Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Satu Laki-Laki Empat Istri

Satu Laki-Laki Empat Istri

Dalam mahligai rumah tangga Rendra, cinta bukan satu-satunya fondasi. Keikhlasan menjadi ujian berat bagi Kresna, Tessa, Kanti, dan Wanda yang harus berbagi suami dalam satu ikatan. Meski kehidupan mereka terlihat harmonis, benarkah tak ada api cemburu di antara keempat istri tersebut? Di balik ketenangan yang tampak di permukaan, tersimpan rahasia besar yang menyelimuti hubungan tak biasa ini. Sebuah drama romansa dewasa tentang pengabdian dan misteri hati.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Mas mau minum apa?" Tessa berjalan ke arah dapur.

Kini, setelah menyebrangi jalan dari rumah Kresna, Rendra dan Tessa sudah berada di rumah. Ya, ini rumah Tessa yang berseberangan dengan rumah Kresna.

Rendra memang memberikan masing-masing satu rumah untuk istrinya. Jika, rumah Kresna berada di sebrang rumah Tessa. Maka, rumah Wanda dan Kanti berada di perumahan yang berbeda.

Pria dengan setelan kaos dan jas navy itu mengamati Tessa yang membuka lemari es. "Mas mau susu, ada?"

"Susu apa? Ada susu ibu menyusui, susu Aski, atau susu beruang."

"Beruang?" Rendra berjalan menghampiri. "Nggak ah, Mas nggak mau semua itu. Mas maunya ...."

Tessa seketika membalik badan, saat mendengar Rendra menggantung kalimat. Bibir yang dilapisi lisptik mate merah muda itu tersenyum malu-malu, saat Rendra memeluk erat dari depan.

"Mau mau susu ka--"

"Syut," sela Tessa menyimpan telunjuk di bibir Rendra. Membuat suaminya itu tersenyum.

Tessa menarik tangan dengan bibir yang kembali manyun lima senti. Nggak tahu lima senti atau berapa, Rendra nggak bawa penggaris soalnya. Yang jelas saat dipeluk itu, Tessa tiba-tiba manyun.

"Eh, kenapa? Kok monyong, gitu?

"Manyun, Mas! Kok monyong, sih. Aku nggak moyong, ya. Bibir aku seksi tahu," ralat Tessa dengan sengaja memaju-majukan bibir seksi itu. Ya emang seksi, terbukti Rendra langsung nyantok tu bibir, pake acara di lama-lamain lagi.

Membuat Tessa refleks memegang tekuk leher Rendra. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, Rendra semakin memperdalam tautan mereka.

Tessa menarik diri karena mulai kehilangan udara. Emang ya, si Rendra ini jago masalah kaya ginian. Tessa sampe engap-engapan kaya ikan cupang kehabisan napas.

"Gimana?" desah Rendra, berganti memegang tekuk Tessa. Kedua dahi mereka sengaja Rendra satukan. Romantis deh pokonya ni cowok kalau udah deket sama istrinya. Nggak salah kalau Kresna julukin dia 'Bule Playboy'.

"Gimana apa?" tanya Tessa malu-malu meong.

"Gimana, masih mau cemberut di depan Mas?"

"Nggak ah, nanti disosor lagi. Aku habis napas tahu." Tessa menunduk masih dengan malu-malu meong.

Jari Rendra mengelus halus bibir bawah tebal Tessa, lalu beralih mengusap bibir atasnya yang tipis. "Tapi suka, kan?"

Semakin Tessa menunduk. Meongnya udah berubah jadi singa sekarang. Saking malunya.

Dagu Tessa diangkat perlahan. Rendra daratan lagi satu kecupan di bibirnya. "Jangan cemberut, kenapa cemberut coba?"

"Salah Mas sendiri, waktu minggu kemarin ke sini, Mas nggak bobo sama Tessa jadi nggak dapet susu." Jangan ngeres, maksud Tessa susu yang sering dia buatkan untuk Rendra sebelum bobo. Itu maksud dia.

"Ya, maaf. Mas kan buru-buru. Salahin si Oni tuh, dia nelpon Mas pas baru sampe. Jadinya Mas harus balik lagi." Dengan lembut, jari-jari Rendra menyampirkan rambut lurus Tessa ke belakang daun telinga.

"Iya, dimaafin. Ya udah sekarang aja aku bikinin susu," sahut Tessa hendak menarik diri dari pelukan, namun Rendra justru malah memeluk semakin erat.

Dengan sengaja pula, ia menenggelamkan wajah di dada Tessa. Persis kaya anak kecil minta disusuin emaknya.

"Nggak mau! Mas maunya pelukan sama Yayang Tessa," renggeknya manja.

"Ih, Mas! Katanya mau susu."

"Mau peluk." Rendra semakin manja saja. Ia menengadah menunjukkan mata imut. Diimut-imutkan tepatnya.

"Katanya mau susu."

"Mau peluk."

Tessa menghela napas dan senyum-senyum. Ia elus rambut agak ikal milik Rendra. "Mas, tadikan waktu pagi aku mau ngomong sesuatu."

"Iya, ngomong apa?" Jahilnya Rendra dia sengaja mencubit pinggang Tessa, masih dengan melingkarkan tangan di sana.

"Aw, Mas! Ih, sakit tahu!" pekik Tessa memukul bahu Rendra.

"Mas nggak tuh."

"Udah ah, lepas! Mas jahil, ketularan Kak Ena kayanya."

"Siapa bilang? Kamu baru tahu aja Mas kaya gini."

Tessa kembali tersenyum, saat merasakan jari Rendra yang gulung-gulung rambutnya yang tergerai. Kurang kerjaan emang ni suami satu. Dikiranya mie kali tuh rambut.

"Udah, sekarang kamu cerita. Apa yang mau kamu omongin tadi pagi? Kanti langsung tarik kamu gitu aja, jadikan Mas nggak tahu kamu mau apa datang ke rumah Wanda."

"Mas, berat tahu jangan nyender terus kaya gini!" Tessa melirik Rendra. Suaminya itu memang masih ngedusel aja di dadanya. Ets dah, berasa bantal kali, ya. Empuk cyin.

"Mas nyaman kaya gini, kok," sahutnya santai.

"Mas nyaman aku berat."

"Ya udah." Rendra lepas pelukan. "Kita pindah kamar, yuk!"

"Hah? Ini siang, Mas!"

"Emang kenapa kalau siang, cuma mau bobo aja, kan."

"Ini hari Jumat, lho. Mas mau jumatan, kan?"

Rendra lekas menarik tangan Tessa. "Nggak apa-apa bentar aja. Kita ngobrol dulu masalah tadi pagi."

Kembali seperti tadi, Tessa pun ikhlas diseret sang suami menuju kamar. Di kamar itu sendiri, selain ada satu kasur big size. Ada juga kotak bayi. Ya, itu tempat Aski tidur.

Aski adalah anak Rendra dan Tessa. Usianya baru 14 bulan. Anak itu hasil kecolongan mereka. Karena kehadiran Aski jugalah Rendra menikahi Tessa.

Jika ditanya, saat itu terjadi, apa istri-istri Rendra marah? Tentu saja, mereka marah, Kanti bahkan sempat jambak-jambakan sama Tessa. Namun, amarah mereka reda setelah Rendra dan Kresna bisa menjelaskan situasi yang terjadi.

Bahkan, Tessa masih bisa melihat pahatan indah di dahinya akibat ulah Wanda yang melempar sepatu hak tinggi, hingga mengenai pelipis. Tessa sampai meraung merasakan sakit. Namun, sekali lagi itu sudah berlalu lama.

Sekarang, rumah tangga mereka baik-baik saja, meski memang masih ada cekcok atau salah paham seperti tadi pagi.

"Ayo, duduk dulu!" Rendra yang pertama duduk di kasur dan meminta Tessa segera ikut duduk juga.

Tessa turuti keinginan Rendra. Duduk di sampingnya.

"Sekarang cerita, kamu mau ngomong apa, hm?" tanya Rendra dengan senyum manis.

"Jangan senyum, bisa nggak? Diabet aku."

"Okey, Mas cemberut." Rendra mengganti ekspresi dengan wajah serius.

"Jadi gini, Emak mau ke rumah. Makanya, aku nekad ke rumah Mbak Wanda. Mau minta Mas pulang. Sore ini aja, gitu?" jelas Tessa pake penekan di akhir kalimat. Ia tidak mau Rendra menolak permintaannya ini. Soalnya, Emak Tessa ini jauh-jauh dari Bogor emang cuma buat ketemu sama Rendra dan cucunya.

"Oh, itu." Rendra kembali mengenggam tangan Tessa. "Boleh, Mas bakal ke sini. Sore, kan ya? Bisa, bisa diatur. Nanti Mas bilang ke Oni buat beli sesuatu buat Emak. Emak mau apa katanya?"

"Emak nggak mau apa-apa katanya, cuma mau ketemu sama Mas sama Aski aja," jelas Tessa dengan lugas.

"Ya udah nggak apa-apa. Mas tetep minta Oni buat beli sesuatu untuk Emak, Okey?" Rendra menjawil dagu Tessa, lalu perlahan berdiri.

"Eh, Mas kok buka baju, mau apa?"

"Kan mau bobo," sahut Rendra santai dengan senyum jahil.

"Ih, dibilangin masih siang."

Rendra menaruh kemeja dan kaosnya di kaitan kapsok. Dengan bertelanjang dada, ia rebahkan tubuh kekar itu di atas kasur.

"Ah, ademnya. Mas gerah tahu, tadi sempet lari juga ngejar kalian," gumamnya pelan

Rendra lalu melirik Tessa yang masih duduk. "AC-nya, Sayang. Bisa dinyalain, kan?"

"Boleh, Mas." Tessa berdiri. "Bentar, ya."

Tessa segera menyalakan AC di ruang kamar. Setelahnya, ia taruh remote-nya di atas meja. Tessa duduk di samping Rendra yang tengkurap.

"Mas."

"Hm."

"Mas, aku mau minta sesuatu."

"Apa itu?" Rendra membetulkan posisi tidur, memilih duduk di kasur.

"Minta popok."

°°°

Asli, aku tuh bukan orang humoris tapi romantis. Hihi. Lanjut lagi, ya? Yuk, komentar juga. ^_^

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95LLJ" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95LLJ
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Azalea
7.8
Hubungan Amar dan Azalea yang semula indah berubah menjadi luka pahit. Kenangan mereka kini hanyalah beban yang memicu amarah, terutama setelah perpisahan yang menghancurkan segalanya. Namun, waktu membawa perubahan saat Arhan hadir di hidup Azalea. Bersama Arhan, ia mulai memahami makna baru tentang cinta dan takdir. Akankah masa lalu yang kelam terhapuskan oleh kehadiran Arhan? Inilah perjalanan emosional Azalea dalam menemukan arti ketulusan sejati.
Sampul Novel Biarlah Kau Jadi Kakak Ipar Selamanya
9.4
Ketika kakak kembar suamiku gugur dalam tugas, kakak iparku mengalami amnesia akibat syok berat. Demi melindunginya, suamiku dan ibu mertua memaksaku menyetujui sandiwara di mana suamiku berperan menjadi suaminya. Aku harus menahan pedih melihat mereka hidup bersama, bahkan putriku harus melihat ayahnya dipanggil 'papa' oleh sepupunya. Saat putriku sakit parah dan aku meminta pertolongan, pertikaian pecah hingga sebuah gunting merenggut nyawaku. Namun, takdir membawaku kembali ke hari saat suamiku memutuskan menjadi pengganti.
Sampul Novel Bukan Supir Biasa
8.5
Mengambil latar keindahan Pulau Dewata, kisah ini mengikuti perjalanan hidup seorang pria perantau yang mengadu nasib sebagai pengemudi. Di tengah hiruk pikuk Bali, ia berjuang menghadapi realita hidup yang penuh liku demi bertahan di tanah orang. Diangkat dari kisah nyata seorang kawan di perantauan, narasi ini menyuguhkan sisi lain kehidupan driver yang jarang diketahui, dibalut nuansa romansa modern yang menyentuh hati dan terasa sangat nyata.
Sampul Novel Crossing Love
9.6
Miya Tamama adalah gadis polos yang menyimpan trauma masa kecil hingga dunianya kehilangan warna. Di tengah hidup yang kelabu, muncul Tamama Kunai, putra konglomerat sekaligus investor di sekolahnya yang memberi warna baru di hati Miya. Meski mendapat kasih sayang dari kakaknya, dokter Koko Tamama, ternyata ada pria lain yang juga mengamati Miya secara rahasia. Akankah cinta sang pewaris mampu menyembuhkan luka lama dan mengubah takdir hidup Miya selamanya?
Sampul Novel DIMADU KARENA DIFITNAH MANDUL
8.8
Empat tahun membina rumah tangga, Aisyah justru dituduh mandul oleh suami dan mertuanya. Penderitaannya kian memuncak saat sang suami memutuskan berpoligami dengan sahabat karib Aisyah sendiri. Enggan terus terluka, ia memilih bercerai demi mencari kebahagiaan baru. Namun, roda kehidupan berputar saat mantan suaminya justru terpuruk dalam kehancuran. Inilah kisah tentang penyesalan yang terlambat dan pembalasan dendam yang bermula dari sebuah fitnah keji.
Sampul Novel Ditinggalkan 66 Kali, Kini Aku Pergi
9.4
Tujuh tahun berpacaran tidak menjamin kebahagiaan. Andrew, seorang dokter bedah, tega membatalkan pernikahan mereka sebanyak 66 kali demi menolong Selena, seorang yatim piatu. Dari insiden salah suntik hingga anjing sakit, Andrew selalu pergi meninggalkan pengantinnya di pelaminan, bahkan saat ibu sang kekasih terkena serangan jantung. Meski sempat memohon maaf, Andrew kembali mengulangi kesalahannya. Sadar dirinya tak pernah menjadi prioritas, sang wanita akhirnya menyerah, memilih pergi selamanya, dan bergabung dengan tim dokter lintas batas internasional.