih enggan untuk pulang dan memilih untuk melayani customer ku dan menyiapkan segala jenis orderan dari pesanan transportasi online, kali ini aku memilih untuk pulang lebih awal.
“Lho Mba, kok kamu pulangnya cepet?” tanya Mama
“Iya tadi lagi banyak pelanggan, Alhamdulillah, jadinya sudah sold out,” jawabku berbohong kepada mama
“Terus itu mata kamu sembab, kenapa? Kamu habis berantem sama Martin?” tanya Mama
AKu tidak berani mengatakan mengenai masalah rumah tanggaku kepada orang tuaku, aku takut akan menjadi pikiran bagi mereka. Terlebih dari awal, mama sudah mengingatkan aku bahwa Martin bukanlah pria yang baik.
“Nggak tadi kelilipan aja, terus aku kucek-kucek gitu mata aku, jadinya nangis deh, perih banget soalnya,” jawabku berbohong lagi pada mama.
“Hmmm … yaudah, kalau ada masalah, kamu cerita aja sama mama, siapa tahu dengan kamu cerita sama mama, bisa mengurangi beban kamu,” bujuk Mama
“Iya Ma, udah ya aku mau mandi dulu, gerah banget abis dari jalanan yang berdebu,” kilahku.
Aku yakin, sebenarnya mama pasti penasaran, apa yang sebenarnya terjadi padaku.
Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam, tandanya, Pak Anton sudah bisa aku hubungi dan aku juga sudah bisa menanyakan perihal hasil terawangannya.
“Assalammu’alaikum,” sapaku melaui sambungan telfon
“Wa’alaikum salam, gimana Mbak Sekar?” tanya Pak Anton
“Ya nih pak,saya jadi nggak mood ngapa-ngapain, perasaannya jadi gelisah begitu,” ungkapku.
“Sebenarnya Mas Martin masih sayang kok sama Mbak Sekar, hanya saja, Mas Martin ini terlalu bnak di pengaruhi oleh keputusan ibunya istilahnya Ibunya terlalu banyak ikut campur gitu lah, Mbak sekar,” papar Mas Anton
“Terus kenapa dia masih belum mau telfon atau sekedar kirim pesan teks, apakah dia masih marah sama aku? Soalnya nomor ponselnya masih belum aktif!” ucapku sambil menahan tangis
“Oh kalau itu, Mas Martin sedang ada tugas di pelosok sih Mbak Sekar, kalau yang saya lihat ya. Jadi ini asli karena pekerjaan, bukan karena Mas Martin marah besar sekali sama Mbak Sekar. Mbak Sekar sabar saja nunggu kabar dari Mas Martin,” usul Pak Anton
Mendengar hasil terawangan Pak Anton setidaknya membuat hatiku menjadi lega sedikit. Setidaknya aku masih bisa tidur, untuk malam ini. AKu mengucapkan terima kasih kepada Pak Anton, yang sudah membantuku.
“Terima kasih banyak ya Pak Anton, udah bantuin nerawangi,” ucapku
“Iya Mbak, sama-sama. Oiya Mbak, sebelumnya saya nggak bisa lama-lama telefon sama mbaknya,” tutur Pak Anton
“Lho memangnya kenapa,Pak?” tanyaku
“Ini lagi mau bantuin istri saya, beresin rumah, kemarin waktu mbak coba hubungi saya kan nggak bisa toh, itu karena rumah saya sedang mengalami musibah kebanjiran,” tutur Pak Anton
“Ya Allah Pak, coba kirim nomor rekening bapak melalui pesan tertulis ya pak,” pintaku
“Iya Mbak sekar, terima kasih.”
Pembicaraanku dengan Pak Anton hanya berlangsung hingga 2 jam lamanya, dna ini rekor tercepat aku menghubungi Pak Anton. Biasanya kalau aku menghubungi Pak Anton, bisa sampai 5 jam lamanya.
Tapi kali ini aku tidak bisa berlama-lama. Aku juga harus memikirkan nasibnya yang tertimpa musibah. Aku sudah biasa memberikan uang kepada Pak Anton dengan mengirimkan uang dengan jumlah tertentu.
Bagiku itu tidak masalah dengan mengirimkan sejumlah uang kepada Pak Anton, sebab ia selalu membantuku dalam menerawang segala permasalahan yang sedang aku hadapi.
Kali ini aku mentransfer uang sejumlah 5 juta. Dan buatku degan mentransfer uang dengan jumlah itu, seperti sedang beramal saja. Aku hanya berharap agar usahaku lancer dan selalu banyak pembelinya.
Tak hanya sekali ini saja aku memberikan uang kepada Pak Anton, sejak aku mengenal Pak Anton, sudah 5x aku memberikan uang dengan jumlah yang tak sedikit. Terkadang dia yang meminta, dan terkadang juga aku yang sengaja memberikannya.
Kali ini Pak Anton dengan sedikit malu-malu meminta padaku uang dengan jumlah yang tak sedikit, yakni 5 juta. Alasannya adalah karena, untuk membayar uang sekolah anaknya yang ingin masuk sekolah Lanjutan Tingkat Pertama, dan membantunya dalam mengatasi musibah kebanjiran.
Usai mengirimkan uang kepada Pak Anton, aku memutuskan untuk keluar kamar, untuk makan malam. KU buka pintu kamarku, ternyata masih ada mama yang sedang asyik menonton tivi bersama dengan adik bungsuku.
“Eh mama, kirain udah tidur,” sapa ku
“Belum nih, masih ingin menonton,” jawab mama singkat
“Mama masak apa?” tanyaku
“Itu masak balado ati ampela sama tumis taoge,”jawab Mama
“Yaudah aku mau makan ah,” ucapku sambil melangkahkan kaki meuju ruang makan.
“Kamu kenapa sama Martin?” tanya Mama
“Nggak kenapa-napa kok,”jawabku dnegan santai
“Sekilas tadi mama dengar, kamu lagi tanya sama siapa tuh soal Martin?” tanya Mama.
“Oh itu, Pak Anton,” jawabku santai
“Pak Anton siapa?”
“Pak Anton yang dikenalin sama Bi’Inah, yang katanya bisa nerawang gitu lho Ma,” jawabku sambil mengunyah makanan.
“Kamu tuh lho ngapain sih nanya-nanya begitu, udah yakin saja sama takdir dari Gusti Allah. Toh kalo memang tidak berjodoh dengan Martin, masih ada banyak cowok lain yang satu agama juga, nggak usah takut lah!” Mama menasihatiku dengan logat jawanya yang kental.
Aku tidak bisa membalas perkataan mama karena, Martin adalah pilihanku sendiri, aku yang memaksa agar terjadinya pernikahan ini, serta aku juga yang memaksa kedua orangtua ku untuk menerima Martin sebagai Menantunya.
“Tapi … kayaknya kamu sudah jatuh cinta dengan Martin, yam au nggak mau, kamu harus menerima sifat dan sikapnya. Tapi jangan serta merta menerima dengan mentah-mentah ya Nduk. Kalau dia ada berbuat kasar sama kamu, kamu harus bisa melawannya, jangan mau kamu diinjak harga diri sebagai seorang istri.” Mama melanjutkan nasihatnya
“Sudah jangan terlalu di pikirkan, lebih baik kamu berdoa pada Tuhan, minta semoga rumah tanggamu selalu di berkahi dan di lindungi.”
“Iya …” jawabku seadanya.
“Oiya, memangnya kamu nggak apa-apa, kalau kamu tinggal di sini lagi? Bukannya Martin menginginkan kamu tinggal bersama mereka? Nanti kamu tinggal di sini malah jadi masalah,” ucap Mama
“Nggak kok ma, aku sudah minta izin sama Martin untuk tinggal di sini, aku di sana kurang cocok dengan masakannya.” Lagi-lagi aku berbohong pada Mama mengenai kepindahanku.
Aku hanya tak ingin membebani pikiran mama, jika aku mengatakan yang sejujurnya kalau aku tidak betah tinggal di sana, lantaran omonngan pedas dari mertua dan iparku.
Anda Mungkin Juga Suka





