Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel SCHOOL DIARY

SCHOOL DIARY

Kana sering dijuluki Miss Bad Luck karena nasib cintanya yang selalu malang dibandingkan teman-temannya. Lelah dengan kesialan yang terus menimpa, ia akhirnya bertekad untuk berhenti peduli pada urusan asmara. Namun, komitmen tersebut langsung goyah saat seorang pemuda tiba-tiba datang membawa martabak keju kesukaannya. Cowok itu memberikan sebuah tawaran yang sulit ditolak: jika Kana mengambil martabak tersebut, maka mereka resmi berpacaran saat itu juga.
Bab
Bagikan

Bab 2

Pagi ini Kana tidak lagi terlambat. Ia memilih berangkat 1 jam lebih cepat dari biasanya agar tak terjebak macet lagi. Terlebih, ia sudah tidak menunggu siapapun untuk berangkat ke sekolah.

Kana berjalan menyusuri lapangan yang cukup luas tersebut. Saat sedang berjalan, tiba-tiba pikiran Kana teringat pada amplop merah muda yang berisi pengakuan cintanya.

Kana berlari menuju perpustakaan untuk mencari amplop tersebut. Suasana sekolah saat itu masih sepi. Kemungkinan untuk menemukan amplop itu masih besar. Kana terus menundukkan kepalanya untuk mencari benda tersebut. Namun seperti ditelan bumi, ia bahkan tak menemukan sehelai rambut pun di lantai.

Dari kejauhan datang cowok berseragam batik sama sepertinya. Cowok itu membawa keranjang sampah di tangan kanan dan sapu di tangan kirinya. Cowok itu berjalan menghampiri Kana yang terus menatapnya.

"Mencari sesuatu?" tanya cowok itu sambil tersenyum tipis.

Kana mengangguk mantap. Lalu ia melirik badge kelas yang ada di lengan kanan laki-laki tersebut. Ternyata laki-laki itu adalah kakak kelasnya, lebih tepatnya sekelas dengan Edo di XII IPA 2.

"Gue lagi nyari amplop warna merah muda. Kemarin seingat gue ada di sini," ujar Kana seraya menggaruk tengkuknya yang terasa gatal.

Cowok itu meletakan keranjang sampah yang ada di tangannya. Lalu ia memasukan tangannya ke saku celana. Saat tangan itu kembali ditarik keluar, Kana dapat melihat surat cintanya yang sudah lusuh. Ia segera menyambar amplop tersebut. Setelah itu Kana menghambur sejauh-jauhnya dari cowok tersebut.

Sedangkan cowok itu hanya menatap Kana dengan bingung. Ia sama sekali tak mengerti kenapa ada orang di zaman ini yang masih mengirim surat seperti itu, padahal smartphone sudah tersedia. Cowok itu mengedikan bahunya, ia memilih melanjutkan pekerjaannya.

~~~

Kana berada di sudut kantin bersama Mirna dan dua cowok yang cukup dekat dengannya. Kana sering kali memanggilnya sebagai Ham karena namanya Ilham dan Ri karena namanya Fahri. Kana memakan baksonya dengan sangat malas. Ia masih teringat kejadian kemarin.

"Jadi si bajingan itu nolak lo?" tanya Ilham.

Kana menganggukkan kepalanya dengan wajah cemberut. Kana menatap Mirna yang sedang bermain ponselnya. Nampaknya cewek itu sama sekali tak peduli dengannya hari ini. Kana menghela nafasnya dengan lemah, lalu ia merebahkan kepalanya di meja kantin tersebut.

Tiba-tiba suasana kantin yang begitu damai mulai ricuh saat seorang gadis yang entah siapa namanya datang membawa gosip terbaru. Kana mengangkat kepalanya dengan wajah yang masih cemberut. Ia ingin tahu gosip apa yang sedang heboh hari ini.

"Kana ditolak sama Edo!" teriak gadis yang baru muncul itu.

Semua mata secara bersamaan tertuju pada sosok Kana yang duduk di sudut kantin tersebut. Ia tak lagi bisa berkata apa-apa. Kini bukan hanya Fahri, Ilham dan Mirna yang tahu bahwa dirinya sudah ditolak, tapi satu sekolah akan mengetahuinya.

Kana menunduk lesuh, menyembunyikan wajah di antara lipatan kedua tangannya. Ia sudah tak punya wajah lagi untuk menjejakan kakinya di sekolah ini.

"Apa gue pindah sekolah aja ya?" gumam Kana.

Mirna yang sedari tadi fokus bermain ponsel pun mulai mengalihkan tatapannya pada Kana. Mirna menggeleng dengan tatapan tajamnya.

"Kalau lo pindah sekolah, itu sama aja lo kalah dari Kak Edo! Lo harus buktiin kalau lo itu cewek yang kuat," ujar Mirna.

Kana tersenyum kecut. "Ga biasanya lo bijak gini, Mir."

Mirna mencebikan bibirnya, lalu kembali fokus pada ponsel di tangannya. "Terserah."

Mereka tak menyadari bahwa ada cowok yang sedari tadi tak melepaskan pandangannya dari mereka. Saat semua orang sudah mulai tak peduli dengan gosip itu, hanya dialah yang masih terus menatap Kana dengan tajam.

"Lo kenal Nana?" tanya laki-laki itu.

Temannya yang sedang menyantap makanan pun mengernyit bingung. "Nana?"

Cowok itu mengangguk, lalu menunjuk Kana yang sedang menelungkupkan kepalanya. "Cewek yang ada di sana."

Temannya itu terkekeh. "Itu namanya Kana bukan Nana. Jelas kenal lah."

"Iya, pembawa sial," sahut temannya yang baru datang.

~~~

Kana berjalan mengendap-endap saat melewati lapangan sekolah. Ia sengaja pulang paling akhir agar tak menjadi pusat perhatian. Saat dirasa tak ada siapapun selain Pak Satpam di posnya, Kana pun melangkah dengan santai.

Ia menghela nafasnya dengan berat. Kana memasukan tangan kanannya ke saku, ia meraih sebuah koin lama yang di anggap sebagai pembawa keberuntungan.

"Kenapa gue ga diberikan kesempatan sedikit pun untuk punya pacar ...," gumam Kana sambil terus menunduk lesuh.

"Mirna punya pacar, Fahri juga punya pacar. Cuma gue yang jomblo!" ujar Kana dengan kesal.

"Apa gue terlahir untuk hidup tanpa pasangan? Gue ... jangan-jangan gue terlahir jadi jomblo seumur hidup?" tanya Kana pada dirinya sendiri.

Kana menggelengkan kepalanya dengan kuat. Ia tak mungkin terlahir seperti itu. Mungkin saja jodohnya saat ini sedang mengembara untuk menemukannya. Bisa saja jodohnya ada didekatnya, tapi sedang terjebak di hati yang salah. Atau jangan-jangan jodohnya adalah... Lee Min Ho? Kana terkekeh saat menyadari pikirannya. Jiwa menghalunya sudah kembali muncul.

"Gue ... mulai sekarang gue ga akan berurusan sama yang namanya cinta," gumam Kana.

Kana menghela nafasnya, lalu ia mengepalkan kedua tangannya. "Ayo hidup tanpa sakit hati, Kana!"

Kana berjalan melewati parkiran yang terletak di luar gerbang. Ia menundukan kepalanya saat melihat sebuah kerikil. Kana menendang kerikil yang menghalangi jalannya itu dengan cukup kencang. Kana perlahan mengangkat kepalanya untuk tahu sejauh apa kerikil itu akan menggelinding. Lalu kerikil itu berhenti tepat di kaki seorang cowok yang sedang menstarter motornya di pojok. Kana dengan cepat menutup wajahnya dengan kedua tangan agar cowok itu tak melihatnya.

'Loh? Kok ada orang? Perasaan tadi gak ada,' batin Kana.

Lalu Kana berjalan melintasi laki-laki itu dengan langkah seribu. Namun karena terlalu terburu-buru, Kana menjatuhkan koin yang ada digenggamannya. Koin itu menggelinding, ia segera mengejar koin itu. Tapi koin itu terus saja menggelinding tanpa henti. Lalu sebuah kaki menginjak koin itu hingga berhenti. Kana segera memegang sepatu yang menginjak koinnya. Ia pun berjongkok, ia pun mengangkat sepatu itu agar bisa mengambil koinnya.

"Lo ... Nana?"

Kana sontak mengangkat kepalanya, lalu menggeleng. "Bukan, gue Kana."

"Oh iya, maksud gue Kana," ujar cowok itu dengan senyum lebarnya.

Kana masih terus berusaha mengangkat sepatu itu. Tapi sepertinya cowok itu sengaja menguatkan kakinya agar Kana tak bisa mengangkat sepatunya.

"Kak, bisa angkat kaki nya?" tanya Kana.

Cowok itu menggelengkan kepalanya dengan senyum yang tak kunjung luntur. "Gue lagi malas buat bergerak."

Kana menghela nafasnya. "Kalau gitu biar gue yang angkat sepatunya. Tapi tolong jangan terlalu kuat napaknya. Susah!"

Bukannya mengangkat kaki, cowok itu justru menarik kerah baju belakang Kana hingga memaksanya berdiri. Cowok itu tersenyum samar, tapi Kana sama sekali tak bisa melihatnya. Ia menatap cowok di hadapannya dengan tatapan tak suka.

"Ada apa?!" tanya Kana dengan ketus.

"Ayo kita pacaran," ujar cowok tersebut.

Kana mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia berusaha meyakinkan bahwa ini tidak nyata. Mungkin ia terlalu berambisi untuk punya pacar sampai berhalusinasi seperti ini. Ia yakin ini hanya halusinasinya, karena saat melintasi gerbang ia sama sekali tak melihat ada orang di parkiran.

"Lo hantu ya?" tanya Kana.

Kini saatnya cowok itu yang mengerjapkan matanya, ia terlihat bingung. Bagaimana bisa ia disebut hantu. Jelas-jelas kakinya masih menapak kuat di tanah. Kana pun tahu jelas karena sedari tadi ia berusaha mengangkat kaki cowok tersebut. Cowok itu pun sedikit mundur, lalu ia melepas ranselnya. Ia mengambil sesuatu dari dalam ranselnya.

Ternyata sebuah kotak bergambar martabak!

Kana tanpa sadar menelan ludahnya saat melihat kotak tersebut. Lalu cowok itu mulai membuka kotak martabak tersebut.

'Semoga bukan martabak keju!' batin Kana.

Jreng!

Kana menahan kedua tangannya dengan bersusah payah agar tak meraih kotak tersebut. Cowok itu maju satu langkah ke depan Kana. Lalu ia tersenyum.

"Kalau lo ambil martabak ini ...," ujar laki-laki itu. Ia sedikit memberi jeda pada kalimatnya.

"Kita pacaran."

Greb!

Kana sudah tak lagi bisa menahan kedua tangannya. Dengan cepat ia menarik kotak itu. Matanya berbinar-binar saat melihat martabak keju yang ada di dalam kotak tersebut. Kana mengambil satu potong martabak itu, lalu menggigitnya.

'Dia ngomong apa tadi ya?' tanya Kana dalam hati.

Lalu Kana mengedikan bahunya. Ia tak peduli dengan ucapan laki-laki itu. Hal terpenting saat ini adalah martabak keju yang nikmatnya tiada tanding tersebut.

Bersambung...

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Arrogant vs Crazy
9.6
Mencari nafkah tak semudah kisah fiksi. Nesta, gadis lulusan SMA bertubuh mungil, harus berjuang keras demi menyambung hidup. Keajaiban datang saat PT Taruna menerimanya sebagai office girl. Namun, nasib sial menimpa ketika bos angkuh memecatnya di hari pertama kerja. Nesta tak menyerah begitu saja karena ia sangat membutuhkan uang halal. Strategi gila apa yang akan ia lancarkan agar bisa bertahan di sana dan menghadapi sang atasan yang sombong?
Sampul Novel Benci Bila Harus Mencinta
8.0
Viona hancur saat mengetahui Aldi, tunangannya, berselingkuh dan berencana menikah dengan sahabatnya sendiri. Di tengah pengkhianatan pedih itu, sebuah kecelakaan tragis menimpanya hingga ia tak sadarkan diri. Beruntung, pria asing yang menabraknya bertanggung jawab dan tulus membantunya pulih. Kini, Viona terjebak dalam misi balas dendam terhadap masa lalunya. Akankah ia akhirnya membuka hati bagi pria penolongnya setelah semua luka terbalaskan?
Sampul Novel Guru Cantik dan Tetangganya Murid Macho
9.7
Menjadi dosen muda dengan penampilan menarik membuat wanita ini selalu menjadi pusat perhatian para mahasiswa di kampusnya. Ketegangan profesionalnya diuji ketika ia mengetahui bahwa salah satu murid laki-lakinya yang paling energik ternyata tinggal tepat di seberang rumahnya. Saat suaminya sedang pergi, sebuah insiden pipa air bocor membuat sang dosen basah kuyup dan tak berdaya. Di tengah kekacauan itu, sang murid datang menawarkan bantuan dengan penuh gairah yang sulit disembunyikan. Kisah romansa modern remaja yang penuh debaran ini menyoroti batas tipis antara etika guru dan godaan tetangga.
Sampul Novel Janji Kita Hanyalah Debu
8.2
Rania telah mencapai batas kesabaran menghadapi sikap dingin Farel. Memegang teguh janji masa lalu untuk pergi saat dikhianati, ia diam-diam menyiapkan perceraian dalam waktu tiga puluh hari. Namun, kehancuran sesungguhnya terjadi saat Rania ingin memberi kejutan ulang tahun di kantor suaminya. Ia justru menyaksikan Farel bermesraan dengan Alena, sang mantan kekasih. Momen pahit itu menjadi titik akhir yang memantapkan langkah Rania untuk benar-benar pergi.
Sampul Novel Jejak Cinta di Kota Hujan
9.7
Naya, penulis yang sedang buntu ide, mencari inspirasi di kota kecil penuh hujan. Di sana, ia terpikat oleh Arga, barista misterius yang menyimpan rahasia besar. Saat benih cinta tumbuh, Naya menemukan fakta bahwa Arga adalah penulis ternama yang sengaja menghilang akibat skandal masa lalu. Kini Naya terjebak dalam dilema moral yang sulit. Haruskah ia mengungkap identitas Arga demi kebenaran, atau melindungi pria yang ia cintai demi menjaga rahasianya?
Sampul Novel Menikah dengan Pria Lain Setelah Tunanganku Menunda Pernikahan
9.7
Tepat tiga hari sebelum hari bahagia, Eliana dikhianati oleh kekasihnya yang memilih menikahi teman masa kecilnya dengan alasan penyakit Alzheimer. Pacarnya meminta Eliana menunggu hingga wanita itu lupa segalanya. Tanpa air mata, Eliana mengambil langkah drastis dengan menghubungi keluarganya. Ia setuju menikahi pewaris keluarga Barton yang dikenal dingin melalui perjodohan lama. Eliana memastikan pria itu akan muncul di pelaminan bersamanya.