
Secret Affair With Hot Captain
Bab 2
“Kyra, overtime.”
Kyra mendongak ke arah pintu yang setengah terbuka. Sang atasan masih berdiri di balik pintu menunggu jawabannya.
“Tapi, Pak..”
Sang atasan melambaikan tangannya, “Overtime!” kemudian menghilang dari pandangan bawahannya itu.
Kyra hanya bisa menghela napasnya dan menatap kembali layar komputer di hadapannya. Apa yang bisa ia lakukan, sang atasan tak akan pernah memberikan kesempatan untuknya berpikir bahkan menjawab sekalipun.
Menjadi seorang wakil manajer di salah satu bank milik pemerintah Indonesia yang berada di Singapura, membuat Kyra sering telat pulang ke rumah. Jika orang lain berpikiran bekerja di bank adalah pekerjaan yang enak, bekerja di ruangan dingin terlebih lagi seorang wakil manajer yang hanya duduk di depan layar komputer saja. Padahal nyatanya, hampir setiap hari Kyra harus lembur karena harus menghitung pemasukan dan pengeluaran dengan sangat teliti. Kurang satu angka saja semuanya akan kacau.
Baru saja Kyra akan masuk ke pantry, sang atasan keluar dengan membawa dua gelas di tangannya. Diberikannya segelas di tangan kanan sang bos yang berisi kopi yang baru saja diseduh kepada Kyra.
“Sampai jam berapa?”
“Cuma dua jam.”
Sang bos baru saja ingin meninggalkan Kyra namun kembali menoleh, “Hanya pekerjaan tambahan. Saya kirim ke email kamu. Datanya tidak ada yang cocok dengan data yang masuk tadi siang. Besok pagi sudah harus dikirim ke kantor pusat di Indonesia.”
“Ya.”
Kyra menjawab dengan lemas dan kembali ke ruangannya dengan membawa segelas kopi dari sang bos. Berharap kopi yang diberikan oleh bosnya bisa memberikan sedikit semangat untuk Kyra mengerjakan pekerjaannya.
Dilihatnya email yang baru saja ia dapat dari sang bos. Kepalanya mendadak pusing dan napasnya terasa sesak sesaat. Kumpulan angka dengan banyak angka nol di Microsoft Excel-nya lah yang membuat ia mendadak pusing.
“Ini harus dimulai dari yang mana dulu aduh pusing.”
Kyra pun memasang alarm di ponselnya. Selesai ataupun tidak selesai, ia akan berhenti mengerjakan tugasnya ketika alarm di ponselnya berbunyi. Ya, dua jam lagi.
Kyra pun mulai mengerjakan dan meneliti data yang masuk dari awal hingga akhir. Sesekali ia akan meminum kopinya yang sudah tak lagi panas dan terus melanjutkan pekerjaannya. Tak terasa hampir dua jam ia menyelesaikan dan menemukan data apa yang membuat hasil keduanya tidak cocok. Ia pun langsung mengirimkan kembali tugasnya ke sang bos.
Kyra melirik ke arah ruangan sang bos yang umurnya hanya terpaut dua tahun lebih tua dibanding dirinya itu. Sang bos memberikan jempol ke arahnya dan kemudian fokus pada pekerjaannya lagi. Sedangkan Kyra langsung mematikan komputernya dan membereskan semua barang-barang miliknya.
“Kyra tunggu sebentar.”
Kyra melihat sang bos mendekat ke arahnya yang baru saja akan turun ke lantai bawah. Sang bos bergegas mendekati Kyra dan berjalan turun bersama Kyra.
“Free malam ini?”
Kyra menghela napas, “Jangan ganggu saya Pak. Saya capek sekarang dan butuh istirahat. Lagian sekarang udah hampir jam sembilan,” keluh Kyra.
“Buat kamu.”
Sang bos memberikan free pass masuk ke salah satu night club di hotel bintang lima. Kyra yang kaget pun langsung menarik kartu tersebut dari sang bos.
“Buat saya pak?”
“Oh my bad, saya kasih pinjam kamu buat hari ini saja soalnya kamu sudah bantu saya.”
“Bapak bilang buat saya.”
“Kan saya bilang tadi kalau saya salah ngomong,” protes bosnya.
“Dih tapi oke. Terima kasih ya, Pak.”
“Ya.”
Keduanya sudah sampai di parkiran dan akan masuk ke dalam mobil masing-masing. Namun lagi-lagi sang bos menghentikan langkah Kyra.
“Mau ke sana kamu malam ini?”
“Tentu. Bapak bilang kan mau kasih pinjam hari ini.”
“Kamu bilang tadi hari ini butuh istirahat?”
“Ya capek sih tapi ga masalah. Kenapa sih, Pak?”
“Nothing. Have fun, Kyra. Jangan lupa besok kembalikan ke saya. Jangan terlalu mabuk kamu.”
Kyra membalas ucapan sang bos hanya dengan senyuman lalu segera masuk ke dalam mobilnya, setelah melihat mobil sang bos menjauh dari area parkir,
Kyra langsung melajukan mobilnya ke arah Marina Bay Sands. Siapa yang tidak tahu hotel bintang lima yang terkenal dengan ikon perahu di atas hotel tersebut. Para turis yang datang ke Singapura pasti akan menghampiri Marina Bay Sands hanya untuk sekadar berfoto atau melihat salah satu ikon negara tersebut.
Kelab di Hotel Marina termasuk kelab malam yang terbuka untuk umum, namun mereka lebih mendahulukan para pemegang free pass untuk bisa masuk. Terkadang ia cukup takjub dengan sang bos, bagaimana ia bisa survive hidup mewah di Singapura.
Tak ingin ambil pusing dengan pikirannya, ia pun langsung masuk ke dalam kelab. Kelab malam itu cukup sepi pengunjung mengingat hari ini adalah selasa malam. Namun tidak bisa disebut sepi juga, karena kelab di hotel tersebut sangat luas, dan jika pengunjung malam itu dikumpulkan di kelab biasa, maka jumlah pengunjung kelab ini bisa memenuhi ruangan di kelab hotel lain.
“Classic Margarita.”
Sang bartender pun langsung tersenyum dan membuatkan pesanan yang sudah dipesan oleh Kyra. Kyra yang bosan hanya memperhatikan sang bartender yang sedang membuatkan minuman yang ia pesan.
Sembari menunggu pesanannya selesai dibuatkan, Kyra membuka kontak di ponselnya. Ia butuh seseorang yang menemaninya. Dan entah apa yang ia pikirkan, jarinya terhenti di kontak sang bos.
“The hell!” kaget Kyra.
Kyra langsung mematikan panggilan telpon yang baru saja ia tekan. Ia panik ketika sang bos mengangkat panggilan telpon darinya. Bodohnya Kyra, bisa-bisanya ia menghubungi sang bos. Apa yang harus ia katakan nantinya karena sang bos pasti akan balik menghubunginya.
Dan benar saja apa yang Kyra pikirkan, sang bos sudah kembali menghubunginya saat ini. Mau tak mau Kyra mengangkat panggilan telpon tersebut.
“What happened?”
“Salah telpon,” jawab Kyra singkat.
“Memang kamu mau nelpon siapa? Kesepian kamu?”
“Mau telpon Jason. Sudah ya Pak saya matikan telponnya.”
“Bentar—kamu ngapain mau telpon Jason? Mau minta temenin Jason? Biar saya saja yang ke sana sekarang!”
Panik. Kyra langsung mencari alasan apa yang cocok untuk membalas ucapan sang bos. Jangan sampai bosnya itu datang menghampirinya saat ini.
“Tidak, Pak. Tidak perlu. Temen saya bakal datang kok. Tadi telpon Jason mau ada perlu yang lain.”
“Benar kamu ada teman di sana? Laki atau perempuan?”
“Bapak banyak tanya deh. Sudah ya.”
Kyra pun langsung mematikan panggilan telponnya. Ia pun kembali memperhatikan sang bartender yang belum juga selesai membuatkan pesanan miliknya.
“Classic Margarita, please”
Sang bartender tersenyum dan menyodorkan segelas cocktail yang baru saja selesai ia buat ke arah Kyra. Kyra meraihnya dengan penuh sumringah. Pesanan yang sudah ia tunggu sedari tadi.
“You guys ordered the same drink.”
Kyra pun menoleh ke arah seseorang yang baru saja datang dan mengambil tempat duduk di sampingnya. Seorang pria dengan kemeja putih yang digulung hingga ke lengannya, dipadukan dengan jeans pendek berwarna coklat susu. Tak lupa leather clutch bag hitam yang baru saja pria itu letakkan di atas meja. Outfit yang cukup simple dan sudah pasti ia adalah salah satu pengunjung hotel.
Tapi tunggu sebentar. Kyra merasa mengenal seseorang yang tengah duduk di sampingnya. Seseorang yang tampak sangat tidak asing di mata Kyra.
“Gilang? Gilang Mahendra?”
Pria yang duduk di sampingnya fokus ke arah cocktail milik Kyra. Ia menoleh ke arah Kyra ketika Kyra menyebut nama pria tersebut. Memandangnya dengan tatapan bingung. Seolah tahu apa yang dipikirkan oleh pria yang duduk di sampingnya, Kyra kembali membuka suara.
“Aku Kyra, tetangga kamu. Kamu anak Bu Jani kan? Aku anaknya Tante Ranti. Temen TK kamu dulu.”
***
Anda Mungkin Juga Suka





