
Sang Alpha Salah Menandatangani Penolakanku
Bab 3
ANYA POV:
Keesokan paginya, aku berjalan ke pusat komando kawanan—yang disamarkan sebagai lantai CEO Adiwangsa Global—dengan perasaan hampa di dada. Formulir penolakan yang sudah ditandatangani tersimpan aman, sebuah bom waktu yang menunggu saat yang tepat untuk meledak.
Pemandangan yang menyambutku membuat perasaan hampa itu terasa membakar. Rossa ada di sana, berdiri di belakang meja Bram, tangannya merapikan dasi Bram. Dia mencondongkan tubuhnya, membisikkan sesuatu di telinga Bram yang membuatnya tertawa kecil. Dia mendongak saat aku masuk, matanya yang berwarna biru langit memancarkan kilatan racun kemenangan. Dia bertingkah seolah-olah dia sudah menjadi Luna.
"Anya, sayang," sapanya dengan suara manis yang dibuat-buat. "Bisa tolong ambilkan teh herbal spesialku? Bram selalu menyediakannya untukku. Kamu tahu yang mana, kan?"
Aku tahu yang mana. Aku sangat mengenalnya.
"Tentu saja," kataku, suaraku datar dan tenang sempurna. Aku berbalik dan berjalan menuju lounge eksekutif, memainkan peran sebagai pelayan yang patuh.
Di dalam lounge, aku berdiri di depan dapur kecil yang canggih. Pikiranku melayang kembali ke jurnal yang kutemukan di brankas Bram. Jurnal itu tidak hanya berisi detail ritual ikatan. Itu adalah catatan teliti tentang setiap preferensi Rossa. Makanan favoritnya, aroma bunga melati bulan yang disukainya di samponya, campuran herbal yang tepat dalam tehnya—kamomil, lavender, dan setetes madu langka impor dari bunga gunung di Punggungan Utara.
Selama tiga tahun, Bram telah melatihku. Dia membuatku mengikuti pelatihan sensorik, mengasah indra penciuman dan perasaku. Dia mendorongku untuk mengembangkan kekuatanku dengan cara yang terasa tidak wajar bagi serigalaku. Kukira dia sedang mempersiapkanku untuk menjadi Luna yang kuat.
Aku salah. Dia sedang membentukku menjadi salinan sempurna dari Rossa.
Tanganku mantap saat menyiapkan teh, gerakanku presisi. Aku adalah seorang aktris yang memainkan peran yang sekarang kubenci. Ketika aku kembali ke kantor, Rossa sedang memeriksa kukunya, tampak bosan. Saat aku mendekati meja, dia tiba-tiba berdiri, sengaja menabrakku.
"Aduh, cerobohnya aku!" serunya.
Cangkir porselen halus itu miring, dan teh panas yang mendidih tumpah ke punggung tangan kananku. Rasa sakit yang membakar menjalar ke lenganku, tapi itu lebih dari sekadar panas. Rasa sakit kimiawi yang membakar menyusul, dan aku terkesiap, terhuyung mundur. Serigala di dalam diriku mengeluarkan jeritan kesakitan yang menyedihkan.
Perak cair. Dia diam-diam menambahkan perak cair ke dalam teh.
Kulit di tanganku mendesis, berubah menjadi merah melepuh yang mengerikan. Bagi manusia serigala, perak adalah racun. Ia membakar daging kami dan menghalangi kemampuan penyembuhan kami. Rasanya seolah-olah ia mencoba membakar sesuatu yang dalam di dalam diriku, sesuatu yang kuno dan murni.
"Rossa, kamu baik-baik saja? Apa kamu terbakar?" Bram langsung berdiri, bergegas ke sisinya, tangannya melayang di atas tubuh Rossa saat dia memeriksa apakah ada cipratan. Dia bahkan tidak melirikku.
Aku mencengkeram tanganku, wajahku meringis dalam jeritan sunyi saat perak itu terus menggerogoti kulitku.
Dia akhirnya menoleh padaku, tapi matanya tidak menunjukkan kekhawatiran. Hanya kejengkelan.
"Ada apa denganmu?" geramnya, dan kekuatan Perintah Alpha-nya menghantamku seperti pukulan fisik, membuatku terhuyung. ""Pergi ke klinik. Berhenti membuat keributan dan mempermalukan dirimu sendiri.""
Penghinaan beradu dengan rasa sakit yang luar biasa. Aku berbalik dan lari, kata-katanya mengejarku di sepanjang lorong.
Di klinik pribadi kawanan, aku menemukan sebotol salep kelopak bulan, satu-satunya hal yang bisa meredakan luka bakar perak. Saat aku dengan lembut mengoleskan pasta dingin itu ke kulitku yang melepuh, tekadku mengeras menjadi sesuatu yang dingin dan tak terpatahkan. Sisa-sisa terakhir cinta untuk Bram mati pada saat itu, digantikan oleh ketenangan sedingin es.
Aku mengeluarkan ponselku. Aku mengambil foto tanganku yang terbakar dan cacat. Kemudian, aku mengambil foto formulir penolakan, tanda tangannya yang jelas dan tebal di bagian bawah.
Aku mengirim kedua foto itu ke Arya dengan pesan sederhana.
"Rencananya berjalan. Tidak ada yang berubah."
---
Anda Mungkin Juga Suka





