Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Salah Target

Salah Target

Andrey memimpin sindikat perdagangan manusia untuk membalas dendam pada rival lamanya, Dicky Prasetyo. Mereka menculik Flamboyan Prasetyo demi uang tebusan besar, tanpa menyadari bahwa dia hanyalah anak pembantu yang dirawat Dicky. Target asli, Kirana yang difabel, sedang berada di luar kota. Saat Dicky menghilang tanpa jejak, Bramastyo Hartawan harus berjuang sendirian demi menyelamatkan kekasihnya dan calon mertuanya dari ancaman maut yang kian mencekam.
Bab
Bagikan

Bab 1

“Lepaskan! Tolooooong!” teriak seorang gadis muda kira-kira berumur dua puluh tahun.

Baru saja gadis itu membuka matanya, setelah entah berapa lama dia tidak sadarkan diri. Matanya menyapu setiap sudut ruangan yang pengap dan kurang pencahayaan.

Hening. Tak ada suara apapun. Bahkan tak ada orang lain, selain dirinya di ruangan yang hanya berukuran 3 x 3 meter itu.

Dari balik tirai gorden jendela yang ada di pojok ruangan itu, temaram warna orange masih tampak sedikit terlihat. Pertanda saat itu hari masih sore.

Kembali netranya mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Ketika dirasa aman, perlahan dia menggeser tubuhnya, walau dengan kedua tangan yang terikat di belakang.

Tubuhnya terasa lemas tidak bertenaga. Kerongkongannya terasa kering. Tiba-tiba terdengar perutnya berbunyi.

Kruuuk! Kruuuk! Kruuuk!

Cacing-cacing di dalam perutnya, mungkin sedang mengamuk karena entah berapa lama perutnya tidak terisi makanan.

Di saat gadis itu mencoba menggeser tubuhnya, untuk sedikit merapat ke samping dipan yang berada di depannya, ada bagian lengan yang terasa perih, seperti disayat benda tajam.

Dalam remang cahaya lampu yang hanya lima watt, dia melihat ada luka sayatan kira-kira berukuran sepuluh centimeter.

Lengan atasan setelan piyamanya, motif bunga-bunga, warna merah muda, yang dia pakai pun sobek sepanjang luka itu.

Tiba-tiba dia merasa kepalanya nyut-nyutan. Begitu berat, pusing, dan matanya berkunang-kunang. Berulang kali gadis itu mengerjapkan matanya. Terasa ada yang mengganggu pandangannya.

Saat itu dia tersadar, di pelipis matanya pun ternyata bengkak. Seperti terbentur benda tumpul. Sayang, tangannya sedang terikat, sehingga dia tidak mampu meraba seberapa besar bengkak di matanya dan seberapa parah luka di lengannya.

Dari cermin di depan dipan yang saat ini tepat berada di hadapannya, dia melihat pelipis matanya lebam berwarna biru keungu-unguan. Benjolan kecil itu sangat mengganggu pandangannya.

“Sebenarnya aku di mana? Siapa yang membawaku? Apa motifnya? Mengapa?” gumamnya.

Berbagai pertanyaan tiba-tiba memberondong di benaknya, yang tak mampu dia jawab. Keningnya mengkernyit, mengingat-ingat kembali kejadian terakhir malam itu di kamarnya.

***

Malam itu hampir jam satu dini hari, saat dia tiba-tiba terbangun dan melihat sekelebat bayangan hitam mengendap-endap di samping kamarnya.

Di saat semua orang di rumah sudah terlelap, tiba-tiba mati lampu. Seketika gadis itu terbangun dari tidurnya.

Sebab dia dapat melihat sosok yang mengendap-endap itu, dari tirai gorden kamarnya yang mendapat pancahayaan dari sinar bulan. Kebetulan bulan menampakkan wajahnya, meskipun malam itu bukan malam bulan purnama.

Namun, dia yakin itu adalah sebuah kesengajaan. Karena dia melihat sorot lampu dari rumah tetangga yang masih menyala.

Biasanya dia tidur bersama kakak perempuannya. Namun, kakak perempuannya bersama ibunya sedang menghadiri undangan dari relasi bisnis ayahnya di luar kota.

Sengaja dia tidak ikut bersama mereka, karena esok pagi ada ujian semester di kampusnya. Belum selesai dia mengingat-ingat seluruh kejadian di malam itu, sebelum dia baku hantam dengan bayangan di malam itu, mendadak dia tersentak saat menyadari bahwa dia ada ujian akhir semester.

“Astaga! Sudah berapa lama aku di sini. Mengapa tidak ada orang sama sekali. Toloooong! Toloooong!”

Kembali gadis itu berteriak meminta pertolongan. Saat tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka, seorang laki-laki dengan kumis tebal, kira-kira berumur empat puluh lima tahun masuk.

Kulitnya sawo matang, rambutnya ikal agak gonrong tidak rapi, pakaiannya lusuh, pandangannya tajam, dan bengis. Laki-laki itu menyodorkan sepiring nasi beserta lauknya dan segelas air putih.

“Diam! Jangan berisik! Makan dulu agar kamu tak cepat-cepat sekarat. Menyusahkan saja!” kata laki-laki berkumis tebal itu.

“Siapa kamu! Lepaskan aku! Mengapa kalian menculikku!” ucap gadis itu sambil meronta-ronta minta dilepaskan.

“Jangan banyak bertanya! Jangan berisik! Segera makan makananmu! Atau kau kumampuskan sekarang!” bentaknya.

Laki-laki itu mendekat, gadis itu beringsut dari tempat duduknya. Dalam panik dia sempat terdiam lalu berpikir.

‘Aku yakin, dia hanya disuruh seseorang. Malam itu aku melihat bayangan beberapa orang. Jadi, tidak mungkin dia berbuat macam-macam kepadaku. Kalau aku jual mahal, pura-pura tidak mau makan, dari mana aku mendapat kekuatan untuk melawan mereka dan melarikan diri. Ah, aku ikuti saja dulu permainan mereka,’ ucap batinnya.

Gadis yang berani dan cerdas. Laki-laki berkumis tebal itu semakin mendekat, lalu berhenti ketika gadis itu menghentikan gerakannya.

“Stop! Jangan mendekat!” serunya.

“Aku mau membuka ikatanmu. Bagaimana kamu bisa makan, kalau tanganmu terikat. Goblok!” ucap laki-laki itu kasar.

Setelah ikatan di kedua tangan gadis itu terbuka, segera dia melahap makanannya. Untuk ukuran seorang gadis mungil sepertinya, satu piring penuh nasi dengan satu potong dada ayam goreng, tumis kacang panjang, dua perkedel dan satu gelas besar, air putih seharusnya tidak habis.

Namun, dia melahap habis semua makanan itu, hanya dalam waktu beberapa menit saja. Lahap sekali dia, seperti seorang yang satu minggu tidak makan.

“Rakus sekali kamu! Kamu anak seorang konglomerat, makan seperti pengemis kelaparan!” ucap laki-laki berkumis tebal, yang menunggui gadis itu makan.

“Aku lapar. Sudah berapa hari aku di sini. Lepaskan aku. Aku ada ujian akhir semester. Ini menentukan masa depanku. Tolonglah! Apa salahku!” pinta gadis itu.

“Persetan! Bukan urusanku!” ketusnya.

Setelah gadis itu selesai makan, laki-laki itu kembali mengikatnya.

“Tolong lepaskan aku! Jangan ikat aku lagi. Paling tidak obati dulu lukaku. Aku kesakitan. Sebenarnya apa yang kalian inginkan dariku?” rengek gadis itu, menurunkan nada bicaranya, dengan tatapan memohon yang terlihat memelas sekali.

Tanpa banyak bicara dan tidak memedulikan rengekannya, laki-laki berkumis tebal itu langsung keluar dari ruang itu, sambil membawa gelas dan piring bekas makan gadis itu.

Gadis itu mendengkus perlahan. Kecewa saat rengekannya tidak digubris oleh laki-laki berkumis tebal itu. Perutnya terasa begah karena kekenyangan.

Hal yang sama sekali belum pernah dia lakukan selama hidupnya, makan bagai orang kesetanan. Sambil meringis menahan sakit, dia beringsut dari tempat duduknya mendekati jendela satu-satunya di ruangan itu.

Tiba-tiba kembali pintu ruangan itu terbuka. Laki-laki dengan kumis tebal itu kembali masukke sana. Laki-laki itu melotot menyangka gadis itu hendak melarikan diri.

“Hooey ... brengsek! Mau ke mana kamu. Jangan pikir kamu bisa melarikan diri. Semua tempat ini dijaga ketat. Tubuhmu juga terikat. Jangan paksa aku berbuat kasar. Keparat!”

Laki-laki berkumis tebal itu segera masuk dan menyeret gadis itu kembali ke tengah ruangan di dekat dipan. Lalu dia mengeluarkan kotak P3K.

Meskipun ucapan dan perlakuan laki-laki itu kasar, telihat dengan telaten dia mengompres luka lebam di pelipis mata gadis itu, lalu memberi obat merah dan memakaikan kain perban.

Hal yang sama juga dia lakukan dengan luka di lengan gadis itu. Sebelum keluar, kembali laki-laki itu mengancam dengan kata-kata kasar.

“Jangan macam-macam! Atau kau akan membusuk di ruangan ini selamanya. Aku bisa saja menghabisi nyawamu kapan saja aku mau. Tapi nyawamu terlalu berharga. Akan kutukar nyawamu dengan sebuah pulau berikut ratusan gadis cantik yang akan menghiburku setiap hari. Hahaha!”

Tawa laki-laki itu sungguh menjijikkan. Ingin rasanya gadis itu meludahi wajahnya. Setelah semua beres, kembali laki-laki itu melangkah keluar dan mengunci pintu ruangan itu rapat-rapat. Sayup-sayup terdengar percakapan laki-laki itu dengan seseorang melalui sambungan telepon.

“Sebenarnya siapa mereka? Apa maksud mereka menculikku?” gumamnya

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Demi Selingkuhan, Kakak Rela Mengorbankan Kami
8.8
Akibat keegoisan kakak yang membawa seluruh pengawal demi selingkuhannya, rumah kami diserang musuh lama. Ibu terluka parah demi melindungiku. Meski selamat, aku dituduh menjadi penyebab hilangnya selingkuhan kakak melalui surat fitnah. Kakak yang menyimpan dendam akhirnya membunuhku di malam syukuran setelah ayah menyerahkan takhta perusahaan kepadaku. Namun, kematian itu membawaku kembali ke masa lalu. Aku terbangun tepat saat pintu vila mulai didobrak oleh musuh yang ingin membantai kami.
Sampul Novel DENDAM dan JERAT PESONA GADIS yang KUCULIK
9.7
Demi membalas kepedihan atas kematian sang ibu, Anggara nekat menculik Almaira. Ia bertekad menyiksa ayah gadis itu dengan cara memisahkan mereka selamanya. Namun, kedekatan yang terjalin justru menumbuhkan perasaan tak terduga di hati Anggara. Kini ia terjebak dalam dilema antara kebencian masa lalu dan cinta yang mulai bersemi. Mampukah kasih sayang menghapus dendam membara, sementara Almaira sendiri sangat membenci sosok yang telah menyekapnya?
Sampul Novel Escape
8.1
Emily Watson, model cantik yang terancam bahaya, berada dalam lindungan Ethan Davis, pemilik perusahaan keamanan elite di London. Dr. Watson menyewa jasa Ethan demi menjaga rahasia besar putrinya, sebelum ia ditemukan tewas mengenaskan tanpa kepala. Di tengah pelarian dan ancaman pembunuhan, Ethan dan Emily harus menghadapi trauma masa lalu mereka yang kelam. Akankah cinta yang lahir dari kegelapan ini mampu menyelamatkan mereka dari intrik mematikan yang mengintai di setiap sudut kota?
Sampul Novel Ketika Cinta Mati, Dendam Dimulai
9.8
Pasca kematian tragis putranya, Eva Anindita justru dikhianati suaminya, Jaksa David Adiwijaya. Demi melindungi Karin, pelaku tabrak lari, David memenjarakan Eva atas tuduhan palsu. Setelah tiga tahun mendekam di penjara dan kehilangan anak keduanya, Eva bebas hanya untuk melihat kenyataan pahit. David telah membina keluarga baru bersama Karin. Kini, jurnalis investigasi ini siap menuntut balas atas pengkhianatan keji yang menghancurkan hidupnya.
Sampul Novel Love and Virus
8.1
Wizard, Alvaro, dan Emma berjuang melawan Summer Erithropenia Syndrome, virus global yang mengubah pengidapnya menjadi sosok mirip zombie. Meski Wizard telah menemukan obatnya, hambatan besar menghalangi produksi massal. Di tengah kekacauan ini, ketiganya terjebak dalam cinta segitiga yang rumit. Mereka harus tetap profesional demi menuntaskan misi penyelamatan dunia. Akankah virus SES ini berhasil ditaklukkan sebelum hubungan mereka semakin hancur?
Sampul Novel Mengambil Alih Identitas Kakakku
9.1
Kematian tragis sang kakak kembar di usia delapan belas tahun meninggalkan luka mendalam sekaligus dendam membara. Setelah dinodai di hotel tersembunyi hingga tewas, reputasinya dihancurkan oleh Ginny, sahabat yang berkhianat dengan menyebarkan foto-foto kejadian tersebut. Tidak tinggal diam, sang adik mengambil alih identitasnya dan melakukan aksi pembalasan sadis dengan merusak wajah Ginny. Di tengah genangan darah, ia bersumpah bahwa siapa pun yang menyakiti kakaknya tidak akan pernah lolos dari hukuman.