Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel SANG PEMUAS BIRAHI

SANG PEMUAS BIRAHI

Sang Pemuas Birahi menyajikan antologi cerita pendek dewasa yang mengeksplorasi hasrat mendalam antar manusia. Setiap kisah mengusung latar belakang profesi beragam, mulai dari CEO berwibawa, tentara, hingga dinamika rumit antara mertua dan menantu. Dengan narasi eksplisit 21+, pembaca akan dibawa menyelami fantasi romantis yang intens dan menggairahkan. Kumpulan cerpen ini dirancang khusus untuk memuaskan imajinasi melalui alur cerita panas yang penuh godaan.
Bab
Bagikan

Bab 2

Di bawah bayang-bayang Gunung Salak, desa Ningsih kembali menyambutnya dengan dekapan hangat. Udara sejuk dan aroma tanah basah sehabis hujan membelai wajahnya. Namun, semua kehangatan itu tak mampu menembus kegelisahan yang bersarang di hatinya. Ningsih duduk di bale-bale bambu depan rumah, menatap hamparan sawah hijau di kejauhan. Pikirannya melayang jauh, kembali ke malam yang mencekam di Jakarta.

Ayahnya, Pak Karta, menghampiri Ningsih dengan senyum lelah. "Bagaimana, Nak? Sudah dapat info pekerjaan di Jakarta?" tanyanya sambil duduk di samping Ningsih.

Ningsih tersenyum, senyum yang terasa hambar di lidahnya. "Belum, Pak. Ningsih masih mencari-cari. Di sana banyak saingan," jawabnya berbohong. Ia tak sanggup menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Tentang gemerlap klub malam, tentang Mirna, dan tentang pemandangan yang membuat perutnya mual.

"Tidak apa-apa, Nak. Jangan dipaksakan. Di sini juga ada pekerjaan. Kita bisa cari cara lain," kata Pak Karta.

Hati Ningsih mencelos. Ia merasa berdosa telah membohongi orang tuanya. Ia tahu, mereka sudah bekerja keras membanting tulang di sawah demi dirinya dan kedua adiknya. Ia datang ke Jakarta dengan satu tujuan, membantu mereka. Tapi kenyataan yang ditemui malah menjerumuskan ke dalam jurang kegelapan yang tak pernah ia bayangkan.

***

Sementara itu, ribuan kilometer jauhnya dari desa Ningsih, di sebuah kamar remang-remang di sudut sebuah klub malam di Jakarta, Mirna sedang larut dalam dunia gelap yang telah lama ia jalani. Pintu kamar tertutup rapat, hanya dihiasi dengan lampu-lampu kerlap-kerlip yang menciptakan suasana sensual.

Di atas ranjang besar yang berantakan, Mirna terbaring bugil. Tubuhnya berkeringat, rambut merahnya acak-acakan. Di hadapannya, Pak Boni, seorang pria paruh baya berusia 45 tahun yang telah menjadi langganannya, menatapnya dengan mata penuh nafsu. Pak Boni kini hanya mengenakan celana dalam, dan di balik kain tipis itu, penisnya yang tegang tercetak jelas. Mirna tahu persis apa yang pria itu inginkan.

"Mirna... kamu luar biasa," desah Pak Boni, suaranya serak. Ia merangkak mendekat, mengusap lembut perut Mirna. "Saya nggak tahu lagi, kenapa saya bisa segila ini sama kamu."

Mirna tersenyum genit, tangannya merangkul leher Pak Boni. "Karena saya beda, Pak Boni. Saya tahu apa yang Bapak suka."

"Ya... kamu tahu persis," kata Pak Boni, memejamkan mata. "Saya butuh kamu, Mirna. Kamu satu-satunya yang bisa bikin saya gila seperti ini."

Mirna berbisik, suaranya terdengar sensual. "Bapak tahu kan, saya nggak pernah mengecewakan Bapak. Tapi, Bapak juga harus ingat, ada *bonus* buat saya kan?"

Pak Boni tertawa. "Tentu, Mirna. Berapa pun yang kamu minta. Asal kamu bikin saya bahagia."

Mata Mirna berbinar. "Saya akan bikin Bapak bahagia, lebih dari siapa pun."

Kemudian, Mirna bangkit, ia duduk di hadapan Pak Boni. Matanya menatap lurus pada tonjolan di balik celana dalam pria itu. Nafsu Pak Boni sudah tak terbendung, ia mendesah, "Mirna... kamu sungguh..."

Mirna menyeringai. "Saya tahu Bapak mau apa. Tenang saja, saya akan buat Bapak senang."

Nafas Pak Boni memburu. Tangannya menangkup wajah Mirna. "Ayo, Mirna. Saya sudah tidak tahan."

Mirna mengangguk. Dengan binal dan liar, ia membungkuk, wajahnya mendekat ke arah celana dalam Pak Boni. Ia bisa melihat dengan jelas bentuk penis pria itu yang sudah sangat tegang. Hidungnya mencium aroma khas pria, campuran keringat dan gairah. Tanpa ragu, ia meraih ujung celana dalam Pak Boni, menariknya ke bawah. Begitu penis Pak Boni menyembul keluar, Mirna langsung memasukkannya ke dalam mulutnya.

Pak Boni mendesah, erangannya memecah keheningan kamar. "Mirna... ah... kamu... kamu memang bidadari... ah... aku cinta kamu, Mirna..."

Mirna terus melanjutkan aksinya. Ia bekerja dengan binal, membuat Pak Boni semakin gila. Suara kecupan dan erangan Pak Boni memenuhi ruangan. Pria itu terus mengoceh, memuji-muji Mirna, betapa liar dan binalnya dia, betapa ia tak pernah bertemu wanita seperti Mirna. Mirna hanya mendengarkan, pikirannya kosong. Yang ia pikirkan hanyalah bonus, uang, dan kehidupan mewah yang bisa ia dapatkan dari pria-pria seperti Pak Boni.

***

Setelah semua selesai, Pak Boni terbaring lemas. Ia tersenyum puas. Mirna merapikan pakaiannya, mengambil beberapa lembar uang ratusan ribu dari dompet Pak Boni.

"Lain kali saya telepon kamu, ya," kata Pak Boni.

"Tentu, Pak," jawab Mirna, suaranya kembali normal, seolah tidak ada apa-apa yang baru saja terjadi. "Saya tunggu telepon dari Bapak."

Mirna keluar dari kamar itu dengan langkah santai, senyum puas di wajahnya. Ia melirik ke arah lorong yang Ningsih lewati tempo hari. Ia tahu Ningsih tidak akan pernah mengerti dunianya. Namun, ia juga tahu, ia harus melakukan apa saja demi uang. Tanpa uang, ia tak bisa hidup di Jakarta. Tanpa uang, ia tak bisa mengirimkan uang ke kampung. Dan tanpa uang, ia bukanlah siapa-siapa.

Ia kembali ke kontrakannya, menghitung uang hasil jerih payahnya. Sementara itu, di desa, Ningsih hanya bisa memandang langit, berdoa agar ia bisa menemukan jalan keluar dari kebingungannya. Ia tahu, ia harus memutuskan, apakah ia akan kembali ke Jakarta dan menjalani hidup seperti Mirna, atau ia akan tetap di desa, mencari pekerjaan lain dan berjuang dengan cara yang berbeda.

***

Malam-malam di desa terasa semakin panjang bagi Ningsih. Udara dingin yang biasanya menenangkan kini terasa membekukan hatinya. Seminggu sudah ia kembali, namun tak ada satu pun kabar baik dari Jakarta. Beberapa kenalannya di sana memang memberikan informasi lowongan, tapi semuanya tidak sesuai dengan harapannya. Ada yang kerjanya terlalu berat, ada yang gajinya jauh dari kata layak. Sementara itu, kedua adiknya terus bertanya kapan ia akan berangkat lagi. Janji Ningsih untuk membiayai sekolah mereka terasa semakin berat.

Di tengah kegelisahannya, pesan singkat dari Mirna terus berdatangan, membanjiri ponselnya.

"*Gimana, Ningsih? Sudah ada kabar?*"

"*Aku bilang ke bos, dia masih nungguin kamu lho.*"

"*Gajianku kemarin lumayan banget. Bisa buat beli handphone baru nih.*"

Setiap pesan dari Mirna bagai godaan yang terus-menerus mengikis benteng pertahanan Ningsih. Ia mencoba menahan diri, membalas seperlunya. Tapi satu pesan dari Mirna malam itu benar-benar menguji tekadnya.

"*Aku tahu kamu butuh uang. Di sini, gampang banget. Gajinya jutaan. Belum lagi bonusnya. Kamu pikirin lagi deh, Ningsih. Ini cuma masalah kerja, bukan soal moral.*"

Ningsih terdiam. Kalimat Mirna menusuk tepat di ulu hatinya. Ia merenung. Betul, semua ini demi uang. Demi kedua adiknya. Apakah ia harus mengorbankan sedikit harga dirinya demi kebahagiaan mereka?

Esok harinya, Ningsih menelepon Mirna. Suaranya terdengar ragu-ragu. "Mir... aku... aku mau coba."

Di seberang telepon, Mirna tersenyum lebar. Ia tahu, rencananya berhasil. "Tuh kan, aku bilang juga apa. Kamu nggak akan menyesal, Ningsih!"

"Tapi ada syaratnya," potong Ningsih cepat. "Aku cuma mau kerja jadi pelayan, Mir. Yang kayak nyediain makanan atau minuman aja. Nggak lebih."

Mirna sejenak terdiam. Sebuah senyum licik terukir di wajahnya. "Iya, Ningsih. Tentu saja. Kamu akan jadi pelayan. Pokoknya, pekerjaanmu nggak akan jauh-jauh dari itu. Gampang kok."

"Kamu janji?" tanya Ningsih, memastikan.

"Aku janji. Sekarang kamu siap-siap, besok aku jemput di terminal," kata Mirna, nadanya terdengar begitu meyakinkan.

Ningsih menutup telepon, hatinya campur aduk. Ada sedikit kelegaan karena akhirnya ia mendapat pekerjaan, namun juga ada ketakutan yang mendalam.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Beautiful Hurt
9.1
Marilyn terjebak dalam fitnah keji setelah sebuah pesan singkat menjadikannya kambing hitam atas hancurnya hubungan sang kakak. Christian, sang miliarder yang murka karena reputasinya tercemar, menuduh Marilyn sebagai wanita haus harta yang licik. Sebagai bentuk pembalasan dendam, Christian memaksa Marilyn masuk ke dalam pernikahan yang ia janjikan akan menjadi neraka dunia. Di tengah tuduhan tanpa bukti, Marilyn hanya bisa terdiam menghadapi kebenaran sepihak mereka.
Sampul Novel Dari Abu: Kesempatan Kedua
8.2
Seumur hidup aku mencintai Bima Wijoyo, tunanganku. Namun, saat studio seniku terbakar, dia justru membiarkanku tewas demi menyelamatkan Clara, kakak tiriku. Pengkhianatan itu menjadi akhir tragis hidupku yang pertama. Kini, keajaiban membawaku kembali ke masa lalu, tepat sebelum rapat dewan keluarga dimulai. Dengan ingatan pahit tentang api dan luka, aku berdiri tegak di hadapan semua orang untuk membatalkan pertunangan kami. Aku tidak akan mati dua kali.
Sampul Novel Disgraced Wife
7.9
El Barack Gunadhya Nagara terpaksa membeli Bellina Devanka Ammari dari bibinya demi memenuhi tuntutan kakeknya akan pewaris Nagara Group. Dalam pernikahan singkat yang penuh penderitaan ini, Bellina harus merelakan hubungannya dengan Kevin Sanjaya. Meski batinnya tersiksa karena hanya dianggap sebagai mesin penghasil keturunan, situasi mulai berubah saat El menjadikannya sosok spesial. Akankah Bellina tetap pergi, atau justru jatuh cinta pada pria yang menyelamatkannya?
Sampul Novel Mrs Bodyguard
8.7
Kendra, pewaris otomotif Tanaka yang manja dan rupawan, nyaris tewas akibat gaya hidup bebasnya. Demi keamanannya, sang ayah menyewa Drupadi, mantan anak asuh mafia yang dingin, sebagai pengawal pribadi. Menyamar jadi pria, Dru harus melindungi Kendra yang kerap kesal namun mulai bergantung padanya. Meski terpaut usia empat tahun dan terikat sumpah profesional untuk tidak jatuh cinta, benih asmara mulai tumbuh di antara pengawal tangguh dan majikan manis ini.
Sampul Novel Perjanjian dengan Sang Pewaris Tahta
9.5
Setahun setelah bertunangan, Sesil justru memergoki calon suaminya berkhianat tepat sebelum pernikahan mereka. Ia pun membatalkan rencana pengunduran diri dari Aditama's Group dan tetap menjadi sekretaris Raffael. Didorong rasa sakit hati, Sesil berniat membalas dendam dengan bantuan sang atasan. Namun, dukungan Raffael tidaklah gratis. Keduanya akhirnya terikat dalam sebuah perjanjian khusus yang menguntungkan bagi satu sama lain di masa depan.
Sampul Novel Random Husband
7.8
Fransisca, atau Caca, terjebak dalam kebohongan besar setelah rencana pernikahannya dengan pebisnis asing gagal total. Karena terlanjur sesumbar, ia merasa sangat malu untuk mengakui kebenaran di depan teman-temannya. Saat didesak dalam sebuah pesta, rasa panik membuatnya melakukan aksi nekat. Tanpa berpikir panjang, Caca menunjuk seorang pria asing secara acak dan mengklaimnya sebagai calon suaminya demi menyelamatkan harga dirinya saat itu.