
Salah Target
Bab 3
Buru-buru gadis itu menghidupkan ponselnya kembali, saat ketiga orang itu sedang sibuk mengatasi mobilnya yang mogok. Lalu gadis itu kembali mengirim shareloc kepada Bram.
Sejurus kemudian dia kembali segera mematikan benda pipih tersebut. Persis seperti yang dia lakukan pada saat masih berada di rumah penyekapan yang pertama.
Dalam panik, pusing, dan mual, dia berharap semoga mobil yang dia tumpangi itu tidak segera membaik, agar dia punya tambahan sedikit waktu untuk mengulur waktu dan berpikir.
Sumpah! Sebenarnya gadis itu ketakutan, saat mereka akan membawanya pergi entah ke mana. Semakin jauh dia berpindah tempat, maka semakin sulit kesempatan Bram atau orang rumah untuk melacak keberadaannya.
“Ya Allah, Tolonglah hamba-Mu ini. Siapa pun kamu yang nanti aku temui, tolong bantu aku terlepas dari penculikan yang tidak kumengerti motifnya ini,” lirihnya.
***
Sementara itu, di rumah gedongan yang mewah nan megah milik keluarga Dicky Prasetyo, seorang ibu muda mondar-mandir di ruang bebas keluarganya. Sesekali ibu muda itu menggigit kukunya.
Tidak jauh dari tempatnya mondar-mandir, seorang gadis cantik berkerudung jingga memakai kruk tampak sedang gelisah juga.
“Bu, mengapa kita kemarin meninggalkan Fla seorang diri di rumah. Sedangkan, Ayah pulang kerja sudah hampir tengah malam, pasti tidurnya nyenyak sekali. Hingga tidak menyadari kalau Fla diculik. Sudah dua hari Fla belum ada kabar, Bu!” ucap Kiran.
Kiran adalah kakak perempuan Flamboyan. Gadis yang diculik oleh laki-laki berkumis tebal yang bernama Bos Fredy itu.
Gadis itu berulang kali menghela napas panjang, lalu menghembuskannya dengan kasar. Rasa bersalah, terbalut rasa gelisah, dan khawatir yang mendalam.
“Kirana Prasetyo, diamlah! Jangan membuat Ibu semakin merasa bersalah. Mana tahu kalau bakal ada kejadian seperti ini. Ayahmu sudah menghubungi pihak kepolisian tetapi belum ada kabar beritanya hingga sekarang,” seru Nyonya Dicky semakin tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.
Kalimatnya, seolah menyudutkan Kirana untuk diam. Tiba-tiba gadis itu beranjak dari ruang keluarga, tampak kesedihan yang mendalam saat ibunya membentak menyebut namanya dengan tegas. Seolah dia merasa tidak berguna.
Memang Kiran adalah seorang gadis yang baperan, apa-apa selalu dimasukkan ke hati. Mungkin karena kondisinya yang tidak sesempurna Flamboyan adiknya, hingga dia mudah sekali down saat hal kecil terjadi dan dia menjadi salah satu penyebabnya.
“Sayang, maafkan, Ibu. Bukan maksud Ibu untuk menyinggung perasaanmu. Ibu sedang benar-benar panik. Bantulah dengan doa saja, jangan membuat Ibu semakin merasa bersalah atas hilangnya adikmu,” bujuk Nyonya Dicky, saat melihat putri cantiknya itu tiba-tiba wajahnya berubah masam dan beringsut dari sampingnya.
Kiran meninggalkan ibunya di ruang itu sendiri, menuju kamarnya dengan segenap rasanya yang remuk redam.
Diambilnya kertas yang biasa dia gunakan untuk membuat desain pakaian, lalu dia tumpahkan segala rasanya dalam coretan-coretan sketsa desain dress yang elegan.
Sungguh gadis yang istimewa, dalam marahnya saja menghasilkan karya yang indah. Apalagi saat dia serius menekuni hobinya itu. Pasti akan menghasilkan banyak pundi-pundi rupiah.
Memang fisiknya tidak sempurna, tetapi kecerdasannya di atas rata-rata. Karena dia adalah seorang sarjana desain yang sudah satu tahun ini menganggur.
Bukan karena tidak ada lowongan pekerjaaan untuknya, atau tidak ada perusahaan yang mau merekrutnya, karena dia penyandang disabilitas.
Tetapi ini sudah menjadi pilihannya, bahwa dia ingin istirahat satu hingga dua tahun, sambil memikirkan ide bisnis yang tepat untuknya.
Dengan kondisi fisiknya yang berbeda, dia menolak saat berulang kali ayahnya berniat merekrutnya bekerja di kantor relasi ayahnya. Dia kekeh ingin buka usaha sendiri, sesuai dengan kemampuan dan bakatnya.
Kelak, kalau dia sudah benar-benar siap dan yakin. Dengan materi ayahnya yang melimpah, bukan tidak mungkin dia bisa mewujudkan mimpinya dalam waktu singkat.
Dia berkomitmen, tidak ingin bekerja di kantor atau perusahaan siapa pun. Sebab, dia tidak ingin semakin banyak orang merendahkannya, apalagi membuat malu ayahnya yang notabene seorang konglomerat. Dia ingin membuat ayahnya bangga, walau dengan kondisinya yang serba terbatas.
“Di mana kamu, Fla. Maafkan kami yang meninggalkanmu seorang diri di rumah waktu itu,” gumamnya sambil mengusap air mata yang meleleh di sudut matanya.
***
Sebuah fortuner mewah berhenti di halaman rumahnya yang luas itu. Nyonya Dicky mengintip siapa yang datang dari balik tirai gorden ruang keluarga.
Terlihat di suaminya dan beberapa orang pengawalnya tampak keluar dari mobil mewah itu. Belum dua langkah Tuan Dicky beranjak dari tempatnya berdiri, sebuah motor gede tipe kawasaki masuk ke halaman rumah itu.
Setelah membuka helm yang dia pakai, baru Tuan Dicky tahu kalau yang datang adalah Bramastyo, anak kolega bisnisnya yang dijodohkan dengan Kirana Prasetyo, tetapi menaruh hati dan menjalin hubungan diam-diam dengan Flamboyan Prasetyo.
“Om, saya mendapatkan kabar terkini dari Fla. Dua kali dia shareloc di dua tempat yang berbeda. Tetapi ponselnya tidak aktif. Setiap kali shareloc beberapa detik kemudian mati lagi,” jelas Bram.
Nyonya Dicky buru-buru keluar, setelah mendengar penjelasan Bram. Kabar dari Bram baru saja, bagaikan hujan yang mengguyur di saat musim kemarau tiba.
Menyejukkan dan menenangkan. Seketika seluruh raga Nyonya Dicky seolah-olah terbangun dari tidur oanjangnya. Meluluhlantahkan segala rasa bersalah yang berkecamuk kepada putrinya.
“Ayo, Bram, masuk ke rumah dulu. Kita bicarakan di dalam,” ajak Nyonya Dicky kepada Bramastyo, diikuti oleh Tuan Dicky dan dua orang pengawalnya.
Di ruang keluarga rumah gedongan itu terjadi pembicaraan serius antara Tuan dan Nyonya Dicky, Bram, dan disaksikan kedua oengawal Tuan Dicky.
Berbagai asumsi dan spekulasi serta solusi mereka bahas. Termasuk option-option yang memungkinkan terjadi, terhadap berbagai spekulasi yang mereka bicarakan.
***
Sementara di dapur seorang wanita paruh baya, tampak duduk meringkuk di kursi sudut di pojok ruangan. Air matanya beranak pinak membanjiri pipinya yang mulai keriput. Dia menangis tersedu, tak kuasa menahan kesedihan di hatinya.
Cairan bening di kedua sudut matanya, dia biarkan berderai begitu saja. Tubuhnya limbung meringkuk di sudut ruangan. Tak kuasa berdiri walau untuk sekadar menyembunyikan kegelisahannya.
Tulang sumsumnya terasa hilang, remuk redam, hingga dia benar-benar tak mampu melakukan apapun. Hanya mampu meringkuk dan bergeming di sana seorang diri.
Mata dan hidungnya merah dan bengkak serta sembab karena kebanyakan menangis. Wajahnya kusut, bagaikan kain yang belum disetrika.
Wanita itu mengusap wajahnya dengan kasar, sesekali dia terlihat membuang ingus yang telah bercampur dengan air matanya. Terlihat kesedihan yang mendalam dalam wajah dan sorot matanya.
Bahkan gurat kesedihan itu, melebihi kesedihan yang terpancar dari wajah Nyonya Dicky, sebagai ibunya.
“Fla, kamu di mana, Nak? Dalam darahmu mengalir darahku. Jika terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan atas dirimu, akulah orang pertama yang paling bersedih. Aku ibumu, Nak. Ibu kandungmu,” gumam wanita itu masih terus menangis tersedu.
“Apa, Bude?” tanya Kiran yang tiba-tiba muncul di dapur.
***
Anda Mungkin Juga Suka





