Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Satu Malam Bersama Bos

Satu Malam Bersama Bos

Dikhianati sang kekasih membuat Kirana terpuruk hingga ia tak sengaja melewati malam tak terlupakan bersama Adrian, pria asing yang ternyata bos barunya di kantor. Kini, Kirana terjebak dalam dilema antara profesionalisme kerja dan tarikan perasaan yang kuat. Di tengah bayang-bayang masa lalu yang menyakitkan dan rahasia besar mereka, mampukah hubungan keduanya bertahan menghadapi ketatnya dunia bisnis serta luka hati yang belum sepenuhnya sembuh?
Bab
Bagikan

Bab 3

Kirana mengetik di laptopnya dengan kecepatan penuh, berusaha fokus pada laporan proyek yang diminta Adrian. Sudah dua hari sejak ia mulai bekerja di perusahaan ini, dan sejauh ini, ia berhasil menahan diri untuk tidak bereaksi setiap kali Adrian berada di dekatnya.

Tapi tetap saja... pria itu bukan tipe bos yang mudah diabaikan.

Setiap kali Adrian masuk ke ruangan atau berbicara dalam rapat, Kirana merasakan tatapan itu, tatapan yang seakan menyelidiki dan mengujinya. Seakan pria itu sengaja mengingatkan Kirana tentang apa yang pernah terjadi di antara mereka.

Dan itu sangat mengganggunya.

"Kirana, ada yang mau kutanyakan."

Suara Adrian yang dalam dan tegas membuatnya tersentak. Kirana mengangkat wajah dan mendapati pria itu berdiri di samping mejanya, tangan terselip di saku celana, ekspresinya tenang tapi matanya tajam.

Ia meneguk ludah, berusaha agar suaranya terdengar normal. "Iya, Pak?"

Adrian melirik laptopnya sekilas, lalu kembali menatapnya. "Ikut saya ke ruangan."

Kirana merasakan beberapa rekan kerja di sekitarnya mulai melirik mereka. Tatapan penuh rasa ingin tahu itu terasa seperti bel alarm di kepalanya.

"Tapi saya masih menyelesaikan laporan..."

"Saya hanya butuh lima menit," potong Adrian, suaranya tak terbantahkan.

Kirana tahu ia tidak punya pilihan selain mengikutinya.

---

Begitu mereka masuk ke ruangan Adrian, pria itu menutup pintu dan berjalan ke belakang meja, tapi tidak segera duduk.

Kirana tetap berdiri, kedua tangannya mengepal di samping tubuhnya. "Ada yang bisa saya bantu, Pak?"

Adrian menatapnya lama, lalu menyandarkan diri ke meja. "Kenapa menghindar?"

Jantung Kirana mencelos. "Saya tidak mengerti maksud Anda."

Adrian mendengus, lalu melipat tangan di dada. "Jangan pura-pura, Kirana. Sejak hari pertama, kamu selalu menjaga jarak, menghindari kontak mata, dan berusaha seolah-olah kita tidak pernah bertemu sebelumnya."

Kirana menegakkan bahunya. "Saya hanya ingin bersikap profesional."

Adrian melangkah mendekat. "Profesional?" Nada suaranya rendah, hampir seperti ejekan. "Atau takut?"

Kirana mengatupkan bibir, menolak terpancing. "Saya tidak takut."

Adrian berhenti di depannya, begitu dekat hingga Kirana bisa mencium wangi maskulin dari parfum mahalnya. "Benarkah?"

Tatapannya intens, menusuk, dan membuat Kirana semakin sulit bernapas.

"Pak Adrian," ucapnya akhirnya, mencoba mengatur jarak. "Apa tujuan Anda memanggil saya ke sini?"

Adrian tidak langsung menjawab. Ia justru mengamati Kirana, seolah mencari sesuatu dalam ekspresinya.

"Aku ingin kita bicara."

Kirana mengerutkan kening. "Tentang?"

Adrian menatapnya tajam. "Tentang malam itu."

Napas Kirana tertahan.

Matanya melebar sedikit, tapi ia segera mengendalikan ekspresinya. "Saya pikir kita sudah sepakat untuk melupakan kejadian itu."

Adrian mengangkat sebelah alis. "Kamu sepakat, bukan kita."

Kirana meneguk ludah. "Pak, saya benar-benar ingin bekerja di sini tanpa masalah."

Adrian menyeringai kecil, ekspresinya penuh arti. "Dan aku tidak pernah bilang akan membuat masalah untukmu."

"Tapi..."

"Aku hanya ingin memastikan sesuatu," potongnya.

Kirana mengerutkan kening. "Apa?"

Adrian mencondongkan tubuh sedikit, suaranya lebih rendah. "Bahwa kamu tidak berpikir aku pria yang bisa dengan mudah kamu lupakan."

Darah Kirana berdesir, dan ia hampir saja membalas dengan sesuatu yang tajam, tapi ia menggigit bibir untuk menahan dirinya.

Adrian tersenyum tipis melihat reaksinya. "Itu saja."

Ia melangkah mundur dan kembali ke kursinya, seolah percakapan tadi tidak pernah terjadi.

"Kamu bisa kembali bekerja."

Kirana masih berdiri di tempatnya, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi.

Adrian mengangkat dagu sedikit. "Atau kamu ingin tetap di sini?"

Kirana menghela napas pelan, lalu berbalik dan segera keluar. Begitu pintu tertutup di belakangnya, ia menempelkan tangan di dada, merasakan detak jantungnya yang kacau.

Adrian Rahardian bukan hanya bos yang mendominasi.

Tapi juga berbahaya.

Dan ia tidak boleh terjebak lebih dalam.

Sejak pertemuan di ruangannya tadi, Kirana berusaha lebih keras untuk bersikap biasa. Ia menanamkan dalam pikirannya bahwa Adrian hanyalah bos, tidak lebih, tidak kurang.

Namun, teori itu gagal total begitu mereka bertemu di ruang meeting.

Adrian duduk di kursi pimpinan, mengenakan setelan abu-abu yang membingkai tubuhnya dengan sempurna. Ia tampak serius, membolak-balik dokumen di tangannya sambil mendengarkan presentasi dari tim pemasaran.

Kirana mencoba fokus pada materinya sendiri, tapi matanya beberapa kali tanpa sadar melirik ke arah Adrian.

Dan setiap kali ia melakukannya, pria itu sudah lebih dulu menatapnya.

Bukan tatapan biasa.

Ada sesuatu di matanya yang membuat Kirana merasa seperti tengah diuji. Seolah Adrian ingin melihat berapa lama Kirana bisa berpura-pura tidak terpengaruh.

Sial.

Kirana meremas pulpen di tangannya dan memalingkan wajah, berpura-pura mencatat sesuatu di buku.

Namun, tidak lama kemudian, ia mendengar suara Adrian memecah keheningan.

"Kirana," panggilnya.

Ia tersentak dan menoleh. "Ya, Pak?"

Adrian menyandarkan punggung ke kursi, ekspresinya masih setenang sebelumnya. "Pendapatmu tentang proyek ini?"

Kirana berkedip beberapa kali, berusaha mengingat kembali inti dari presentasi yang baru saja disampaikan. Ia menarik napas dalam dan menjelaskan pemikirannya dengan cukup lancar, meskipun jantungnya masih berdetak kencang.

Setelah selesai, Adrian mengangguk kecil. "Bagus. Teruskan seperti itu."

Kirana mengangguk sopan, tapi di dalam hati ia merasa ini seperti jebakan.

Seolah Adrian sedang mencari celah untuk mengacaukannya.

---

Saat meeting berakhir, semua orang mulai membereskan dokumen dan bersiap keluar. Kirana pun melakukan hal yang sama, berharap bisa segera kembali ke mejanya tanpa insiden apa pun.

Namun, saat ia melewati Adrian, pria itu tiba-tiba berbicara pelan.

"Berhenti menghindariku, Kirana."

Langkah Kirana terhenti.

Ia menoleh dengan waspada, tapi Adrian hanya tersenyum samar sebelum kembali fokus pada dokumennya.

Tenggorokan Kirana terasa kering. Ia buru-buru keluar ruangan tanpa menoleh lagi.

Namun, baru saja ia tiba di meja kerjanya, Dinda sudah berdiri di sana dengan tatapan penuh selidik.

"Kirana," gumamnya, menyilangkan tangan di dada. "Kamu dan Pak Adrian... ada apa, sih?"

Jantung Kirana hampir melompat ke tenggorokannya. "Hah? Apa maksudmu?"

Dinda menyipitkan mata. "Aku mungkin nggak sepintar kamu, tapi aku nggak buta. Selama meeting Pak Adrian sering banget ngelihatin kami."

Kirana berusaha tertawa santai. "Ah, mungkin karena aku masih baru. Dia kan bos, wajar kalau memperhatikan kinerja pegawainya."

Dinda tidak terlihat puas dengan jawaban itu, tapi akhirnya mengangkat bahu. "Ya, semoga aja kamu bener."

Begitu Dinda pergi, Kirana menyandarkan diri ke kursinya dan menghela napas berat.

Baru beberapa hari di kantor ini, tapi rahasia di antara mereka sudah terasa sulit disembunyikan.

Dan yang lebih parah, Adrian tidak berusaha menyembunyikannya.

Sebaliknya, pria itu justru seperti sengaja mengundangnya untuk menghadapi sesuatu yang Kirana sendiri belum siap.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Balas Dendamnya Adalah Kecerdasannya
9.4
Evelin selalu dianggap sebagai itik buruk rupa yang diasingkan keluarga. Saat Paramita, saudari tirinya yang sempurna, hendak menikahi CEO Carlos, kejutan besar terjadi ketika Carlos justru memilih menikahi Evelin. Di tengah cemoohan publik, Evelin membongkar rahasia besarnya sebagai ahli keuangan, genius AI, hingga penyembuh ajaib. Saat para pembencinya bersujud memohon maaf, Carlos memamerkan kecantikan asli Evelin yang memukau dunia tanpa perlu persetujuan siapa pun.
Sampul Novel Ceraikan Suami, Nikahi Adiknya
9.8
Setelah sepuluh tahun, Chloe Carlson memutuskan bercerai dari suaminya yang tidak setia, Vincent. Meski dituduh mengincar harta, Chloe pergi hanya demi membawa putri mereka, Mackenzie. Menjadi ibu tunggal tanpa kualifikasi membuatnya sulit mencari kerja. Terdesak, Chloe meminta bantuan adik iparnya, CEO muda Vernon Phoenix Gray. Namun, Vernon menawarkan posisi asisten pribadi dengan syarat pemuasan hasrat di ranjang. Kini Chloe terjebak antara rayuan Vernon atau kembali pada Vincent.
Sampul Novel Jebakan Cinta Sang Miliarder (Amata: Beloved).
7.9
Setelah tiga tahun, kepulangan Hwanhee ke rumah justru disambut paksaan nikah oleh ayahnya. Ia terjebak perjodohan dengan Ayda Hannah Elsworth demi ambisi keluarga besar mereka. Hannah yang keras kepala curiga bahwa rahasianya dimanfaatkan sebagai alat kendali, sehingga ia bertekad melawan status menantu boneka. Meski Hwanhee kewalahan menghadapi sifat Hannah yang rumit dan liar, kemandirian wanita itu mulai memicu dinamika benci tapi cinta yang sangat tak terduga.
Sampul Novel Kau Layak Menderita
8.1
Hidup Selina hancur setelah dijebak Rafael Donovan dalam pernikahan paksa. Saat Rafael lumpuh akibat kecelakaan, Selina menganggapnya karma dan memilih bertahan hanya untuk membalas dendam serta menguasai hartanya. Namun, di tengah kebencian itu, ia justru menemukan sisi rapuh dan penyesalan mendalam pada suaminya. Kini Selina terjebak dalam dilema antara misi balas dendam atau perasaan asing yang mulai tumbuh di hatinya bagi pria yang seharusnya ia benci.
Sampul Novel Kekayaan Besar: Aku Adalah Seorang Miliarder
9.2
Niat hati memberi kejutan ulang tahun, aku justru menyaksikan pengkhianatan kekasihku dengan pria kaya. Dihina karena miskin, hidupku berubah saat pelayan keluarga terkaya mengungkap identitas asliku sebagai pewaris Grup Nelson. Kini dengan kekayaan tak terbatas, aku kembali untuk membalas dendam. Mantan kekasihku bersujud memohon ampun, namun aku hanya berlalu menuju kemewahan. Bagiku, uang hanyalah angka dan aku sangat menikmati cara menghabiskannya.
Sampul Novel Malapetaka Cinta Claire
9.6
Impian Claire akan pernikahan bahagia hancur saat ia terjerat dalam keluarga konglomerat yang penuh siksaan. Hidupnya menderita akibat aturan kejam dan penghinaan mertua hingga akhirnya ia diceraikan Randi karena dianggap mandul. Namun, rahasia kelam masa lalu antara keluarga mereka terungkap. Didorong dendam membara, Claire nekat mengubah identitas dan fisiknya secara ekstrem demi membalas sakit hatinya. Mampukah ia menuntaskan misinya terhadap keluarga Randi?