
Sanderan Tuan MAFIA KEJAM
Bab 2
~~~~~~~~
Malam itu, suasana kediaman mewah Alex dipenuhi ketegangan yang hanya ia sendiri yang bisa menciptakan.
Alvin sudah berhenti menangis, namun wajah mungilnya masih murung. Ia duduk di pangkuan sang ayah, memeluk boneka kelinci dengan mata yang masih sembab.
Alex mengusap rambut hitam putranya itu, menatapnya dengan dingin namun penuh perhatian.
"Sekarang, katakan dengan jelas, Alvin. Apa yang Alvin mau?"
Bocah itu mengangkat wajahnya, bibir kecilnya bergetar.
"Alvin mau... Mami."
Alex mengerutkan kening.
"Siapa itu?"
"Mami Alicia." Suara Alvin terdengar jelas. Ia menatap Alex dengan mata bulat penuh keyakinan.
"Alvin mau mami tinggal di sini. Jangan suruh mami pergi. Alvin mau dia jadi.. jadi mamiku."
Ruangan itu langsung hening. Anak buah yang berdiri di tepi ruangan menunduk dalam-dalam, seolah takut tertangkap mendengar sesuatu yang begitu pribadi.
Alex menatap putranya itu cukup lama. Kata-kata itu, walaupun keluar dari mulut polos seorang bocah, terasa menancap keras di pikirannya.
Mami, Kata yang sudah lama ia kubur dalam-dalam sejak istrinya meninggal.
"Alvin." suara Alex terdengar rendah namun penuh wibawa.
"Kau tidak bisa sembarangan menunjuk seseorang dan menyebutnya Mami."
"Tapi Alvin mau!" ucap bocah itu membantah keras, suaranya nyaris pecah oleh tangis.
"Papa jahat kalau nggak mau bawa mami. Alvin suka mami di sini. Alvin mau mami di sini, sama Alvin, sama Papa!"
Alex terdiam. Ada sesuatu dalam sorot mata putranya yang membuatnya sulit menolak. Alvin adalah satu-satunya kelemahannya, satu-satunya hal yang tak bisa ia abaikan.
"Papa..." Alvin menarik jas ayahnya dengan wajah memelas.
"Boleh ya? mami baik... mami kasih Alvin bunga, terus senyum... Alvin mau senyum mami tiap hari. Tolong, Papa..."
Alex mengepalkan tangannya, kemudian menoleh pada salah anak buahnya yang berdiri paling dekat.
"Apa kalian sudah menemukannya?"
"Sudah, Bos."
"Gadis itu bernama Alicia Intani. Dia tinggal sendirian di rumah kos sederhana, tidak ada keluarga. Target bersih, tidak ada koneksi kuat. Akan sangat mudah untuk membawanya."
Alex menatapnya tajam.
"Kalau begitu, lakukan."
Alvin langsung tersenyum lebar, sambil menepuk-nepuk tangan ayahnya.
"Papa! Jadi mami tinggal sama kita? Papa baik sekali!"
Sementara itu, Alicia sama sekali tidak mengetahui jika seseorang sedang merencanakan untuk menculiknya.
Beberapa jam kemudian, Alex duduk di ruang kerjanya sambil menatap segelas anggur merah yang ada di tanganya.
"Mami harus jadi mamaku..." ucapan putranya itu terus terngiang jelas di fikiran Alex.
Tidak berselang lama, pintu ruang kerjanya diketuk. Salah satu anak buahnya masuk, kemudian menunduk.
"Bos, boleh saya bicara?"
"Cepat."
"Apakah... keputusan ini tepat? gadis itu tidak bersalah. Jika kita membawanya secara paksa... apa tidak berisiko?"
Tatapan pria itu langsung menusuk seperti pisau.
"Kau berani meragukan keputusanku?"
"Tidak, Bos! Saya hanya..." ucap anak buahnya itu menunduk makin dalam.
Alex bangkit dari duduknya, kemudian melangkah mendekat.
Ia menepuk bahu anak buahnya dengan senyum tipis yang justru membuat bulu kuduk berdiri.
"Alvin menginginkan gadis itu. Itu berarti dia milik kita, titik! Jika ada yang berani menghalangi, siapa pun itu, aku akan pastikan mereka tidak bernapas lagi. Mengerti?!"
"Siap Bos!" anak buahnya itu segera menunduk lebih rendah, tubuhnya gemetar.
Alex kembali duduk, kemudian menatap foto kecil di mejanya, foto dirinya bersama mendiang istrinya saat pernikahan mereka dulu.
"Maafkan aku," gumamnya lirih.
"Aku tidak bisa menolak anak kita. Dan mungkin... aku sendiri juga ingin gadis itu di sini."
_
_
_
Keesokan paginya, Alvin kembali merengek manja pada ayahnya saat sarapan.
"Papa, kapan mami datang?"
"Sebentar lagi," jawab Alex singkat sambil meneguk kopinya.
"Papa janji?"
"Papa tidak pernah berbohong padamu, Alvin."
Bocah itu tersenyum, wajahnya kembali ceria.
Namun, di sisi lain tatapan Alex menajam. Dalam hatinya, ia sudah memutuskan satu hal. Jika gadis itu masuk ke dalam hidup mereka, maka ia tidak akan pernah bisa keluar lagi.
Malam itu, sudut taman kota sudah mulai sepi. Lampu jalan terlihat menyinari trotoar yang cukup basah akibat diguyur hujan lebat.
Di sebuah rumah kos sederhana di lantai tiga, Alicia baru saja selesai menutup buku catatan kecilnya. Ia duduk di meja kecil dekat jendela, menikmati teh hangat sambil memandangi pemandangan malam.
Hari-hari yang ia lewati selalu sama, bekerja di toko bunga, pulang kerumah kos sederhananya kemudian menyendiri.
Namun sejak pertemuannya dengan bocah kecil bernama Alvin dan ayahnya yang menakutkan, ada rasa aneh yang terus mengganggu pikiran Alicia.
"Kenapa aku masih memikirkan mereka... " gumamnya pelan sambil menggenggam cangkir hangat.
Tiba-tiba, suara ketukan pelan terdengar dari pintu kos nya.
TOK! TOK!
Alicia pun langsung menoleh kearah pintu itu.
"Siapa?" tanyanya sambil berjalan menuju pintu tersebut.
Namun tidak ada jawaban. Alicia mengerutkan keningnya, kemudian meraih gagang pintu itu.
Begitu pintu terbuka sedikit, sebuah dorongan keras membuat tubuhnya terhempas ke kebelakang.
BRAK!!
"Tol-" Belum sempat ia berteriak, sebuah kain basah menutup mulut dan hidungnya.
Bau obat bius langsung menusuk, indra penciumanya.
Alicia meronta panik.
"Mmmphhh!!" Tubuhnya berusaha menendang, namun cengkeraman pria berpakaian hitam terlalu kuat.
"Cepat, jangan lama." bisik salah satu dari mereka.
"Tenang, target tidak melawan keras. Bos bilang hidup-hidup, bukan?" sahut yang lain.
Pandangan Alicia mulai kabur. Ia hanya bisa mendengar suara mereka samar sama, sebelum akhirnya kesadarannya menghilang.
Saat terbangun, ia mendapati dirinya berada di dalam mobil hitam besar. Tangan dan kakinya terikat, mulutnya dililit kain.
Jantungnya berdegup kencang, karena ketakutan.
"Mereka siapa? Mau apa denganku?" batin gadis itu ketakutan.
Pria-pria berpakaian hitam duduk di sekelilingnya, menatap lurus ke depan. Salah satunya menyadari Alicia sudah sadar, kemudian menoleh.
"Jangan melawan. Kami hanya menjalankan perintah. Kau akan dibawa menemui Bos."
"B-Bos?" gumam Alicia yang semakin panik.
_
_
_
Beberapa jam kemudian, mobil berhenti. Gerbang besi besar terbuka, memperlihatkan rumah megah dengan arsitektur modern, namun terasa mencekam dalam cahaya lampu malam.
Alicia dibawa turun, dengan setengah menyeretnya.
Gadis itu berusaha untuk melepaskan diri, walaupun tubuhnya masih lemah akibat obat bius.
"Lepaskan aku! Apa salahku?"
Tidak ada jawaban. Mereka hanya membawanya masuk melewati koridor luas dengan marmer dingin dan lampu gantung kristal.
Akhirnya, mereka tiba di sebuah ruangan besar. Di sana terlihat seorang pria dengan jas hitam elegan duduk di kursi kulit dengan kaki disilangkan dan tangan memegang segelas anggur.
Tatapan matanya tajam, penuh kendali.
Saat tatapan mereka bertemu, Alicia merasakan hawa dingin menusuk tulangnya. Ia berusaha melangkah mundur, tapi kedua pria yang menggenggam lengannya menahan kuat.
Alex meneguk anggurnya pelan, kemudian meletakkan gelas itu di meja.
"Jadi, kau yang membuat anakku menangis tanpa henti."
Suara itu berat, dalam, dan menekan.
Alicia menelan ludahnya dengan kasar, tubuhnya gemetar.
"A-aku tidak tahu... apa maksud anda. Aku tidak salah apa-apa. Lepaskan aku, tolong..."
Alex berdiri kemudian melangkah mendekat. Setiap langkah terdengar berat, membuat Alicia semakin panik.
~~~NEXT~~~
Anda Mungkin Juga Suka





