Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Satu Malam Dengan Adik Ipar

Satu Malam Dengan Adik Ipar

Rani ingin merayakan ulang tahun pernikahan ketiga bersama Arman, namun suaminya tak kunjung pulang. Saat terbangun dari tidur lelapnya, ia justru mendapati Rafka, adik iparnya, berada di sampingnya. Ketegangan muncul di antara mereka, terutama setelah Rani mengungkap perselingkuhan Arman. Di tengah rasa sakit hati akibat dikhianati, Rani mulai terjebak dalam dilema antara komitmen lamanya dan ketertarikan tak terduga pada Rafka yang selalu hadir untuknya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Pagi datang dengan cahaya yang tak pernah bisa menghapus ketegangan yang masih melingkupi rumah itu. Rani terbangun lebih awal, matanya terasa berat, dan setiap langkah yang diambil terasa lebih lambat dari biasanya. Ia duduk di tepi tempat tidur, menghela napas dalam-dalam, mencoba mencari kedamaian yang entah di mana.

Kamar tidur yang biasanya menjadi tempat penuh kenangan indah bersama Arman kini terasa asing, seolah dunia mereka telah berubah dalam semalam. Rani menatap cermin di depan ranjang, melihat dirinya yang terbangun dengan wajah kusut, matanya bengkak sedikit karena terjaga sepanjang malam, mencerna apa yang telah terjadi.

Kenapa bisa begitu? Kenapa Arman tidak ada di sampingnya, di hari spesial mereka? Kenapa hanya Rafka yang ada, yang tidur di tempat yang seharusnya diisi oleh suaminya? Semuanya terasa seperti kekacauan, sebuah mimpi buruk yang belum berakhir.

Ponsel Rani berdering, suara yang tiba-tiba membuatnya terkejut. Dengan ragu, ia mengangkatnya. Itu Arman. Pesan singkat yang diterimanya tadi malam kini tak bisa dibiarkan begitu saja.

"Sayang, maafkan aku. Aku tidak bisa pulang. Ada urusan yang sangat penting."

Pagi ini, kalimat itu terasa lebih dingin, lebih mengasingkan daripada sebelumnya. Rani hanya bisa menatap layar ponsel dengan perasaan yang tak terlukiskan. "Urusan penting?" bisiknya pelan, tanpa suara, hanya gumaman yang tercampur antara rasa bingung dan kecewa. Satu perasaan yang tidak pernah ia duga hadir: kesendirian.

Rani memutuskan untuk keluar dari kamar, berjalan pelan menuju ruang makan. Raffa-ya, Rafka-sudah berada di sana, duduk di meja makan dengan secangkir kopi di tangannya. Wajahnya tampak lelah, seakan juga tidak tahu bagaimana harus bertindak setelah kejadian malam itu. Begitu mereka bertemu pandang, suasana langsung menjadi canggung. Rani bisa merasakan adanya ketegangan di udara, sesuatu yang tak terucapkan namun terasa begitu nyata.

"Selamat pagi, Rani," kata Rafka, suaranya lembut, mencoba mengubah suasana yang berat. "Aku... aku ingin minta maaf lagi tentang tadi malam. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana bisa..."

Rani mengangkat tangan, mencoba menghalangi penjelasannya. "Jangan. Tidak perlu. Kamu tidak salah," jawabnya, meskipun dalam hati ia merasakan kesedihan yang mengikis sedikit demi sedikit. Kejadian itu sudah terjadi, dan ia tidak ingin membahasnya lagi. Namun, meskipun Rafka tidak melakukan kesalahan, ada sesuatu dalam diri Rani yang merasakan kecanggungan luar biasa-sesuatu yang tidak bisa ia ungkapkan, tapi seolah menggantung di antara mereka berdua.

Rani duduk di kursi seberang Rafka, mencoba memaksa dirinya untuk tenang. Namun semakin lama, hatinya semakin berat. Semua yang ia rasakan kemarin malam terasa seperti bayangan yang terus mengikutinya. Ia mencintai Arman, pria yang sudah ia nikahi tiga tahun yang lalu, pria yang selalu menjadi pilar kekuatannya. Tapi sekarang, setelah semua ini, apakah ia benar-benar masih mengenali suaminya itu?

Saat Rani menyendokkan sarapan ke dalam mulutnya, Rafka menatapnya diam-diam, seolah mencoba membaca ekspresi wajahnya, mencari tahu apa yang sedang terjadi di dalam pikirannya. Rani merasa tidak nyaman dengan pandangan itu, namun ia tetap berusaha untuk menjaga ketenangannya.

"Tadi malam... kamu baik-baik saja?" tanya Rafka dengan hati-hati, suara penuh kekhawatiran yang tidak bisa disembunyikan.

Rani terdiam sejenak, kemudian mengangguk pelan. "Aku... aku baik-baik saja. Hanya saja, semuanya terasa membingungkan." Suaranya terdengar lemah, seolah-olah kata-kata itu sudah terlalu berat untuk diucapkan. "Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Arman... dia tidak pulang. Kita tidak merayakan apa-apa seperti yang sudah direncanakan. Aku merasa seperti... dia sudah tidak peduli lagi."

Rafka menghela napas pelan, dan sesaat rasa empati yang dalam muncul di wajahnya. "Rani, aku... aku tahu kamu sangat mencintainya. Aku bisa melihat itu. Tapi jika kamu butuh waktu untuk berbicara, aku di sini. Aku ingin membantu."

Rani terdiam, matanya mulai berkaca-kaca. Kata-kata Rafka, meskipun penuh perhatian, justru semakin membuka luka yang sudah cukup dalam. "Aku... aku tak tahu apakah aku bisa terus bertahan seperti ini, Rafka. Setiap hari, aku merasa seperti... semakin jauh darinya. Aku ingin percaya padanya, tapi... bagaimana bisa aku percaya, jika dia selalu menghindar seperti ini?"

Air mata yang selama ini ditahannya akhirnya jatuh juga, membasahi pipinya yang sudah memerah. Rani meremas tisu yang ada di dekatnya, mencoba menghapus air mata itu, namun gagal. Sebuah perasaan yang sudah lama terkubur kini meledak begitu saja-kekecewaan yang menghancurkan segalanya.

Rafka, yang selama ini hanya menjadi adik suaminya, kini duduk lebih dekat, tanpa berkata apa-apa, hanya memberikan kehadirannya sebagai pelipur lara. Dalam diam, ia menyaksikan Rani yang menangis, merasa sebuah perasaan aneh yang juga mulai tumbuh dalam dirinya. Perasaan yang sulit dijelaskan, tetapi begitu kuat.

Setiap tetes air mata Rani seolah menambah luka dalam dirinya. Ia ingin melakukan sesuatu untuk menghiburnya, tapi tidak tahu bagaimana. Ia hanya tahu satu hal-Rani sedang terluka, dan Armanlah yang telah menyebabkan luka itu.

"Rani..." Rafka akhirnya membuka suara, suaranya penuh kehangatan yang menenangkan. "Aku tahu kamu mencintai Arman. Tapi kamu juga berhak bahagia, kamu berhak merasa dicintai. Tidak ada yang bisa mengabaikan perasaanmu seperti itu."

Rani menatap Rafka, matanya merah karena tangis, namun ada sesuatu yang berbeda dalam tatapan itu-sesuatu yang tak terungkapkan, namun jelas terasa. Hatinya bergejolak, kebingungan, dan sedikit rasa takut mulai mengisi ruang kosong yang semula dipenuhi oleh cinta kepada Arman. "Aku... aku tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Hatiku merasa terkoyak, Rafka," katanya pelan, suaranya hampir tak terdengar. "Aku mencintai Arman, tapi aku juga merasa seperti ada sesuatu yang hilang antara kami."

Rafka mengangguk pelan, lalu dengan lembut, ia meletakkan tangan di atas tangan Rani yang terletak di meja makan. Sentuhan itu begitu lembut, namun terasa begitu kuat. Rani menatapnya sejenak, bingung dengan perasaan yang tiba-tiba membuncah dalam dirinya.

"Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri, Rani," ucap Rafka dengan penuh empati. "Kadang, kita harus memilih untuk melangkah meski tak tahu ke mana arah tujuan kita. Tapi yang pasti, kamu tidak sendirian."

Rani menatap Rafka, dan dalam hatinya, sebuah perasaan yang tak pernah ia duga muncul. Sesuatu yang lebih dari sekadar kebingungan, lebih dari sekadar rasa terima kasih. Sesuatu yang mulai terasa seperti sebuah kebutuhan.

Perasaan itu begitu membingungkan, tetapi di saat yang sama, perasaan itu juga menenangkan. Seolah-olah dunia di sekelilingnya mendadak berhenti, dan Rafka menjadi satu-satunya orang yang benar-benar ada, meskipun mereka tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Namun, untuk saat itu, Rani hanya ingin merasakan kedamaian. Hanya untuk sesaat, ia ingin berhenti memikirkan semuanya dan membiarkan dirinya merasa aman dalam kehadiran seseorang yang, entah mengapa, begitu mengerti dirinya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Bukan Don Juan
9.1
Terlahir tampan dan atletis membuat pria ini memiliki pesona yang tak terelakkan bagi para wanita. Tanpa perlu bersusah payah, ia selalu berhasil memikat siapa pun untuk menyerah pada rayuannya. Berawal dari sekadar iseng, ia justru terjebak dalam kecanduan akan hubungan terlarang. Ada kepuasan luar biasa saat ia menjalin perselingkuhan berisiko dengan istri orang lain secara sembunyi-sembunyi. Inilah kisah penuh gairah yang menantang bahaya demi kenikmatan.
Sampul Novel Aku Menikahi Paman Mantanku
8.8
Dikhianati Carsten Morgan di hari pernikahan demi perundung masa lalunya, hidupku hancur saat dia menekan kasus pelecehan yang kulaporkan. Aku menjadi sasaran hinaan karena luka fisikku dianggap menjijikkan olehnya. Carsten merasa tak terkalahkan berkat dukungan paman miliardernya. Namun, segalanya berbalik saat sang paman justru merangkulku. Dia menawarkan pembalasan dengan menjebloskan mereka ke penjara, asal aku bersedia menjadi miliknya selamanya.
Sampul Novel Cinta Yang Tak Pantas Kupertahankan
8.9
Seminggu sebelum pernikahan, Jimmy menuntut untuk menikahi cinta pertamanya demi memenuhi wasiat terakhir mendiang ibunya. Ia bahkan meremehkan proyek perhiasan bernilai triliunan rupiah yang telah disiapkan bersama. Menyadari ketidakpedulian tunangannya, sang protagonis wanita memutuskan untuk menyerah pada hubungan beracun ini. Ia segera menghubungi keluarganya untuk mencari calon suami baru demi menyelamatkan reputasi dan bisnisnya. Kisah pengkhianatan dan pencarian cinta sejati yang baru pun dimulai.
Sampul Novel Istriku Sibuk, Hatiku Kosong
8.2
Kehidupan rumah tangga Damien kini terasa hampa. Sejak naik jabatan, Nadine Larasati jarang pulang dan terus menolak permintaan Damien karena alasan kelelahan bekerja. Dengan penghasilan lebih rendah, Damien pun terpaksa menjadi bapak rumah tangga sepenuhnya. Namun, kecurigaan muncul saat Nadine tiba-tiba membawa seorang asisten rumah tangga muda ke rumah mereka. Kedatangan gadis misterius itu membawa firasat buruk yang membuat hati Damien kian sesak dan gelisah.
Sampul Novel Jerat Cinta Saudara Tiri
8.2
Arjun Wira Mahendra dan Gea Sandi Pamukti adalah sepasang saudara tiri yang terjebak dalam persaingan sengit. Keduanya memiliki sifat keras kepala dan selalu bertengkar layaknya Tom dan Jerry setiap kali bertemu. Namun, benih perasaan tak terduga mulai tumbuh di antara mereka meski situasi sangat rumit. Mampukah cinta mereka bertahan saat restu orang tua menjadi penghalang besar? Ikuti perjuangan asmara mereka yang penuh konflik dalam novel ini.
Sampul Novel Luka Sang Bidadari
8.8
Kehidupan Alina Dzakiya runtuh sejak sang ayah mengkhianati ibunya demi wanita lain. Luka itu perlahan sembuh saat ia menikahi Raka, sahabat setianya. Namun, di tengah kebahagiaan menanti kelahiran anak pertama, pengkhianatan serupa justru terulang. Raka berselingkuh, menghancurkan kepercayaan yang tersisa di hati Alina. Kini ia terjebak dalam dilema besar: tetap bertahan demi rumah tangga atau menyerah pada takdir pahit yang dulu menimpa sang ibu.