
Rencana Balas Dendam yang Terlambat
Bab 2
Suara ketukan sepatu hak tinggi bergema di lantai marmer Phoenix Tower. Marcy berjalan cepat, langkahnya tegas, membawa setumpuk berkas di tangan. Pagi itu udara terasa berbeda - bukan karena langit cerah atau aroma kopi dari lobi gedung, tapi karena sesuatu dalam dirinya mulai berubah. Ia tidak lagi merasa seperti tamu di dunia Adrian Hawthorne. Hari ini, ia datang sebagai seseorang yang ingin membuktikan bahwa dirinya mampu berdiri sejajar, bukan sekadar bayangan dalam kontrak pernikahan.
"Selamat pagi, Mrs. Hawthorne," sapa salah satu resepsionis dengan senyum sopan.
Marcy sempat tertegun mendengar sebutan itu. Ia belum terbiasa dengan nama barunya. Setiap kali mendengarnya, seolah ada beban yang menggantung di dadanya - antara kebanggaan dan rasa bersalah. Namun ia tetap membalas dengan senyum tipis, menatap lurus ke arah lift yang membawanya ke lantai 38, kantor utama Adrian.
Begitu pintu lift terbuka, pandangan Marcy langsung tertuju pada sosok yang berdiri di depan jendela besar. Adrian. Dengan jas abu-abu yang rapi dan jam tangan perak yang berkilau di pergelangan tangannya, pria itu tampak seperti seseorang yang bisa mengendalikan dunia hanya dengan satu kata. Tapi pagi ini, tatapannya tidak pada layar laptop, melainkan pada pemandangan laut biru di kejauhan.
"Datang lebih cepat dari yang kukira," ucapnya tanpa menoleh. Suaranya rendah, namun jelas.
"Aku tidak suka terlambat," jawab Marcy tenang. Ia menaruh berkas di meja, lalu duduk tanpa menunggu undangan. "Aku sudah mempelajari laporan keuangan yang kau kirim semalam."
Adrian menoleh perlahan, seolah terkejut mendengarnya. "Kau membacanya?"
Marcy mengangguk. "Dua kali."
Senyum samar muncul di wajah Adrian. Ia berjalan mendekat, duduk di seberang Marcy, matanya menatap tajam, tapi kali ini bukan dengan tatapan menilai. Lebih seperti rasa ingin tahu. "Dan apa kesimpulanmu?"
Marcy membuka berkas, menunjukkan beberapa catatan kecil. "Aku mungkin bukan ahli bisnis, tapi aku tahu pola. Ada penurunan kecil di cabang Phoenix Asia, khususnya di Singapura. Jika kau terus membiarkan laporan itu diabaikan, kerugian akan bertambah dalam tiga bulan ke depan."
Adrian menatapnya lama, lalu tertawa pelan - tawa yang jarang terdengar. "Kau mengejutkanku, Mrs. Hawthorne."
"Aku tidak suka dipandang remeh," jawab Marcy datar.
Hening sejenak. Di luar jendela, kapal pesiar Phoenix baru saja berlayar, membawa penumpang menuju pelabuhan selatan. Cahaya matahari memantul di kaca, membuat ruangan terasa hangat.
Tiba-tiba, suara ketukan pintu terdengar. Seorang wanita berambut pirang masuk dengan senyum menggoda. Gaun hitamnya pas di tubuh, dan setiap langkahnya seolah dihitung untuk menonjolkan daya tariknya.
"Adrian," sapanya dengan nada manja. "Kau tidak memberitahuku bahwa kita punya tamu baru di ruangan ini."
Marcy menatapnya tajam. Ia tahu siapa wanita itu bahkan sebelum Adrian menyebut namanya - Selena Winters, wanita yang dulu menjadi kekasih Adrian sebelum pernikahan kontrak itu terjadi.
Adrian berdiri, menatap Selena dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Selena, ini bukan waktu yang tepat."
"Oh, ayolah," jawab Selena, tersenyum licik sambil menatap Marcy dari ujung kepala hingga kaki. "Jadi ini dia, istrimu yang dikabarkan seluruh kota. Wanita yang menikah denganmu karena... kontrak?"
Marcy menatapnya balik tanpa gentar. "Lebih sopan kalau kau berbicara langsung denganku, bukan tentangku."
Selena tertawa kecil. "Oh, jadi kau punya nyali juga rupanya. Menarik."
Adrian menahan napas, memandangi keduanya. "Selena, kau bisa keluar dulu. Aku akan menemuimu nanti."
Tapi Selena tidak bergeming. Ia mendekat, menyentuh lengan Adrian. "Kau tahu, Adrian, ada banyak hal yang tidak bisa digantikan hanya karena selembar kertas pernikahan."
Marcy berdiri. Suaranya dingin, tapi matanya berkilat. "Dan ada hal-hal yang lebih bernilai daripada sekadar masa lalu yang tak tahu kapan harus berhenti."
Ruangan itu hening. Bahkan napas pun terasa berat. Selena tersenyum sinis sebelum akhirnya melangkah keluar, meninggalkan aroma parfum yang menusuk.
Begitu pintu tertutup, Marcy menatap Adrian. "Kau harusnya mengingatkan aku kalau dia bekerja di sini."
Adrian menghela napas. "Dia tidak bekerja di sini. Dia hanya... punya proyek dengan perusahaan."
"Proyek atau alasan untuk tetap dekat denganmu?" balas Marcy tajam.
Adrian menatapnya, dan untuk pertama kalinya, matanya terlihat lelah. "Kau tidak tahu segalanya, Marcy."
"Benar. Tapi aku tahu cukup banyak untuk tidak membiarkan siapa pun mempermalukanku di hadapanmu."
Suara itu tegas. Bukan suara wanita yang tunduk pada kontrak, tapi seseorang yang tahu nilai dirinya. Adrian terdiam beberapa detik, lalu mengangguk perlahan. "Baiklah. Aku akan memastikan dia tidak muncul tanpa izin lagi."
Hari itu berlalu dengan diam yang panjang di antara mereka. Namun di balik diam itu, sesuatu mulai berubah.
Malamnya, Marcy kembali ke apartemen dengan kepala penuh pikiran. Ia berjalan ke dapur, menuangkan segelas anggur merah, lalu duduk di meja makan. Ingatannya kembali pada tatapan Adrian tadi siang. Ada sesuatu yang tersembunyi di balik ketegasannya - sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Ponselnya berdering. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal:
"Berhati-hatilah dengan apa yang kau lihat. Dunia Adrian tidak sebersih yang kau pikirkan."
Marcy menatap layar ponsel lama, jantungnya berdegup cepat. Ia mencoba menelusuri nomor itu, tapi tak terdaftar. Siapa yang mengirim pesan itu? Dan kenapa sekarang?
Malam itu ia tidak tidur. Ada perasaan aneh, seolah seseorang mengawasinya. Ia menutup tirai, mematikan lampu, dan hanya duduk di gelap, menunggu pagi datang.
Ketika matahari terbit, ia memutuskan satu hal - ia tidak akan menjadi pion dalam permainan siapa pun. Jika Adrian menyembunyikan sesuatu, ia akan menemukannya sendiri.
Keesokan harinya, ia datang lebih pagi dari biasanya. Gedung Phoenix Tower masih sepi. Ia berjalan ke ruang kerja Adrian, menemukan meja besar yang rapi dan tumpukan berkas. Di antara tumpukan itu, matanya menangkap sesuatu yang aneh: folder hitam tanpa label.
Marcy ragu sejenak, tapi rasa penasaran mengalahkan logika. Ia membuka folder itu perlahan. Di dalamnya, ada dokumen rahasia: laporan keuangan tersembunyi, memo internal, dan satu nama yang terus muncul - Selena Winters.
"Dia masih terlibat dalam proyek Phoenix Blue," bisiknya, menatap tanda tangan Adrian di bawah kontrak itu.
"Sedang mencari sesuatu?"
Suara dalam dan tenang itu membuat Marcy terlonjak. Ia menoleh cepat - Adrian berdiri di ambang pintu, menatapnya tanpa ekspresi.
"Aku-aku hanya..."
"Melihat-lihat," lanjut Adrian, berjalan mendekat. "Kau penasaran, bukan?"
Marcy tak menjawab.
Adrian menatapnya lama sebelum menunduk, merapikan folder itu. "Kau memang pintar, Marcy. Tapi dunia ini tidak selalu bisa dijelaskan dengan logika."
"Aku tidak suka dibohongi," suaranya bergetar namun tegas. "Jika ada sesuatu yang perlu aku tahu, katakan langsung."
Adrian berhenti sejenak, lalu berkata lirih, "Beberapa kebenaran bisa menghancurkanmu lebih cepat dari kebohongan, Marcy."
Suasana membeku. Mereka saling menatap tanpa kata. Dua orang dengan dinding tinggi di antara mereka, tapi perlahan, retakan mulai terbentuk.
Hari-hari berikutnya berjalan tegang. Marcy tidak lagi berbicara banyak, tapi sikapnya lebih berani. Ia terlibat dalam rapat, memberi ide, dan mulai dikenal staf kantor sebagai "istri yang berani melawan bosnya sendiri."
Namun di malam hari, pikirannya selalu kembali ke satu hal: pesan misterius itu. Ia merasa sesuatu besar sedang disembunyikan, dan entah mengapa, ia yakin Adrian berada di tengah-tengahnya.
Suatu malam, saat badai melanda kota, listrik sempat padam beberapa menit. Marcy yang baru keluar dari kamar mandi mendengar suara di ruang tamu. Ia menahan napas, mengambil lampu senter kecil, lalu berjalan perlahan.
Di bawah cahaya redup, ia melihat bayangan seseorang di balkon. Saat kilat menyambar, ia sempat menangkap sosok itu - Selena.
Namun begitu ia membuka pintu balkon, tak ada siapa pun. Hanya tirai yang tertiup angin, dan aroma parfum yang sama seperti siang itu.
Jantung Marcy berdebar keras. Apakah ia berhalusinasi, atau Selena memang sengaja datang diam-diam?
Ia berlari ke pintu, mencoba menelepon Adrian. Tapi panggilannya tidak dijawab. Ia mengirim pesan cepat, "Seseorang ada di apartemenku."
Beberapa menit kemudian, suara ketukan keras terdengar. Adrian muncul, rambutnya basah oleh hujan, napasnya berat. "Kau baik-baik saja?"
Marcy hanya mengangguk, masih gemetar. Adrian menatap sekeliling, memastikan ruangan aman. Lalu ia menatapnya, kali ini dengan kekhawatiran yang nyata.
"Aku janji, aku akan mencari tahu siapa yang berani masuk ke sini," katanya, suaranya pelan tapi tegas.
Untuk pertama kalinya, Marcy melihat sisi Adrian yang lain - bukan CEO dingin, bukan pria sombong yang suka mengatur. Tapi seseorang yang benar-benar peduli.
Dan entah kenapa, malam itu, di tengah hujan dan ketegangan, ada sesuatu di antara mereka yang berubah. Bukan cinta sepenuhnya, tapi mungkin... awal dari sesuatu yang belum sempat mereka beri nama.
Malam itu berakhir dengan sunyi, tapi hati keduanya tidak lagi sama.
Marcy tahu: permainan ini jauh lebih rumit dari sekadar kontrak atau cinta masa lalu.
Dan Adrian tahu: wanita yang dulu ia anggap hanya formalitas kini mulai masuk ke pikirannya, tanpa bisa ia hentikan.
Di luar sana, petir menyambar langit.
Pertanda bahwa badai sebenarnya baru akan dimulai.
Matahari belum sepenuhnya naik ketika Marcy membuka matanya. Kamar hotel itu masih diselimuti cahaya oranye lembut, menyelinap lewat tirai tebal yang setengah terbuka. Ia menatap langit-langit beberapa detik, mencoba mengingat di mana dirinya berada, lalu mendesah pelan.
Peristiwa semalam masih berputar di kepalanya seperti rekaman rusak—tatapan tajam Adrian di depan ruang rapat, kata-kata dingin yang ia ucapkan, dan kemudian kebisuan yang menggantung di antara mereka. Ia tahu pernikahan ini tidak dibangun atas cinta, tapi bukan berarti ia siap menghadapi ketegangan seperti itu setiap hari.
Marcy bangkit, melangkah pelan ke balkon. Udara pagi Los Angeles menampar lembut wajahnya, membawa aroma laut dari kejauhan. Ia menatap ke bawah, melihat kapal pesiar milik Phoenix Cruise Line yang bersandar di dermaga pribadi. Mewah, megah, dan penuh kehidupan—kebalikan dari hatinya yang kini terasa hampa.
"Mrs. Hawthorne," suara pelayan wanita terdengar dari balik pintu. "Tuan Adrian sudah menunggu Anda di ruang sarapan."
Marcy menoleh cepat. "Sekarang?" tanyanya, sedikit panik karena belum bersiap.
"Ya, Nyonya. Beliau ingin Anda hadir tepat waktu."
Tentu saja. Adrian dan ketepatan waktunya—dua hal yang tak bisa dipisahkan. Marcy buru-buru bersiap. Gaun putih sederhana, rambut diikat rapi, sedikit bedak di pipi. Ia tidak mau terlihat lemah, bahkan jika hatinya belum siap menghadapi pagi yang seperti ujian.
Ketika ia tiba di ruang sarapan, Adrian sudah duduk di meja, membaca dokumen sambil menyesap kopi hitam. Penampilannya sempurna seperti biasa—kemeja abu tipis, jam tangan mahal, dan aura dominan yang seakan menelan ruangan.
“Kau terlambat tiga menit,” ujarnya tanpa mengangkat wajah.
Marcy menarik kursi dan duduk di depannya. “Aku pikir masih pagi.”
“Dalam dunia bisnis, tiga menit bisa menentukan untung atau rugi jutaan dolar,” sahutnya datar.
Marcy menahan diri untuk tidak mendesah keras. “Tapi kita tidak sedang rapat, Adrian. Ini sarapan.”
Barulah pria itu menatapnya. Tatapan kelam, namun entah kenapa kini ada sedikit kelembutan yang nyaris tak terlihat. “Sarapan, rapat, atau tidur sekalipun, waktu tetap penting, Marcy.”
Ia ingin menjawab, tapi pelayan datang membawa roti panggang, omelet, dan jus jeruk segar. Marcy hanya menatap piringnya tanpa selera. Sementara Adrian menutup berkasnya dan berbicara dengan nada yang membuat jantungnya berdebar.
“Aku akan ke San Francisco sore ini. Ada pertemuan dengan investor baru.”
“Oh,” jawab Marcy singkat. “Lalu aku?”
“Kau ikut.”
Matanya membulat. “Apa?”
“Aku ingin kau terlihat di acara gala malam nanti. Akan ada banyak media dan orang berpengaruh. Kita perlu tampak seperti pasangan yang bahagia.”
Kata “bahagia” terdengar seperti sindiran yang dikemas rapi. Marcy ingin tertawa sarkastik, tapi ia hanya mengangguk. “Baiklah.”
Adrian menatapnya sejenak, seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi akhirnya memilih diam dan melanjutkan sarapannya. Hanya ada bunyi sendok dan garpu yang saling beradu, di antara dua manusia yang berperang dalam diam.
Sore hari, mereka terbang ke San Francisco menggunakan jet pribadi. Selama penerbangan, Adrian sibuk membaca laporan keuangan, sementara Marcy memandangi awan di luar jendela.
"Aku dengar kau bertemu dengan Rhea kemarin," ucap Adrian tiba-tiba tanpa menoleh.
Marcy terkejut. “Kau tahu?”
“Dia sekretarisku selama dua tahun, Marcy. Kau pikir aku tidak akan tahu?”
“Aku hanya bicara soal pekerjaan. Tidak lebih.”
“Tentu.” Nada Adrian terdengar datar, tapi rahangnya mengeras. “Hanya saja, aku tidak suka istriku bergaul dengan orang yang pernah dipecat karena membocorkan dokumen perusahaan.”
Marcy menatapnya, kaget. “Rhea melakukan itu?”
“Ya. Dan dia membenciku karenanya.”
Marcy terdiam. Ia mulai menyadari sesuatu—dunia Adrian penuh dengan rahasia yang tidak terlihat di permukaan. Semua orang tampak tersenyum di depannya, tapi tak sedikit yang menyimpan pisau di balik punggung.
Ketika pesawat mendarat, Adrian langsung dijemput mobil hitam. Mereka tiba di hotel mewah tempat gala akan diadakan. Marcy dibawa ke ruang rias khusus untuk bersiap. Gaun hitam beludru dengan belahan tinggi menggantung di gantungan, menunggu dipakai.
Make-up artist bekerja cepat, rambutnya digelung elegan. Begitu selesai, ia menatap bayangan dirinya di cermin dan hampir tidak mengenali sosok itu—anggun, dewasa, berkelas. Ia bahkan terlihat seperti wanita yang benar-benar cocok di sisi Adrian Hawthorne.
Saat Adrian masuk ke ruang rias, Marcy menahan napas. Pria itu mengenakan setelan hitam sempurna, dengan dasi abu mengilap. Tatapan matanya sedikit berubah ketika melihat Marcy.
“Kau... terlihat luar biasa,” katanya pelan, nyaris seperti gumaman.
Marcy menunduk. “Terima kasih.”
Mereka turun bersama. Para tamu langsung menoleh begitu pasangan itu memasuki aula gala. Kilatan kamera memenuhi ruangan. Adrian menggenggam tangan Marcy erat, seperti sedang menunjukkan pada dunia bahwa mereka kuat, serasi, dan tak tergoyahkan.
Namun, di balik genggaman itu, Marcy bisa merasakan ketegangan. Jantungnya berdetak cepat, bukan karena cinta, tapi karena rasa canggung yang membunuh perlahan.
Beberapa jam berjalan, semua tampak sempurna—hingga seseorang datang menghampiri mereka.
“Adrian.”
Suara lembut namun tajam itu membuat Marcy menoleh. Di depan mereka berdiri seorang wanita cantik dengan gaun merah darah, rambut pirang bergelombang, bibir tersenyum penuh kemenangan.
Selena Winters.
“Selamat malam,” katanya manis. “Sudah lama sekali.”
Adrian menegang. “Selena.”
Marcy hanya berdiri di sisi, menatap keduanya bergantian. Tatapan Selena menelusuri tangan Adrian yang masih menggenggamnya. Senyum wanita itu menipis, seolah ada bara yang tersembunyi di baliknya.
“Jadi ini dia,” katanya pelan, menatap Marcy dari ujung kepala sampai kaki. “Istrimu.”
Marcy berusaha tersenyum sopan. “Senang bertemu denganmu.”
“Begitukah?” Selena menatapnya tajam. “Karena aku tidak merasa begitu.”
“Cukup, Selena,” potong Adrian tegas.
Namun, Selena tertawa pelan, mendekat satu langkah. “Kau tahu, Adrian... aku masih ingat bagaimana kau berjanji tidak akan pernah menikah hanya karena wasiat.”
Ucapan itu membuat udara seketika terasa berat. Beberapa tamu menoleh penasaran. Marcy menggigit bibir, sementara Adrian menggenggam tangannya lebih kuat, seolah menahannya agar tidak bicara.
“Waktu berubah,” jawab Adrian singkat.
“Ya,” balas Selena lirih. “Tapi hati manusia tidak.”
Ia lalu berpaling dan pergi, meninggalkan aroma parfum mawar yang menusuk hidung.
Marcy menarik tangannya perlahan. “Kau masih mencintainya, ya?”
Adrian menatapnya dalam diam. “Aku... tidak perlu menjawab itu.”
“Tentu. Karena kau tahu jawabannya,” balas Marcy dingin, lalu melangkah pergi dari aula gala itu tanpa menoleh.
Malam itu, Marcy berdiri di balkon kamar hotelnya, memandangi gemerlap lampu kota San Francisco. Udara malam dingin menggigit kulitnya, tapi pikirannya jauh lebih beku.
Suara langkah pelan terdengar di belakangnya. Adrian berdiri di ambang pintu, tanpa dasi, wajahnya lelah.
“Kenapa kau pergi dari gala?” tanyanya pelan.
“Karena aku muak berpura-pura,” jawab Marcy tanpa menoleh. “Aku bukan boneka yang bisa kau bawa untuk menutupi masa lalumu.”
“Marcy—”
“Tidak, Adrian.” Ia berbalik, matanya basah tapi tegas. “Aku tahu ini pernikahan kontrak, aku tahu semuanya hanya formalitas. Tapi tolong jangan rendahkan aku dengan kebohongan.”
Adrian menatapnya lama, kemudian perlahan melangkah mendekat. “Aku tidak pernah bermaksud merendahkanmu.”
“Kalau begitu, tunjukkan.”
Suasana hening. Lalu tanpa diduga, Adrian mengeluarkan sebuah amplop dari sakunya.
“Ini,” katanya sambil menyerahkan amplop itu.
Marcy membuka perlahan. Di dalamnya, ada salinan dokumen kepemilikan Phoenix Cruise Line—dan sebuah sertifikat kecil atas nama Marceline Sterling Hawthorne.
“Apa ini?” tanyanya bingung.
“Sebagian sahamku,” jawab Adrian tenang. “Kau pemegang 15% mulai hari ini.”
Marcy tertegun. “Kenapa kau memberikannya padaku?”
“Karena aku ingin kau punya alasan untuk tetap di sisiku. Bukan karena kontrak. Tapi karena kau berhak ada di sini.”
Marcy menatapnya, tak tahu harus percaya atau tidak. “Ini... caramu menebus rasa bersalah?”
“Mungkin,” ucapnya lirih. “Atau mungkin... aku hanya takut kehilangan seseorang yang bahkan belum sempat kucintai sepenuhnya.”
Suara itu begitu jujur hingga membuat dada Marcy sesak. Ia berbalik menatap langit, mencoba menyembunyikan air mata yang tiba-tiba jatuh.
Adrian berdiri di belakangnya, tidak menyentuh, hanya menatap punggungnya lama. Ada jarak yang belum bisa ia jembatani—tapi setidaknya malam itu, keduanya berhenti berlari.
Mereka tidak bicara lagi, hanya berdiri di bawah langit San Francisco yang berkilau, membawa luka masing-masing, dan secuil harapan yang entah akan berakhir menjadi cinta... atau kehancuran baru.
Anda Mungkin Juga Suka





