Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Saving My Two Sons Mentally

Saving My Two Sons Mentally

Demi menyelamatkan masa depan kedua buah hatinya, seorang istri mengambil keputusan besar untuk bercerai dari suaminya. Kini, ia harus berjuang sendirian menghadapi kerasnya hidup. Tanpa lelah, ia membanting tulang dari pagi hingga larut malam hanya untuk mencukupi kebutuhan harian serta biaya pendidikan anak-anaknya. Kisah ini menggambarkan pengorbanan luar biasa seorang ibu yang rela bekerja keras demi memberikan kehidupan yang lebih layak bagi anak tercintanya.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Faaz masih nangis, Mas. Mau aku kasih susu lagi. Faaz pasti juga udah ngantuk," ujar Riana dengan suara lemah.

"Kamu ini benar-benar susah dikasih tahu, ya!" hardik Indra sembari mendorong Riana hingga Riana terjatuh dengan posisi memeluk anaknya. "Susah banget sih disuruh nurut sama suami? Siapa yang suruh kamu kasih susu dia lagi! Aku bilang buruan siap-siap! Kamu ini beneran pengen dihajar terus, ya?"

"Udah malam, Mas. Faaz juga udah ngantuk. Sekarang udah jam delapan malam. Faaz juga haus. Aku pun capek," sahut Riana mencoba menolak halus ajakan dari suaminya untuk pergi ke acara teman.

"Aku bilang siap-siap ya cepetan dandan yang rapi sana! Masih nggak mau nurut juga?" Indra menginjak kaki Riana dengan kencang. "Mendingan kamu pergi aja dari sini kalau kamu nggak mau nurut! Pergi sana!" ancam Indra mengusir Riana.

"Awwh sshh sakit, Mas," rengek Riana yang merasakan sakit di kakinya akibat di injak oleh suaminya sendiri.

"Siap-siap sekarang, atau pergi dari rumah ini!" ancam Indra.

Riana menyerah. Wanita itu tak mampu lagi menahan rasa sakit akibat siksaan dari suaminya yang kasar. Akhirnya Riana pun memilih mengalah. Untuk kesekian kalinya, wanita itu selalu saja mengalah pada suaminya yang tak pernah mengerti dirinya.

"Aku tunggu sepuluh menit! Kalau kamu nggak keluar juga dari kamar, bakal aku lempar semua baju-baju kamu ke luar rumah!"

Riana terisak sembari memeluk erat putranya. Setelah bertikai dengan suaminya, Riana masuk ke dalam kamarnya untuk bersiap-siap. Wanita itu masih harus menemani Indra untuk pergi ke acara teman suaminya.

"Diam ya, Nak? Kita ikut sama ayah ya? Kita jalan-jalan yuk sama ayah!" ucap Riana mencoba menenangkan putranya, di saat wanita itu sendiri juga menangis.

Begitulah kehidupan rumah tangga Riana dan juga Indra. Riana hidup bersama dengan pria yang benar-benar tidak bisa memperlakukan wanita dengan baik. Dia hidup bersama suami yang hanya bisa membuatnya menderita.

Riana segera keluar dengan pakaian rapi dan wajah yang telah dia poles untuk menutupi mata sembabnya. Mereka naik kendaraan roda dua itu dan pergi menuju ke acara teman kerja Indra.

Angin malam menerpa wajah Faaz yang tengah di gendong ibunya. Riana segera memasangkan topi selimut bayi di kepala Faaz agar aman dari hembusan angin yang menerpa wajahnya.

Setelah melalui pertengkaran hebat bersama suaminya, Riana masih harus tersenyum saat dirinya menampakkan wajah di depan banyak orang. Riana selalu menunjukkan ekspresi bahagia, seolah-olah tak terjadi apapun kepadanya.

Tepat pukul sepuluh malam, akhirnya acara pun selesai dan Riana bisa pulang. Faaz sampai tertidur dalam gendongan Riana. Begitu mereka tiba di rumah, wanita itu segera masuk ke kamar dan menemani putranya beristirahat. Sedangkan Indra memilih tidur di ruang tv.

***

Tepat pukul empat pagi, Riana bangkit dari ranjangnya dan hendak memulai aktivitas. Namun, langkah Riana terhenti begitu ia melihat putranya yang terbangun. "Eh, Sayang? Kok udah bangun?" sapa Riana pada putranya yang baru saja membuka mata.

Melihat putranya yang terjaga, Riana pun kembali berbaring di samping putranya sembari menyusui Faaz. "Tidur lagi ya, Sayang!" ucap Riana sembari mengusap lembut rambut putranya.

Sampai azan subuh pun akhirnya berkumandang, Indra terbangun dari tidurnya karena suara azan dari mushola yang berada di samping rumahnya. Indra merasa aneh karena tak mendengar suara apa pun dari dapur. Seharusnya istrinya sudah bangun dan mulai beraktifitas sebelum azan subuh.

"Kok dapur masih sepi?" gumam Indra bergegas menuju ke kamar untuk mencari sang istri. Pria itu pun berdiri di ambang pintu sembari melihat istrinya yang ternyata saat ini masih berbaring di ranjang untuk menemani Faaz tidur.

"Riana!" Rasa kesal menggerogoti hati Indra tatkala istrinya itu masih asik berbaring di ranjangnya.

Riana langsung menoleh ke arah pintu, "Iya, Mas." Jantung Riana berdegup kencang antara kaget dan rasa takut.

"Apa sih, Mas? Gak usah teriak-teriak bisa gak sih?" ucap Riana lembut.

"Udah jam berapa ini? Bukannya cepetan ke dapur malah enak-enakan di kasur! Buruan masak sana!" omel Indra pada Riana.

"Iya, Mas. Bentar lagi ya?" pinta Riana memohon.

"Aku bilang sekarang ya sekarang!" bentak Indra.

"Nggak bisa, Mas. Faaz kebangun gara-gara keberisikan kamu. Mas kan tahu, aku harus nyusuin selama satu jam baru faaz bisa tidur lagi."

"Tinggal di geletakin aja apa susahnya sih! Udah bangun ya biarin melek, gak usah di tidurin lagi!" sungut Indra.

"Tapi Mas, Faaz nya kan masih ngantuk. Kasian kalo gak di tidurin lagi," sahut Riana meminta pengertian suaminya.

"Udah buruan sana! Faaz biar aku yang jaga." Indra yang sedari tadi berdiri di tengah-tengah pintu pun langsung melangkah masuk untuk naik keatas ranjang.

"Tapi nanti kalau Faaz nangis gimana?" tanya Riana merasa bimbang.

"Enggak! Udah sana, gak usah bawel! Kamu mau rambut kamu aku jambak lagi?"

Riana yang tak ingin mencari masalah dengan suaminya pun langsung beranjak dan melangkah menuju dapur. Riana menghembuskan nafas panjang dan meregangkan otot-otot jarinya sebelum memulai beraktivitas.

"Astagfirullah. Aku lupa kalau belum sholat, lebih baik aku sholat dulu deh," ucap Riana seraya menepuk dahinya. Riana yang sudah berada di dapur, langsung bergegas mengambil air wudhu untuk melaksanakan kewajibannya.

Setelah selesai sholat, hal yang pertama Riana lakukan adalah memasak beras, sambil menunggu nasi matang, Riana mulai menyiapkan bahan-bahan yang akan dimasak. Dia mulai tidak tenang karena mendengar suara tangisan Faaz.

"Aduh … Faaz kenapa nangis terus ya? Kan ada mas Indra di sana." Riana menggigit bibir atasnya, mencoba untuk fokus dan segera menyelesaikan tugasnya.

Dengan grasak-grusuk Riana langsung segera memasak. Meski pun memasak adalah hal yang biasa dia lakukan, tapi tetap saja dia harus tetap berhati-hati.

"Apa Faaz haus ya? Atau karena masih ngantuk?" Riana bertanya-tanya pada dirinya sendiri seraya memasukkan penyedap ke dalam masakannya.

Tidak membutuhkan waktu lama bagi Riana untuk memasak. Riana juga bisa mengerjakan pekerjaannya secara bersamaan. Ketika dia memasak, sambil menunggu masakannya matang Riana menyapu dapur lantai dapur dan mencicil mencuci piring-piring kotor. Bahkan terkadang Riana pun akan membawa Faaz saat melakukan pekerjaan rumah.

"Huh, akhirnya masakannya selesai." Rasa lega menyergap diri Riana, tapi hal itu tak bertahan lama karena saat Riana hendak mencuci piring, tangisan Faaz semakin memekakkan telinganya.

"Itu Faaz kenapa nangis terus ya? Mas Indra kemana sih sebenarnya." Riana benar-benar tidak bisa fokus pada aktivitasnya.

"Lebih baik aku lihat keadaan Faaz dulu deh. Gak enak rasanya kalau denger Faaz nangis kayak gitu," gumam Riana.

Saat sampai di kamar, Riana dibuat kesal oleh sikap Indra. Bagaimana tidak? Indra sedang sibuk memainkan ponselnya dan membiarkan Faaz yang terus-menerus menangis. Bahkan tidak ada raut wajah perduli saat tangan kecil Faaz menarik-narik baju Indra.

"Ya ampun, Mas. Dari tadi Faaz nangis tapi kamu malah ngebiarin dia gitu aja?"

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Anakku Jadi Saksi Perselingkuhan Suamiku sama Sahabatku
8.3
Perayaan ulang tahun pernikahan kelima Ivana berubah menjadi mimpi buruk yang terekam kamera. Di atas ranjang mereka, Lionel tega memadu kasih dengan Regina, sahabat dekat Ivana. Kejinya, putra kandung Ivana justru berjaga di depan pintu demi menghalangi ibunya masuk. Alih-alih merasa bersalah, Lionel yang muak melihat bekas luka di perut Ivana justru menikmati kemesraan bersama selingkuhannya tanpa memedulikan hancurnya perasaan sang istri.
Sampul Novel Balas Dendam Putri Konglomerat
8.2
Aluna hancur saat memergoki suaminya, Dian, menemani Ratnasari di rumah sakit ketika ia sedang berjuang untuk program bayi tabung. Pengkhianatan memuncak saat Aluna dikurung dan dipaksa menggugurkan kandungannya akibat sabotase obat. Setelah kehilangan bayinya dan diusir dari rumah, identitas asli Aluna terungkap sebagai putri konglomerat media yang hilang. Kini, sang pewaris telah kembali untuk menuntut balas pada semua orang yang telah menghancurkan hidupnya.
Sampul Novel Dimanjakankan oleh Bos Mafia Kejam
9.0
Khloe dijebak saudari kandung dan calon suaminya di hari pernikahan hingga mendekam tiga tahun di penjara. Setelah bebas, ia kembali ditindas dan dipaksa melayani pria tua demi ibunya. Di tengah keputusasaan, ia bertemu Henrik, bos mafia kejam yang justru melindunginya. Meski dingin, Henrik memberikan kasih sayang luar biasa bagi Khloe. Ia membantu Khloe membalas dendam pada para pengkhianat dan memastikan tak ada lagi yang berani menyakitinya.
Sampul Novel Gadis Penyuka Hujan
8.5
Seorang siswi SMA terjebak dalam memori kelam masa lalu saat hujan turun membasahi malam yang dingin. Di balik tetesan air itu, ia menyembunyikan kesedihan mendalam dan kenyataan pahit sebagai remaja yang tengah mengandung. Kisah ini mengikuti perjalanan emosionalnya menghadapi luka lama yang kembali terbuka, sembari berjuang menanggung beban hidup yang berat di usia muda. Sebuah narasi tentang duka, rahasia, dan kenyataan yang tak terelakkan.
Sampul Novel Istri Gelap Tuan Arrogant
9.0
Kinanti tidak pernah menduga nasibnya akan berakhir sebagai istri siri dari majikannya sendiri, Adam. Padahal, pria itu telah memiliki istri bernama Renata yang sangat dicintainya. Keadaan menjadi semakin rumit saat Kinanti mengandung anak Adam. Kini, rahasia besar tersebut berada di ambang kehancuran. Bagaimana reaksi Adam saat mengetahui kehamilan Kinanti? Dan apa yang akan terjadi jika Renata mengetahui bahwa suaminya diam-diam memiliki istri gelap?
Sampul Novel Keputusan Takdir
8.5
Sallyana mengira cintanya akan berakhir indah, namun Veen justru memaksanya pergi hingga hatinya hancur. Saat ia mulai berhasil merelakan dan melupakan luka lama, takdir justru mempertemukan mereka kembali dalam status yang sangat berbeda. Akankah Sallyana jatuh hati lagi pada Veen setelah perpisahan pahit itu? Ataukah ia akan memilih pemuda lain yang hadir saat ia mencoba bangkit? Takdir memegang kunci atas akhir kisah pencarian kebahagiaan sejati ini.