Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Saving My Two Sons Mentally

Saving My Two Sons Mentally

Demi menyelamatkan masa depan kedua buah hatinya, seorang istri mengambil keputusan besar untuk bercerai dari suaminya. Kini, ia harus berjuang sendirian menghadapi kerasnya hidup. Tanpa lelah, ia membanting tulang dari pagi hingga larut malam hanya untuk mencukupi kebutuhan harian serta biaya pendidikan anak-anaknya. Kisah ini menggambarkan pengorbanan luar biasa seorang ibu yang rela bekerja keras demi memberikan kehidupan yang lebih layak bagi anak tercintanya.
Bab
Bagikan

Bab 1

"Awh!" Riana memekik kencang begitu rambut panjangnya ditarik dengan kasarnya oleh suaminya sendiri. Wanita yang masih sibuk menyusui anaknya itu pun tersungkur ke lantai setelah ditarik dari kasur oleh Indra, yang tidak lain adalah suaminya.

"Sakit, Mas!" pekik Riana pada suaminya sembari memeluk putranya dengan erat.

"Aku nggak akan seret kamu kayak gini kalau kamu nurut dari tadi!" sentak Indra pada Riana.

Pria itu tidak memiliki belas kasihan sedikit pun pada istrinya yang masih menyusui anaknya. Hanya karena Riana lebih memilih menidurkan anaknya daripada mendengarkan ajakan suaminya, Indra tak segan-segan berlaku kasar pada istrinya tanpa menghiraukan putra mereka yang masih berusia satu tahun.

Faaz terus menyusu. Dia tampak sangat kehausan hingga masih menyedot ASI ibunya. Riana mengusap rambut putranya dengan penuh kasih sayang. Meskipun hatinya sedang sedih karena perlakuan suaminya, tapi Riana harus terlihat baik-baik saja di depan anaknya.

Indra yang tidak sabaran, langsung menarik rambut istrinya lagi dan menyeret wanita itu hingga ke ruang televisi. Indra tak peduli sama sekali pada istrinya yang sampai terbentur tiang pintu. Tidak hanya istrinya saja yang terluka, bahkan putra mereka yang masih kecil pun juga ikut menjadi korban benturan tiang pintu.

"Awh! Sakit, Mas!" pekik Riana yang merasa sakit di bagian kepala dan badannya. Tapi Indra sama sekali tak menggubris ucapan istrinya dan terus menyeretnya ke ruang televisi.

"Mas, kamu apa-apaan sih! Lihat ini Faaz jadi kena tiang pintu!" bentak Riana pada sang suami yang lebih mengedepankan emosi, daripada memperhatikan anak mereka yang masih ada dalam dekapan Riana.

"Aku nggak peduli! Makanya kalau gak mau diomelin harusnya kamu nurut dari tadi! Buruan siap-siap! Lihat tuh udah jam berapa!" omel Indra memarahi Riana di depan putra mereka.

Hanya karena masalah sepele, Indra tidak segan-segan menyakiti fisik Riana, bahkan juga ikut melukai putra mereka yang tidak tahu apa-apa. Riana menangis sembari mengusap-usap luka putranya. Tidak hanya fisik Riana saja yang terluka karena perlakuan Indra, tapi hatinya juga ikut tersakiti dengan sikap suaminya.

"Sabar bentar bisa gak sih, Mas? Faaz belum selesai minum. Faaz masih haus! Aku juga capek, Mas! Pengen istirahat meskipun hanya sebentar!" sahut Riana menahan tangis.

Bukan pertama kalinya Indra bersikap seperti ini pada Riana. Pria itu memang sering sekali mengamuk tidak jelas pada istri dan juga anaknya hanya karena masalah kecil yang sebenarnya tidak perlu diributkan.

"Cuma di rumah aja ngeluh capek. Capek mana sama aku yang tiap hari kerja?" omel Indra tak mau tahu dan tidak mau mengerti keadaan istrinya yang sudah kelelahan mengurus rumah dan anak seharian penuh.

Faaz terus menangis karena bocah itu terluka. Riana benar-benar tidak tega melihat putranya yang kesakitan karena ulah ayahnya sendiri.

Meski mendengar putranya menangis, hati Indra tak juga tergerak. Pria itu justru menyeret kembali istri dan juga anaknya hingga ke ruang televisi dan mengomeli Riana habis-habisan di depan Faaz.

"Cup-cup, Sayang. Mana yang sakit?" tanya Riana sembari mengusap-usap kening putranya yang terbentur pintu. Riana sendiri juga kesakitan. Kepala dan juga badannya ikut terluka karena terantuk pintu.

"Suruh diam tuh! Dari tadi nangis terus bikin pusing!" sungut Indra pada Riana. Bukannya membantu menenangkan anak mereka yang menangis, Indra justru masih terus mengomel pada Riana.

"Kamu nggak lihat Faaz lagi kesakitan kayak gini? Ini juga gara-gara kamu, Mas!" sahut Riana yang tak tahan dengan sifat egois suaminya.

"Gara-gara aku gimana? Semua tuh jelas karena kamu yang nggak becus jadi ibu! Kalau kamu nggak enak-enakan rebahan di kasur sambil nyusuin Faaz, Faaz nggak bakal ikut keseret!" sentak Indra tak ingin disalahkan oleh istrinya.

Keributan pun tak dapat terelakkan lagi. Pasangan suami istri itu mulai cekcok dan beradu mulut tanpa henti di ruang televisi, diiringi dengan suara tangisan Faaz yang semakin kencang.

"Faaz haus, Mas! Ngasih susu Faaz lebih penting daripada pergi ke acara temanmu. Lagian ini juga sudah malam. Aku dan faaz ingin istirahat," sahut Riana meradang.

Mendengar perkataan Riana, amarah Indra pun makin memuncak. "Makin berani kamu ya sama suami?"

Pria itu pun kembali menjambak rambut istrinya dengan geram. "Coba ngomong lagi sekarang! Lebih penting mana? Lebih penting kamu enak-enakan rebahan, gitu kan maksud kamu?"

"Aku lagi nyusuin anak kita! Aku juga capek Mas, pengen tidur. Emangnya salah kalau aku pengen istirahat setelah ngerjain pekerjaan rumah seharian? Belum lagi momong Faaz. Capek aku tuh, Mas!"

"Kamu cuma di rumah aja bilang capek. Coba kamu kerja di ladang sana! Tiap hari panas-panasan. Apa ada aku ngeluh capek? Enggak kan!" Indra semakin murka mendengar Riana yang berani melawan ucapannya.

"Kamu kerja cuma berapa jam, Mas! Pagi berangkat siang sudah sampai rumah. Lah aku? Aku kerja seharian! Dari bangun tidur jam empat pagi sampai Maghrib tanpa henti. Istirahat cuma kalo lagi nyusuin Faaz doang. Lebih capek siapa aku sama kamu!" Riana yang juga sudah terpancing emosi pun berani menyanggah ucapan suaminya.

"Kamu bener-bener istri nggak tahu di untung, ya? Dari tadi ngejawab terus! Kamu berani ngelawan sekarang, ha!" tidak hanya menjambak Riana, Indra juga mencengkram bahu Riana hingga membuat wanita itu kesakitan.

Riana makin tak tahan dengan sikap suaminya yang semena-mena pada dirinya, dan selalu saja membahayakan putranya. "Aku cuma mengungkapkan apa yang ada di pikiran aku, Mas. Aku pengen kamu ngertiin aku! Sedikit aja, Mas. Apa susah bersikap baik sama anak istrimu?" mulut Riana sampai bergetar saat berbicara. Dia merasa tidak kuat untuk menahan rasa sakit dan sedihnya. Tapi meskipun begitu sebisa mungkin Riana tetap menahan air matanya agar tak terjatuh di hadapan suaminya.

"Kurang ngertiin kamu gimana aku, ha! Udah untung nikah langsung punya rumah lengkap seisinya. Coba tuh lihat orang-orang yang masih numpang sama mertuanya! Yang gak punya kerjaan, luntang-lantung pengangguran. Masih mending kamu nikah sama aku udah punya apa-apa. Dasar perempuan gak tau diuntung! Gak pernah bersyukur!" Indra menghempaskan rambut Riana dengan kencang dari tangannya.

"Yang aku maksud bukan itu, Mas. Tapi perhatian kamu, kasih sayang kamu! Terserah kalau kamu mau nyakitin aku, tapi tolong jangan sakiti Faaz! Faaz masih anak-anak. Dia gak tahu apa-apa! Faaz nggak punya kesalahan apa pun, jadi tolong jangan sakiti Faaz lagi!"

"Siapa yang nyakitin Faaz? Salah siapa kamu peluk-peluk dia waktu aku seret? Suruh siapa kamu masih nyusuin dia waktu aku minta buat siap-siap? Faaz luka itu gara-gara kamu sendiri!" timpal Indra tanpa rasa bersalah. "Kamu jangan coba-coba pakai anak buat membantah sama suami!"

Riana pun bangkit dari lantai sembari menggendong anaknya yang masih menangis. Dengan langkah cepat, wanita itu berusaha menyingkir dari hadapan Indra dan menghentikan pertikaiannya dengan sang suami.

"Mau ke mana kamu!" Indra menarik baju bagian belakang Riana.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Crossing Love
9.6
Miya Tamama adalah gadis polos yang menyimpan trauma masa kecil hingga dunianya kehilangan warna. Di tengah hidup yang kelabu, muncul Tamama Kunai, putra konglomerat sekaligus investor di sekolahnya yang memberi warna baru di hati Miya. Meski mendapat kasih sayang dari kakaknya, dokter Koko Tamama, ternyata ada pria lain yang juga mengamati Miya secara rahasia. Akankah cinta sang pewaris mampu menyembuhkan luka lama dan mengubah takdir hidup Miya selamanya?
Sampul Novel Dibenci Keluarga Mertua
8.1
Ayu selama ini tegar menghadapi kebencian ibu mertua dan adik iparnya. Namun, kesabarannya runtuh saat Wahyu, suaminya, terbukti berselingkuh. Meski Wahyu menyesal dalam diam, sang ibu justru mendesaknya menceraikan Ayu demi wanita lain bernama Vina. Merasa dikhianati dan terus dihina sebagai wanita kampungan, Ayu akhirnya memilih pergi. Ia pun meluapkan kemarahan besar dan bersumpah bahwa hidup keluarga yang menyakitinya tidak akan pernah tenang lagi.
Sampul Novel Makasih Patah Hati
9.5
Amelia, wanita berusia 25 tahun, telah memilih untuk melajang selama empat tahun karena jengah dengan pria yang hanya ingin main-main. Baginya, kesendirian adalah perlindungan terbaik hingga ia bertemu Fred. Pria berusia 27 tahun itu merupakan seorang CEO muda kaya raya dengan kekuasaan besar. Ketertarikan Fred yang mendalam membawanya pada sebuah tawaran yang tak terduga. Ia meminta Amelia menjadi istrinya. Kini, Amelia harus menentukan pilihan hidupnya.
Sampul Novel Makmum Kedua Suamiku Sahabat Baik ku
8.4
Hati Aisyah hancur saat suaminya meminta izin untuk menikahi sahabat baiknya sendiri. Meski terluka, ia memilih bertahan dan mengizinkan poligami tersebut demi keutuhan rumah tangga. Namun, kehidupan barunya justru penuh penderitaan karena sang imam bersikap dingin dan enggan memberikan kasih sayang padanya. Di tengah perlakuan kasar dan kata-kata menyakitkan, Aisyah harus menguji kesabarannya. Sanggupkah ia tetap bertahan dalam pernikahan yang tidak adil ini?
Sampul Novel Mantanku yang Berhati Dingin Menuntut Pernikahan
9.2
Carrie terjebak dalam pernikahan kontrak yang dingin dengan Kristopher hingga ia tak sengaja jatuh cinta. Namun, saat krisis melanda, suaminya justru memilih wanita lain. Merasa dikhianati, Carrie pun memutuskan bercerai. Saat Carrie mulai bangkit dan dikelilingi banyak pria, Kristopher baru menyadari penyesalannya. Demi mendapatkan kembali mantan istrinya, ia menawarkan mahar 40 miliar rupiah dan menuntut sebuah pernikahan baru yang penuh ambisi.
Sampul Novel Mengandung Bayi Bos
8.8
Kehidupan normal Marimar, seorang staf hotel, hancur seketika setelah pertemuannya dengan seorang pria mabuk misterius. Insiden itu membuatnya hamil di luar nikah. Saat berusaha mencari pertanggungjawaban, Rimar justru menemukan fakta memilukan bahwa pria tersebut sudah memiliki istri. Kini ia terjebak dalam dilema besar antara mengungkap kebenaran kepada sang ayah biologis atau melenyapkan janin di rahimnya demi masa depan yang tak pasti.