
SEBUAH PENGAKUAN
Bab 3
Semalam aku tak mampu memejamkan mata dengan lelap. Bermacam bayangan berkelindan di pikiranku. Pertemuanku dengannya hanya menyisakan rasa kecewa. Bahkan aku berharap perjumpaan kami semalam hanyalah sebuah mimpi buruk.
Setelah sholat subuh, aku mulai mengemasi barang-barangku. Pagi ini aku berniat menuju ke kampus untuk melengkapi berkas-berkas, setelah itu baru aku akan mencari apartemen di sekitar kampus. Aku tetap menyibukkan diri, berharap dapat melupakan peristiwa semalam. Aku ingin tetap bisa menjaga akal sehatku setelah terjatuh dalam palung kekecewaan. Namun batinku tetap saja tak bisa tenang.
Ada keinginan yang kuat dihati yang menuntut sebuah penjelasan atas kenyataan yang membingungkan ini. Tapi kemana aku harus mencarinya? Apakah ibu mengetahui tentang semua ini? Entah mengapa aku merasa ibu telah mengetahuinya. Mungkin inilah alasan ibu tak pernah menyentuh uang itu. Namun haruskah aku bertanya pada ibu?
Rasanya aku tak sanggup bila memikirkan konsekuensinya. Aku tak mau jika harus mempertaruhkan kesehatan ibu. Ibu telah merapuh, aku terlalu takut beliau nantinya akan tumbang jika aku mencecar beliau pertanyaan tentang ayahku yang telah merubah jati dirinya.
Tetapi rasa ingin tahuku tak bisa kutepis begitu saja. Akhirnya aku memutuskan untuk menghubungi Hanin yang aku yakin saat ini bersama ibu.
"Assalamualaikum!" sapaku.
"Wa'alaikum salam," jawab Hanin lembut, dari seberang sana, sebuah kelembutan yang menerbitkan rasa rinduku padanya.
"Udah dapat apartemen mas?" tanya Hanin seketika.
"Masih baru mau nyari, doakan mas ya," ucapku sembari melipat baju-bajuku.
"Sekarang aku kemas-kemas dulu, nanti sore baru check out. Semoga hari ini aku dapat apartemen yang cocok jadi bisa langsung pindah."
"Iya mas, aku juga berharap begitu."
"Sayang apa kamu memikirkan mas terus?"
"Iya tentu saja aku kepikiran mas terus."
"Pantas saja mas kangen terus sama kamu."
"Mas.. jangan gombal ah...," ucap Hanin diselingi tawa berderai.
"Kenapa ketawa? Memangnya mas nggak boleh kangen sama istri sendiri?"
Aku masih mendengar suara tawa istriku dari seberang sana membuatku membayangkan pipinya yang memerah setiap kali aku menggodanya.
"Oh ya sayang, gimana kabar ibu? Apa ibu sehat?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.
"Alhamdulillah mas, sudah semakin membaik. Apa mas mau bicara sama ibu?"
"Iya, boleh kan mas bicara sebentar sama ibu?"
"Tentu saja mas, bentar ya aku akan ke kamar ibu dulu."
Untuk sesaat aku mendengar Hanin mulai melangkah dan percakapan kami pun terhenti. Sampai kemudian aku mendengar ibu mengucap salam dan langsung kujawab.
"Bagaimana keadaanmu disana nak? Aku dengar dari Hanin kalau disana sekarang musim dingin, kamu jaga kesehatan ya nak, makan tepat waktu, jangan sampai kamu jatuh sakit."
Ibu memberondongku dengan kata-katanya yang dengan jelas menyiratkan bahwa ia mengkhawatirkan aku.
"Iya bu, aku sudah sedia banyak baju tebal dan mantel."
Aku terdiam sejenak untuk memikirkan kata-kata yang tepat agar ibu bersedia menceritakan tentang ayah.
"Ibu, apakah dulu ayah pernah pergi dalam waktu yang lama, seperti sekarang aku yang berjauhan dengan Hanin?"
Ibu tak langsung menjawabku. Sempat aku mendengar ibu menghela nafasnya sesaat, sepertinya ia sangat berat membicarakan tentang sosok yang telah menikahinya bertahun silam.
"Boleh dibilang pernah, sesaat setelah kamu lahir dulu, ayahmu pergi untuk bekerja."
"Apakah lama ibu?"
Ibu kembali diam, membuatku disergap bermacam prasangka.
"Iya..." jawab ibu singkat.
"Lalu saat ayah kembali, apakah ibu meminta agar ayah tak pergi lagi?"
"Iya...."
"Lalu bagaimana ayah menjawabnya?"
"Ayahmu tak menjawab ia tetap pergi lagi, setelah itu........"
Lama ibu membisu tak melanjutkan kata-katanya, kalimatnya dibiarkan mengambang membuatku disergap tanya.
"Setelah itu apa bu?"
Aku mendengar ibu kembali menarik nafasnya, kali ini terdengar lebih dalam.
"Setelah itu ayahmu tak pernah kembali."
Aku lalu teringat ucapan Patricia semalam, bahwa sebenarnya ibulah yang menyuruhnya pergi. Aku ingin mendapatkan kebenaran lewat penjelasan ibu sendiri, yang harus aku akui lebih aku percaya.
"Apakah waktu itu ibu yang menyuruh ayah pergi?" tanyaku begitu penasaran.
"Sebenarnya apa yang ingin kamu tahu nak? Kamu tak pernah memaksa seperti ini sebelumnya."
Aku mendengar nada kesedihan dari suara ibu. Aku menjadi bersalah padanya, rasa ingin tahuku telah menyakiti hatinya.
"Apakah ibu tahu bagaimana ayah meninggal?" Aku tetap tak kuasa menepis rasa ingin tahuku.
"Ibu sudah pernah menceritakannya padamu dulu, sudah berulang kali ibu bilang, ibu tidak pernah tahu penyebab pasti kematian ayahmu. Bahkan jenazahnya tak pernah sampai ke tempat kita, hanya kabarnya saja yang ibu dengar."
Aku ingin mengatakan pada ibu, bahwa saat ini ibu bohong. Namun aku segera menutup mulutku dengan hati yang berkecamuk rasa tak puas atas penjelasannya. Ucapan ibu yang terdengar bergetar semakin menguatkan prasangkaku bahwa ibu tak berkata yang sebenarnya.
"Bagaimana kalau ternyata ayah masih hidup?"
Sekali lagi ibu memilih diam, dengan sabar aku menunggu ia untuk menjawab.
"Kalaupun ayahmu masih hidup tetap saja keadaan tak bisa sama seperti dulu. Karena mungkin ibu dan ayah telah menempuh jalan yang berbeda."
Aku menangkap sebuah makna dari kata-kata ibu. Jalan berbeda itu adalah tentunya pilihan yang telah dijalani ayahku saat ini, pilihannya untuk menjadi "Patricia"
"Apakah masih ada sisa cinta dihati ibu untuk ayah?" tanyaku memberanikan diri.
"Cinta......"
Kudengar ibu mendesah sedih.
"Ibu selalu mencintai ayahmu saat ia menjadi suamiku dan ayah untukmu, dulu. Tapi kini jika seandainya ayahmu masih hidup yang tersisa baginya adalah ........."
Sejurus kemudian aku mendengar ibu mulai tersedu. Aku menjadi kelabakan karenanya, apalagi setelah Hanin menggerutu padaku. Aku merasa begitu bersalah.
"Mas apa yang kamu katakan pada ibu, kenapa ibu menangis?" sergah Hanin.
"Sayang tolong tenangkan ibu, sampaikan pula maafku pada beliau."
"Bagas, ibu tidak apa-apa, kamu memang berhak untuk tahu tentang ayahmu, tapi untuk sekarang maafkan ibu karena ibu tak bisa banyak menceritakannya padamu. Ibu hanya ingin tahu satu hal bahwa ayahmu selalu mencintaimu, segalanya akan ia korbankan untukmu. Dia adalah lelaki terbaik dalam hidup ibu, sampai kini ia tetap ada di hati ibu," sahut ibu yang langsung menyela pembicaraanku dengan Hanin.
Pengakuan ibu membuatku berpikir kemudian bertanya-tanya, apakah mungkin ayah dan ibuku masih saling mencintai? Namun kenapa mereka harus berpisah?
Masa lalu kedua orang tuaku begitu rumit. Haruskah aku kembali menemui Patricia? Aku masih dihinggapi keraguan sampai suara Hanin diseberang sana mulai mengucapkan salam untuk mengakhiri percakapan kami.
Perlahan aku mengambil selembar kartu nama pemberian Patricia semalam. Aku terus memandangi kartu itu yang mencantumkan sebuah alamat dari sebuah tempat di salah satu sudut Fifth Avenue. Aku masih tak mengerti kenapa ia menyuruhku untuk mendatangi tempat ini. Sepertinya ia tak ingin aku mendatangi apartemennya.
Tapi untuk sekarang aku masih belum bisa menemuinya. Hari ini banyak hal yang harus aku lakukan. Aku harus secepatnya mendapatkan apartemen yang nyaman karena Hanin berencana untuk menyusulku. Sementara ibu akan ditemani oleh Bulek Ramlah, adik ibu yang juga janda yang telah lama tinggal sendirian setelah putra putri beliau menikah.
Ibu yang meminta Hanin untuk mendampingiku, karena masa dua tahun tinggal di negeri orang adalah masa yang cukup lama, apalagi jika harus dilewati sendirian. Mungkin berkaca dari pengalaman ibu dulu, yang membuat ibu ingin agar Hanin segera menyusulku.
Setelah membersihkan badan dan sarapan aku segera melangkah keluar hotel. Aku akan mendatangi apartemen yang telah direkomendasikan salah seorang temanku. Aku berharap apartemen itu memenuhi kriteria yang kubutuhkan.
Setelah berada di luar aku berdiri mematung sejenak didepan pintu gerbang hotel, menunggu taksi pesananku yang ternyata belum datang. Di saat aku menunggu mendadak netraku menangkap sosok Patricia di seberang jalan. Ia menatapku lekat. Sosok feminin yang pagi ini memakai outfit serba hitam.
Ia nampak berkelas dengan mini dress v neck yang menonjolkan lekuk dadanya yang membusung. Aku segera menarik pandanganku dari sosoknya. Penampilannya selalu membuatku muak. Sampai saat ini aku masih berharap bahwa keberadaannya adalah sebuah mimpi saja, meski mimpi yang buruk.
Aku masih merasa tatapannya terus mengikutiku hingga taksi yang kupesan telah tiba di depanku. Aku bergegas menghambur ke dalam. Aku begitu risih saat ia terus menatapku.
Meski begitu saat taksi yang kutumpangi mulai melaju, aku tak dapat menahan diriku untuk tak menoleh ke belakang. Aku menatap nanar pada sosoknya yang semakin menjauh, dengan hati yang digayuti tanya. Apakah masih ada sisa cinta di hati ibuku bila melihat sosok ayah dari putranya telah menjelma menjadi seorang perempuan. Sepanjang perjalanan hatiku terus bertanya tentang rasa seperti apa yang tersisa di hati ibuku untuk ayahku.
********
Anda Mungkin Juga Suka





