Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Sanderan Tuan MAFIA KEJAM

Sanderan Tuan MAFIA KEJAM

Dunia gelap seorang pemimpin mafia kejam hanya dipenuhi oleh ambisi kekuasaan, tumpukan uang, dan pertumpahan darah yang tiada akhir. Namun, dominasi pria bengis ini mulai goyah saat takdir mempertemukannya dengan seorang gadis yang memikat hatinya. Di balik reputasi yang mengerikan, muncul sisi lembut yang tak terduga akibat jeratan cinta. Ikuti kisah penuh aksi dan romansa dewasa yang menegangkan dalam perjalanan hidup sang penguasa yang kini menjadi sandera perasaan.
Bab
Bagikan

Bab 3

~~~~~~~~

FLASBACK ON...

TING!

Bel pintu toko berbunyi pelan ketika bocah itu mendorong pintunya.

Di dalam, aroma berbagai macam bunga memenuhi udara. Terlihat seorang gadis muda dengan apron merah jambu berdiri di salah satu rak yang penuh dengan bunga terpajang.

Gadis itu memiliki wajah lembut, senyum hangat, dan mata cokelat bening yang membuat siapa pun merasa diterima hanya dengan tatapannya.

Alicia Intani gadis cantik yang berusia 22 tahun, dengan senyum hangatnya ia selalu menyambut pelanggan yang datang ketoko bunga tersebut.

"Oh? Si kecil, kau sendirian?" tanya Alicia dengan suara lembut. Kemudian ia segera menunduk agar sejajar dengan tinggi Alvin.

Bocah itu pun mengangguk pelan, matanya berbinar melihat begitu banyak bunga yang terpajang di toko tersebut.

"Bunga.." gumamnya, menunjuk ke salah satu vas yang berisi jenis bunga lily putih.

Alicia pun terkekeh kecil melihatnya.

"Kamu juga suka bunga?"

"Em!"

"Sama dong, kakak juga suka banget sama bunga. Kamu mau setangkai?"

"Mau!"

Alicia pun mengambilkan setangkai bunga jenis Lily putih itu, kemudian membungkusnya agar terlihat indah.

"Ini, untukmu."

Alvin menerima dengan senyum polos.

"Mami baik." ucapnya dengan polosnya.

Hati Alicia langsung tersenyum mendengarnya. Sudah lama ia tak merasakan interaksi hangat seperti ini, karena ejak kecil Alicia hidup sendirian tanpa keluarga.

Setelah kedua orang tuanya meninggal, gadis itu memutuskan hidup sendiri karena paman dan bibinya selalu memperlakukanya dengan buruk.

Sekarang ia fokus kerja di toko bunga, melayani pelanggan dengan senyum, meski hatinya sering terasa kosong.

Tapi hari ini, seorang bocah mungil masuk begitu saja dan memanggilnya dengan cara manis, seakan sudah mengenalnya.

"Oh ya, kakak punya roti. Kamu mau nggak?" tawar Alicia.

"Em!" jawab bocah itu mengangguk penuh semangat.

Alicia pun tersenyum kemudian segera mengambilkan roti yang ia beli dalam perjalanan ketoko bunga itu, kemudian memberikanya pada Alvin.

Kemudian bocah itu duduk di salah satu kursi kecil di dekat meja kasir, sambil menikmati rotinya dengan bahagia. Sementara itu, Alicia tak bisa menahan diri untuk tetap memperhatikannya. Ada rasa hangat yang jarang ia temukan.

Tidak berselang lama, pintu toko itu terbuka dengan kasar. Alex berdiri di ambang pintu, dengan aura gelap, dingin, dan penuh tekanan, langsung memenuhi ruangan sempit itu.

"Alvin," panggilnya rendah, penuh wibawa pada sang putra.

Bocah itu menoleh dengan bibir yang belepotan remah roti.

"Papa! mami kasih roti dan bunga buat Alvin." Dengan polosnya bocah itu menunjuk Alicia.

Tatapan tajam Alex segera tertuju pada wanita cantik yang sedang berdiri di balik meja kasir.

Untuk sesaat, tatapan keduanya bertemu. Alicia bisa merasakan hawa dingin yang menusuk, seperti tatapan binatang buas mengawasi mangsanya. Jantungnya mulai berdegup tak karuan.

Namun, gadis itu tetap berusaha tersenyum sopan.

"Tuan, putra Anda mampir sebentar. Dia sangat manis, dan menyukai jenis bunga itu. Jadi saya memberikan setangkai untuknya."

Alex melangkah masuk, denga langkah berat dan penuh ancaman. Ia mengangkat Alvin dengan satu tangan, mendudukkannya di gendongannya.

"Lain kali papa nggak mau lihat Alvin kabur seperti ini lagi." tegurnya dengan suara dalam.

Namun bocah itu langsung merengut.

"Tapi... Alvin mau mami.."

Alex langsung melirik gadis itu lagi. Ada sesuatu yang aneh di dalam dirinya, saat melihat gadis manis itu tersenyum hangat pada putranya.

Sebuah perasaan asing, rasa yang sudah cukup lama terkubur sejak istrinya meninggal. Namun dengan cepat pria itu segera menepisnya.

" Kau..." suara Alex rendah, hampir bergemuruh.

"Siapa namamu?"

Alicia sedikit kaget dengan intensitas tatapannya, namun ia mencoba untuk menjawab dan tersenyum seperti pada pelanggan yang lain.

"Saya Alicia tuan."

Alex mengingat nama itu. Namun bukan sekadar mendengarnya, tetapi menanamnya dalam ingatan, seolah nama itu akan berarti sesuatu di kemudian hari.

"Terima kasih karena sudah menjaga putraku." ucap Alex datar.

Kemudian pria itu berbalik, hendak pergi sambil membawa Alvin di dalam gendonganya.

Namun tiba-tiba bocah itu menangis keras, meronta di pelukan Alex.

"Papa! Alvin mau mami! Alvin mau mami ikut!"

Tangisan itu begitu kencang hingga beberapa pelanggan yang baru masuk menoleh cemas.

Alicia yang merasa ibah melihatnya, langsung mendekat.

"Tidak apa-apa, Tuan... Anak Anda hanya kaget. Biarkan dia tenang sebentar di sini."

Tatapan Alex membeku pada gadis itu. Ada sesuatu yang bergejolak di matanya, namun bukan sekadar amarah, tapi juga sebuah ambisi.

Pria itu sangat tidak menyukai jika melihat putranya menangis, dan geram saat merasa tak bisa mengendalikan keadaan.

Dan gadis manis itu dengan tiba tiba berhasil merebut hati kecil Alvin dalam hitungan menit.

"Kau sudah membuatnya menangis. Kau akan bertanggung jawab." ucap Alex dengan nada bicara dingin.

Alicia terdiam, karena tidak mengerti ucapan pria di hadapanya itu.

Alex tetap membawa Alvin keluar, walaupun bocah itu masih menangis dan meronta di dalam gendonganya.

Sebelum pergi, ia menatap Alicia sekali lagi. Tatapan yang menusuk, tajam, dan penuh janji berbahaya.

Sejak hari itu, kehidupan penuh kejutan mulai menghampiri Alicia. Gadis cantik dan manis yang selalu menyembunyikan keindahan dirinya, dengan pakaian yang selalu sopan menutupi lekuk tubuhnya.

FLASBACK OFF....

Ruangan itu terlalu besar untuk ditempati satu orang. Dinding-dinding marmer berwarna putih pucat, lampu gantung kristal berkilauan di langit-langit tinggi, dan karpet merah gelap menutupi lantai.

Namun bagi Alicia, ruangan itu tidak terasa megah. Justru sebaliknya, terasa seperti sangkar emas yang dingin.

Ia duduk di tepi ranjang empuk berukuran king size, tangannya masih sedikit gemetar. Di depan pintu kamar itu, ada dua pengawal berpakaian hitam berdiri kaku, seperti patung berjaga.

Suara langkah berat mendekat. Pintu terbuka perlahan, memperlihatkan sosok tinggi dengan jas hitam rapi.

Tatapan dingin itu kembali menusuk, membuat jantung Alicia berdegup tak karuan.

Gadis itu segera bangkit, matanya membara dengan ketakutan dan kemarahan.

Kau! Lepaskan aku sekarang juga! Aku tidak pantas diperlakukan seperti ini!"

Namun Alex hanya tersenyum sambil menutup pintu di belakangnya. Senyum tipis terlukis di wajahnya, namun bukan terlihat manis melainkan mengintimidasi.

"Kau masih berani melawan? Menarik."

"Aku serius!" Alicia melangkah maju, suaranya bergetar tapi penuh tekad.

"Aku hanya gadis biasa! Aku tidak tahu siapa kau, dan aku tidak peduli. Aku tidak mau ada hubungannya denganmu! Lepaskan aku, atau aku akan__"

"Akan Apa?" potong Alex, nadanya tenang namun menekan.

"Kau akan berteriak? Kabur? Mengadu pada polisi?" Ia melangkah maju, tubuhnya mendekat dengan aura mendominasi.

"Kau pikir ada hukum yang bisa melindungimu dariku?"

Alicia terdiam, napasnya tersengal, menahan air mata yang kembali jatuh.

"Kau kejam... Kau menculikku, memperlakukan aku seperti benda... Kau pikir aku akan tinggal diam? Aku akan melawanmu!"

Alex tertawa kecil, suara rendah yang justru terdengar berbahaya. Ia meraih dagu Alicia dengan kasar, mengangkat wajah gadis itu agar menatapnya.

"Kau boleh melawan, Alicia. Tapi aku akan tetap menang."

"Lepaskan aku!" gadis itu mulai meronta, menepis tangan Alaska.

"Aku tidak mau di sini! Aku ingin pulang!"

"Tidak ada 'pulang' lagi bagimu." Suara Alex menajam.

"Mulai saat ini, rumahmu adalah di sini. Bersamaku. Bersama Alvin."

"Kenapa?!"suara Alicia pecah, air matanya jatuh.

"Kenapa kau melakukan ini padaku? Aku tidak pernah melakukan apa pun padamu!"

Alex menunduk sambil menatapnya dalam.

"Karena anakku menginginkanmu. Dan aku..." Alex berhenti sejenak, suaranya merendah.

"Aku juga tidak bisa mengabaikanmu."

Alicia tertegun, hatinya berdebar aneh. Namun ia segera menggeleng kuat.

"Tidak! Aku bukan milikmu! Aku bukan siapa-siapa untukmu!"

Alex langsung mendekatkan wajahnya hingga jarak mereka nyaris habis. Nafas hangatnya terasa di kulit gadis itu.

"Salah. Mulai sekarang, kau adalah milikku."

Alicia langsung memalingkah wajahnya, mencoba menghindari tatapan itu.

"Kau gila..."

"Mungkin." Alex tersenyum tipis.

"Tapi aku adalah gilanya yang berkuasa. Kau tidak bisa kabur dariku, Alicia."

Ketegangan itu pecah ketika pintu terbuka kecil. Suara lembut terdengar.

"Papa..."

Alvin berdiri di ambang pintu, matanya berbinar melihat Alicia. Tanpa ragu, bocah itu berlari ke arah gadis manis itu.

"Mami!"

Alicia refleks berjongkok, memeluk bocah kecil itu. Air matanya kembali jatuh, namun kali ini bercampur dengan rasa hangat.

"Kau di sini?"

"Mami jangan pergi lagi ya?" Alvin menatapnya dengan polos.

"Alvin mau mami sama Alvin di sini. Papa juga janji, kan?"

Alicia menatap Alex dengan tatapan putus asa.

"Kau tidak bisa memaksa seorang anak kecil seperti ini! Dia tidak tahu apa-apa!"

~~~NEXT~~~

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Disekap Wanita Yang Menginginkan Suamiku
8.9
Upaya Laras melarikan diri dari rumah berubah menjadi mimpi buruk saat ia dan ketiga buah hatinya diculik oleh seorang sopir travel. Di dalam penyekapan yang penuh siksaan, Laras harus menelan pil pahit kehilangan salah satu anaknya. Tragedi ini memicu dendam membara dalam dirinya. Ia bertekad mengungkap dalang serta motif keji di balik penderitaan mereka. Mampukah Laras menyelamatkan anak-anaknya yang tersisa dan lolos dari jeratan maut yang mengancam nyawa?
Sampul Novel KEMBALINYA RATU MAFIA
9.3
Pasca wafatnya Aderald Ibrahim, Diandra Safaluna mewarisi seluruh kekayaannya. Namun, ketiga anak Aderald yang murka berusaha melenyapkan Luna demi harta tersebut. Beruntung, Luna diselamatkan oleh rival mafianya. Kini ia kembali dengan identitas baru sebagai Diana, seorang ART di rumah suaminya sendiri. Sambil menyembunyikan cintanya yang mendalam, Luna memulai misi balas dendam. Akankah Sayudha menyadari bahwa sang istri berada di dekatnya?
Sampul Novel Menantu Hina Itu Ternyata Ahli Obat
9.4
Marcel menjalani hidup penuh hinaan sebagai menantu yang dipaksa memakan sisa hidangan keluarga istrinya di lantai. Penindasan kejam dari Shirley dan kerabatnya membuat Marcel putus asa hingga ia nekat menenggak formula rahasia peninggalan orang tuanya. Bukannya tewas, cairan itu justru membangkitkan kekuatan luar biasa dalam dirinya. Kini, sang ahli obat yang dulunya dianggap sampah telah bangkit untuk membalikkan keadaan. Akankah mereka yang merendahkannya bersujud memohon ampun?
Sampul Novel Pembalasan Pada Keluarga Mantan Calon Suamiku
9.1
Azzalyn kini bangkit demi menuntut keadilan atas penderitaan dirinya dan sang ibu. Setelah kehilangan orang-orang tercinta akibat kekejaman musuhnya, rasa takutnya telah sirna dan berganti menjadi api dendam. Ia pun terkejut saat mengetahui bahwa ayahnya ternyata masih hidup, meski masa lalu kelam menyelimuti kenyataan itu. Di tengah badai masalah yang terus datang menghimpit, Azzalyn bertekad untuk bertahan dan membalas setiap perbuatan jahat mereka.
Sampul Novel Pembalasan Saudara Kembar
7.9
Terpisah sejak kecil karena kecelakaan maut yang merenggut nyawa orang tua mereka, Angel dan Tiara akhirnya terhubung kembali melalui media sosial. Namun, reuni ini berakhir tragis saat Tiara tewas secara mengenaskan. Sebelum menghembuskan napas terakhir, Tiara meminta Angel menuntut balas atas kekejaman para pelaku. Kini, Angel harus memulai aksi berbahaya demi membongkar konspirasi di balik kematian kembarannya dan menuntaskan dendam yang tersisa.
Sampul Novel Reinkarnasi Pembunuh Bayaran: Dendam dari Tubuh Kedua
8.4
Liu Yifen adalah pembunuh bayaran yang tewas saat bertugas, namun dewi misterius memberinya kesempatan hidup kembali. Dalam misi barunya, ia bereinkarnasi ke tubuh pilihan pertama. Sialnya, maut kembali menjemput sebelum tugasnya usai. Ia ambruk bersimbah darah di tanah basah sementara musuhnya tersenyum puas melihat nyawanya hilang. Apakah perjalanan Liu Yifen benar-benar berakhir di sana, ataukah takdir masih menyimpan reinkarnasi lain baginya?