Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Relokasi Rasa

Relokasi Rasa

Terbiasa menjadi prioritas di keluarga Candra, Aileen menyembunyikan cintanya pada asisten ayahnya demi prinsip sang mama. Namun, perselingkuhan kekasihnya memicu amarah besar hingga ia nekat menikahi Gama Mahardika, rival masa kecil yang sangat ia benci. Aileen yang kompetitif merasa Gama adalah ancaman bagi harga dirinya. Di sisi lain, Gama yang tak pernah mau kalah kini harus menghadapi Aileen dalam ikatan pernikahan yang penuh dengan ego dan gengsi.
Bab
Bagikan

Bab 3

“Ada gila-gilanya kan pikiran Gama? Apa … dia lagi riset untuk film dia yang berikutnya?” Aileen mendengkus kesal, masih tidak habis pikir dengan ucapan Gama malam sebelumnya.

Kemala—sahabat Aileen sejak SMA yang juga mengenal Gama—tergelak mendengar cerita Aileen. Masih terlalu absurd banginya mendapati Gama melamar Aileen dengan cara seperti itu. Tapi … apa kejadian itu bisa disebut ‘melamar’?

“Mungkin dia emang udah ada rasa sama kamu dari dulu. Kamu aja yang selama ini nganggep dia kayak musuh.”

“Ada rasa dari mana?” Aileen menepis ucapan Kemala sambil menggelengkan kepala dengan raut wajah geli.

“Tapi sebenernya sweet banget sih, Leen. Ngelamar dengan cara yang … beda gitu.”

Aileen mendelik kesal. Lamaran apa? Itu hanya trik Gama untuk mencuri ciuman darinya. Lagi-lagi Aileen ingin mengumpat jika mengingatnya. Kenapa juga dia bisa mematung saat Gama melakukannya?

“Selain ngelamar, apa lagi yang dilakuin Gama semalem? Kalo ngelihat gimana impulsifnya dia … kayaknya nggak cuma itu deh.”

“Nggak ada,” jawab Aileen singkat. Tidak akan ia biarkan siapa pun tahu tentang kebodohannya dalam menghadapi Gama, sekalipun itu sahabatnya sendiri.

Kemala yang sudah mengenal Aileen satu dekade belakangan, tentu tahu kapan Aileen berdusta dan berusaha menutupi sesuatu. Namun ia membiarkannya kali ini, pasti sesuatu yang sangat privasi kalau sampai Aileen merahasiakannya. “Tapi jujur deh, Leen. Gama memang nggak seburuk itu kan? Panteslah buat dibawa sebagai calon suami. Tampang oke, pekerjaan oke, apa yang kurang—”

“Manja. Kamu nggak inget dia itu si anak mami yang manja.”

“Ya wajarlah, Leen. Kamu tau apa yang udah dia lewatin sampai jadi begitu. Tapi kan bukan berarti dia nggak bisa imam—” Kemala menahan ledakan tawanya saat melihat Aileen menunjuknya dengan jari telunjuk, memerintahnya untuk berhenti bicara. “Whatever-lah. Imam, pemimpin, atau apa pun bahasanya. Yang jelas dia seorang produser yang sukses. Itu aja udah bisa buktiin kalau dia bisa memimpin. Mimpin kru puluhan orang aja bisa, apalagi berkeluarga.”

“Ya beda dong, Mal. Mana bisa produksi film disamain sama pernikahan. Denger ya, produksi film itu cuma temporer. Kalau filmnya meledak di pasaran ya syukur. Tapi kalau ternyata filmnya gagal, ya … cuma kehilangan duit. Nama baik bisa dipulihkan dengan banyak alasan. Tapi pernikahan? Itu untuk seumur hidup. Kalau gagal—”

“Kalau berhasil? Ya jangan dipikirin gagalnya dong, Leen.”

“Aku cuma mau cerita gimana kelakuan absurd Gama, bukannya mau minta pendapat—aku harus jawab apa ke Gama.” Aileen menyesap ice americano yang sudah tidak terlalu dingin lagi. Es batu di dalam gelas sudah mencair semua. Ternyata selama itu mereka berdua bicara. “Kayaknya aku salah deh ke sini, curhat sama kamu.”

“Iya, kayaknya kamu salah deh ke sini sekarang,” ujar Kemala sambil menatap layar ponselnya yang baru saja menunjukkan pop up notification chat dari atasannya. “Gama sama timnya mau ke sini, aku diminta bos buat nyambut mereka di lobby.”

“Hah?” Untuk sedetik, Aileen lupa kalau ia sedang mengunjungi Kemala di kantornya yang merupakan sebuah kantor model agency and artist management.

Produser dan kantor model agency and artist management, sekarang Aileen bisa menghubungkan keduanya. “Kenapa nggak bilang dari tadi sih kalo Gama mau ke sini?”

“Aku juga nggak tau, mungkin ada rencana bisnis dadakan, si bos barusan bilang.”

“Aku cabut dulu deh.”

“Takut ketemu?” ledek Kemala yang masih merasa ingin tertawa membayangkan adegan Gama melamar Aileen.

“Males. Bedain ya antara males ketemu sama takut ketemu.”

“Iya deh iya.” Kemala berdiri lebih dulu. “Mau bareng ke depan nggak? Aku mesti nunggu Gama sama timnya di lobby depan.”

Meski bersungut kesal, Aileen berdiri dan mengekor Kemala. Harusnya ia tadi memarkir mobilnya di basement, bukan di dekat lobby. Sekarang, mau tidak mau Aileen harus melewati lobby untuk menuju mobilnya. Tapi semakin cepat ia pergi dari tempat itu, semakin besar kemungkinannya untuk menghindar dari Gama.

Tidak lebih dari sepuluh langkah lagi, Aileen akan tiba di pintu lobby, tetapi langkahnya terhenti saat mengenali salah satu dari beberapa orang yang baru saja masuk.

Dengan refleks, Aileen balik badan, berharap sosok itu tidak sempat menyadari kehadirannya. Aileen harus mencari tempat sembunyi. Ya, lebih baik ia sembunyi dulu.

“Aileen!”

“Shit!” Bukan Kemala yang memanggilnya dan tidak mungkin suara baritone itu berasal dari security di dekat pintu lobby. Ini bukan kantornya, siapa yang mengenali dirinya selain … laki-laki yang sedang ia hindari.

Berpura-pura tidak mendengar dan tidak terjadi apa-apa, Aileen melanjutkan langkahnya. Ia bisa kembali ke dalam coffee shop yang ada di sudut lobby, memesan sesuatu, agar tidak kentara kalau ia benar-benar sedang menghindari Gama.

“Leen.”

Aileen terpaksa berhenti dan menoleh cepat saat pergelangan tangannya dicekal seseorang. “Apa sih?”

“Mal, duluan aja sama timku yang lain, aku nyusul bentar lagi. Dimulai aja dulu meeting-nya nggak apa-apa.” Bukannya menjawab pertanyaan Aileen, Gama justru memberi intruksi kepada Kemala yang ia tahu sedang menjemput dirinya dan tim di lobby.

Kemala mengangguk sambil menahan semburan tawanya melihat Aileen dengan wajah memerah, entah marah atau menahan malu. “Ok, ketemu di atas ya, kontak aja kalau bingung di mana ruangannya.”

“Siip.” Sekarang Gama baru bisa memusatkan perhatiannya kepada Aileen. “Ngobrol bentar dulu yuk, Leen.”

“Ogah. Mau balik ke kantor.”

“Sebentar doang.”

“Nggak ada yang perlu diobrolin, Gam. Lagian kan kamu mau meeting.”

“Ayolah, Leen. Itung-itung ganti cola semalem.”

“Hah?” Gimana? Cola yang semalem? Kamu minta ganti? Pelit amat sih!” bentak Aileen sambil mengeluarkan uang dari dompet yang sejak tadi ditentengnya. “Nih! Bisa buat beli sekardus. Katanya produser sukses—”

“Aku nggak butuh uangmu, Leen. Aku cuma minta waktu sebentar. Semalam aku juga ngasih waktuku buat nemenin kamu minum cola.” Gama cengengesan melihat Aileen meledak-ledak.

“Nemenin minum cola tapi dapet plus-plus.”

Gama mengusap tengkuknya dengan salah tingkah. “Ehem! Nggak usah diperjelas dong, Leen. Jadi malu. Lagian kalimatmu mesti diralat deh. Dapet plus aja, kan cuma kissing, nggak plus yang lain lagi.”

Aileen menatap Gama dengan tatapan membunuhnya. Semakin benci saja Aileen dengan Gama sejak apa yang Gama lakukan malam sebelumnya. Bukan karena ciuman Gama yang Aileen harus akui so damn good itu, melainkan karena Gama mampu menguasainya untuk beberapa saat dan membuat otaknya berhenti bekerja.

“Lima menit. Aku ada meeting,” putus Aileen akhirnya. Ia sepertinya tidak akan kuat bertahan menghadapi Gama lebih dari lima menit.

“Ok, minggir dulu ke sofa situ yuk, atau kamu pilih jadi perhatian orang?”

Aileen mendengkus kesal sebelum akhirnya berjalan lebih dulu menuju two seater sofa di seberang resepsionis.

“Mau ngomong apa? Empat menit tiga puluh lima detik lagi.”

“Kayaknya kita jodoh deh. Rumah orang tua kita sebelahan, unit apartemen kita sebelahan, dan siang ini kita ketemu lagi setelah semalem kita kissing, bukannya … ini jodoh ya?”

Bibir Aileen terbuka, lalu tertutup lagi karena kesulitan menyampaikan apa yang menjejali otaknya. Ucapan Gama itu menurut Aileen lebih absurd daripada tawaran Gama untuk mengenalkannya sebagai calon suami. Saking kesalnya Aileen, ia memukul lengan Gama berkali-kali dengan dompetnya. “Gini nih kalo kebanyakan bikin film, di otak kamu itu isinya cerita fiksi semua. Nggak bisa dinalar akal sehat.”

Gama terkekeh geli, mencoba menahan diri untuk tidak mencubit pipi Aileen. Bisa-bisa benda yang digunakan Aileen untuk melancarkan serangan berikutnya bukan lagi dompet melainkan high heels.

“Cerita fiksi juga banyak yang terinspirasi dari kisah nyata, Leen. Dan nggak menutup kemungkinan di kehidupan nyata, orang-orang terinspirasi dari cerita fiksi. Yang mana pun itu, asal ending-nya bahagia, apa kamu nggak pengen nyoba?”

Aileen bergidik, bulu-bulu halus di tengkuknya berdiri begitu mendengar perkataan Gama. “Time’s up.” Ia berdiri dan melangkah pergi.

“Leen. Jadinya gimana?”

Aileen hanya menoleh sambil memutar jari telunjuknya di ujung pelipis, yang merupakan simbol untuk mengumpati seseorang yang dirasa gila.

Gama tergelak. “Weekend ini kan?” godanya yang sudah tidak dipedulikan Aileen.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95KHR" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95KHR
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bayangan Cinta Terlarang
8.0
Maya adalah arsitek sukses yang memiliki segalanya, namun hidupnya terasa hampa meski sudah bertunangan dengan Daniel. Segalanya berubah saat ia bertemu Ethan, pengusaha karismatik yang memicu gairah terpendamnya. Mereka terjebak dalam perselingkuhan membara yang penuh risiko. Di tengah kecurigaan Daniel yang mulai menguat, Maya dihantui rasa bersalah. Kini ia harus memilih antara kenyamanan hidup lama atau mengejar cinta terlarang yang bisa menghancurkan dunianya.
Sampul Novel Dikhianati oleh Orang yang Dicintai
9.1
Kehidupan pernikahan Lana hancur seketika saat memergoki Revan, suaminya, berselingkuh dengan pria lain di malam pertama. Merasa ditipu dan terperangkap di rumah mertua, Lana kehilangan arah. Namun, di tengah keputusasaan, Henry sang ayah mertua hadir memberikan perlindungan. Sosoknya yang tegas perlahan melunak demi menjaga Lana. Dalam kesepian yang mendalam, Lana mulai bergantung pada Henry hingga hubungan terlarang terjalin di antara mereka tanpa bisa dihentikan.
Sampul Novel Guruku Adalah Istriku
8.6
Kehidupan seorang murid berubah total saat ia harus terikat dalam tali pernikahan dengan gurunya sendiri. Hubungan yang awalnya bermula dari perjodohan kedua orang tua ini memaksa mereka untuk menyeimbangkan peran di sekolah dan di rumah. Bagaimana cara mereka menyembunyikan rahasia besar ini dari teman-teman dan rekan kerja? Ikuti perjalanan asmara unik mereka yang penuh lika-liku dari bab awal hingga akhir dalam kisah romansa masa muda ini.
Sampul Novel Istri Kesayangan Tuan Presdir Tampan
8.4
Kehidupan Niana Fradella berubah drastis setelah pertemuan tak terduga dengan pria yang menjadi jodoh sejatinya. Awalnya ia hanya berniat melarikan diri dari perjodohan paksa orang tuanya, namun takdir justru mempertemukannya dengan sosok yang jauh lebih sempurna. Meski kini ia menemukan cinta yang luar biasa, kebahagiaan Niana terancam sirna. Penyakit yang kian parah menggerogoti fisiknya, membuatnya ragu apakah ia mampu bertahan hidup lebih lama lagi.
Sampul Novel Mendadak Presdir
9.7
Melly Sabira hidup dalam kekangan finansial oleh suaminya, Alan, serta penindasan dari kakak iparnya, Lian. Di tengah penderitaan tersebut, Melly diam-diam membangun bisnis kecantikan hingga sukses secara nasional. Konflik memuncak saat Lian mencoba menjodohkan Alan dengan Siska, yang ternyata bawahan Melly. Merasa terhina, Siska melakukan aksi kejam yang merenggut nyawa orang-orang terdekat Melly. Kini, Melly harus menghadapi tragedi besar di balik kesuksesannya.
Sampul Novel Musuhku Bankir Crazy Rich
9.6
Dahulu Elaine Tanjung hidup bergelimang harta sebelum ayahnya dituduh mencuri triliunan rupiah. Yakin ayahnya dijebak, Elaine bertekad menghancurkan keluarga Suryajaya, termasuk merayu sang bankir miliarder, Indra Suryajaya. Indra yang terobsesi pada Elaine berusaha menjadi pahlawan saat tahu Elaine kesulitan finansial. Namun, semakin Elaine mendekati Indra demi balas dendam, ia menyadari sifat asli Indra yang tak terduga, hingga membuat rencana dan hatinya kini terancam.