Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Rencana Balas Dendam yang Terlambat

Rencana Balas Dendam yang Terlambat

Marceline Sterling terpaksa menikahi Adrian Hawthorne, CEO Phoenix Cruise Line, demi sebuah wasiat. Meski Adrian mencintai Selena Winters dan mengekang Marcy dengan kontrak ketat, aturan itu justru memicu gairah tak terduga. Marcy yang semula dianggap lemah bertransformasi menjadi sosok dominan yang memikat pria berkuasa. Di puncak Phoenix Tower, perlawanan Marcy memicu murka Selena, menciptakan pusaran konflik, intrik, dan asmara yang sangat membara.
Bab
Bagikan

Bab 3

Kantor pusat Phoenix Cruise Line tampak seperti istana modern di jantung Manhattan-menjulang tinggi dengan dinding kaca biru dan logo burung phoenix emas di puncaknya. Bagi siapa pun yang lewat, bangunan itu adalah simbol kesuksesan, kekuatan, dan kejayaan. Tapi bagi Marcy, hari itu adalah medan perang pertamanya.

Pagi itu, ia berjalan di samping Adrian dengan langkah mantap, meski jantungnya berdetak cepat. Ini pertama kalinya ia datang sebagai pemegang saham perusahaan. Semua karyawan yang mereka lewati menunduk hormat. Namun Marcy tahu, di balik senyum sopan itu, ada rasa ingin tahu-dan mungkin cibiran tersembunyi.

Begitu memasuki ruang rapat utama di lantai 47, semua mata langsung tertuju padanya. Ruangan itu besar, dindingnya dihiasi lukisan kapal mewah dan peta rute pelayaran internasional. Para direktur sudah duduk melingkar, sebagian besar pria berjas mahal.

"Selamat pagi," sapa Adrian dengan nada tegas.

"Selamat pagi, Tuan Hawthorne," jawab mereka serempak.

"Dan ini," Adrian melirik ke arah Marcy, "Mrs. Hawthorne. Mulai hari ini, beliau akan hadir dalam rapat strategis perusahaan sebagai pemegang saham."

Beberapa wajah terlihat terkejut. Yang lain hanya tersenyum tipis, menahan komentar. Marcy menarik napas dalam, mencoba memancarkan kepercayaan diri. Ia tahu betul dunia ini bukan miliknya. Tapi ia tak mau terlihat kecil.

Rapat dimulai. Mereka membahas proyek besar-pelayaran eksklusif bertajuk Aurora Voyage, tur mewah keliling Eropa yang akan menjadi sorotan tahun depan.

"Namun," kata salah satu direktur, "ada masalah kecil, Tuan. Investor utama kita, perusahaan Cormac Enterprises, menunda pencairan dana. Mereka ingin meninjau ulang kesepakatan."

Adrian mengerutkan kening. "Meninjau ulang? Setelah semuanya ditandatangani?"

"Ya. CEO mereka ingin bertemu langsung minggu ini."

Adrian menatap sekeliling meja. "Siapa CEO barunya?"

Salah satu staf menatap tablet dan menjawab, "Namanya Cassandra Vale."

Begitu nama itu disebut, Adrian terdiam. Matanya menegang sesaat-hanya sepersekian detik, tapi cukup bagi Marcy untuk menyadarinya.

"Baik," kata Adrian datar. "Jadwalkan pertemuan dengannya lusa. Di kantor pusat."

Rapat berlanjut dengan pembahasan teknis. Namun perhatian Marcy sudah melayang. Ia melihat ekspresi Adrian yang sesekali berubah setiap kali nama Cassandra disebut. Siapa wanita itu?

Usai rapat, Marcy berdiri di balkon ruang kerja Adrian. Pemandangan kota New York membentang di bawah sana, megah dan ramai. Tapi pikirannya penuh tanya.

"Kau kelihatan gelisah," suara Adrian membuatnya menoleh.

"Hanya sedikit lelah," jawab Marcy ringan.

Adrian menatapnya dari balik meja. "Kau melakukannya dengan baik di rapat tadi."

Marcy tersenyum samar. "Kau yakin? Aku bahkan nyaris tidak bicara."

"Itu justru bagus. Dalam dunia bisnis, mendengarkan lebih penting dari berbicara."

Ia menghampirinya, berdiri di samping. "Kau bisa belajar banyak di sini, Marcy. Tapi jangan biarkan siapa pun memandangmu rendah. Termasuk mereka yang merasa lebih pantas duduk di kursimu."

Nada suaranya hangat, tapi tatapan matanya masih sulit ditebak.

"Adrian," Marcy akhirnya bertanya, "siapa Cassandra Vale itu?"

Adrian diam beberapa detik sebelum menjawab, "Seseorang dari masa lalu."

"Seperti... Selena?"

Ia menatapnya dalam. "Tidak. Cassandra bukan kisah cinta. Dia... lebih berbahaya dari itu."

Dua hari kemudian, ruang rapat yang sama kembali dipenuhi oleh eksekutif perusahaan. Kali ini, seorang wanita bergaun biru navy masuk dengan langkah anggun. Rambut hitamnya dikuncir rapi, bibirnya merah tegas, dan tatapannya tajam seperti bilah kaca.

"Cassandra Vale," katanya sambil menjabat tangan Adrian. "Sudah lama, bukan?"

Adrian menatapnya tanpa senyum. "Terlalu lama."

Marcy memperhatikan interaksi mereka dari kursi seberang. Ada ketegangan halus di udara-bukan romantis, tapi seperti dua pemain catur yang tahu persis cara menjatuhkan satu sama lain.

Cassandra duduk. "Aku mendengar kau menikah. Selamat." Ia menatap Marcy sambil tersenyum dingin. "Mrs. Hawthorne, senang akhirnya bertemu."

"Senang juga," jawab Marcy sopan.

"Langsung saja," ujar Cassandra, menatap Adrian. "Cormac Enterprises ingin meninjau ulang kontrak karena laporan keuangan terakhir Phoenix Cruise tidak mencantumkan data pengeluaran promosi dengan jelas."

"Itu kesalahan bagian keuangan," jawab Adrian cepat.

Cassandra menyandarkan diri di kursi. "Aku yakin bukan cuma kesalahan. Ada dana yang tidak tercatat sebesar lima juta dolar. Cukup besar untuk membuat dewan kami khawatir."

Suasana ruangan menegang. Semua mata berpaling ke Adrian. Ia tampak menahan amarah.

"Kau menuduhku menyelewengkan dana, Cassandra?"

"Bukan menuduh," jawabnya dingin. "Hanya memastikan."

Marcy menatap keduanya. Ia bisa melihat di mata Cassandra bukan sekadar urusan bisnis-ada dendam lama di sana.

Setelah pertemuan itu berakhir tanpa kesepakatan, Adrian melangkah cepat keluar ruangan. Marcy mengejarnya.

"Adrian, tunggu."

Ia berhenti di koridor, menatapnya dengan rahang mengeras. "Dia mencoba menjatuhkanku, Marcy. Cassandra tidak datang untuk bisnis. Dia datang untuk balas dendam."

"Kenapa?"

"Karena dulu aku menolak tawarannya untuk merger. Dia kehilangan jutaan dolar. Dan sekarang dia ingin membalas."

Marcy menggigit bibir. "Lalu apa yang akan kau lakukan?"

Adrian memandangnya, sorot matanya tajam tapi dingin. "Kau tidak perlu ikut campur. Dunia ini kotor, Marcy. Kau akan terluka kalau ikut di dalamnya."

Namun Marcy tidak mundur. "Aku bukan boneka yang hanya duduk manis di rumah. Aku punya saham di sini. Dan aku punya hak untuk tahu."

Adrian menatapnya lama, seolah menimbang sesuatu. Lalu perlahan, dia mengangguk. "Baik. Tapi kalau kau terlibat, jangan pernah menyesal."

Malamnya, Marcy tidak bisa tidur. Ia duduk di ruang kerja kecil di apartemen penthouse mereka, menatap berkas laporan keuangan yang Adrian tinggalkan di meja. Sesuatu terasa aneh.

Ada catatan pengeluaran misterius dengan kode PCL-09B. Tidak disebutkan tujuan atau penerimanya. Hanya angka-lima juta dolar, sama persis dengan yang dikatakan Cassandra.

Marcy membuka laptop dan mencoba melacak kode itu di sistem internal. Tapi aksesnya dibatasi. Ia mengerutkan kening, jari-jarinya bergerak cepat di keyboard. Ia bukan hacker, tapi cukup cerdas untuk menemukan celah.

Setelah beberapa menit, layar menampilkan satu nama: Selena Winters.

Marcy membeku. Apa hubungan Selena dengan dana itu?

Sebelum sempat berpikir lebih jauh, pintu ruangan terbuka. Adrian berdiri di ambang, menatap laptopnya dengan ekspresi gelap.

"Apa yang kau lakukan?" suaranya rendah dan dingin.

Marcy menelan ludah. "Aku hanya mencoba-"

"Kau mengakses data rahasia perusahaan tanpa izin," potongnya. "Kau sadar itu pelanggaran berat?"

Marcy berdiri. "Aku hanya ingin membantu! Cassandra menuduhmu, dan aku ingin tahu kebenarannya!"

Adrian melangkah mendekat, suaranya nyaris bergetar menahan emosi. "Kau tidak tahu apa yang kau buka, Marcy. Data itu bisa menghancurkan lebih dari sekadar bisnis."

"Apa maksudmu?"

Adrian terdiam lama. Lalu ia berkata pelan, "Selena menerima dana itu atas perintahku. Aku membayarnya untuk pergi dari hidupku-dan tidak menghancurkan reputasiku di depan dewan."

Marcy terpaku. Dunia seolah berputar. "Jadi... kau menyuapnya?"

"Tidak seperti itu," jawabnya cepat. "Dia mengancam akan menyebarkan sesuatu tentangku. Tentang perusahaan. Aku tidak punya pilihan lain."

"Apa yang dia tahu, Adrian?"

Ia menatapnya lelah. "Sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi."

Keesokan harinya, berita mengejutkan muncul di media bisnis: Cormac Enterprises membatalkan kerja sama dengan Phoenix Cruise Line. Harga saham turun drastis. Para investor mulai panik.

Rapat darurat digelar. Adrian tampak lebih dingin dari sebelumnya.

"Kita akan kehilangan 20% pendapatan kuartal ini," ujar salah satu direktur.

"Tidak," potong Adrian tegas. "Aku tidak akan biarkan itu terjadi."

Ia menatap Marcy. "Aku akan berangkat ke London malam ini. Cassandra akan berada di sana menghadiri konferensi bisnis internasional. Aku harus bertemu dengannya lagi."

Marcy menatapnya dalam. "Sendiri?"

"Ya. Ini urusanku."

Tapi sebelum Adrian sempat pergi, Cassandra mengirim pesan singkat ke kantornya.

"Jika kau ingin menyelamatkan perusahaanku, datang ke Dermaga 9 malam ini. Sendirian."

Marcy kebetulan melihat pesan itu di meja Adrian sebelum ia sempat menghapusnya. Ia tahu ini bukan hal biasa.

Malamnya, tanpa memberi tahu siapa pun, Marcy memutuskan mengikuti Adrian diam-diam. Ia mengenakan mantel gelap dan naik taksi ke dermaga.

Di sana, lampu pelabuhan redup, hanya suara ombak yang terdengar. Adrian berdiri beberapa meter di depan, berbicara dengan Cassandra.

Marcy bersembunyi di balik kontainer, mendengarkan.

"Jadi ini caramu memerasku?" suara Adrian terdengar tegas.

"Memeras?" Cassandra tertawa kecil. "Aku hanya ingin mengingatkanmu bahwa kebenaran tidak bisa disembunyikan selamanya."

"Kebenaran apa?"

"Bahwa Phoenix Cruise Line bukan milikmu sepenuhnya, Adrian. Setengahnya dulu didanai dari uang kotor ayahmu-hasil dari pencucian dana politik."

Adrian menegang. "Kau berbohong."

"Oh, aku punya buktinya," balas Cassandra dingin. "Dan kalau aku membukanya, semua yang kau bangun akan runtuh dalam semalam."

Marcy menutup mulutnya agar tidak bersuara. Ia nyaris tak percaya dengan apa yang didengarnya.

Adrian akhirnya berbicara pelan, nada suaranya getir. "Apa yang kau mau, Cassandra?"

"Lepaskan saham Phoenix Cruise untukku. Maka rahasiamu akan tetap aman."

Adrian menatapnya lama. "Kau pikir aku akan menyerahkan hidupku padamu?"

Cassandra tersenyum miring. "Kau tidak punya pilihan."

Lalu ia berjalan pergi, meninggalkan Adrian dalam diam.

Begitu wanita itu menghilang di balik bayangan dermaga, Marcy keluar dari persembunyian. "Adrian..."

Pria itu menoleh, kaget. "Apa yang kau lakukan di sini?"

"Aku dengar semuanya."

Adrian menatapnya tajam. "Kau tidak seharusnya tahu."

"Tapi aku tahu sekarang!" seru Marcy, menatapnya penuh emosi. "Kenapa kau tidak pernah cerita? Kenapa kau menanggung semua ini sendirian?"

Adrian mengusap wajahnya kasar. "Karena aku ingin melindungimu."

Marcy menggeleng. "Kau bahkan belum mencoba mempercayai aku, Adrian."

Ia menatapnya lama, kemudian berkata dengan suara serak, "Percayalah, Marcy... ada hal-hal yang jika kau tahu, kau tidak akan pernah memandangku sama lagi."

"Biar begitu," jawab Marcy pelan, menatapnya lurus. "Aku tetap di sisimu. Apa pun yang terjadi."

Adrian memejamkan mata sejenak. Ombak menghantam tiang baja, udara malam makin dingin. Ia lalu berkata lirih, "Kalau begitu... bersiaplah. Karena badai yang sebenarnya baru akan dimulai."

Udara pagi di Manhattan terasa lebih berat dari biasanya. Bukan karena kabut atau hujan, tapi karena berita yang mengguncang seluruh dinding kaca Phoenix Global Capital. Dalam hitungan jam, saham perusahaan merosot tajam-nyaris 18 persen-dan setiap media besar menampilkan satu nama yang jadi sorotan: Adrian Hawthorne.

Marcy menatap layar televisi di ruang rapat besar, jari-jarinya mengepal di atas meja kayu oak yang dingin. Di hadapannya, tayangan CNN Business menyorot headline besar bertuliskan:

"Inside Phoenix Scandal: Did Hawthorne Family Manipulate Market for Years?"

Dan di pojok bawah, wajah Cassandra tampil dengan senyum dingin khasnya. Ia duduk di kursi wawancara eksklusif, mengenakan gaun hitam elegan, seolah ingin menunjukkan bahwa inilah panggung balas dendam yang telah lama ia rancang.

"Dia benar-benar nekat," gumam salah satu direktur muda yang duduk di pojok ruangan, suaranya hampir bergetar. "Kalau dia punya dokumen internal seperti yang diklaim, kita bisa kehilangan seluruh investor Eropa."

Marcy menutup matanya sejenak, mencoba menahan gejolak amarah yang terasa seperti api dalam dada. Ia tahu Cassandra licik, tapi langkah kali ini-menyerang lewat media, memainkan opini publik-adalah senjata paling mematikan yang bisa dilakukan oleh mantan kekasih yang merasa dikhianati.

"Rapat darurat pukul sembilan," ucap Marcy datar. "Aku mau semua divisi komunikasi dan hukum kumpul. Kita tanggapi dengan strategi, bukan panik."

Seseorang di ujung meja berdehem pelan. "Dan Adrian?"

Pertanyaan itu membuat ruangan seketika sunyi.

Marcy menoleh pelan, menatap pria paruh baya itu dengan tatapan tegas. "Dia masih CEO Phoenix. Dan selama aku di sini, tidak ada yang berani bicara sebaliknya."

Namun begitu keluar dari ruang rapat, Marcy tahu situasi ini jauh lebih serius. Cassandra bukan hanya melempar tuduhan kosong. Ia tahu kelemahan mereka, tahu titik paling gelap yang selama ini berusaha dikubur keluarga Hawthorne dalam-dalam.

Adrian berdiri di depan jendela lantai 58, menatap kota yang ramai dengan tatapan kosong. Sejak pagi, teleponnya tak berhenti berdering-panggilan dari investor, regulator, bahkan dari keluarganya sendiri yang menuntut penjelasan.

"Ayahmu sudah bicara dengan pengacara pribadi keluarga," kata Michael, asisten pribadinya, dengan nada hati-hati. "Mereka bilang ini bisa jadi lebih besar dari dugaan."

Adrian tidak menjawab. Ia hanya meneguk kopi yang sudah dingin, lalu berkata pelan, "Cassandra tahu apa yang dia lakukan. Dia tidak ingin uang. Dia ingin melihat kita hancur."

Michael menelan ludah. "Dan kau tahu, Marcy dipanggil oleh tim PR. Mereka ingin dia bicara di depan publik. Kau yakin itu ide bagus?"

"Aku yakin hanya dia yang bisa menenangkan badai ini."

"Dan kalau dia jadi sasaran berikutnya?"

Adrian berbalik, menatap Michael dengan mata merah penuh lelah. "Dia sudah jadi sasaran sejak hari dia memilih berdiri di sisiku."

Sore itu, ruang konferensi pers Phoenix dipenuhi wartawan dari seluruh dunia. Blitz kamera berkedip tanpa henti, dan udara terasa panas oleh desas-desus skandal yang belum jelas ujungnya.

Marcy berdiri di belakang panggung kecil, menatap pantulan dirinya di cermin. Gaun biru tua yang ia kenakan tampak rapi, namun dalam dirinya ia tahu: detik ini, satu kalimat yang salah bisa menjatuhkan seluruh kerajaan bisnis yang dibangun Adrian selama dua dekade.

"Marcy, lima menit lagi," ucap salah satu staf komunikasi, menyerahkan map berisi catatan tanggapan resmi.

Marcy hanya mengangguk pelan. Ia tahu semua kalimat diplomatik itu tidak akan cukup. Dunia bisnis tidak akan percaya pada pernyataan pers. Mereka butuh wajah, emosi, dan keberanian.

Ketika lampu kamera mulai menyala, Marcy berjalan ke podium. Suara kilatan kamera terdengar bertubi-tubi, dan ratusan pasang mata tertuju padanya.

"Terima kasih sudah datang," ucapnya pelan tapi jelas. "Hari ini, saya berdiri di sini bukan hanya sebagai juru bicara Phoenix Global, tapi sebagai seseorang yang percaya pada integritas seorang pria bernama Adrian Hawthorne."

Beberapa wartawan langsung menodongkan pertanyaan keras.

"Apakah benar Adrian menutupi transaksi ilegal tahun 2017?"

"Benarkah keluarganya menyembunyikan skandal finansial di London?"

"Apakah Cassandra Black memiliki bukti kuat?"

Marcy tersenyum tipis, menatap ke arah kamera utama. "Bukti bukanlah kebenaran sampai diuji. Dan sejauh yang saya tahu, Phoenix berdiri di atas kerja keras, bukan kebohongan."

Suasana ruangan mendadak hening. Ia melanjutkan dengan suara lebih tegas, "Cassandra Black pernah menjadi bagian dari keluarga ini. Kami tidak akan menyerang balik dengan kebencian, tapi kami juga tidak akan tinggal diam menghadapi fitnah. Phoenix akan membuka semua audit dan bekerja sama dengan otoritas terkait. Kami tidak bersembunyi."

Kata-katanya seperti pisau yang lembut tapi tajam. Ia menutup pernyataan dengan kalimat terakhir yang menggema di seluruh media malam itu:

"Kebenaran tidak pernah takut disorot. Tapi kebohongan selalu bersembunyi di balik sorotan itu sendiri."

Di tempat lain, Cassandra menatap layar televisi di penthouse-nya yang luas. Senyum dingin muncul di wajahnya saat melihat Marcy berbicara dengan tenang.

"Brilian," gumamnya. "Kau pikir bisa menenangkan badai dengan kata-kata?"

Ia meneguk anggur merah dan menatap pria berjas hitam yang berdiri di sampingnya-Luca, mantan analis Phoenix yang kini menjadi sekutunya.

"Publik masih berpihak padanya," kata Luca. "Tapi tunggu sampai kita rilis dokumen fase dua. Data London dan rekening bayangan itu akan menghancurkan segalanya."

Cassandra menatap pemandangan malam, lampu kota berkilau di balik kaca. "Adrian menghancurkan hidupku tanpa pernah menyesal. Sekarang biar dia tahu rasanya kehilangan segalanya."

Luca menatapnya sekilas. "Dan kalau dia benar-benar jatuh... apa kau akan puas?"

Senyum Cassandra melebar, tapi matanya penuh luka. "Kepuasan tidak ada dalam balas dendam. Tapi rasa sakitnya... akan sedikit berkurang."

Sementara itu di mansion keluarga Hawthorne di Connecticut, situasi jauh dari tenang. Paman Adrian, Gregory Hawthorne, menatap koran pagi dengan wajah muram.

"Ini tidak bisa dibiarkan. Kalau dokumen itu benar-benar bocor, rahasia lama kita akan ikut terbuka," ujarnya keras kepada ayah Adrian, Thomas Hawthorne.

Thomas menatapnya tajam. "Rahasia yang seharusnya sudah dikubur dua puluh tahun lalu."

"Dan sekarang bangkai itu akan tercium semua orang!"

Suasana tegang itu pecah ketika Adrian masuk ke ruangan dengan wajah lelah. "Berhenti bicara seolah aku tidak tahu konsekuensinya. Cassandra menyerang karena dia tahu satu hal-ada sesuatu di masa lalu yang tidak pernah kita bereskan."

Thomas menatap anaknya lama. "Kalau kau bicara tentang proyek London itu, aku sudah memastikan semua bukti hilang."

Adrian menggeleng pelan. "Kau hanya menghapus jejak, bukan dosa."

Ruangan itu mendadak hening. Gregory bangkit, berjalan mendekat. "Kalau Cassandra punya data lama itu, kita dalam masalah besar. Kau tahu siapa yang akan terseret, bukan?"

Adrian menatap pamannya. "Aku."

"Tepat. Dan juga ayahmu."

Thomas menatap anaknya dengan tatapan yang nyaris memohon. "Adrian... demi keluarga, kadang kita harus berbohong. Semua yang kulakukan dulu-semuanya untuk melindungimu."

Adrian hanya menatap kosong. Kata "melindungi" kini terdengar seperti kutukan.

Malamnya, di apartemen Marcy yang sederhana, ia menatap layar laptop-video wawancaranya sudah viral. Komentar publik terbagi dua: sebagian membela, sebagian menyerang.

Namun perhatian Marcy bukan pada komentar, melainkan email masuk tanpa nama dengan subjek:

"Kau ingin tahu siapa sebenarnya keluarga Hawthorne?"

Ia ragu beberapa detik, lalu membuka pesan itu. Di dalamnya hanya ada satu kalimat dan sebuah lampiran file terenkripsi.

"Mereka tidak seperti yang kau pikir. Dan Cassandra bukan musuh satu-satunya."

Marcy menatap layar, jantungnya berdetak cepat. Di balik file itu, bisa jadi ada kebenaran yang selama ini Adrian sembunyikan darinya. Atau jebakan yang akan menenggelamkannya juga.

Ia menatap langit malam di luar jendela, lalu berbisik pada dirinya sendiri,

"Kalau ini perang, maka aku tidak akan hanya jadi perisai. Aku akan jadi pedang."

Pagi berikutnya, dunia bisnis kembali berguncang. Cassandra merilis dokumen tahap kedua: laporan audit lama yang menunjukkan transfer mencurigakan ke rekening luar negeri atas nama "H Corp"-entitas bayangan milik keluarga Hawthorne.

Berita itu membuat saham Phoenix anjlok lebih dalam, investor besar menarik dana, dan regulator memanggil Adrian untuk investigasi darurat.

Namun di balik semua kekacauan itu, Marcy memutuskan satu hal: ia akan membuka file misterius yang dikirim malam sebelumnya. Karena satu-satunya cara melindungi Adrian sekarang, adalah mengetahui seluruh kebenaran-meski itu berarti menghancurkan kepercayaannya sendiri.

Dan saat file itu terbuka, layar laptop Marcy menampilkan sederet nama, tanggal, dan transaksi gelap... salah satunya menunjukkan pengiriman uang dari "Thomas Hawthorne" ke rekening atas nama Cassandra Black, bertahun-tahun sebelum semuanya dimulai.

Marcy terdiam.

Semuanya mulai masuk akal-Cassandra tidak hanya mantan kekasih Adrian. Ia adalah bagian dari permainan besar keluarga itu. Dan kini, permainan itu baru saja berubah menjadi perang terbuka yang tak mungkin dihentikan.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dendamnya, Cinta Abadinya
9.5
Darma Wijoyo dan Jihan Prameswari menguras harta keluargaku serta menghancurkan karierku lewat jebakan kejam. Demi pengobatan ibu, aku terpaksa menuruti ancaman Darma untuk mengakui kesalahan yang tak kuperbuat. Ternyata, janji manis bosku itu palsu; aku hanya dianggap alat tak berharga. Kini, di tengah puing kehancuran dan pengkhianatan pahit, aku bangkit. Rasa sakit ini berubah menjadi tekad membara untuk membalas dendam pada mereka yang telah merenggut segalanya.
Sampul Novel Dua Titik (Dilamar CEO Dinikahi Dosen)
8.2
Tanpa perkenalan mendalam, Asoka nekat melamar Riri meski restu orang tua menjadi penghalang besar. Di tengah perjuangannya, Asoka terpaksa pergi ke London dalam waktu lama. Saat ia kembali untuk meraih cinta Riri, kenyataan pahit menantinya: Riri telah resmi dipersunting oleh Kris. Kini, Asoka terjebak dalam dilema asmara yang rumit, sementara kehadiran Kris menjadi penengah tak terduga dalam drama cinta yang penuh rintangan dan pengorbanan ini.
Sampul Novel Pelakor Itu Sahabatku
9.7
Dikhianati oleh suami sendiri membuat Senja terpuruk dalam luka perceraian yang mendalam. Pengalaman pahit itu memaksanya menutup rapat pintu hati bagi pria mana pun. Namun, kehadiran seorang CEO muda yang gigih berusaha meruntuhkan tembok pertahanannya mulai mengubah segalanya. Akankah Senja memberikan kesempatan bagi cinta baru yang datang, atau justru memilih berdamai dan kembali ke pelukan masa lalunya yang penuh luka?
Sampul Novel Pelarian Manis Istri Pengganti
7.8
Tiga tahun Cantika menyamar sebagai Aulia demi menyelamatkan label musik keluarganya. Meski menjadi istri Kenan Adiwangsa, ia hanya dianggap pengganti yang terabaikan. Di tengah dinginnya sikap Kenan dan kelicikan Elara, Cantika bertahan meski nyawanya terancam. Saat Aulia kembali, ibunya justru mengusir Cantika tanpa belas kasih. Kini, Cantika memilih pergi dan meninggalkan luka masa lalu. Ia pun menemukan cinta sejati serta kebahagiaan bersama pria yang menghargainya.
Sampul Novel Pernikahan Yang Dikhianati
8.3
Aruna mendatangi jamuan makan malam mewah dengan harapan membahas rencana pernikahannya bulan depan. Namun, ia justru dicampakkan secara sepihak oleh calon mertuanya demi wanita lain yang dianggap lebih setara. Di tengah luka hati dan martabat yang hancur, Aruna menerima lamaran Reza, seorang duda kaya sekaligus cinta pertamanya. Langkah nekat ini menyeretnya ke dalam pusaran intrik penuh drama, pengkhianatan, serta cinta yang lebih rumit dari dugaannya.
Sampul Novel Sienna's story
8.4
Dunia Sienna terasa hampa dan kehilangan warna sejak perceraian orang tuanya menghancurkan kebahagiaannya. Ia terbiasa menghabiskan malam dalam kesendirian yang kelam sampai sosok CEO penuh intrik muncul di hidupnya. Meski pria itu melakukan berbagai cara mesum dan nakal demi mencuri perhatian, Sienna tetap membentengi diri dengan sikap yang sangat dingin. Akankah kegigihan sang miliarder mampu mencairkan hati Sienna yang sudah terlanjur membeku?