
Sahabatku Merebut Kekasihku
Bab 3
Kafe kecil itu masih sepi ketika Rafa mulai membuka cerita yang selama ini ia sembunyikan. Tatapannya serius, seolah menimbang setiap kata yang keluar dari mulutnya.
"Lyana, aku harus jujur. Apa yang terjadi tujuh tahun lalu... bukan sekadar masalah biasa," katanya dengan suara rendah.
Lyana mengernyit, menatap dalam mata Rafa. "Apa maksudmu? Katakan saja, Rafa."
Rafa menarik napas dalam, lalu melanjutkan, "Saat itu aku berada dalam tekanan besar dari keluargaku sendiri. Mereka punya rencana besar untuk hidupku yang tidak bisa aku tolak. Aku terpaksa menjaga citra sebagai pacar Alenka, bukan karena aku ingin, tapi karena itu bagian dari strategi keluargaku."
Lyana terkejut. "Strategi? Maksudmu... itu semua cuma sandiwara?"
Rafa mengangguk pelan. "Ya. Aku harus berpura-pura demi menjaga kehormatan keluarga. Tapi di balik itu, aku juga jatuh hati padamu. Aku selalu merasa bersalah, tapi aku tidak tahu bagaimana caranya keluar dari situasi itu."
Seketika, benang kusut yang selama ini membingungkan Lyana mulai terurai. Ia merasa dipermainkan, menjadi pion dalam sebuah permainan yang lebih besar dari dirinya.
"Aku benci bagaimana semuanya jadi begini," Lyana berkata dengan suara bergetar. "Aku pikir kau tulus, Rafa. Tapi ternyata aku cuma bagian dari sandiwara itu."
Rafa menunduk, tak mampu menatap mata Lyana lagi. "Aku minta maaf. Aku tidak bermaksud menyakitimu."
Percakapan mereka terhenti saat ponsel Lyana bergetar. Pesan masuk dari seseorang yang membuat hatinya berdebar-Alenka.
Alenka: "Kita perlu bicara. Ini penting."
Lyana memandangi layar ponsel dengan hati penuh dilema. Ia tahu, pertemuan dengan Alenka bisa mengubah segalanya. Tapi ia juga sadar, ia tak bisa terus melarikan diri dari kenyataan.
Di sebuah kedai kopi di sudut kota, Alenka menunggu dengan ekspresi campur aduk-antara harap dan takut.
Saat Lyana tiba, keduanya duduk berhadapan, menatap satu sama lain dalam keheningan yang penuh beban.
"Aku tahu tentang Rafa dan kamu," Alenka membuka pembicaraan. "Aku tahu selama ini ada sesuatu yang kau sembunyikan."
Lyana tersentak. "Bagaimana kamu tahu?"
Alenka menarik napas dalam. "Aku menemukan pesan-pesan dari Rafa yang tidak pernah dia kirimkan padaku. Aku tahu dia menyimpan sesuatu, dan aku ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi."
Lyana menghela napas, lalu memutuskan untuk jujur. "Rafa terpaksa berbohong. Dia berada di bawah tekanan keluarganya yang mengatur semuanya, termasuk hubungannya denganmu."
Alenka menunduk, matanya berkaca-kaca. "Aku merasa dikhianati, Lyana. Aku mencintai Rafa, tapi ternyata aku hanya bagian dari rencana."
Air mata mulai mengalir di pipi Alenka. "Apa yang harus kita lakukan sekarang?"
Lyana merasa hatinya remuk melihat sahabatnya terluka. "Kita harus bicara dengan Rafa. Kita tidak bisa terus hidup dalam kebohongan."
Malam itu, ketiganya bertemu.
Di sebuah taman kota yang sepi, Lyana, Rafa, dan Alenka duduk berhadapan. Suasana tegang begitu terasa, kata-kata terasa berat keluar dari mulut mereka.
"Aku sudah jelaskan semuanya," Rafa mulai berbicara. "Aku tidak pernah ingin menyakitimu, Alenka. Aku terjebak dalam situasi yang tidak aku pilih."
Alenka menatap Rafa dengan mata penuh luka. "Aku ingin percaya, tapi aku tidak tahu caranya."
Lyana memandang keduanya, hatinya terasa hancur. "Kita harus mencari jalan keluar dari semua ini. Kita tidak bisa terus saling menyakiti."
Hari-hari berikutnya, ketiganya berusaha mencari cara untuk memperbaiki hubungan yang retak.
Namun, tidak mudah melupakan luka lama. Ketiga sahabat itu harus menghadapi kenyataan bahwa masa lalu telah mengubah mereka, dan mungkin tidak ada jalan kembali seperti dulu.
Anda Mungkin Juga Suka





