
Salah Mencintai
Bab 2
Aku kenal suara ini, suara Laras, wanita yang selalu ada di hati Haris.
Sejak Laras kembali ke negara ini, Haris seperti berubah menjadi orang lain.
Ponselnya terus berdering tanpa henti, siang dan malam.
Setiap kali Laras menelepon, tidak peduli seberapa larut, Haris akan langsung pergi menemuinya.
Setiap kali aku bertengkar dengan Haris karena hal ini, dia selalu membentakku dengan sangat tidak sabar. "Laras itu sendirian di sini, nggak punya siapa-siapa. Apa salahnya aku tolong dia? Bisa nggak kamu berhenti cari masalah?"
Kami mulai perang dingin, dan dia menggunakan situasi itu sebagai alasan untuk sering tidak pulang.
Saat dia tidak ada di rumah, aku pernah mencoba mencari bukti bahwa Haris berselingkuh.
Namun, hasil penyelidikan menunjukkan bahwa dia memang hanya membantu perempuan itu, tanpa memandang waktu atau keadaan.
Setelah itu, dia mulai lebih sering marah padaku dan makin kehilangan kesabaran.
Dulu, tidak peduli seberapa sibuknya dia, dia selalu menelepon untuk memberitahuku tentang rencananya. Jika ada hal mendesak, dia akan mengirim pesan lewat WhatsApp.
Sekarang, seminggu, bahkan sebulan berlalu tanpa dia meneleponku. Ketika aku meneleponnya, dia selalu bilang sedang sibuk, atau harus segera pergi, atau bahkan langsung memutuskan sambungan.
Namun, kali ini, yang dia tutup bukan hanya teleponku, tetapi juga harapanku untuk hidup.
Aku menatap tubuhku yang sudah tercabik-cabik di tanah. Dengan penuh kebencian aku berpikir, kalau Haris tahu, dia yang menyebabkan kematianku karena lebih memilih menyelamatkan Laras yang hanya terluka di lengannya, apakah dia akan merasa bersalah? Apakah dia akan menyesal ...?
Aku mencemooh diriku sendiri dan menggelengkan kepala. Mungkinkah, kematianku justru memberinya kesempatan untuk bisa bersama Laras?
Akan tetapi ....
Aku menunduk dan dengan hati-hati melindungi perutku. Rasa sakit menusuk di dadaku. Jika dia tahu bahwa secara tidak langsung dia juga sudah menyebabkan kematian anak yang dia impikan selama ini, mungkin dia akan merasa sedih, 'kan?
Dengan terisak, aku mencoba bangkit, tetapi tubuhku tiba-tiba terangkat ke udara tanpa bisa aku kendalikan.
Aku tidak tahu berapa lama aku melayang, sampai akhirnya aku tiba di dekat Haris.
Haris sedang menggendong Laras dengan tergesa-gesa menuju ke ruang gawat darurat, "Tolong minggir, minggir ...."
Pasien di luar ruang gawat darurat menatap Haris dengan dingin, wajahnya sangat tidak senang. "Kenapa harus buru-buru? Cuma luka ringan begitu, nggak akan mati kalau menunggu. Lihat itu, di depan ada beberapa orang berlumuran darah, memangnya nggak kelihatan?"
Haris mengerutkan kening dan membela diri, "Dia terkena luka di alam terbuka, bisa kena tetanus. Kalau nggak paham, jangan bicara sembarangan."
Pasien itu tidak menyangka Haris berani membalas, dan mulai berteriak dengan mata melotot, "Luka sekecil itu, kalau terlambat pun akan sembuh sendiri. Jangan buang-buang tenaga publik, dong."
Wajah Haris berubah sedikit, mungkin dia merasa kata-kata yang pernah dia katakan padaku tadi seperti menampar wajahnya sendiri. Dia tidak lagi membantah dan berdiri dengan patuh di belakang, menunggu giliran.
Laras bersandar di bahunya dengan manja, kedua tangannya memeluk leher Haris erat-erat. "Nggak apa-apa, Haris. Nanti kamu bantu saja aku membalut lukanya di rumah."
"Hanya saja di rumahku nggak ada alat-alat untuk membalut luka, apa bisa aku ke rumahmu?"
Tubuh Haris langsung kaku, pipinya seketika memerah, "Bisa."
"Tapi, apa Wendy nggak akan keberatan?"
Mendengar namaku disebut, Haris menjawab dengan nada keras, "Nggak usah pedulikan dia, aku akan langsung bawa kamu ke rumah sekarang."
Melihat mereka berdua begitu dekat dan mesra, aku tertawa sinis.
Aku benar-benar ingin melihat, bagaimana caranya mereka akan 'membalut luka' di rumahku.
Haris mengemudikan mobil dengan cepat. Perjalanan yang seharusnya memakan waktu dua puluh menit, hanya ditempuh dalam sepuluh menit.
Dia buru-buru membuka pintu mobil, menggendong Laras, dan berlari naik ke lantai atas.
Begitu pintu rumah terbuka, Laras yang tadinya manja tiba-tiba memeluk erat pinggang Haris. Dengan liar dia merobek pakaian Haris sambil berkata, "Mas Haris, aku kangen kamu ...."
Anda Mungkin Juga Suka





