Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Sanderan Tuan MAFIA KEJAM

Sanderan Tuan MAFIA KEJAM

Dunia gelap seorang pemimpin mafia kejam hanya dipenuhi oleh ambisi kekuasaan, tumpukan uang, dan pertumpahan darah yang tiada akhir. Namun, dominasi pria bengis ini mulai goyah saat takdir mempertemukannya dengan seorang gadis yang memikat hatinya. Di balik reputasi yang mengerikan, muncul sisi lembut yang tak terduga akibat jeratan cinta. Ikuti kisah penuh aksi dan romansa dewasa yang menegangkan dalam perjalanan hidup sang penguasa yang kini menjadi sandera perasaan.
Bab
Bagikan

Bab 1

~~~~~~~~~~~

Tangisan anak kecil seharusnya terdengar biasa, namun di dalam rumah mewah suara itu menjadi seperti dentuman yang mampu mengguncang seluruh isi rumah.

Sejak kepulanganya dari taman, Alvin terus saja merengek dan menangis. Tidak ada yang bisa menghentikannya, termasuk Alex sendiri.

"Papa... Alvin mau mami!" Tangis itu keluar lagi, suara serak kecil yang menghantam dinding hati Alex.

Pria itu duduk di kursi besar ruang keluarga, dengan wajah menegang.

Ia adalah mafia yang terbiasa mengendalikan puluhan bahkan ratusan orang dengan satu perintah, dan terbiasa membuat musuhnya berlutut ketakutan hanya dengan tatapan. Namun, menghadapi tangisan putra sendiri, Alex seakan tidak berdaya.

Anak buahnya berdiri tegang di dekat pintu. Tak ada yang berani mendekat. Mereka tahu, ketika bos mereka terlihat diam terlalu lama, itu tandanya badai sedang menumpuk.

Alvin terus meronta di sofa, air mata mengalir tanpa henti.

"Papa jahat! Alvin mau mami! Alvin mau mami sekarang!"

Alex mengepalkan tangan, tulang-tulang jarinya berderak.

"Mami." Kata itu terus menghantui pikirannya.

Seorang gadis manis, dengan apron putih dan senyum lembut, yang dengan mudah merebut hati putra kecilnya.

"Bos.." salah satu anak buahnya memberanikan diri bersuara, meski suaranya bergetar.

"Mungkin... mungkin kalau kita mencari gadis itu..."

Tatapan Alex langsung menghantamnya. Dingin, tajam, membuat tubuh pria itu gemetar hebat.

"Diam!" Suara Alex rendah namun mengandung ancaman mematikan.

Ia bangkit dari kursi, berjalan mendekat ke sofa, lalu berlutut di hadapan putranya.

Pria itu tidak pernah menunjukkan sikap merendahkan diri seperti ini di hadapan siapa pun. Tapi untuk putra kesayanganya, Alex rela melakukanya.

"Tangisanmu... membuat Papa sakit Alvin." Suaranya rendah, bergetar dengan emosi yang jarang ia biarkan keluar.

"Katakan, apa yang harus Papa lakukan?"

Bocah itu menatap Alex dengan mata merah basah.

"Alvin mau mami. Alvin mau mami di sini. Jangan suruh mami pergi. mami harus sama Alvin, Papa!"

Alex langsung terdiam, kerena bingung dengan permintaan putranya itu.

Namun di satu sisi ia hanya ingin melihat sang putra bahagia, akan tetapi di sisi lain ia seorang mafia yang terbiasa mendapatkan segala hal dengan cara paksa.

Pria itu memejamkan matanya sejenak, sambil menarik napas panjang. Namun saat ia membuka matanya, tatapan pria itu sudah terlihat berbeda. Gelap, penuh tekad, dan ambisi.

"Kalau begitu, Papa akan membawanya ke sini."

Alvin langsung berhenti menangis, menatap Alex dengan mata penuh harap.

"Mami... di sini?"

Alex mengangguk dengan senyum tipis terlukis di wajahnya, senyum yang lebih menyeramkan daripada tatapan marahnya.

"Iya, Papa akan pastikan dia tidak pergi ke mana pun lagi."

Tanpa menunggu waktu lama, Alex langsung mengambil ponsel dari saku jas hitamnya, kemudian menghubungi salah satu tangan kanannya.

"Cari gadis yang bernama Alicia. Bekerja di toko bunga dekat taman kota." Suaranya tenang, tapi mengandung ancaman maut.

"Bawa dia padaku hidup-hidup. Jangan biarkan dia kabur. Jika ada yang berani melindunginya, bunuh."

Di ujung sana, pria yang menjadi orang kepercayaanya langsung mengiyakan tanpa berani menawar.

Alex menutup ponsel, kemudian menatap putranya lagi.

"Kau dengar itu, Alvin? Papa akan membawa mami itu untukmu."

Alvin tersenyum kecil untuk pertama kalinya setelah dua hari merengek dan menangis.

"Papa baik..." gumamnya, kemudian memeluk Alex.

Namun di balik pelukan kecil itu, hati Alex bergejolak. Bukan hanya karena ia ingin memenuhi keinginan putranya.

Namun ada sesuatu pada gadis manis itu, yang menempel di pikirannya. Tatapan mata lembutnya, senyum tulusnya, bahkan suara lembutnya saat berbicara dengan Alvin.

Alex tidak pernah tertarik pada siapa pun sejak istrinya meninggal. Tidak ada wanita lain yang bisa menggantikan mendiang sang istri.

Baginya, semua hanya alat atau musuh. Namun kini, entah mengapa gadis manis itu mampu mengusik pikirannya.

"Mungkin... aku juga ingin kau di sini." bisiknya lirih pada dirinya sendiri, tanpa disadari oleh Alvin.

Sementara itu, di toko bunga kecil di sudut kota, Alicia melakukan pekerjaannya seperti biasa.

Ia sibuk merapikan rak bunga, memisahkannya perjenis, dan membungkus pesanan untuk pelanggan. Senyumnya tetap hangat pada setiap pelanggan, tapi jauh di dalam hatinya, ia merasa ada sesuatu yang aneh.

Bayangan pria dingin itu, ayah dari bocah kecil yang lucu masih terlintas jelas di benaknya. Tatapan tajam Alex hari itu membuatnya merinding hingga sekarang.

Seolah-olah pria itu bukan manusia biasa, melainkan sosok gelap yang membawa bahaya.

Alicia menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir bayangan itu.

"Jangan dipikirkan. Itu hanya ayah dari anak kecil polos. Besok juga aku tidak akan bertemu lagi." gumamnya, mencoba menenangkan diri.

Namun ia tak tahu, malam itu juga, takdirnya akan berubah. Karena di kejauhan, beberapa pria berpakaian hitam sudah mengawasi toko bunga dengan tatapan dingin. Mereka menunggu perintah untuk menculik gadis manis bernama Alicia itu.

Dan di dalam rumah mewah itu, Alex sudah memutuskan satu hal. Jika sang putra sudah menginginkan sesuatu, maka tidak akan kata tidak untuk Alex menolaknya.

Alex Albert pria berusia 30 tahun itu, selalu dikenal sebagai pria dingin yang tak punya hati.

Di balik jas hitam mahal yang selalu membalut tubuh tegapnya, ia menyimpan reputasi sebagai raja mafia yang kejam, penguasa bisnis haram dan juga CEO perusahaan besar yang bergerak di bidang bisnis dan investasi internasional.

Satu panggilan telepon darinya saja bisa menentukan nyawa seseorang. Dan jika ada yang berani menyentuh orang-orang yang ia sayangi, maka darah akan tumpah, tanpa negosiasi.

Namun, di balik kebekuan itu, ada satu sisi Alex yang tak pernah ditunjukkan pada dunia, yaitu sisi seorang ayah.

Sejak istrinya meninggal dua tahun lalu saat melahirkan, Alex membesarkan putra kecilnya sendirian.

Alvin Albert, bocah mungil berusia tiga tahun, adalah alasan Alex masih bernapas hingga saat ini. Tanpa Alvin, pria itu mungkin sudah karam dalam lautan darah dan amarah.

_

_

_

FLASBACK ON....

Hari itu, cuaca cukup hangat. Alex sangat jarang punya waktu luang, namun demi sang putra Alvin, pria itu meluangkan waktu sorenya untuk berjalan-jalan di taman kota.

Alvin tertawa kecil sambil menepuk-nepuk tangan ayahnya.

"Papa, bunga!" serunya polos, menunjuk deretan bunga matahari di pinggir jalan setapak.

Alex menoleh sekilas. Senyum tipis, adalah sesuatu yang jarang muncul di wajah dinginnya, namun saat muncul ketika pria itu melihat mata sang anak yang begitu berbinar.

"Kalau Alvin suka, Papa bisa buatkan kebun bunga sendiri di rumah."

Sama halnya dengan mendiang istrinya, Alvin begitu suka dengan yang namanya aroma bunga. Sehinga setiap kali menghabiskan waktu di taman, bocah itu terlihat sangat senang menikmati pemandangan dan aroma bunga bunga yang menghiasi taman.

Bagi Alex, keinginan Alvin adalah perintah untuknya. Tak ada yang mustahil jika itu demi kebahagiaan sangg putran, semua akan ia lakukan.

Namun di saat yang bersamaan, ponsel pria itu bergetar. Layar menunjukkan nama salah satu anak buah kepercayaannya.

Alex langsung mengangkat dengan nada rendah.

"Kenapa?"

"Bos, kami mendapat kabar bahwa kelompok White Wolf mulai bergerak di pelabuhan." lapor seseorang dengan suara berat dan panik terdengar dari seberang.

"Awasi. Jangan bergerak tanpa perintahku." Suara Alex begitu tegas dan dingin seperti es.

"Jika ada yang mencoba menyentuh asetku, bunuh."

Ia terlalu fokus pada percakapan, hingga tak menyadari Alvin yang penasaran berjalan menjauh. Bocah itu menyeberang jalan kecil dan mendekati sebuah toko bunga mungil di sudut taman.

Keindahan bunga yang terpajang di toko itu, menarik perhatian Alvin hingga membuat bocah itu langsung menghampirinya.

FLASBACK OF....

~~~NEXT~~~

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Disekap Wanita Yang Menginginkan Suamiku
8.9
Upaya Laras melarikan diri dari rumah berubah menjadi mimpi buruk saat ia dan ketiga buah hatinya diculik oleh seorang sopir travel. Di dalam penyekapan yang penuh siksaan, Laras harus menelan pil pahit kehilangan salah satu anaknya. Tragedi ini memicu dendam membara dalam dirinya. Ia bertekad mengungkap dalang serta motif keji di balik penderitaan mereka. Mampukah Laras menyelamatkan anak-anaknya yang tersisa dan lolos dari jeratan maut yang mengancam nyawa?
Sampul Novel KEMBALINYA RATU MAFIA
9.3
Pasca wafatnya Aderald Ibrahim, Diandra Safaluna mewarisi seluruh kekayaannya. Namun, ketiga anak Aderald yang murka berusaha melenyapkan Luna demi harta tersebut. Beruntung, Luna diselamatkan oleh rival mafianya. Kini ia kembali dengan identitas baru sebagai Diana, seorang ART di rumah suaminya sendiri. Sambil menyembunyikan cintanya yang mendalam, Luna memulai misi balas dendam. Akankah Sayudha menyadari bahwa sang istri berada di dekatnya?
Sampul Novel Menantu Hina Itu Ternyata Ahli Obat
9.4
Marcel menjalani hidup penuh hinaan sebagai menantu yang dipaksa memakan sisa hidangan keluarga istrinya di lantai. Penindasan kejam dari Shirley dan kerabatnya membuat Marcel putus asa hingga ia nekat menenggak formula rahasia peninggalan orang tuanya. Bukannya tewas, cairan itu justru membangkitkan kekuatan luar biasa dalam dirinya. Kini, sang ahli obat yang dulunya dianggap sampah telah bangkit untuk membalikkan keadaan. Akankah mereka yang merendahkannya bersujud memohon ampun?
Sampul Novel Pembalasan Pada Keluarga Mantan Calon Suamiku
9.1
Azzalyn kini bangkit demi menuntut keadilan atas penderitaan dirinya dan sang ibu. Setelah kehilangan orang-orang tercinta akibat kekejaman musuhnya, rasa takutnya telah sirna dan berganti menjadi api dendam. Ia pun terkejut saat mengetahui bahwa ayahnya ternyata masih hidup, meski masa lalu kelam menyelimuti kenyataan itu. Di tengah badai masalah yang terus datang menghimpit, Azzalyn bertekad untuk bertahan dan membalas setiap perbuatan jahat mereka.
Sampul Novel Pembalasan Saudara Kembar
7.9
Terpisah sejak kecil karena kecelakaan maut yang merenggut nyawa orang tua mereka, Angel dan Tiara akhirnya terhubung kembali melalui media sosial. Namun, reuni ini berakhir tragis saat Tiara tewas secara mengenaskan. Sebelum menghembuskan napas terakhir, Tiara meminta Angel menuntut balas atas kekejaman para pelaku. Kini, Angel harus memulai aksi berbahaya demi membongkar konspirasi di balik kematian kembarannya dan menuntaskan dendam yang tersisa.
Sampul Novel Reinkarnasi Pembunuh Bayaran: Dendam dari Tubuh Kedua
8.4
Liu Yifen adalah pembunuh bayaran yang tewas saat bertugas, namun dewi misterius memberinya kesempatan hidup kembali. Dalam misi barunya, ia bereinkarnasi ke tubuh pilihan pertama. Sialnya, maut kembali menjemput sebelum tugasnya usai. Ia ambruk bersimbah darah di tanah basah sementara musuhnya tersenyum puas melihat nyawanya hilang. Apakah perjalanan Liu Yifen benar-benar berakhir di sana, ataukah takdir masih menyimpan reinkarnasi lain baginya?