
Rumah Kakek
Bab 2
Jika aku mengingat kejadian dulu, terkadang aku tertawa seorang diri sekaligus takut di saat yang
bersamaan. Hal lucu yang kuingat adalah, saat itu aku hanyalah seorang anak kecil biasa yang sedang
menjaga adik-adiknya di rumah dan tidak tahu sama sekali tentang hal-hal yang berhubungan dengan
mistis.
“Dara, Ayah dan Ibu pergi kerja dulu, ya. Tolong jaga adik-adikmu.”
“Siap, Bu!” seruku.
“Tasya, kamu bantu kakakmu ya! Jangan nakal dan bantu kak Dara jaga Robi.”
“Iya, Bu. Hmm …. Bu, pulangnya bawa makanan, ya?!” celetuk Tasya dengan menunjukkan senyum
manja.
“Iya, doakan pekerjaan Ibu dan Ayah lancar, ya! Agar bisa bawa makanan saat pulang nanti,” balas ibu
seraya mengusap kepala kami.
Setidaknya, aku sudah diajari tentang bagaimana menjaga keamanan di rumah dan menjaga adik-adikku
saat ayah dan ibu pergi bekerja. Contohnya, seperti menyalakan lampu di luar rumah saat hari mulap
gelap, mengunci pintu, dan juga menyiapkan makanan saat kami lapar. Namun, sebenarnya aku masih
bingung dengan satu hal. Yaitu, menjaga Robi. Ia masih berumur tiga tahun dan aku kelas IV SD saat itu.
Robi anak yang cukup aktif hingga membuatku sangat kewalahan saat menjaganya. Dan juga, aku tidak
punya waktu banyak untuk belajar atau sekedar mengerjakan pekerjaan rumah.
“Kak Dara, paman Danu pasti pulang untuk menemani kita kan nanti?” tanya Tasya sambil memegang
lenganku seiring dengan perginya orang tua kami.
“Kakak gak tahu, Tas. Kita berdoa saja semoga paman Danu nanti pulang, ya.”
Biasanya, orang tua kami pulang ke rumah cukup larut sekitar jam sembilan atau sepuluh malam.
Bahkan, sesekali mereka pulang saat kami sudah tertidur.
Hari libur membuatku seharian berada di rumah. Rasanya, ingin sekali aku bermain ke rumah teman
namun pastinya aku harus mengajak kedua adikku. Dan itu membuatku tidak nyaman.
“Ka Dalaa, Obi mau main di luall,” pinta Robi dengan suara menggemaskannya yang masih sedikit cadel.
“Boleh, asal jangan jauh-jauh ya!”
“Kak, Tasya juga mau main di luar, sekalian jaga Robi deh.”
“Iya, Kakak akan mengawasi kalian dari teras sambil menyiram tanaman,” jawabku.
“Hmmm …. Kak, boleh minta uang jajan gak? Hehehe.”
“Ibu gak kasih uang Tas, sabar dulu ya tunggu ibu pulang ….”
“Yahhh …. Yasudah Kak, nggak pa-pa.”
Kami memang keluarga sederhana, di rumah besar peninggalan kakek ini kami hanya ‘menumpang’
karena orang tuaku masih belum memiliki rumah sendiri. Walaupun terkadang, kami hanya makan dua
kali sehari dengan menu yang sama seperti telur goreng, kami tak pernah mengeluh dan sudah biasa
dengan keadaan seperti ini. Kami masih bisa tertawa bahagia seperti keluarga lainnya walaupun tak
memiliki apa-apa.
Setiap petang, aku selalu berharap paman Danu akan datang untuk menemani kami saat ibu dan ayah
belum pulang. Namun, sepertinya harapan itu lagi-lagi sirna karna sampai langit sudah gelap pun, ia tak
kunjung menampakkan diri.
Waktu menunjukkan pukul 21.30, kedua adikku sudah terlelap tidur dan aku masih menunggu orang
tuaku pulang dengan menonton tv di ruang keluarga.
Dukk.. Dukk..
Samar-samar, terdengar suara seperti hentakan yang berasal dari lantai dua. Aku menengok ke arah
tangga dan mengabaikannya.
‘Ah, itu pasti suara tikus di atas ….’ Pikirku tak peduli.
Aku melanjutkan menonton acara tv kesukaanku malam itu. Sesekali aku mengeluarkan tawa kecil
karena terlalu asik dan terbawa suasana acara tersebut.
Anehnya, suara itu seperti hentakan kaki seseorang. Padahal, jelas-jelas tak ada seorang pun di sana
karena area lantai dua sudah tidak gunakan untuk beraktifitas kecuali menjemur pakaian. Di atas sana,
ada satu kamar tidur milik paman Danu dan satu kamar mandi yang kini sudah tak ada penerangan di
sana.
Dukk ….
Suara itu terdengar lagi.
Kesal karena perhatianku menonton jadi teralihkan, aku menengok ke arah tangga yang gelap itu
dengan penasaran akan apa yang terjadi.
Hampir sepuluh detik aku menatap tangga, tak ada apa pun yang terjadi di sana. Sampai akhirnya aku
memutuskan untuk kembali menonton tv, belum sampai setengah badanku berbalik, tiba-tiba ….
Duk …. Duk …. Duk ….
Adrenalinku naik, bulu kuduk pun terasa merinding. Kali ini aku panik karena suara itu mendekat dan
terdengar jelas seperti sedang berjalan langkah demi langkah ke arahku dengan menuruni anak tangga
dari kegelapan.
“Si-siapa itu?!” dengan bodohnya aku berteriak padahal jelas-jelas tak ada siapa pun yang terlihat turun
dari atas.
Seketika, aku langsung berlari menuju kamar tanpa mematikan tv dengan tergesa-gesa.
“Tas! Tasya bangun! Tassss!!”
Kubangunkan Tasya dengan mengguncang-guncangkan tubuhnya hingga akhirnya ia sedikit terbangun
dengan mata yang setengah terbuka dan raut wajah yang kesal.
“Aduhhh …. Ada apa sih Kak?! Aku masih ngantuk sekali,”
“Ada orang Tas! Ada suara dari atas! Aku takut! Tolong jangan tidur dulu sampai ibu datang!”
Alih-alih meminta tolong, Tasya malah melanjutkan tidurnya sambil memeluk guling kesayangannya itu.
Aku benar-benar panik, aku bahkan tak peduli dengan tv yang masih menyala. Keringat dingin
membasahi tubuh dan wajahku. Aku hanya bisa berlindung di balik selimut dan memaksa mata ini agar
terpejam dan tidur.
Tok …. Tok ….
“Assalamu’alaikum, Dara tolong buka pintunya. Ini kami, Nak.”
Ketakutanku hilang seketika, aku menghela nafas lega tatkala mendengar suara kedua orang tuaku yang
sudah pulang. Aku langsung membuka selimut, bangun dari kasur dan bergegas membuka pintu
menyambut kedatangan mereka.
“Akhirnya, kalian pulang juga! Kenapa lama sekali, tak biasanya kalian pulang selarut ini,” ucapku lega
dan langsung memeluk mereka.
“Eh, ada apa ini? Kok, wajah kamu pucat dan berkeringat, Dara?” tanya ibu keheranan.
“Aku tak bisa tidur, Bu. Aku takut ….
Aku menceritakan apa yang kualami tadi pada ayah dan ibu. Mendengar hal itu, mereka hanya terdiam
dan sesekali saling menatap kebingungan atas apa yang kuceritakan.
“Hmm …. Suara? Mungkin, itu tikus Sayang. Di rumah ini kan Cuma ada kamu, Tasya dan Robi saja. Kamu
juga kan pernah lihat ada tikus yang berkeliaran di sini.”
“Bukan Bu, bukan! Suaranya seperti orang yang sedang berjalan dan turun tangga!” seruku meyakinkan
ibu.
“Iya, mungkin itu tikus yang sudah besar sekali badan nya. Jadi, terdengar seperti langkah kaki. Oh,
mungkin dia mau mengajak kamu bermain? Hahaha,” pungkas ayah berusaha menenangkanku dengan
gurauan.
Namun, aku tetap yakin itu bukanlah suara tikus. Meskipun aku juga tak tahu pasti suara apakah itu.
Apakah mungkin, aku sedang berhalusinasi? Semoga saja.
“Sudah, lebih baik kita istirahat saja. Besok kan kami libur dan kita bisa menghabiskan waktu bersama.”
Tutur ibu.
Akhirnya, satu hari dalam seminggu yang selalu dinantikan adalah hari saat orang tuaku tidak bekerja.
Karena, jujur saja aku lelah mengurus adik-adikku ditambah lagi dengan kejadian tadi yang membuatku
ketakutan setengah mati.
Menuju lelapnya dunia mimpi, aku masih bisa sedikit mendengar ayah dan ibu yang sedang berbincangbincang sambil berbisik.
“Yah, apa Dara mengalami hal yang sama seperti yang kita alami?”
Anda Mungkin Juga Suka





