Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel SANG PEMUAS BIRAHI

SANG PEMUAS BIRAHI

Sang Pemuas Birahi menyajikan antologi cerita pendek dewasa yang mengeksplorasi hasrat mendalam antar manusia. Setiap kisah mengusung latar belakang profesi beragam, mulai dari CEO berwibawa, tentara, hingga dinamika rumit antara mertua dan menantu. Dengan narasi eksplisit 21+, pembaca akan dibawa menyelami fantasi romantis yang intens dan menggairahkan. Kumpulan cerpen ini dirancang khusus untuk memuaskan imajinasi melalui alur cerita panas yang penuh godaan.
Bab
Bagikan

Bab 3

Keesokan harinya, Ningsih kembali ke Jakarta. Ia disambut Mirna di terminal. Ningsih melihat Mirna sudah berganti penampilan. Rambutnya diikat rapi, riasannya tipis, dan ia memakai kemeja serta celana panjang.

"Lho, kok kamu beda banget?" tanya Ningsih bingung.

Mirna tertawa. "Kan mau kerja. Nggak mungkin kan ke klub pakai baju seksi dari pagi. Nanti aku ganti di sana," jawabnya santai. "Ayo, aku kenalin ke bos, biar kamu cepat dapat seragam."

Setibanya di klub malam, bos menyambut Ningsih dengan ramah. "Jadi ini Ningsih? Mirna sudah cerita banyak tentang kamu," katanya sambil tersenyum.

"Iya, Pak. Saya ingin bekerja sebagai pelayan," ucap Ningsih.

Bos itu mengangguk. "Tentu. Kami memang butuh pelayan. Kamu akan bertugas mengantarkan makanan dan minuman ke ruangan-ruangan VIP."

Ningsih bernafas lega. Ia merasa sedikit tenang. Setidaknya, pekerjaannya sesuai dengan kesepakatannya dengan Mirna. Ia tidak tahu, di balik persetujuan itu, Mirna sudah menyiapkan siasat licik. Mirna mengamati Ningsih dari jauh, senyumnya menyeringai. Ia tahu, Ningsih yang polos tidak akan bertahan lama. Ia hanya perlu sabar.

Malam pertama Ningsih bekerja, ia mengenakan seragam pelayan, kemeja putih dan rok hitam. Ia melayani tamu-tamu dengan sopan. Namun, sesekali ia melihat Mirna. Pemandangan itu lagi-lagi membuat Ningsih bergidik. Mirna mengenakan gaun mini ketat berwarna merah yang sama seperti dulu. Ia melayani tamu-tamu pria dengan begitu binal. Ningsih berusaha menghindari kontak mata dengan Mirna.

Saat jam istirahat, Mirna menghampiri Ningsih. "Gimana? Enak kan jadi pelayan? Gajinya cuma segitu-gitu aja, kan?" sindir Mirna.

Ningsih terdiam. Ia tahu, Mirna benar. Gajinya sebagai pelayan jauh dari yang ia butuhkan untuk membiayai kedua adiknya.

"Dengar aku, Ningsih. Kamu harus cepat-cepat naik level," bisik Mirna.

"Maksudmu?"

"Kamu bisa dapat bonus besar kalau menemani tamu-tamu minum. Duitnya lebih banyak dari gajimu sebulan."

Ningsih menggeleng cepat. "Nggak, Mir. Aku cuma mau jadi pelayan. Kita sudah janji."

"Aku tahu, tapi kamu lihat sendiri kan? Aku cuma nemenin mereka minum. Nggak lebih. Bonusnya bisa sampai jutaan lho," goda Mirna. "Kamu nggak usah langsung kayak aku. Pelan-pelan aja. Coba dulu nemenin satu-dua tamu. Gampang kok, Ningsih."

"Aku nggak tahu, Mir," Ningsih masih ragu.

"Udah, jangan banyak mikir. Aku akan bilang ke bos, besok kamu coba nemenin tamu. Aku jamin, kamu akan ketagihan sama uangnya," kata Mirna, tangannya menepuk pundak Ningsih. "Aku nggak akan paksa kamu, kok. Kita coba aja, ya?"

Ningsih hanya bisa mengangguk pasrah. Ia tahu, ia sudah terjebak. Ia tidak bisa lagi mundur. Semua ini demi kedua adiknya. Ia hanya bisa berharap, godaan Mirna tidak akan menjerumuskannya lebih dalam lagi ke dunia gelap itu. Sementara Mirna, ia tersenyum puas. Ia tahu, cepat atau lambat, Ningsih akan menjadi seperti dirinya. Semua hanya tinggal menunggu waktu.

***

Mentari pagi menyusup malu-malu dari jendela kontrakan sempit Mirna, tapi Ningsih sudah terbangun sejak subuh. Semalaman ia tidak bisa tidur, hatinya gelisah memikirkan apa yang akan terjadi hari ini. Janjinya untuk hanya menjadi pelayan kini terasa semakin kabur. Mirna sudah mengatakan dengan jelas, ia akan mengajari Ningsih 'cara main' di klub malam.

Pukul sepuluh pagi, Mirna membangunkan Ningsih. "Ayo, bangun. Kita harus siap-siap. Nanti malam kamu harus tampil beda," ajaknya sambil menarik selimut Ningsih.

Ningsih beranjak dari kasur, matanya masih terlihat mengantuk. Ia melihat Mirna sudah berdandan, bahkan di pagi hari. Rambutnya di-curly, lipstik merah menyala, dan ia mengenakan *tank top* ketat berwarna hitam.

"Kenapa pagi-pagi sudah begini?" tanya Ningsih.

"Latihan dong," jawab Mirna. "Aku mau ngajarin kamu cara berdandan yang benar, cara berpakaian, dan juga cara ngobrol sama tamu."

Mirna mengeluarkan beberapa potong pakaian dari dalam lemari. Semuanya pakaian seksi, gaun mini, atasan ketat dengan belahan dada rendah, dan rok super pendek. Ningsih menelan ludah, ia merasa tidak nyaman melihatnya.

"Kamu harus terbiasa, Ningsih. Ini 'seragam' kita," kata Mirna, seolah membaca pikiran Ningsih. "Kamu pakai gaun ini, ya," katanya sambil memberikan gaun berwarna ungu yang sangat ketat.

"Gaun ini... aku nggak nyaman, Mir," ucap Ningsih.

"Nggak apa-apa, Ningsih. Nanti juga terbiasa. Tamu di sini suka yang seksi. Apalagi badanmu sintal, pasti bikin mereka tergila-gila," bujuk Mirna.

Ningsih terpaksa mengenakan gaun itu. Ia melihat dirinya di cermin, merasa seperti orang lain. Tubuhnya yang sintal memang terlihat menonjol, terutama di bagian dada dan pinggul. Ia merasa malu.

"Nah, gitu dong. Cantik kan?" Mirna tersenyum puas. "Sekarang, aku ajarin kamu cara jalan. Pinggulnya digoyang sedikit, jangan kaku kayak tiang listrik," katanya sambil memperagakan cara berjalan yang menggoda.

Ningsih mengikuti, tapi ia merasa canggung. Mirna menghela napas. "Aduh, Ningsih. Nanti malam kamu harus lincah. Kalau tamu ajak nari, kamu harus mau. Jangan kaku."

Setelah sesi latihan berjalan, Mirna membawa Ningsih ke meja rias. "Ini lipstik, ini *blush on*, ini *eyeliner*. Kamu harus pakai semua. Biar mata kamu terlihat lebih hidup dan bibirmu lebih seksi," katanya sambil mengajari Ningsih cara merias wajah.

Ningsih menuruti semua perintah Mirna. Ia melihat pantulan dirinya di cermin, rasanya asing. Gadis desa polos itu kini sudah mulai berubah menjadi seorang wanita malam. Jantungnya berdebar kencang, ia merasa bersalah pada orang tuanya di desa.

---

Malam harinya, klub malam itu kembali ramai. Ningsih mengenakan gaun ungu yang diberikan Mirna. Ia melangkah ragu-ragu di tengah keramaian. Mirna menghampirinya.

"Kamu duduk aja di sini, nanti aku kenalin ke tamu. Kamu nggak usah khawatir, aku akan di sampingmu," bisik Mirna.

Tak lama kemudian, seorang pria paruh baya menghampiri mereka. Ia tersenyum, matanya memandang Ningsih dari atas sampai bawah.

"Pak Agus, ini Ningsih. Dia pendatang baru di sini," kata Mirna.

"Halo, Ningsih. Nama saya Agus," sapa pria itu.

Ningsih hanya mengangguk, ia merasa canggung. Mirna menyikutnya, memberi isyarat agar ia lebih ramah.

"Silakan, Pak Agus. Mau pesan apa?" tanya Ningsih dengan suara lirih.

Pak Agus tertawa. "Kamu lucu sekali, Ningsih. Tidak perlu canggung. Duduk saja di sini, temani saya minum."

Ningsih menoleh ke Mirna, Mirna mengangguk, memberi isyarat agar ia menuruti pria itu. Dengan berat hati, Ningsih duduk di samping Pak Agus.

Pak Agus mulai mengajak Ningsih mengobrol. Ia bertanya tentang asal Ningsih, tentang kehidupannya, dan ia memuji kecantikan Ningsih. Ningsih merasa sedikit nyaman, karena Pak Agus tidak langsung berbuat aneh-aneh. Namun, di tengah obrolan, Pak Agus mulai merangkul Ningsih. Ningsih terkejut, ia berusaha menyingkirkan tangan pria itu.

"Ningsih, santai saja," bisik Mirna, seolah tahu kegelisahan Ningsih. "Ini bagian dari kerjaan. Kamu nggak usah khawatir."

"Tapi... aku nggak suka," bisik Ningsih.

"Nggak apa-apa. Biarin saja. Nanti juga terbiasa," jawab Mirna.

Pak Agus, yang merasa diabaikan, mulai berani. Tangan kirinya merangkul pinggang Ningsih, tangan kanannya mengusap lembut paha Ningsih. Ningsih menahan napas, ia merasa sangat tidak nyaman.

"Pak Agus, jangan begitu," kata Ningsih, suaranya bergetar.

Pak Agus tersenyum. "Kenapa, Sayang? Hanya begini saja. Kamu kan cantik, saya cuma mau lebih dekat."

Mirna melirik tajam ke arah Ningsih. "Ningsih! Kamu jangan kaku! Biarin aja! Ini yang namanya 'merayu' biar dia mau kasih bonus besar!" bisik Mirna.

Ningsih terpaksa membiarkan Pak Agus. Ia merasa jijik dengan sentuhan pria itu, namun ia juga sadar akan tujuan utamanya berada di sana. Ia membutuhkan uang.

Setelah beberapa saat, Pak Agus mulai mabuk. Ia mengajak Ningsih untuk berpelukan. Ningsih menolak, namun Pak Agus memaksa. Ia menarik Ningsih ke dalam pelukannya. Ningsih merasa seperti tercekik. Ia hanya bisa pasrah. Pak Agus mencium pipi Ningsih, lalu turun ke leher. Ningsih menutup mata, ia merasa air mata akan jatuh kapan saja.

"Cium saya, Ningsih," bisik Pak Agus.

Ningsih menggeleng. "Saya nggak bisa, Pak."

"Ayolah, Sayang. Cuma ciuman," bujuk Pak Agus.

Mirna melihat Ningsih yang masih ragu. Ia mengangguk, memberi isyarat agar Ningsih melakukannya. Ningsih menghela napas, ia mendekatkan wajahnya ke Pak Agus, mencium bibir pria itu. Ningsih merasa jijik, namun ia mencoba menahan diri. Ia teringat wajah orang tuanya di desa. Hatinya perih.

Setelah itu, Pak Agus memberikan Ningsih uang ratusan ribu. "Ini bonus buat kamu, Sayang. Lain kali, saya mau kamu jadi pendamping saya lagi," katanya sambil tersenyum puas.

Ningsih mengambil uang itu dengan tangan bergetar. Mirna menghampirinya. "Lihat kan? Gampang kan? Itu baru ciuman, belum yang lain," bisik Mirna. "Nanti juga kamu terbiasa. Yang penting uangnya banyak."

Ningsih terdiam. Ia menatap uang di tangannya. Uang yang didapat dengan pengorbanan yang begitu berat. Ia tahu, ia sudah berada di jalan yang salah. Tapi ia juga tidak bisa kembali. Ia sudah terlanjur basah, ia harus berenang. Dan yang terpenting, ia harus bisa mendapatkan uang sebanyak-banyaknya untuk membiayai kedua adiknya.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Beautiful Hurt
9.1
Marilyn terjebak dalam fitnah keji setelah sebuah pesan singkat menjadikannya kambing hitam atas hancurnya hubungan sang kakak. Christian, sang miliarder yang murka karena reputasinya tercemar, menuduh Marilyn sebagai wanita haus harta yang licik. Sebagai bentuk pembalasan dendam, Christian memaksa Marilyn masuk ke dalam pernikahan yang ia janjikan akan menjadi neraka dunia. Di tengah tuduhan tanpa bukti, Marilyn hanya bisa terdiam menghadapi kebenaran sepihak mereka.
Sampul Novel Dari Abu: Kesempatan Kedua
8.2
Seumur hidup aku mencintai Bima Wijoyo, tunanganku. Namun, saat studio seniku terbakar, dia justru membiarkanku tewas demi menyelamatkan Clara, kakak tiriku. Pengkhianatan itu menjadi akhir tragis hidupku yang pertama. Kini, keajaiban membawaku kembali ke masa lalu, tepat sebelum rapat dewan keluarga dimulai. Dengan ingatan pahit tentang api dan luka, aku berdiri tegak di hadapan semua orang untuk membatalkan pertunangan kami. Aku tidak akan mati dua kali.
Sampul Novel Disgraced Wife
7.9
El Barack Gunadhya Nagara terpaksa membeli Bellina Devanka Ammari dari bibinya demi memenuhi tuntutan kakeknya akan pewaris Nagara Group. Dalam pernikahan singkat yang penuh penderitaan ini, Bellina harus merelakan hubungannya dengan Kevin Sanjaya. Meski batinnya tersiksa karena hanya dianggap sebagai mesin penghasil keturunan, situasi mulai berubah saat El menjadikannya sosok spesial. Akankah Bellina tetap pergi, atau justru jatuh cinta pada pria yang menyelamatkannya?
Sampul Novel Mrs Bodyguard
8.7
Kendra, pewaris otomotif Tanaka yang manja dan rupawan, nyaris tewas akibat gaya hidup bebasnya. Demi keamanannya, sang ayah menyewa Drupadi, mantan anak asuh mafia yang dingin, sebagai pengawal pribadi. Menyamar jadi pria, Dru harus melindungi Kendra yang kerap kesal namun mulai bergantung padanya. Meski terpaut usia empat tahun dan terikat sumpah profesional untuk tidak jatuh cinta, benih asmara mulai tumbuh di antara pengawal tangguh dan majikan manis ini.
Sampul Novel Perjanjian dengan Sang Pewaris Tahta
9.5
Setahun setelah bertunangan, Sesil justru memergoki calon suaminya berkhianat tepat sebelum pernikahan mereka. Ia pun membatalkan rencana pengunduran diri dari Aditama's Group dan tetap menjadi sekretaris Raffael. Didorong rasa sakit hati, Sesil berniat membalas dendam dengan bantuan sang atasan. Namun, dukungan Raffael tidaklah gratis. Keduanya akhirnya terikat dalam sebuah perjanjian khusus yang menguntungkan bagi satu sama lain di masa depan.
Sampul Novel Random Husband
7.8
Fransisca, atau Caca, terjebak dalam kebohongan besar setelah rencana pernikahannya dengan pebisnis asing gagal total. Karena terlanjur sesumbar, ia merasa sangat malu untuk mengakui kebenaran di depan teman-temannya. Saat didesak dalam sebuah pesta, rasa panik membuatnya melakukan aksi nekat. Tanpa berpikir panjang, Caca menunjuk seorang pria asing secara acak dan mengklaimnya sebagai calon suaminya demi menyelamatkan harga dirinya saat itu.