Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Secret Affair With Hot Captain

Secret Affair With Hot Captain

Gilang, seorang pelaut yang kerap singgah di pelukan banyak wanita, mendadak bimbang saat kapalnya bersandar di kota Kyra Pandhita. Kyra adalah teman masa kecil sekaligus cinta pertamanya yang sangat realistis dan takut berkomitmen. Meski perasaan lama bersemi kembali, tembok besar menghalangi karena Gilang telah memiliki kekasih bernama Joysella. Di tengah desakan Joysella untuk segera menikah, Gilang terjebak dilema antara kesetiaan atau mengejar cinta sejatinya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Bising dengan candaan para seniornya, Gilang pun segera turun ke bawah. Niatnya ia ingin segera mencari seorang gadis yang bisa ia ajak bicara. Namun sepertinya stok para gadis muda di kelab malam ini sudah habis karna dipesan untuk yang open table.

Gilang pun berjalan menuju meja bar. Dilihatnya dari kejauhan seorang gadis berpakaian formal namun cukup berantakan sedang duduk sendirian. Tubuh ramping gadis itu terlihat menarik walau dari belakang.

“Classic Margarita, please.”

Gilang pun mengambil posisi duduk tepat di samping gadis dengan pakaian formal atasan blouse berwarna biru muda dan rok putih selutut. Anak rambutnya yang terlepas dari ikatan rambut menambah kesan semakin menarik yang Gilang lihat dari posisi samping.

“You guys ordered the same drink,” ucap sang bartender sambil tersenyum.

Gilang melihat cocktail yang baru saja diberikan ke arah gadis di sampingnya itu. Gadis itu pun menoleh ke arah Gilang sebentar lalu fokus kembali pada cocktail miliknya.

Tunggu sebentar, Gilang merasa tak asing dengan gadis di sampingnya. Namun ia tidak tahu pernah bertemu di mana. Atau gadis ini salah satu gadis yang pernah ia sewa atau gadis yang pernah bertemu dengannya di kelab malam lain.

“Gilang? Gilang Mahendra?’

Gadis di sampingnya kembali menoleh dan mengucapkan namanya. Nama Gilang. Tidak, bukan hanya nama panggilan tapi nama lengkap Gilang. Tak banyak orang di Singapura yang tahu nama lengkapnya.

“Aku Kyra, tetangga kamu. Kamu anak Bu Jani kan? Aku anaknya Tante Ranti. Temen TK kamu dulu.”

Gilang dibuat kaget dengan pertanyaan gadis di sampingnya. Benar, Gilang memang anak Bu Jani—Anjani lebih tepatnya. Dan itu adalah nama ibunya.

Dan tunggu sebentar. Kyra? Kyra anak Tante Ranti? Kyra temen TKnya dahulu? Tunggu sebentar, Gilang benar-benar tidak ingat siapa gadis di sampingnya ini.

“Kyra. Yaampun jangan bilang kalo kamu beneran lupa? Aku itu tetangga kamu.”

“Kyra?”

“Ya Tuhan kamu beneran ga inget, Lang? Anaknya Tante Ranti. Om Dion deh. Kalo kamu ga inget juga udahlah,” ucap Kyra pasrah.

“Kyra Pandhita?”

Gadis yang mengaku namanya adalah Kyra itupun mengangguk semangat. Tak salah lagi, gadis itu Kyra Pandhita, temannya sewaktu di taman kanak-kanak dahulu. Tetangga yang hanya beda tiga rumah dengannya.

Ya Tuhan maafin Gilang ya Kyra. Dirinya sampe mikir bahwa Kyra adalah salah satu gadis yang pernah ia sewa. Gilang tidak pernah terpikirkan bisa bertemu teman di Singapura soalnya.

“Yaampun Kei! Sumpah saya kaget banget loh. Saya lupa nama lengkap kamu siapa, makanya pas kamu bilang Kyra, saya harus mikir dulu. Maaf ya?”

Kyra tertawa kecil mendengarnya, memang benar di kampung halamannya, Kyra biasa dipanggil Kei karena untuk memudahkan orang-orang ketika memanggil namanya.

“Aku seneng sih akhirnya kamu inget juga. Tadinya aku pikir bakal salah orang, atau yang paling memalukan sih cuma aku doang yang inget haha,” canda Kyra.

Keduanya saling tertawa satu sama lain. Sang bartender pun datang kembali dan membawakan pesanan milik Gilang.

“So, you two know each other?” tanya sang bartender ramah.

“Yash! He’s my childhood friend,” jawab Kyra dengan senyuman manisnya.

“Glad to hear that. Have fun you two!”

“Thanks!”

Kyra tak henti tersenyum ketika melihat Gilang. Sudah lama sekali ia tidak melihat Gilang bahkan ketika ia masih tinggal di Indonesia dulu. Walau mereka adalah tetangga tapi jarang sekali mereka bertemu satu sama lain.

“Jadi kamu tinggal di Singapura sekarang Kei?”

Kyra mengangkat kedua bahunya, “Ya seperti yang kamu lihat, Lang. Dapat kerja di sini.”

Gilang terus menatap ke arah Kyra yang terus tersenyum. Teman masa kecilnya itu tumbuh menjadi seorang wanita dewasa yang sangat cantik sekarang. Walau Kyra tampak lelah sepulang bekerja, ia tetap terlihat cantik.

“Kamu ngapain di Singapura, Lang? Nginep di bawah pasti ya? Pakaian kamu terlalu santai.”

Gilang mengangguk, “Wah padahal cuma dari pakaian doang kamu bisa tahu ya, Kei?”

Kyra tertawa kecil, “Haha kamu emang keliatan nyantai sih, Lang. Jadi asal nebak pasti lagi bermalam di sini. Traveling, Lang?”

“Lagi libur, Kei. Nunggu jadwal berangkat lagi jadi ya nginep di sini dulu.”

“Oh iya, kamu kerja di kapal kan? Aku pernah denger dari papa, papa bilang kamu ambil sekolah pelayaran.”

Tiba-tiba ponsel Gilang bergetar dan layarnya menampakkan nama Sella. Gilang yang melihat pun segera mematikan panggilan telpon di ponselnya tersebut.

“Angkat, Lang. Siapa tahu penting,” ucap Kyra namun mendapat gelengan dari Gilang.

Namun panggilan tersebut kembali masuk walau Gilang sudah berulang kali mematikannya. Kyra yang melihatnya pun menepuk lengan Gilang dan mengisyaratkan untuk segera mengangkat telponnya. Mau tidak mau, Gilang pun beranjak keluar mencari tempat yang cukup sepi untuk mengangkat telpon.

Kyra yang ditinggal Gilang menelpon pun kembali meminum cocktail yang ia pesan, dan sesekali membalas pesan masuk dari bosnya. Bosnya khawatir dan menyesal membiarkan Kyra pergi ke kelab malam seorang diri.

“Hi, miss. Need someone to accompany you?”

Seorang pria yang cukup mabuk tiba-tiba mendatangi Kyra dan merangkul pundak Kyra. Kyra yang kaget pun langsung berdiri dan menjauhkan tangannya dari pria tersebut.

“You look so beautiful. Come with me this night!”

Pria tersebut menarik pergelangan tangan Kyra agar lebih mendekat ke arahnya. Baru saja Kyra ingin melepaskan tangannya, tangan lain yang jauh lebih kekar memegang tangan pria tersebut, melepaskan pergelangan tangan Kyra dari tangan pria asing itu dengan mudah.

“Sorry, she came with me.”

Gilang merangkul pundak Kyra dan menjauhkan gadis itu dari jangkauan pria asing yang mencoba mendekati Kyra. Gilang mengambil tas milik Kyra yang ada di meja dan menuntun Kyra untuk keluar dari kelab malam tersebut.

Kyra menunggu Gilang yang sedang membayar minuman yang tadi mereka pesan. Ia menyandarkan tubuhnya di dinding. Ini bukan kali pertama ia datang ke kelab malam tapi ini adalah kali pertama pria mabuk datang mendekati dan menggoda Kyra. Dan Kyra cukup kaget sampai kakinya tidak sanggup berdiri.

“Kei?”

Gilang datang menghampiri Kyra yang tengah berjongkok sembari memegang kedua lututnya. Tatapan sendu dan senyuman yang sedikit dipaksa dari Kyra didapatkan oleh Gilang saat ini.

“Kamu mau saya anter pulang atau mau tenangin diri dulu di kamar?”

Gilang membantu Kyra berdiri. Gilang bisa merasakan kaki Kyra yang gemetar ketika membantunya untuk berdiri.

“Kalo aku numpang duduk dulu bentar, boleh Lang? Ah kayanya aku istirahat di resto aja, Lang.”

“Tentu. Kamu boleh mampir, kok. Kayanya kamu istirahat dulu di kamar. Nanti kalo kamu mau pulang saya anterin.”

Gilang pun membantu Kyra berjalan menuju kamar tempat Gilang menginap. Selama berada di dalam lift, Kyra hanya bersandar di dada sebelah kanan Gilang, sedangkan Gilang merangkul tubuh Kyra yang semakin lemas.

Pintu lift pun terbuka, Gilang langsung melangkah menuju kamarnya dan menempelkan kunci kamar yang ia pegang. Gilang pun mempersilahkan Kyra masuk ke dalam kamarnya untuk istirahat.

“Maaf ya jadinya aku ngerepotin kamu, Lang.”

Kyra merebahkan badannya di atas kasur milik Gilang. Gilang pun mendekat ke arah Kyra dan membantu menyelimuti badan gadis itu.

“Kamu istirahat dulu aja, Kei. Ntar saya pesenin teh hangat. Kamu udah makan?”

Kyra mengangguk lemas, “Udah makan aku, Lang. Gapapa gausah pesenin makanan.”

Gilang pun berdiri dan mendekati telpon hotel hendak memesan teh hangat dan beberapa camilan ringan. Tiba-tiba ponselnya kembali berdering dan menampakkan nama Sella di sana. Gilang pun memutuskan untuk mengangkat telpon tersebut di balkon hotel.

“Hallo kenapa, Sell?”

“Kamu kemana aja sih, Mas? Dari tadi aku telponin loh kok ga diangkat sama sekali!”

“Maaf yaa ini lagi kumpul sama senior.”

“Kebiasaan deh kamu tuh kalo udah kumpul, kamu ga pernah mau ngangkat telpon dari aku.”

“Ya maaf, lagian mau gimana lagi. Kamu juga, kalo lagi kumpul sama teman-teman kamu kan ga mau diganggu.”

“Lah kenapa jadi ke aku? Ngomong-ngomong kamu minum lagi ya, Mas?!”

“Engga, Sella.”

“Bohong!”

“Ya minum sih tadi tapi cuma sedikit soalnya ada masalah.”

“Masalah apalagi sih Mas? Perasaan kamu ada masalah mulu.”

“Ada sesuatu. Aku matiin ya telponnya, besok disambung lagi.”

“Ih mau kemana?!”

“Sudah dulu ya. Aku matiin telponnya.”

Gilang langsung mematikan panggilan telponnya serta menonaktifkan ponsel miliknya. Ia masuk kembali ke kamar dan melihat pelayan hotel sedang menyajikan pesanan milik Gilang yang dibantu oleh Kyra. Setelah mengantarkan pesanan makanan, pelayan hotel itu pun segera meninggalkan kamar milik Gilang.

“Minum dulu, Kei.”

Kyra pun meraih gelas yang diberikan oleh Gilang lalu meminumnya pelan. Sedangkan Gilang membuka kaleng soda yang ia pesan bersamaan makanan yang lain.

“Lang maaf ya, harusnya kita ketemu lagi dalam keadaan baik dan nyaman, bukannya ada kejadian seperti ini.”

“Kamu kenapa sih terus-terusan minta maaf padahal kamu tuh tadi hampir—ah udahlah ga perlu bahas itu, Kei.”

Tangan Gilang merapikan rambut Kyra yang berantakan. Matanya menatap sendu ke arah teman semasa kecilnya itu. Seketika kenangan masa kecil teringat di kepala Gilang. Kyra kecil sangat manis dan sekarang tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik.

“Jujur ya Kei, saya masih ga percaya bisa ketemu kamu di Singapura. Ketemu kamu di sini, Kei,” ucap Gilang membuka obrolan.

Senyum Kyra seketika kembali merekah. Ia menepuk kasur di sampingnya mengisyaratkan Gilang supaya ikut bersandar di samping Kyra.

Melihat gerakan tangan Kyra, Gilang pun naik ke kasur dan duduk bersandar di samping Kyra. Keduanya teringat kenangan masa kecil mereka dulu.

“Aku sempat kaget pas papa bilang kamu mau jadi pelaut,” gumam Kyra sambil tersenyum manis.

Gilang menoleh ke arah Kyra dengan tatapan penuh tanya, “Kenapa?”

“Ya karena waktu TK dulu kamu selalu bilang ke aku kalo kamu mau jadi polisi. Kamu tahu Lang, dulu kamu tuh sering banget main tembak-tembakan terus ngehampirin aku, lalu main lagi sama anak cowo yang lainnya.”

Gilang merasa tertarik dengan obrolan bersama Kyra. Jujur, Gilang sudah tidak ingat kenangan apapun lagi tentang masa kecilnya. Ia merasa kenangan masa kecilnya terlalu buruk untuk diingat. Dan ia merasa bersyukur ketika Kyra menceritakan hal menyenangkan tentang masa kecil mereka.

“Ohya Lang. Kamu tau dulu tuh kamu pernah buat aku nangis haha. Aku tebaknya kamu pasti ga inget, kan?!” ucap Kyra sambil senyum-senyum penuh arti, buat Gilang merasa penasaran dengan apa yang membuat Gilang melakukan itu pada Kyra.

Gilang semakin tertarik dengan obrolan bersama Kyra, “Saya beneran ga inget deh, Kei. Pasti karna kamunya nakal jadi saya buat kamu nangis haha. Bener ga?”

Kyra menggelengkan kepalanya pelan, “Dulu aku tuh ga ada temen selain kamu, Lang. Dan kamu bisa-bisanya pas itu bilang ga mau temenan sama aku lagi.”

Seketika Kyra menatap ke arah langit-langit kamar. Gilang yang melihatnya pun tahu jika gadis di sampingnya itu sedang menahan tangis.

“Saya sejahat itu yaa Kei sampe sekarang pun pas kamu inget hal itu bikin kamu sedih?”

Kyra refleks tertawa mendengarnya, “Haha bukan gitu! Kamu tuh baik banget orangnya, Lang. Kamu temen pertama aku. Makanya kenangan pas waktu kecil sama kamu sebisa mungkin ga mau aku lupain. Kamu tahu Lang? Bahkan aku sampe tulis di buku tentang kenangan aku sama kamu. Jaga-jaga biar aku ga lupa.”

Kyra menoleh ke samping kirinya tepat ke arah Gilang yang sedang memperhatikannya, “Dan pasal kamu bilang ga mau temenan lagi sama aku, karena kamu mau aku tuh punya banyak temen, Lang. Kamu ga mau kalo temen aku tuh cuma kamu doang. Sumpah aku masih ga nyangka kamu kok bisa sedewasa itu dulu, Lang.”

Gilang menghela napasnya pelan. Lega mendengar cerita dari Kyra secara lengkap. Tangan kirinya pun ia letakkan di atas kepala Kyra. Membelainya secara perlahan dan penuh kasih sayang.

“Jujur cerita kamu barusan buat hati saya tenang, Kei. Maaf ya harusnya saya ga lupain kenangan masa kecil kita dulu.”

Kyra menggelengkan kepalanya, “Bukan, Lang. Itu akunya aja yang terlalu berlebihan dan ga mau lupain kenangan waktu kita kecil dulu—“

—karna aku pernah suka sama kamu, Lang.

***

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Because That Night
8.0
Dibalut rasa benci pada diri sendiri, Ariel Anata menyerahkan kesuciannya kepada Sean Rinadi di sebuah kelab malam dengan janji takkan bertemu lagi. Takdir berkata lain saat Sean ternyata adalah calon tunangan Vania, kakak Ariel. Pertemuan tak terduga ini dimanfaatkan Sean untuk mengejar cinta Ariel. Namun, Ariel justru memakai Sean sebagai alat balas dendam terhadap keluarganya yang selalu membandingkan dirinya dengan sang kakak yang dianggap lebih sempurna.
Sampul Novel BERBEDA KEYAKINAN
8.0
Alif menemukan sosok berharga dalam diri Nurul, dan perasaan kagum itu pun terbalas. Namun, saat hubungan mereka mulai serius, Khairunnisa yang merupakan masa lalu Alif muncul kembali menyatakan cinta. Tak hanya itu, Alif harus berjuang meluluhkan hati Pak Handoko yang sulit melepas putri kecilnya. Meski Alif terus meyakinkan Nurul, sikap gadis itu berubah drastis setelah dari Surabaya. Ternyata, ada rahasia mengejutkan dari Nurul yang lebih rumit dari sekadar restu.
Sampul Novel Cinta Palsu di Balik Perjalanan Dinas
8.3
Empat dekade tertipu, rahasia suami terbongkar lewat tablet cucu. Isinya ribuan foto mesra dia dan sahabatku, Wulandari, saat perjalanan dinas palsu. Bahkan Rizal, putraku, lebih memilih memuja pelakor itu daripada ibu kandungnya. Ternyata aku hanya dimanfaatkan sebagai inkubator karena Wulandari mandul. Tak sudi jadi babu, aku menuntut cerai dan menguras harta mereka. Kini aku sukses di Bali, membiarkan mereka hancur dan mengemis tanpa ampun sedikit pun.
Sampul Novel Dalam Dekapan Dosen Tama
8.1
Dalam suasana penuh ketegangan, Tama berusaha meyakinkan Runa agar tidak menolak kehadirannya. Dengan suara serak yang sarat akan emosi, ia mendekap Runa dan menghirup aroma tubuh istrinya tersebut dengan penuh damba. Di tengah pergolakan batin yang terjadi, Tama membisikkan penegasan bahwa hubungan intim mereka adalah hal yang sah secara hukum dan agama. Sebagai sepasang suami istri, ia merasa tidak ada lagi alasan bagi Runa untuk terus menghindar darinya.
Sampul Novel Kembar Yang Tak Sengaja Disentuh
9.2
Jeremy melamar Dara secara romantis di restoran mewah, disaksikan banyak orang termasuk kembarannya, Dira. Namun, kebahagiaan pernikahan mereka yang baru seumur jagung langsung terancam oleh sebuah kesalahan fatal. Di malam pertama, sebelum Dara tiba di rumah, Jeremy justru tidak sengaja menjalin kontak fisik yang intim dengan Dira. Akankah rahasia gelap ini menghancurkan rumah tangga mereka jika Dara mengetahuinya? Simak kelanjutan konflik pengkhianatan ini.
Sampul Novel Perang Ego Dalam Jodoh Paksa
7.9
Alina Darya, yatim piatu yang berjuang menghidupi neneknya, terjebak dalam nasib buruk setelah berselisih dengan pria kaya bernama Rayan Syahmir. Rayan yang angkuh dan merasa terhina nekat membalas dendam dengan memaksa Alina masuk ke pernikahan tanpa cinta. Meski hidupnya hancur, Alina tetap bertahan dalam doa. Namun, kebencian Rayan perlahan berubah menjadi ketertarikan yang tak terduga. Mampukah cinta tumbuh di tengah ego dan luka yang mendalam?