
Sandiwara Pernikahan
Bab 2
Tiba-tiba Faran menendang kaki sofa yang ada di sampingnya. Rasa cemburunya membuat dia hilang kendali. Faran sangat marah hingga ingin membunuh pria di depannya.
"Pakaianmu berserakan di lantai." Faran menunjuk semua pakaian yang tercecer di lantai. Dari mulai jas, kemeja, celana panjang, hingga ikat pinggang dan pakaian dalam. "Siapa yang berbuat tidak senonoh di sini? Kau melucuti pakaianmu sendiri. Apa itu bisa dibilang 'Nadine berbuat tidak senonoh' terhadapmu?"
"Aku memang melepas semua pakaian. Tapi itu karena aku mau mandi! Mengapa sekarang jadi masalah buat kalian? Ini adalah kamarku sendiri. Aku bebas melakukan apapun di sini, termasuk tidak berpakaian sama sekali!" tegas Elvano dengan emosi yang sudah memuncak.
Jelas saja dia tidak terima dengan tuduhan yang diarahkan pada dirinya.
'Aish, sial!'
Padahal, Elvano baru saja tiba di negeri ini. Mengapa sekarang, kesialan malah datang menghampirinya?
'Ini semua gara-gara wanita itu!' Elvano menatap Nadine dengan tajam. 'Jika bukan karena wanita itu, aku tidak akan dipermalukan seperti ini!'
Beberapa saat kemudian, polisi pun datang ke kamar Elvano setelah dihubungi oleh salah satu dari mereka. Itu membuat Faran merasa puas.
"Tangkap dia, Pak!" ucap Faran pada polisi yang baru datang. Ia menunjuk Elvano yang sedang berdiri di belakang sofa.
"What the fuck are you doing? Menyingkir dariku!" Elvano mengangkat kedua tangan ke depan, melarang polisi untuk mendekat.
Dirinya tidak bersalah. Mengapa polisi ingin menangkapnya? Yang seharusnya ditangkap adalah mereka semua, yang masuk ke kamar orang tanpa permisi.
'Dasar payah!'
"Jelaskan semuanya nanti di kantor polisi!" ucap petugas kepolisian sambil meraih tangan kanan Elvano.
"Stop!" cegah Elvano lagi. "Oke, oke! Aku tidak akan menolak. Sekarang, biarkan aku memakai pakaianku dulu!"
Jika dibawa ke kantor polisi dalam keadaan tidak berpakaian seperti ini, apa kata orang, nanti?
'Sungguh memalukan!'
"Jangan!" tolak Faran dengan cepat ketika Elvano bersiap mengambil pakaiannya. "Ini bisa dijadikan sebagai bukti, dia berbuat tidak senonoh pada Nadine."
"Tidak! Itu semua tidak ben—"
"Diam! Kau tidak diijinkan untuk berbicara," potong Faran pada Nadine ketika wanita itu mau menjelaskan. Faran tidak membiarkan Nadine melanjutkan ucapannya.
"Oke! Kau tidak mengijinkan aku untuk berpakaian! Tapi, apa kau rela … jika wanita ini nanti melihat burungku?" ejek Elvano pada Faran. Ia menatap Faran dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Dia akan membandingkan punyaku dengan punyamu. Apa kau rela?" ejeknya lagi masih belum puas. "Sekarang, aku hanya mengenakan handuk di pinggang. Bergerak sedikit saja, handukku bisa terlepas. Kau bisa membayangkannya sendiri, apa selan—"
"Ambil celana dalam pria ini," potong Faran dengan segera—tidak membiarkan Elvano melanjutkan kata-katanya.
Faran sungguh mempertimbangkan semua perkataan Elvano. Ia takut jika Nadine akan benar-benar membandingkan miliknya dengan milik pria itu.
Setelah Elvano memakai celana dalam dan celana pendek sepaha, ia segera diborgol oleh polisi. Elvano dibawa ke kantor polisi dengan keadaan tanpa memakai pakaian dan bahkan alas kaki. Rambutnya masih berantakan, bau keringat pun masih tercium di tubuhnya. Ia tidak diizinkan untuk berpakaian, apalagi sampai membersihkan diri. Ia dibawa dalam keadaan menyedihkan.
"Sungguh sangat sial! Apa di negeri ini semua orang, bodoh, seperti mereka?"
Waktu sudah menunjukkan pukul dua malam. Elvano masih berada di kantor polisi dengan keadaan tidak mengenakan pakaian. Hanya ada celana pendek polos berwarna abu yang sedikit menghangatkan tubuhnya. Namun itu masih saja tidak membuatnya nyaman.
"Apa yang kau lakukan pada Nona Nadine?" tanya petugas kepolisian sambil mengetik sesuatu di komputernya.
Namun pertanyaan itu membuat Elvano sangat kesal.
"Sudah berapa kali kukatakan, aku tidak melakukan apapun pada wanita itu. Tadi, aku melepas semua pakaian karena memang aku mau mandi. Tiba-tiba ada suara ketukan pintu. Lalu aku membukanya. Wanita itu masuk ke kamarku tanpa permisi, lalu bersembunyi di balik tirai. Aku menghampirinya. Barulah tiga orang itu datang," tunjuk Elvano pada orang yang duduk di sofa belakang. Mereka adalah Faran dan dua orang bawahan Tuan Dandi—kakek Nadine.
Elvano sudah bosan dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh petugas itu. Pasalnya, sudah lima kali ia menjawab, namun petugas itu tetap saja tidak puas dengan jawabannya.
"Di mana rumahmu? Apa pekerjaanmu? Adakah seseorang yang ingin kau hubungi, sekarang?" tanya petugas itu, mengubah pertanyaannya. Tidak lagi menanyakan pertanyaan yang tadi sudah ditanyakan.
"Aku tidak memiliki rumah, pekerjaan pun tidak punya. Seseorang ...?" Elvano berpikir sejenak. Mencoba untuk mengingat-ingat sesuatu.
"Aku tidak tahu nomor ponsel orang yang ingin aku hubungi. Jadi, ya ... sudahlah!" Ia mengangkat bahu. Merasa bahwa itu semua tidak ada gunanya.
Semua barang milik Elvano seperti dompet dan ponsel masih ada di dalam kamar hotel. Ia pergi ke kantor polisi ini sama sekali tidak membawa apapun. Jadi, Elvano tidak bisa menghubungi siapapun. Walaupun ada, saat ini, ia tidak ingin menghubunginya.
"Bagaimana dengan ayah, ibu, kakak, adik, atau bahkan pacarmu, mungkin? Apa tidak ada satu nomor pun yang kau ingat?" tanya petugas itu lagi pada Elvano.
Sebodoh-bodohnya manusia, pasti ada nomor orang yang diingat. Tidak mungkin tidak ingat satu nomor pun.
Terdengar Elvano menjawab dengan singkat, "Tidak!"
"Apa kau tidak punya keluarga sama sekali?"
"Tidak!"
"Aishhhh!" petugas itu pusing dibuatnya.
"Sudah ... sudah!" Akhirnya, Nadine tidak tahan. Ia bangkit berdiri, lalu berjalan menuju kursi Elvano. "Di sini, akulah yang bersalah! Tadi, memang aku yang masuk ke dalam kamarnya tanpa permisi, dan bersembunyi di sana. Pria ini sama sekali tidak melakukan apapun. Sekarang, bebaskan dia!"
Nadine tidak tahan dengan jawaban Elvano yang terus berkata "Tidak!". Dari mulai tempat tinggal, pekerjaan, hingga orang yang ingin dihubungi.
"Apa kau terlahir dari batu, tidak punya siapapun di dunia ini?" bisik Nadine pada Elvano. Ia sedikit mengejek.
Elvano mendengar ejekannya. Ia menoleh ke samping, melihat wajah Nadine yang amat sangat dekat dengan wajahnya. Yang tadinya mau menjawab, akhirnya tidak jadi. Mulut Elvano kaku, seolah tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun.
"Nadine!" teriak Faran yang duduk di sofa pojok. "Biarkan dia menebus semua kesalahannya sendiri. Pria mesum seperti dia memang pantas dipenjara!"
"Tidak!" Nadine menegakkan punggungnya. Ia menoleh ke arah Faran. "Tadi, aku memang bersembunyi darimu dan juga Kakek karena kalian terus saja mengikutiku. Bahkan, kau sampai masuk ke kamar pria ini. Itu sangat tidak sopan!"
"Sekarang, kau pergi saja. Biar pria ini, aku yang urus," tambah Nadine lagi. Lalu, ia duduk di kursi samping Elvano. Berkata pada petugas kepolisian, "Kita damai saja, lah! Berapa uang yang harus kami bayar agar pria ini bebas?"
Nadine tahu apa yang diinginkan oleh polisi, yaitu, "Uang!"
Dengan uang, semuanya bisa diselesaikan dengan mudah. Termasuk mengeluarkan seseorang dari penjara.
"Lima puluh juta!" jawab petugas itu tanpa basa-basi lagi. "Jika malam ini ada uang jaminan sebesar lima puluh juta, pria ini boleh pergi!"
"Baik!" Nadine mengangguk dengan serius. "Beri aku waktu satu jam. Aku harus pulang dulu ke rumah untuk mengambil uang."
"Silahkan!" jawab petugas itu, memberi izin pada Nadine.
Nadine pun segera bangkit berdiri, bersiap untuk pergi. Ia tidak ingin membuang-buang waktu lagi karena hari sudah semakin larut, dan bahkan, sudah hampir pagi.
"Hey, apa yang kau lakukan?" Elvano tidak setuju dengan tindakan Nadine. "Kau tidak perlu melakukan hal itu. Aku bisa menyelesaikannya sendiri!"
Anda Mungkin Juga Suka





