
SEBUAH PENGAKUAN
Bab 2
Sosok yang mengaku sebagai ayahku itu mengambil sebungkus rokok filter yang tergeletak diatas meja. Sebelum mengambil ia menawarkannya padaku namun aku segera menolak. Ia mengangkat kedua bahunya lalu menyalakan rokok yang terselip ditangannya dan menghisapnya perlahan.
"Aku sungguh tak menyangka kita akhirnya bisa bertemu," ucapnya membuka percakapan seraya menghisap rokoknya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Dalam sekejap asapnya memenuhi ruangan.
Aku menatap sosok feminin dihadapanku, mencoba mencari jejak kemaskulinan disana. Aku tak mendapati sedikitpun sisa kejantanan dari sosoknya, sosok yang telah membuat aku hadir ke dunia.
Ia kembali menghisap rokoknya, asapnya menguar ke seluruh penjuru ruangan luas yang dipenuhi kemewahan ini
"Kenapa kamu terus menatapku?" tanyanya resah dan mulai gugup.
Aku semakin jengah dengan situasi ini.
"Tentu kamu mengerti apa yang sedang aku pikirkan," tungkasku tajam.
Sosok yang mempunyai bulu mata lentik itu termangu sesaat namun kemudian tersenyum sinis.
"Aku tahu kamu kecewa dan aku harap kamu bisa memahami pilihanku ini."
"Apa kamu bilang, memahami?"
Ganti aku yang tersenyum sinis padanya.
"Kemarin aku masih menganggap bahwa ayahku adalah sosok sempurna, lelaki yang sebenarnya lelaki. Tapi kini apa yang kudapati, sangat bertentangan dengan semua cerita yang selama ini kudengar dari ibu. Iya aku kecewa sangat kecewa malah."
Sosok cantik itu kemudian bangkit dari sofa menuju bar mini untuk mengambil sebotol brandy lalu ia tuangkan ke dalam gelas. Ia menawarkan gelas itu padaku, tentu saja aku menolak minuman haram itu. Tapi kemudian ia menyesap sendiri brandynya.
"Selama ini ibu selalu mengatakan bahwa ayahku adalah sosok lelaki sholih yang selalu menjalankan syariat secara benar," sindirku padanya.
Ia kembali tersenyum masam.
"Kamu harus membiasakan diri dengan keadaanku ini."
Aku semakin jatuh dalam jurang kekecewaan saat mendengar pernyataannya. Dadaku semakin sesak oleh hantaman kesedihan. Aku semakin teringat pada ibuku, wanita mulia yang telah mengajarkan nilai-nilai moral dan agama, sangat berbeda jauh dengan sosok ada dihadapanku saat ini.
"Kamu tahu ini lelucon paling tidak lucu yang pernah aku dengar. Bagaimana mungkin dengan mudah kamu mengatakan aku harus membiasakan diri? Selama ini aku dibesarkan dengan kisah-kisah hebat tentang ayahku, tentang ayahku yang penyayang, ayahku yang sholih juga ayahku seorang yang bertanggung jawab......"
"Aku masih bertanggung jawab, sampai saat inipun aku masih mengirimi kalian uang!"
"Ibu tak pernah menyentuhnya sama sekali. Selama ini ibu membesarkan aku dengan jerih payahnya sendiri, ibu adalah sosok sederhana yang tak membutuhkan sedikitpun kekayaan darimu!" tungkasku sengit.
Sosok feminim itu langsung terdiam, matanya nampak mulai memerah.
"Aku kini mengerti kenapa selama ini ibu mengatakan bahwa ayahku telah tiada, karena memang kenyataannya seperti itu," imbuhku sembari menatapnya tajam.
"Kalau memang seperti itu lalu kenapa kamu mencariku, jika kamu menganggap aku telah mati?"
Aku enggan untuk menjawabnya, perdebatan ini sungguh menguras emosiku. Sisi batinku yang lain tak membenarkan sikap kerasku padanya. Bagaimanapun keadaannya kini, ia tetap ayahku meski sekarang aku tak tahu harus memanggilnya apa.
"Bagaimana kabar ibumu?" tanyanya sedikit melunak seraya kembali duduk dihadapanku.
"Apa kamu masih peduli?" sergahku sinis.
Sosok cantik itu mendesah resah. Raut mukanya berubah sendu.
"Apa kamu percaya jika aku pernah begitu mencintai ibumu? Jadi apakah aku salah jika sampai kini aku tetap peduli pada wanita yang pernah menjadi istriku?"
Aku mengusap wajah kusutku dengan kedua tangan, mencoba melerai gelisah dan ketidak berdayaan dalam menghadapi kenyataan yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Situasi ini sungguh membingungkan.
"Ibu mulai sakit-sakitan sekarang. Mungkin ia sudah terlalu lelah berjuang sendirian, sampai saat ini aku adalah hidup ibu."
Aku lantas menatapnya tegas.
"Jika kamu memang mencintai ibu lalu kenapa kamu pergi?"
Ia kembali membisu dan menatapku nanar.
"Apa kamu akan percaya kalau aku bilang bahwa ibumulah yang memintaku untuk pergi?"
Aku tersenyum menyeringai mendengarnya.
"Kamu ingin aku untuk mempercayaimu?"
"Keputusannya waktu itulah yang membuat aku mengambil pilihan untuk menjadi seperti ini."
Aku mengira ia mencoba mencari pembenaran atas keadaannya saat ini.
"Lantas kamu pergi dan melupakan tanggung jawabmu sebagai seorang suami juga seorang ayah?"
Aku menyorotnya dengan tatapan penuh amarah.
"Waktu itu kami masih sangat membutuhkanmu. Seorang diri ibu berjuang, dihadapanku beliau tak pernah mengeluh ia adukan segalanya dalam sujud panjangnya dipenghujung malam. Sedangkan kamu malah memilih menjadi seperti ini. Apakah kamu pantas menjadi seorang ayah? Oh....tidak tak mungkin aku memanggilmu ayah dengan keadaanmu yang seperti ini."
Aku menatapnya sinis dan ia membalasku dengan gamang.
"Panggil saja namaku, Patricia, kamu boleh memanggilku Pat," ucapnya datar sembari ia sesap lagi brandynya yang telah dua kali ia tuang dalam gelas kristal.
Aku tersenyum masam padanya, perasaanku dipenuhi kemuraman.
Sosok yang kini mengaku bernama Patricia itu menghisap rokoknya dalam-dalam dengan jemari yang nampak gemetar sebelum kemudian menekannya kasar diatas asbak kaca. Ia lalu menghembuskan nafasnya membuat asap kembali menguar ke seluruh ruangan.
"Kalau kamu tak bisa menganggap aku ayah, anggaplah aku sebagai seorang sahabat. Kali ini aku berjanji aku akan menjadi seorang sahabat yang baik," tawar Patricia seperti seseorang yang mengajukan gencatan senjata pada pihak musuh.
Aku membisu tak menjawab, membiarkan ia sejenak dalam prasangkanya. Namun sejurus kemudian kebisuan kami diusik oleh kedatangan seorang lelaki muda keturunan hispanik yang dengan santai memasuki apartemen Patricia dengan membawa seikat bunga juga sebotol sampanye.
Patricia nampak gugup dengan kedatangannya apalagi saat pria itu mendekatinya dan mendaratkan kecupan di kedua pipinya.
Aku memandang mereka dengan muak. Patricia menjadi resah saat melihat tatapanku. Aku tahu ia malu padaku namun aku mencoba untuk tak peduli.
"Oh baby, sepertinya kamu kedatangan tamu!" seru lelaki yang memakai pakaian menyolok itu.
"Dia Bagas, anakku dari Indonesia," ucap Patricia sembari menatapku gelisah.
"Hai Bagas, kenalkan aku Xavier," ucapnya seraya mengulurkan tangannya padaku.
Aku hanya memandangnya dingin, suasana hatiku yang buruk membuatku enggan untuk sekedar berbasa basi. Aku memilih bangkit dari dudukku dan mulai melangkah menuju pintu. Patricia bergegas mengikutiku.
"Kamu menginap dimana?"
Aku tak menjawab malah menatapnya beku.
"Kita masih harus melanjutkan perbincangan ini, kumohon temui aku disini," pintanya sembari menyerahkan selembar kartu nama dari balik saku bajunya.
Dengan enggan aku mengambil kartu itu tetap tanpa suara. Aku bergegas membalikkan badan saat teman-teman Patricia yang lain datang. Mereka dengan dandanannya yang seronok menyapaku dan mengajakku untuk bergabung dalam pesta itu. Aku semakin mempercepat langkahku tak menghiraukan seruan mereka. Aku terlalu muak dengan semuanya.
*****
Aku melangkah perlahan ditengah Central Park yang beku. Sampai kemudian rasa ingin tahuku membuat aku membalikkan badan ke belakang sambil mengarahkan pandangan ke atas pada apartemen Patricia yang terlihat semarak dengan warna warni lampu disko. Dari kejauhan aku melihat siluet orang-orang bergerak dan menari memeriahkan pesta. Hatiku remuk redam menyaksikan semua itu. Gigiku bergemelatuk bukan hanya menahan dingin namun juga kekecewaan. Hingga aku tak dapat menahan diri lagi, air mataku, aku biarkan tumpah. Iya aku kini menangis, menangisi takdir yang masih sulit untuk kumengerti.
Anda Mungkin Juga Suka





