
Satu Talak Seribu Luka
Bab 3
Hari itu kota dipenuhi hiruk-pikuk, suara klakson dan langkah kaki pejalan kaki bersahutan di sepanjang trotoar. Aurelia berjalan menyusuri jalan utama menuju café tempat pertemuan berikutnya dengan klien. Gaun kasualnya yang elegan menonjolkan postur anggunnya, namun hatinya tetap tegang, karena ia tahu hari ini akan ada kemungkinan bertemu dengan Damian.
Dan benar saja. Sesampainya di lokasi, ia melihat sosok pria itu duduk di salah satu meja terbuka, mengenakan jas hitam tipis tanpa dasi, tampak menunggu seseorang.
Damian.
Senyum samar menghiasi wajahnya saat matanya bertemu dengan Aurelia. Tidak seperti dulu, kali ini ada sesuatu yang lembut, hampir hangat, di balik tatapan tajamnya. Hati Aurelia berdebar lebih cepat, tetapi ia menegakkan kepala, menahan perasaan yang mengusik profesionalismenya.
"Riel," sapa Damian sambil berdiri, menatapnya dengan sorot mata yang sulit dibaca. "Aku tidak sengaja berada di sini, tapi... ternyata kita bertemu lagi."
Aurelia tersenyum tipis. "Sepertinya ini takdir yang sering memaksa kita bertemu, Tuan Alveric." Ia menahan diri agar tidak menunjukkan kegugupannya.
Damian mengangguk, lalu duduk kembali. "Aku sedang menunggu seorang vendor florist. Tapi aku melihatmu datang... dan aku pikir, kenapa tidak menemuimu sebentar?"
Hatinya menolak untuk terdengar senang, tetapi tidak bisa dipungkiri, kata-kata Damian membuatnya merasa diperhatikan-sesuatu yang lama hilang dari hidupnya.
Saat mereka berbincang tentang konsep pernikahan, Damian mulai menunjukkan perhatian yang tak biasa. Ia mencondongkan tubuh, menatap Aurelia saat ia menjelaskan detail bunga dan dekorasi, sesekali tersenyum atau mengangguk sambil memberikan komentar yang membuat Aurelia sedikit tersipu.
"Riel, aku pikir ide itu bagus. Tapi aku ingin mendengar pendapatmu-apa kau yakin warna ini cocok untuk tema pernikahan?" Damian bertanya sambil menatapnya, menekankan bahwa pendapatnya bukan sekadar formalitas.
Aurelia menelan ludah, hatinya berdebar. Ia tahu pria ini tak hanya sekadar klien yang ingin masukan, tapi perhatiannya... itu berbeda. Lebih pribadi.
Ketika café mulai ramai, seorang pelayan hampir menabrak Damian. Tanpa diminta, Damian menahan pelayan itu dengan lengan kuatnya, dan matanya kembali tertuju pada Aurelia. "Kau baik-baik saja?" tanyanya, suaranya rendah tapi jelas terdengar.
Aurelia menatapnya, merasa dilema. Ia ingin membalas perhatian itu dengan rasa aman yang dulu ia rindukan, tapi sisi profesionalnya menuntut untuk tetap dingin. "Aku baik-baik saja," jawabnya singkat.
Namun Damian tidak berhenti. Ia menyingkirkan kursi sedikit agar Aurelia bisa duduk lebih nyaman, membuat dirinya berdiri di sampingnya sejenak. Hal itu membuat beberapa pengunjung café menoleh, dan Aurelia merasakan tatapan penasaran dari mereka.
Hatinya bergejolak. Ada rasa cemburu yang aneh, meski Damian tidak melakukan apa pun yang melewati batas. Tapi perhatian kecilnya-tatapan hangat, senyum samar, gestur melindungi-menghidupkan kembali perasaan lama yang selama ini ia kubur.
Saat vendor florist datang, Damian tetap memegang kendali, tapi matanya sesekali menatap Aurelia, seakan meminta persetujuan atau sekadar ingin berbagi pandangan dengannya. Setiap kali mata mereka bertemu, denyut jantung Aurelia meningkat. Ia merasa bersalah karena membiarkan dirinya merasakan sesuatu yang selama ini ia hindari: rindu, perhatian, dan sedikit... cinta yang tersisa.
"Riel," Damian berkata perlahan saat mereka selesai meninjau contoh bunga. "Aku harap kau tahu, aku menghargai setiap saranmu. Tidak semua orang bisa menilai dengan baik seperti kau."
Aurelia menghela napas, menahan rasa campur aduk. "Aku profesional, Tuan Alveric. Itu tugasku," jawabnya singkat, meski hatinya bergetar tak karuan.
Damian menatapnya lama, seakan membaca semua dilema batin yang tersembunyi. "Aku tahu kau profesional. Tapi aku tidak bisa menahan diri untuk peduli, Riel. Aku tidak peduli apakah ini benar atau salah, aku tetap... ingin dekat denganmu."
Aurelia menundukkan kepala, menahan air mata yang hampir jatuh. Perhatiannya membuatnya dilema: apakah ia harus menjaga jarak demi profesionalisme, atau membiarkan perasaan lama muncul kembali, meski tahu itu bisa menyakitinya?
Café itu kini ramai dengan obrolan pengunjung, namun di tengah keramaian, dua hati yang pernah hancur itu berdiri di ambang emosi yang tak pernah padam. Aurelia sadar satu hal: kehadiran Damian di tempat publik bukan hanya tentang profesionalisme lagi. Ia sudah memasuki wilayah pribadi, mengguncang ketenangan yang telah ia bangun selama dua tahun.
Saat akhirnya Aurelia bangkit dan mengucapkan selamat tinggal, Damian menahan tangannya sebentar. "Riel... sampai ketemu lagi," katanya, matanya menyiratkan janji yang tak diucapkan.
Aurelia tersenyum tipis, menahan hati yang berkecamuk. "Sampai ketemu, Tuan Alveric."
Dan saat ia melangkah pergi, ia sadar: badai emosional yang Damian mulai tunjukkan, kini tak hanya ada di kantor, tapi di dunia nyata, di depan orang banyak. Dan Aurelia tahu-menghindar atau tetap profesional bukan lagi pilihan mudah.
Ia kini terperangkap antara profesionalisme dan perasaan lama yang kembali membara.
Minggu itu, kantor Étoile Weddings dipenuhi aktivitas yang lebih sibuk dari biasanya. Aurelia berlari dari satu rapat ke rapat lain, meninjau dekorasi, memastikan vendor tepat waktu, sambil mengatur jadwal para staf. Namun meskipun sibuk, pikirannya selalu terselip pada satu hal: Damian.
Ia tidak tahu kapan atau bagaimana semuanya mulai terasa berbeda. Damian mulai muncul dengan cara yang tak pernah ia duga-lebih intens, lebih dekat, dan tanpa sadar membuat dirinya terperangkap kembali dalam emosi yang ia kira sudah padam.
Hari itu, Aurelia menerima pesan singkat dari Damian:
"Aku akan mampir ke kantor sekitar jam tiga. Ada beberapa hal yang ingin kubahas langsung denganmu. Hanya kita berdua."
Pesan itu sederhana, tapi cukup membuat jantung Aurelia berdebar. Ia menundukkan kepala, menahan napas, lalu membalas dengan profesional:
"Baik, Tuan Alveric. Aku akan menunggu."
Setengah jam kemudian, langkah kaki Damian terdengar di koridor. Aurelia menatapnya dari balik layar komputer, hatinya berdebar keras. Ia mencoba menenangkan diri, tapi aura pria itu-cara berjalan, postur tegap, senyum samar-membuatnya sulit berpikir jernih.
"Riel," sapanya lembut, saat memasuki ruang kerjanya. "Aku tidak akan lama. Hanya ingin meninjau beberapa detail dekorasi yang perlu sentuhan akhir."
Aurelia menegakkan tubuhnya. "Tentu, silakan duduk." Suaranya terdengar tenang, tapi hatinya bergetar.
Damian mengambil kursi di samping mejanya, menatap setiap dokumen dengan seksama. Ia sesekali mencondongkan tubuh, menatap Aurelia ketika ia menjelaskan, bahkan memberi komentar yang membuat Aurelia tersentak.
"Riel... kau tahu, aku selalu menghargai caramu melihat sesuatu. Tidak banyak orang yang sepeka itu terhadap detail," katanya, suaranya rendah, menembus ke relung hati Aurelia.
Ia menahan napas. Kata-kata itu terdengar ringan, tapi penuh perhatian, seperti menyelam ke ruang batinnya yang rapuh. "Itu memang tugasku, Tuan Alveric," jawabnya, tetap profesional, meski denyut di dadanya menembus batas kesabaran.
Damian tersenyum tipis, hampir tak terlihat, lalu menatapnya lebih lama. "Riel... aku ingin kau tahu, aku tidak hanya peduli soal pekerjaan. Aku... peduli padamu."
Aurelia menatap lurus, menahan air mata. "Tuan Alveric... ini kantor, dan kita harus profesional. Aku tidak bisa-"
"Tapi kau ingin, bukan?" Damian memotong pelan, suaranya lembut namun menantang. Tatapannya penuh makna, membuat Aurelia terdiam sejenak. Jantungnya berdebar kencang. Ia tahu Damian sedang menguji batasnya.
"Tidak! Aku tidak-" suaranya nyaris pecah, tapi ia menahan diri. "Aku tidak ingin terganggu lagi. Kita hanya profesional."
Damian mengangguk pelan, senyumnya samar. "Baik. Profesional. Tapi aku tahu kau masih punya perasaan. Aku bisa merasakannya. Jangan bohong padaku."
Aurelia menundukkan kepala, menatap dokumen di depannya, mencoba menenangkan hati yang kacau. "Aku... aku tidak ingin membicarakan ini lagi," bisiknya, napasnya tersengal.
Namun Damian tidak berhenti. Ia menyingkirkan kursi sedikit agar Aurelia lebih nyaman, menatapnya sekilas, dan berkata lembut, "Riel... aku akan sabar. Tapi kau tidak bisa menghindar selamanya. Aku akan selalu berada di dekatmu, melihatmu, dan... peduli padamu."
Hatinya bergetar hebat. Setiap kata Damian menusuk dinding pertahanan yang ia bangun selama dua tahun. Ia ingin menatapnya, ingin menangis, ingin mengakui perasaan yang tak pernah hilang. Tapi ia menahan diri.
"Damian... jangan lakukan ini. Aku tidak bisa-" katanya, suaranya hampir patah.
Damian mendekat sedikit, matanya menatapnya tajam, tapi lembut. "Aku tidak ingin memaksamu. Aku hanya ingin kau menghadapi perasaanmu sendiri. Kau tidak bisa lari darinya selamanya, Riel. Aku tahu kau masih mencintaiku... meski kau tidak mau mengakuinya."
Aurelia menundukkan kepala, merasakan jantungnya seperti ditekan. Perasaan yang ia kubur selama dua tahun kini bangkit kembali, liar dan sulit dikendalikan. Ia tahu Damian benar-tidak ada yang bisa ia lari. Setiap perhatian, setiap tatapan, setiap kata lembutnya... semuanya membangkitkan kembali cinta yang dulu ia kira mati.
Damian tersenyum, seolah membaca konflik batin Aurelia. Ia tahu ini adalah ujian, bukan sekadar kata-kata. Ia ingin Aurelia menyadari perasaannya sendiri tanpa ia harus memaksa.
"Riel... aku tidak ingin kau terluka lagi. Tapi aku juga tidak bisa membiarkanmu menutup hatimu. Aku akan berada di sini, sepanjang kau mau, untukmu."
Aurelia menelan ludah, matanya berkaca-kaca. Ia ingin menatapnya, ingin berkata, aku juga masih mencintaimu. Tapi mulutnya tetap terkunci. Profesionalismenya menuntut ia tetap tegar, meski hatinya hancur oleh perhatian Damian yang intens.
Ketika Damian akhirnya pergi, Aurelia berdiri di tempatnya, menarik napas panjang, menatap jendela kantor yang memantulkan sinar senja. Ia sadar satu hal: badai emosional yang Damian mulai tunjukkan bukan lagi sekadar ujian profesional. Itu telah memasuki wilayah pribadinya, memaksa ia menghadapi cinta lama, perhatian yang hangat, dan dilema yang tak pernah ia bayangkan akan muncul lagi.
Dan Aurelia tahu, dirinya kini berada di persimpangan berbahaya: antara mempertahankan profesionalisme atau menyerah pada perasaan yang selama dua tahun ia kubur.
Damian telah memulai permainan emosionalnya-dan Aurelia sadar, ia mungkin sudah kalah sebelum pertarungan dimulai.
Minggu berikutnya, kota dipenuhi keramaian menjelang malam. Aurelia berdiri di balkon apartemennya, menatap lampu-lampu kota yang berkelap-kelip. Ia mencoba menenangkan pikirannya, tapi bayangan Damian terus hadir, menghantui setiap langkahnya. Perhatiannya yang intens beberapa hari terakhir membuat Aurelia sulit bernapas-antara bahagia, cemas, dan marah pada dirinya sendiri karena perasaan lama yang muncul kembali.
Pagi itu, Aurelia menghadiri sebuah acara promosi bersama klien VIP untuk Étoile Weddings. Suasana mewah dan glamor memenuhi ballroom, dengan cahaya kristal yang memantul di dinding, dan tamu-tamu bergaya elegan memenuhi ruangan. Aurelia sibuk memeriksa detail dekorasi sambil menanggapi permintaan klien, namun matanya tak bisa menghindari satu sosok yang kini selalu membayangi pikirannya.
Damian hadir, berdiri di dekat bar, rapi dengan setelan hitam klasik yang membuatnya tampak maskulin dan menawan. Tanpa diduga, tatapannya menemukan Aurelia, dan ia tersenyum samar.
Hati Aurelia berdegup kencang. Ia mencoba menjaga jarak profesional, menundukkan kepala dan menatap dokumen yang dipegangnya. Tapi Damian mendekat, dengan cara yang tak bisa ia hindari-tanpa memaksa, tapi penuh perhatian.
"Riel," suaranya terdengar lembut di telinganya, membuat seluruh tubuh Aurelia gemetar. "Bagaimana kau bisa tetap terlihat anggun di tengah keramaian seperti ini?"
Aurelia menelan ludah, menatapnya sekilas, mencoba tetap tegar. "Tuan Alveric... ini acara klien. Kita harus fokus."
Namun Damian tidak mundur. Ia menunduk sedikit, menyingkirkan seutas rambut Aurelia yang menempel di pipinya, sebuah gestur kecil yang membuat jantungnya hampir berhenti. "Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja. Keramaian ini bisa melelahkan, dan aku... peduli padamu."
Aurelia menatap tajam, menahan perasaan campur aduk. Ia tahu gestur itu terlihat manis, tapi di saat bersamaan, membuatnya merasa cemburu pada orang-orang di sekelilingnya-bahwa Damian bisa memperhatikan dirinya dengan cara yang tidak bisa ia abaikan.
Tidak lama kemudian, seorang klien wanita yang dikenal menaruh perhatian khusus pada Damian menghampiri mereka. "Damian, aku ingin berdiskusi tentang konsep bunga," ujarnya dengan nada manja. Aurelia menahan napas, merasakan ketegangan meningkat.
Damian tetap tenang, namun matanya tidak pernah lepas dari Aurelia. "Tentu, tapi sebentar saja. Riel sedang menjelaskan beberapa detail penting," ujarnya lembut, membuat klien itu sedikit terdiam, namun masih tersenyum samar.
Aurelia merasakan darahnya memanas. Perhatian Damian-bahkan di depan orang lain-membuatnya dilema: antara profesionalisme dan perasaan yang ingin meledak begitu saja. Ia tahu Damian sengaja menunjukkan kepedulian itu, seolah menguji batas emosionalnya.
Seusai acara, Damian meminta Aurelia menemaninya ke rooftop hotel untuk membicarakan beberapa finalisasi dekorasi. Saat mereka berdiri di tepi balkon, angin malam berhembus lembut, membawa aroma bunga dari taman hotel. Damian menatap Aurelia, mata cokelatnya penuh perhatian dan intensitas.
"Riel," katanya perlahan, "kau tahu, aku tidak bisa berhenti memikirkanmu. Setiap kali aku melihatmu, setiap kata yang kau ucapkan, aku merasa... terikat kembali padamu."
Aurelia menundukkan kepala, menahan napas. Ia tahu Damian sedang menguji hatinya-apakah ia akan menyerah pada perasaan lama atau tetap tegar. "Tuan Alveric... kita... tidak bisa seperti ini. Kita harus menjaga profesionalisme. Ini... salah," bisiknya, meski suara gemetar menandakan perasaannya bergejolak.
Damian mendekat, menyentuh lengan Aurelia sebentar. "Riel... terkadang yang salah menurut dunia, terasa benar bagi hati. Aku tidak bisa pura-pura tidak peduli padamu. Aku tidak bisa."
Hatinya meledak. Aurelia menatapnya, air mata hampir jatuh. Ia merasa dilema antara mempertahankan jarak atau membiarkan dirinya terhanyut dalam perhatian Damian yang intens. Semua perasaan lama-rindu, cinta, cemburu, sakit hati-muncul bersamaan, membuatnya hampir tak bisa bernapas.
Dan saat itu, Aurelia menyadari satu hal: Damian bukan hanya sekadar ujian emosional. Ia sengaja menempatkannya dalam situasi yang memaksa Aurelia menghadapi perasaannya sendiri, memunculkan konflik batin yang dramatis, dan membangkitkan badai emosional yang selama ini tersembunyi.
Ketika mereka akhirnya meninggalkan rooftop, Aurelia berjalan dengan langkah berat, menahan perasaan yang campur aduk. Damian berjalan di sampingnya, matanya sesekali menatapnya, penuh arti. Ia tahu Aurelia kini berada di persimpangan: apakah ia akan menyerah pada hati atau tetap mempertahankan dinding profesionalisme yang ia bangun selama dua tahun.
Dan Aurelia sadar satu hal: badai yang Damian mulai tunjukkan tidak hanya mengganggu hatinya, tapi juga menimbulkan ketegangan dengan orang-orang di sekitarnya-yang mulai melihat hubungan mereka dari sudut pandang yang berbeda, beberapa bahkan merasa cemburu dan penasaran.
Malam itu, Aurelia menyadari bahwa perasaan lama yang ia kubur dua tahun lalu bukanlah kenangan yang bisa hilang begitu saja. Damian telah memulainya kembali-dengan cara yang tak terduga, penuh perhatian, dan tak bisa ia hindari.
Dan ia tahu, konflik emosional yang lebih besar akan segera datang, karena semakin Damian menunjukkan perhatiannya, semakin Aurelia terjerat dilema antara cinta dan profesionalisme.
Anda Mungkin Juga Suka





