Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Segitiga Penguasa - Sudut Pertama

Segitiga Penguasa - Sudut Pertama

Pasca tragedi memilukan, seorang pria terpaksa mengungsi ke desa asal demi melindungi keluarganya dan bayi titipan sahabatnya dari kejaran prajurit. Namun, empat tahun berselang, maut menjemputnya di hadapan sang istri yang baru melahirkan. Dua puluh tahun kemudian, Marcapada yang tumbuh tanpa ibu harus berjuang bersama Soma, seorang pemuda yatim piatu. Mereka bersaing dengan puluhan pemuda lainnya dalam kompetisi sengit demi meraih gelar Penjaga.
Bab
Bagikan

Bab 2

Sebuah cangkir perak tergenggam erat di tangan seorang lelaki berpakaian perang lengkap. Riak air dalam cangkir itu terlihat bergerak cepat, tak teratur. Ada sebongkah amarah yang kapan saja siap meledak.

“Bagaimana bisa kedua cecunguk itu kabur?” tukas lelaki itu, galak.

“Sa—saya tidak tahu. Maafkan saya, Tuan.” Sambil berlutut, seorang prajurit yang sudah kepayahan dengan sederet luka di sekujur tubuhnya berkata dengan suara bergetar. Keringat dingin bercucuran. Batinnya jelas tengah dilanda ketakutan.

Lelaki itu mengeram. Kedua matanya membelalak. “Dasar bodoh!”

Bentakan itu tepat menghunjam ke sasaran. Prajurit itu semakin ketakutan. Buliran keringat kali ini meluncur deras, jatuh bebas ke tanah.

“Hanya membunuh kedua pengkhianat saja kalian tak sanggup! Kalian semua sungguh memalukan!” cangkir perak itu akhirnya diremas kuat-kuat. Isinya berhamburan keluar. Dan dalam sekejap, cangkir perak itu penyok, tak lagi berbentuk.

Dua utas tali berwarna merah menyala di atas meja tiba-tiba bergerak cepat. Melesat ke arah seorang prajurit yang masih berlutut ketakutan. Mulut prajurit itu menganga dengan sendirinya. Dan dengan kecepatan yang luar biasa, kedua utas tali itu masuk ke dalam rongga mulut dengan leluasa. Sebuah erangan keras terdengar. Darah segar menyembur keluar.

Hanya dalam hitungan detik, kedua tali itu keluar kembali, bersamaan dengan semburan darah yang mulai terhenti. Tubuh prajurit itu melunglai bagai daun layu. Dan sesaat kemudian, ia tergeletak pasrah, tak lagi bernyawa.

Beberapa lelaki yang menyaksikan kejadian itu tertawa terbahak-bahak. Menikmati pembantaian layaknya sebuah pertunjukan.

Dari arah pintu, seorang prajurit lainnya bergegas masuk ke dalam ruangan semi permanen berbahan dasar bambu. Kedua bola matanya langsung membelalak ketika ia dapati tubuh temannya telah terbujur lesu tak bernyawa. Darah berceceran di mana-mana. Getir, ia pun menandaskan ludahnya.

“Ada berita apa?” lelaki berpakaian perang lengkap itu bertanya.

Prajurit itu tersadar dari lamunan. Cepat-cepat ia memalingkan wajahnya, menghadap ke arah Tuannya. “Agni telah ditemukan, Tuan. Dia telah berhasil dibunuh."

“Bagaimana dengan Yama?”

Prajurit itu tak langsung menjawab. Ada jeda panjang yang kembali memicu amarah.

“Jawab!”

“Ma—maafkan saya, Tuan. Yama masih belum bisa kami temukan, tetapi kami masih terus berusaha untuk mencari. Seluruh prajurit saat ini sedang melakukan pencarian di setiap wilayah desa.”

“Cepat temukan dia! Aku tak mau ada yang tersisa. Jika sampai matahari terbit dan masih tak kudengar kabar kematian Yama, maka kau akan bernasib sama dengan temanmu itu.”

Ancaman itu meneror telak. Tubuh prajurit itu seketika basah kuyup terguyur peluh. Rasa takut yang teramat besar kini melahap satu per satu degup jantungnya. Menciutkan nyalinya.

"Tunggu apa lagi, Bodoh!" hardik lelaki itu.

"Ma—maafkan saya, Tuan. Saya pamit."

Malam semakin gelap di luar sana. Namun tak sedetik pun penglihatannya terlepas dari jendela rumahnya. Tak ada bulan, bintang, atau penghias langit lainnya. Hanya mendung yang terus menghiasi, dan sesekali cahaya kilat menampakkan diri.

Seketika, seorang perempuan yang tengah menunggu kepulangan suaminya terkesiap dengan sesuatu yang mengusik penglihatannya. Dibukanya cepat pintu kayu bermotif ukiran bunga itu.

“Kenapa kau baru pulang? Bukankah kau bilang, kalau di pagi hari kau sudah akan sampai di rumah? Kenapa?” pertanyaan perempuan itu menggantung di udara. Kedua bola matanya membundar lebar. Ada kejanggalan mengerikan yang tak sengaja ia temukan. “Kenapa pakaianmu berlumuran darah?”

Seorang lelaki yang baru saja menapakkan kaki di lantai rumahnya hanya bisa terdiam ketika menerima sepaket pertanyaan. Mulutnya terasa kelu untuk mengucap kata. Ia terlalu enggan untuk bersuara. Nanar, lelaki itu hanya menatap lirih ke arah istrinya. Dibukanya segera kain penutup berwarna biru tua yang menutupi barang bawaannya.

Setelah melonggokkan kepala, sontak sang istri terperanjat ketika mendapati barang bawaan suaminya adalah seorang bayi yang masih berwarna merah muda. Tanpa tersadar, kedua kakinya pun bergerak mundur beberapa langkah ke belakang. “Ba—bayi siapa itu?” tanya sang istri, terbata.

Tak menghiraukan semua pertanyaan yang deras menghujaninya, lelaki itu segera beringsut pergi dari hadapan istrinya. Masuk ke dalam rumah.

“Apa yang sudah terjadi?” tanya sang istri kembali, sembari mengikuti langkah kaki suaminya.

“Semua tidak berjalan dengan semestinya. Kami telah dikhianati. Kami telah diperdaya dan diperalat.”

“Oleh siapa?”

“Empat Jenderal busuk, dan seluruh sekutunya.”

Kali ini sang istri terlonjak kaget, langkah kakinya sekejap terhenti. Baru semalam ia bermimpi menyambut kedatangan suaminya dengan barisan makanan kesukaan dan sepaket hangat topik pembicaraan menyenangkan. Ia akan bertutur tiada henti, membicarakan perkembangan buah hati yang amat mereka cintai. Mimpi itu begitu indah, sampai-sampai ia tak ingin bangun dari tidurnya. Tetapi di hari ini semuanya berbanding terbalik. Ia benar-benar mendapat kejutan yang sama sekali tidak menyenangkan.

“Kita harus bergegas.”

“Ke mana?”

Lelaki itu tampak berpikir keras. “Kembali ke tempat asalku. Cepat, bangunkan anak kita.”

Desa Jamahitpa, dua puluh tahun lalu ….

Kedua mata perempuan itu tak beranjak dari sesosok bayi cantik yang baru beberapa hari dilahirkannya. Ia usap lembut rambut anaknya. Ia cium kening dan pipi malaikat kecilnya. Ada perasaan bahagia yang terpancar jelas di wajahnya.

“Putri kita sangat mirip denganmu,” seorang lelaki yang tengah berdiri di daun pintu berkata. Sudah sedari tadi ia berada dalam posisi yang sama, hanya mengamati. Tak lama ia pun memberanikan diri mendekati anak dan istrinya, yang tengah bergumul mesra dengan hangatnya mentari pagi di teras depan rumah mereka.

Perempuan itu termangu, memilih tak menanggapi perkataan suaminya. Suasana hatinya secepat kilat berubah. Amarah membuncah, dan kekesalan membeludak. Dari sekian banyaknya manusia di muka bumi, kehadiran sesosok lelaki yang kini telah berada di dekatnya adalah hal yang paling tak diinginkannya.

Sadar dengan situasi yang tak berpihak, lelaki itu menghela napas. “Maafkan aku,” ucapnya pelan. Terdengar penuh penyesalan.

Perempuan itu tetap dalam ekspresi yang sama. Terdiam membisu di tempatnya.

Merasa harus bertindak lebih jauh, lelaki itu memilih untuk berlutut di hadapan istrinya. “Aku sadar betul, aku telah berbuat salah kepadamu,” katanya. “Sudah hampir sembilan bulan lebih kau menaruh rasa benci terhadapku. Tak pernah sekalipun bibirmu mengucapkan kata kepadaku. Apa tak ada secelah saja pintu maafmu terbuka untukku?”

Keheningan masih setia menggantung di bibir mungil perempuan itu. Rasa benci memang masih tertanam kuat di hatinya. Entah sampai kapan rasa benci itu menetap, ia masih tak tahu.

Sudah sembilan bulan lamanya lelaki di hadapannya mengurus dirinya dengan kasih sayang yang luar biasa, namun ia tak pernah meminta. Jika bukan karena lelaki itu menghamili paksa dirinya, sudah pasti tak mungkin ia mau tinggal bersama.

“Tolong. Beritahu aku. Beritahu aku bagaimana cara menebus dosaku,” kata lelaki itu, lirih. Kepalanya tertunduk lesu. “Aku tahu kau tak pernah mencintaiku. Bahkan, kau mungkin sangat membenciku. Tapi asalkan kau tahu, aku sangat menyayangimu. Begitu menyayangimu. Aku bahkan siap mati demi—”

Perempuan itu membelalakkan mata, memekik histeris. Semburan darah dari mulut suaminya menodai sebagian wajahnya.

Seorang pria separuh baya yang mendengar langsung suara jeritan itu bergegas mencari sumber suara. Sontak, ia ikut membelalakkan mata. Di ujung penglihatan, ia dapati sebuah anak panah menembus punggung menantunya.

Bersimbah darah, tubuh lelaki malang itu terkulai ke arah depan. Terlihat seolah tengah memeluk istri dan anaknya.

“Siapa yang melakukan ini?” pria itu berseru. Ia lalu beringsut cepat mendekat ke arah tubuh menantunya. Sorot matanya memindai sebuah anak panah yang serasa tak asing di ingatannya. “Ini … anak panah ini ….” tangan pria itu terjulur, meraih secarik kertas yang menempel di anak panah yang telah berlumuran darah. Dibukanya hati-hati kertas itu. “Biadab!” makinya. “Kita harus berlindung segera,” pria itu berseru kalap kepada anak perempuannya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Balas dendam
9.2
Dahulu Jenni hanyalah wanita lemah yang menjadi korban perundungan serta dikhianati oleh kekasih dan sahabatnya sendiri. Kini, ia telah bertransformasi menjadi sosok yang tangguh dan tak tergoyahkan. Didorong dukungan penuh sahabat setianya, Jenni bertekad membuktikan kekuatannya melalui rencana balas dendam yang matang. Sambil mencoret foto para pengkhianat, ia bersumpah akan membuat mereka merasakan penderitaan yang sama. Simaklah perjalanan Jenni menuntut keadilan.
Sampul Novel DI ATAS RANJANG MAFIA
9.7
Michele Lazzaro Riciteli adalah pemimpin mafia Roma yang kejam dan memiliki kondisi medis langka. Dirinya kebal terhadap rasa sakit fisik, namun ia juga tidak mampu merasakan kepuasan seksual. Hidupnya berubah drastis setelah terlibat cinta satu malam dengan Meghan Crafson, wanita yang secara ajaib bisa menyembuhkan disfungsinya. Demi mempertahankan sensasi yang selama ini hilang, Michele nekat memerintahkan penculikan Meghan. Apa rahasia di balik identitas Meghan sebenarnya?
Sampul Novel Dipaksa Menikahi Mafia Kejam
9.1
Niat tulus Grazella Elnara Wesley menolong pria asing justru menyeretnya ke dalam neraka. Gabriel Leonard Mattew, pemimpin mafia kejam asal Italia, terobsesi menjadikannya istri karena kemiripan fisik dengan masa lalunya. Meski dipaksa menikah, mahasiswi psikologi ini tetap teguh menjaga hatinya dari dominasi sang mafia. Di tengah perjuangan menyembuhkan adiknya, Grazella harus bertahan menghadapi kekejaman Leon yang menganggap dirinya tuhan.
Sampul Novel Gadis Rahasia Kapten
8.7
Kapten Anatoly tak pernah menduga bahwa cinta pertamanya adalah Helen, turis Jerman yang ia sembunyikan di rumahnya saat Rusia menyatakan perang. Di tengah ketegangan konflik, hati sang kapten yang dingin perlahan mencair. Namun, kebahagiaan itu hancur saat identitas asli Helen terungkap sebagai putri dari musuh negaranya. Kini, Anatoly terjepit dalam dilema besar antara kesetiaan pada negara atau menyelamatkan wanita yang ia cintai. Pilihan manakah yang akan ia ambil?
Sampul Novel Istri Mafia, Tak Pantas untuk Pewaris
9.7
Suamiku, Wakil Bos Mafia, mencampakkanku karena aku divonis mandul. Ia membawa ibu pengganti ke rumah dan memperlakukannya bak kekasih, mengkhianati janji suci kami. Puncaknya, ia membiarkanku terluka parah demi melindungi wanita itu. Di dunia kelam ini, seorang istri mustahil bercerai secara normal. Maka, aku merancang skenario kematianku sendiri untuk menghancurkan hidupnya, membiarkannya membusuk di atas puing-puing kejayaan yang ia bangun.
Sampul Novel LOVE BETWEEN TWO BELIEFS
9.3
Stenly Sebastian Miller hancur saat Kimberly memutuskan hubungan dua tahun mereka akibat isu kebangkrutan. Bertekad bangkit, Stenly bersumpah mencari pengganti yang lebih baik. Di tengah luka, ia menyelamatkan Seruni dari serangan Dante yang obsesif. Meski berakhir babak belur demi melindungi Seruni, insiden ini justru memicu ketertarikan Stenly padanya. Kini ia harus memilih: terus meratapi masa lalu atau memulai lembaran baru yang bahagia bersama Seruni.