
Saat Aku Mati, Pacarku Sibuk Menolong Wanita Lain
Bab 3
Sayangnya, Wibi tidak melihatnya. Justru di sisi lain, Maya tiba-tiba merinding, lalu cepat-cepat mendekatinya, "Kak Wibi, kamu pasti capek sekali."
Dia mengambil tisu dan menyeka lumpur yang berlumuran di wajah Wibi.
"Nggak kok, ini memang tugas kami."
Maya kembali berkata, "Aku nggak habis pikir, apa yang ada di benaknya sampai datang ke parkiran bawah tanah di saat seperti ini?"
"Sudah diingatkan, tapi masih saja nekat. Tugas kita sudah selesai, yang salah ya dia sendiri …."
Saat Kapten Cipto lewat dan mendengar ini, dia langsung memotong dengan marah, "Diam, Wibi! Kata-kata bisa jadi bumerang! Sebagai petugas penyelamat, jangan bicara sembarangan tentang korban, terutama di depan jenazah! Apa aku perlu mengingatkanmu soal ini?"
"Selain itu, kamu pasti kena sanksi kali ini. Kembali ke markas, tulis laporan!"
"Kenapa harus kena sanksi?"
Maya tidak senang. "Kak Wibi telat karena membantu aku, 'kan?"
Kapten Cipto menatap Wibi dengan tajam. "Nyawa orang itu urusan besar, Wibi. Kita bahas nanti di markas!"
Lalu dia mengarahkan pandangannya ke Maya. "Dan Nona Maya, lain kali jangan menyusahkan semua orang untuk urusanmu sendiri. Kalau kucingmu hilang, itu tanggung jawabmu sebagai pemilik. Jangan pakai alasan itu untuk menghabiskan sumber daya publik!"
Kapten Cipto memang tidak pernah punya kesan baik terhadap Maya.
Dia juga tidak suka dengan cara Maya terus memanggil pacar orang lain dengan nada manja "Kak," jadi setiap kali melihatku diperlakukan buruk, dia sering menegur Wibi.
Namun, bagaimanapun juga, dia bukanlah seorang senior, hanya seorang kapten. Oleh karena itu, setelah menegur beberapa kali tetapi tidak dihiraukan oleh Wibi, Kapten Cipto pun tidak banyak berkata lagi.
Namun, kali ini, Kapten Cipto benar-benar tidak tahan lagi.
Setelah mendengar teguran itu, Maya langsung kesal. "Kak Wibi, dia keterlaluan. Kenapa bicara begitu ke aku?"
"Sudahlah, Maya. Dia itu atasan, jangan banyak ngomong. Aku mau balik ke markas, kamu juga pulang ya."
Wibi menepuk pundaknya, tetapi Maya malah menariknya. "Datang saja ke rumahku nanti. Aku bikin sup buatmu, biar kamu pulih lagi. Hitung-hitung sebagai ucapan terima kasih karena kamu menyelamatkan Bubu."
Bubu adalah kucing ragdoll miliknya. Wibi berpikir sejenak, lalu mengangguk. Tetapi, sebelum pergi, dia mencoba meneleponku.
Sayangnya, ponselku sudah mati total karena kehabisan baterai.
Wajah Wibi tampak kesal. "Masih main drama sama aku? Aku kasih tahu ya, kalau nggak mau angkat telepon, ya jangan pernah angkat lagi selamanya!"
Aku mendesah. "Memang aku nggak akan pernah angkat lagi, Wibi. Puas sekarang?"
Wibi menutup telepon dengan marah dan kembali ke markas. Sesampainya di kantor, Kapten Cipto langsung memarahinya habis-habisan.
Mengetahui bahwa setengah jam terbuang demi menyelamatkan seekor kucing, Kapten Cipto akhirnya tidak bisa menahan emosinya lagi. "Wibi, pisahkan urusan pribadi dan pekerjaan! Jangan anggap semua anggota tim ini sebagai milik pribadimu. Setengah jam! Kalau kalian pergi lebih cepat, gadis itu nggak akan mati!"
"Aku akan laporkan kejadian ini. Siap-siap menerima sanksi!"
"Nggak perlu terlalu serius begitu, 'kan?" Wibi terkejut. "Aku cuma punya tugas lain waktu itu!"
"Siapa yang kasih tugas itu? Ada catatannya?"
Wibi langsung terdiam.
Tidak ada catatan Maya meminta bantuannya, itu hanya panggilan telepon.
Sebaliknya, aku, penghuni yang melapor lewat manajemen, adalah bukti nyata bahwa dia terlambat.
Kalau saja dia terlambat lima menit, aku mungkin masih hidup.
Setelah dimarahi, Wibi pergi untuk menulis laporan.
Empat jam kemudian, jasadku telah dibersihkan. Manajemen gedung mengonfirmasi identitasku dan menyerahkan data terkait kepada tim penyelamat.
Ketika Kapten Cipto menerima data itu, dia langsung terdiam. Dengan cepat, dia berlari ke kantor.
Dia melihat Wibi bergegas keluar.
"Wibi! Mau ke mana? Soal Yuni, dia ...."
"Nggak usah bahas itu lagi, Kapten Cipto. Yuni cuma ngambek, bilang terjebak, lalu mematikan ponsel. Aku nggak tahu apa maksudnya!"
Kapten Cipto menyerahkan data itu kepadanya. "Ini data korban. Lihat baik-baik."
"Kenapa aku harus lihat? Dia bukan siapa-siapaku …."
Belum selesai bicara, Wibi tertegun. Tangannya gemetar saat membaca data itu. Matanya membelalak, dan setelah beberapa saat, dia tergagap, "Ng-nggak mungkin!"
"Itu bukan dia!"
"Kalau mau memastikan, lihat saja langsung."
Anda Mungkin Juga Suka





