Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel SCHOOL DIARY

SCHOOL DIARY

Kana sering dijuluki Miss Bad Luck karena nasib cintanya yang selalu malang dibandingkan teman-temannya. Lelah dengan kesialan yang terus menimpa, ia akhirnya bertekad untuk berhenti peduli pada urusan asmara. Namun, komitmen tersebut langsung goyah saat seorang pemuda tiba-tiba datang membawa martabak keju kesukaannya. Cowok itu memberikan sebuah tawaran yang sulit ditolak: jika Kana mengambil martabak tersebut, maka mereka resmi berpacaran saat itu juga.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Lo tau alasan gue nolak Kana?" tanya Edo pada ketiga temannya.

Edo terus saja meracau dengan bangga tentang dirinya yang sudah menolak Kana. Ketiga temannya yang kebetulan sedang mengerjakan tugas kelompok di rumah Edo pun mau tak mau mendengarkannya. Namun ketiga temannya sama sekali tak merespon. Mereka nampak menunggu Edo melanjutkan kalimatnya. Edo tersenyum miring lalu mendengus pelan.

"Sebenarnya menurut gue, dia cuma cewek biasa yang selalu sial. Wajahnya biasa aja," lanjut Edo.

Salah satu temannya yang bernama Kevin menatap Edo dengan jengah. "Terus?"

Edo tersenyum miring. "Gue cuma mau dia merasakan sakit hati."

Temannya yang sedari tadi sibuk mengerjakan tugas pun mulai terganggu dengan ocehan Edo. Ia segera bangkit dan menghampiri Edo dengan sebuah buku di tangannya. Temannya itu segera meraih tangan Edo dan meletakan buku itu di telapak tangannya.

"Gue mau pulang," ujar temannya tersebut.

Edo yang merasa tugasnya belum selesai langsung panik. "Loh Lang? Kok udah mau pulang aja? Ortu gue bentar lagi pulang dari London loh."

Temannya yang bernama Gilang itu hanya diam, ia sibuk merapikan peralatan sekolahnya yang berserakan di rumah Edo. Gilang sama sekali tak merespon ucapan Edo. Saat hendak pergi, temannya yang bernama Faiz menahannya. Ia menghalangi pintu agar Gilang tak bisa keluar.

"Lo kok tumben buru-buru gini?" tanya Faiz.

Gilang mendengus pelan. "Gue mau jemput Mirna. Dia ada ekstrakulikuler hari ini."

Edo berjalan ke arah Gilang sambil menaik turunkan kedua alisnya. "Makin lengket aja yang udah pacaran satu tahun. Mau tau resepnya dong."

Gilang mengedikan bahunya, ia segera mengenakan tas ransel di punggungnya. Setelah itu ia menggeser tubuh Faiz yang menghalangi pintu masuk.

Setelah Gilang pergi dari sana, suasana menjadi begitu heboh. Mereka membicarakan sikap Gilang yang akhir-akhir ini menjadi lebih sibuk dengan kekasihnya. Bahkan mereka sudah tidak bisa berkumpul seperti sebelum Gilang dan Mirna berpacaran. Gilang selalu saja beralasan pergi dengan pacarnya.

"Lo tau alasan Gilang sama Mirna backstreet?" tanya Kevin.

Edo menggelengkan kepalanya. Begitu juga dengan Faiz yang baru saja duduk di tempat yang kosong.

Kevin mendekat pada kedua temannya dan berbisik. "Dia gak mau Mirna di serbu sama fansnya."

"Cupu banget," ujar Edo. "Harusnya dia sudah tau resiko nya kayak gitu."

Faiz menganggukan kepalanya, ia setuju dengan ucapan Edo. "Harusnya sebelum terima Gilang, si Mirna harus siap secara fisik dan mental."

"Secara dia pacaran sama idol sekolah," tambah Faiz.

Edo menoyor kepala Faiz. "Bahasa lo lebay banget."

Faiz mendelik tak terima mendapat toyoran di kepalanya. Ia menatap Kevin seolah meminta pertolongan. Sedangkan Kevin hanya mengedikan bahunya, ia memilih sibuk dengan buku yang ada di hadapannya.

~~~

Hari sudah mulai menggelap, tapi Kana masih terjebak di sekolah. Sebenarnya ia sudah pulang saat semua siswa sudah pulang. Tapi ia harus kembali ke sekolah karena buku pelajarannya tertinggal di bawah meja. Berkat kecerobohannya itu, ia harus mengeluarkan uang 2x lipat untuk naik ojek online ke sekolah. Memang tidak ada hari tanpa kesialan.

Saat hendak pulang, Kana bertemu Mirna yang baru saja tiba. Mirna meminta Kana untuk menunggunya sampai selesai mengikuti ekstrakulikuler karena ia merasa tak nyaman jika harus pulang sendirian.

Kana anak yang baik, maka dari itu ia bisa terjebak di sekolah sampai matahari sudah hampir sepenuhnya tenggelam. Kana duduk di kursi panjang yang ada di pinggir lapangan. Ia terus mengamati Mirna yang berada di tengah lapangan. Ia sedang membuat tandu dengan di bantu oleh kedua temannya.

"Gue iri sama Mirna," gumam Kana.

Kana menghela nafasnya pelan. Ia menundukan kepalanya dengan lemah. Lalu kepalanya kembali terangkat saat sebuah lengan memegang bahunya. Kana mendapati seorang laki-laki yang terasa tak asing di matanya. Lalu laki-laki itu tersenyum tipis ke arahnya.

"Lo liat Mirna?" tanya laki-laki tersebut.

Kana mengangguk pelan dengan mata yang masih terus mengamati laki-laki tersebut. Ia berusaha mencari siapa laki-laki itu di dalam lemari ingatannya. Lalu setelah cukup lama berpikir, akhirnya Kana dapat mengingatnya. Kana sangat terkejut, lalu mengacungkan jari telunjuknya ke arah laki-laki itu. Hal itu membuat laki-laki di hadapannya menatap dengan bingung.

"Lo ... Martabak keju!" ujar Kana dengan wajah terkejut.

Laki-laki itu tersenyum samar. "Gue kira lo lupa sama gue. Tadi lo langsung pulang sih."

"Gue juga ga yakin kalau lo dengar apa yang gue ucapin pas ngasih martabak itu," lanjut laki-laki itu.

Laki-laki itu pun duduk di samping Kana. Lalu ia terdengar menghela nafasnya pelan. Kana pun menolehkan kepalanya. Bersamaan dengan itu, laki-laki di sampingnya itu juga menoleh ke arahnya membuat pandangan mereka bertemu. Kana seketika tak bisa mengalihkan tatapannya dari kedua mata yang begitu memikatnya.

"Nama gue Gilang," ujar laki-laki itu.

Laki-laki bernama Gilang itu terkekeh pelan. "Gue cuma ngasih tau aja. Soalnya lo bahkan ga tanya nama gue karena terlalu sibuk sama martabaknya."

"Apa martabak itu lebih menarik dari gue?" tanya Gilang sambil tersenyum lebar hingga memperlihatkan deretan gigi putihnya.

Kana tak menjawab, ia masih terus diam menatap sepasang mata yang juga menatapnya. Gilang juga nampaknya masih enggan mengalihkan tatapannya dari Kana.

"Loh? Kakak kok disini?"

Gilang sontak mengalihkan tatapannya saat mendengar suara Mirna. Gilang berdeham pelan berusaha menstabilkan dirinya.

"Gue mau jemput lo. Ayo pulang sekarang. Udah selesai 'kan?" ujar Gilang sambil tersenyum.

Mirna membalas senyuman itu dengan senyum yang begitu manis, kemudian Mirna mengangguk pelan. Kana memperhatikan keduanya dengan bingung. Seperti ada sesuatu di antara kedua orang tersebut. Tapi Kana enggan menanyakannya.

"Mir, gue tunggu di luar gerbang ya," ujar Gilang.

Setelah mengatakan itu, Gilang bergegas pergi ke arah gerbang. Kemudian Mirna berlari mengambil tasnya yang masih berada di tengah lapangannya. Mirna menghampiri Kana, lalu menggenggam kedua tangan Kana.

"Maaf ya, Na. Gue pulang sama Kak Gilang hari ini. Gue gak tau kalau dia mau jemput," ujar Mirna.

Kana menganggukan kepalanya. "Kak Gilang itu—"

"Dia pacar gue. Tapi lo jangan bilang siapa-siapa ya. Gue backstreet sama dia," sela Mirna yang seolah bisa menebak isi pikiran Kana.

Setelah itu Mirna langsung menghambur ke arah gerbang. Kana terus mengamati Mirna yang sudah tiba di luar gerbang. Ia juga melihat Gilang yang sudah berada di atas motornya.

Lewat celah gerbang, Kana dapat melihat Gilang yang sedang menatapnya. Namun Kana segera mengalihkan tatapannya ke sembarang arah. Setelah itu Kana dapat mendengar deru motor yang mulai bergerak menjauh. Kana menundukan kepalanya, lalu ia memejamkan kedua matanya.

"Kana ... Kana ... apa yang lo harapkan sih?" tanya Kana pada dirinya sendiri.

Kana menyambar paper bag yang berisi buku pelajarannya. Lalu ia mulai berjalan ke arah gerbang untuk pulang. Kana bersama langkah gontainya itu menyusuri jalan yang sudah di terangi dengan lampu di sisi jalan. Ia menengadahkan kepalanya, menatap langit yang sudah gelap. Kana tersenyum tipis namun terasa begitu hampa. Perlahan pandangannya memburam saat air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

"Coba lo pikir, Na ... Kak Gilang itu populer, hidupnya begitu beruntung," gumam Kana pelan dengan suara yang bergetar.

Kana menarik nafasnya yang terasa sulit. "Bandingkan hidup dia sama hidup lo yang selalu dipenuhi kesialan. Dia ga mungkin mau pacaran sama orang kayak lo, Na."

"Kana ... lo harus sadar! Lo itu ... tercipta buat hidup sendirian di bumi yang luas ini."

Bersambung...

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95KCR" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95KCR
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Arrogant vs Crazy
9.6
Mencari nafkah tak semudah kisah fiksi. Nesta, gadis lulusan SMA bertubuh mungil, harus berjuang keras demi menyambung hidup. Keajaiban datang saat PT Taruna menerimanya sebagai office girl. Namun, nasib sial menimpa ketika bos angkuh memecatnya di hari pertama kerja. Nesta tak menyerah begitu saja karena ia sangat membutuhkan uang halal. Strategi gila apa yang akan ia lancarkan agar bisa bertahan di sana dan menghadapi sang atasan yang sombong?
Sampul Novel Benci Bila Harus Mencinta
8.0
Viona hancur saat mengetahui Aldi, tunangannya, berselingkuh dan berencana menikah dengan sahabatnya sendiri. Di tengah pengkhianatan pedih itu, sebuah kecelakaan tragis menimpanya hingga ia tak sadarkan diri. Beruntung, pria asing yang menabraknya bertanggung jawab dan tulus membantunya pulih. Kini, Viona terjebak dalam misi balas dendam terhadap masa lalunya. Akankah ia akhirnya membuka hati bagi pria penolongnya setelah semua luka terbalaskan?
Sampul Novel Guru Cantik dan Tetangganya Murid Macho
9.7
Menjadi dosen muda dengan penampilan menarik membuat wanita ini selalu menjadi pusat perhatian para mahasiswa di kampusnya. Ketegangan profesionalnya diuji ketika ia mengetahui bahwa salah satu murid laki-lakinya yang paling energik ternyata tinggal tepat di seberang rumahnya. Saat suaminya sedang pergi, sebuah insiden pipa air bocor membuat sang dosen basah kuyup dan tak berdaya. Di tengah kekacauan itu, sang murid datang menawarkan bantuan dengan penuh gairah yang sulit disembunyikan. Kisah romansa modern remaja yang penuh debaran ini menyoroti batas tipis antara etika guru dan godaan tetangga.
Sampul Novel Janji Kita Hanyalah Debu
8.2
Rania telah mencapai batas kesabaran menghadapi sikap dingin Farel. Memegang teguh janji masa lalu untuk pergi saat dikhianati, ia diam-diam menyiapkan perceraian dalam waktu tiga puluh hari. Namun, kehancuran sesungguhnya terjadi saat Rania ingin memberi kejutan ulang tahun di kantor suaminya. Ia justru menyaksikan Farel bermesraan dengan Alena, sang mantan kekasih. Momen pahit itu menjadi titik akhir yang memantapkan langkah Rania untuk benar-benar pergi.
Sampul Novel Jejak Cinta di Kota Hujan
9.7
Naya, penulis yang sedang buntu ide, mencari inspirasi di kota kecil penuh hujan. Di sana, ia terpikat oleh Arga, barista misterius yang menyimpan rahasia besar. Saat benih cinta tumbuh, Naya menemukan fakta bahwa Arga adalah penulis ternama yang sengaja menghilang akibat skandal masa lalu. Kini Naya terjebak dalam dilema moral yang sulit. Haruskah ia mengungkap identitas Arga demi kebenaran, atau melindungi pria yang ia cintai demi menjaga rahasianya?
Sampul Novel Menikah dengan Pria Lain Setelah Tunanganku Menunda Pernikahan
9.7
Tepat tiga hari sebelum hari bahagia, Eliana dikhianati oleh kekasihnya yang memilih menikahi teman masa kecilnya dengan alasan penyakit Alzheimer. Pacarnya meminta Eliana menunggu hingga wanita itu lupa segalanya. Tanpa air mata, Eliana mengambil langkah drastis dengan menghubungi keluarganya. Ia setuju menikahi pewaris keluarga Barton yang dikenal dingin melalui perjodohan lama. Eliana memastikan pria itu akan muncul di pelaminan bersamanya.