
Rasa Tertinggal
Bab 2
“Memalukan!”
Margaret dan Ibrahim merasa diperlakukan dengan perilaku Reyhan, putra mereka yang semakin hari semakin menjauh dari nilai-nilai keluarga mereka. Reyhan yang seharusnya menjadi harapan keluarga, kini telah terjerumus dalam hubungan yang mereka anggap merusak nama baik keluarga.
“Sudah Ma, nanti migren Mama kumat sudahlah, biarkan Reyhan berpikir jernih dulu.”
“Berpikir jernih bagaimana sih Yah, Mama sudah pernah bilang berkali-kali wanita itu bukan wanita baik-baik buktinya dia sengaja membuat Reyhan malu, dia sengaja ingin mencemarkan nama baik kita, Mama tidak terima diginikan.” Margaret merasa kesal dan tidak bisa tenang, dia kemudian mengambil ponselnya hendak menghubungi seseorang.
Setiap malam, Margaret dan Ibrahim duduk di ruang tamu mereka, cemas memikirkan bagaimana cara mengembalikan kehormatan keluarga mereka. Kejadian ini tidak boleh tersebar apalagi keluarga besarnya tahu, Mereka menggertakkan cangkir teh mereka, berdua geram atas Reyhan yang terlalu keras kepala untuk mendengar nasehat mereka dan tetap mencintai kekasihnya bahkan berbuat hal diluar kendali.
Namun, Margaret memiliki rencana yang dianggapnya sebagai jalan keluar dari masalah ini. Dia mengenal seorang rekan bisnis yang memiliki seorang anak perempuan yang selama ini dianggapnya sebagai pasangan yang cocok untuk Reyhan. Margaret mengatur pertemuan antara Reyhan dan anak rekan bisnisnya, meskipun Reyhan sangat tidak setuju.
“Yah, bagaimana kalau kita jodohkan anak kita dengan anaknya Collin, aku pikir ini adalah jalan yang terbaik agar Mama bisa melupakan kejadian yang memalukan ini.”
“Rey pasti tidak setuju, dia tidak akan mau.”
"Mama tidak peduli dengan perasaan Reyhan, dia pun tidak peduli dengan perasaan kita Yah.”
Margaret keluar dari kamarnya dan menemui putranya, Reyhan saat itu sedang berbaring bersantai di kamar dia sedikit lega karena Sarah sudah memberi kabar padanya jika sudah berada di kontrakan Mayang di Jakarta, Sarah juga mengirimkan Alamatnya pada Reyhan.
“Mama.”
“Sedang apa kamu, jangan sampai kamu masih menghubungi gadis itu!”
Reyhan tidak menjawab, dia meletakan ponselnya menghembuskan napas kasarnya. Sementara, Margaret duduk di samping ranjang putranya.
“Bersiap-siaplah, besok kita akan kedatangan tamu penting.”
“Tamu penting Mama tidak ada hubungannya dengan Rey, Ma, besok Rey harus segera ke Jakarta banyak pekerjaan yang memang harus Rey segera selesaikan.”
“Kamu ke Jakarta bawa istri barumu.”
Rey mengerutkan kening sambil menatap Mamanya.
“Apa maksud Mama?”
“Besok ada calon besan, Mama akan kenalkan kamu dengan anak teman Mama tante Collin kamu pasti cocok, lusa kalian menikah.”
Reyhan merasa terjebak dalam perjodohan yang dia anggap tidak adil. Baginya, cinta adalah sesuatu yang tidak bisa dipaksakan. Meskipun dia sangat mencintai orang tuanya, dia juga ingin memiliki kendali atas hidup dan cintanya sendiri. Reyhan menghadapi dilema besar, antara mematuhi keinginan orang tuanya atau mengikuti hatinya.
Ketegangan di antara mereka berlanjut, menciptakan konflik mendalam dalam keluarga. Margaret dan Ibrahim berusaha memahami Reyhan, sementara Reyhan mencoba menjelaskan perasaannya kepada mereka. Sementara itu, cinta dan perasaan antara Reyhan dan pasangannya yang sekarang semakin mendalam, membuat keputusan yang sulit harus diambil.
Semalaman Reyhan tidak bisa tidur, dia ingin segera bertemu dengan kekasihnya namun lebih dulu dia harus memenuhi janjinya untuk bertemu dengan rekan bisnis Mamanya Tante Collin, ada hal yang tidak bisa dia bantah dari permintaan Mamanya entah kenapa Reyhan tidak bisa menolak ajakan Mamanya untuk bertemu dengan keluarga besar Collin besok.
Pagi-pagi Mamanya sudah mengetuk pintu kamar Reyhan, saat itu Reyhan baru selesai mandi dan bersiap-siap untuk menyambut tamu keluarga besar dari calon besan.
“Nah gitu dong, kamu sudah siap? Sebentar lagi tante Collin akan segera tiba, kamu harus sudah rapi nanti Mama tunggu di bawah ya.” Margaret terlihat sangat antusias dalam pertemuan ini, dia juga tersenyum begitu melihat Reyhan tampak sedang bersiap-siap dan dari raut wajah Reyhan terlihat sepertinya dia santai dan tidak memiliki beban sedikitpun walau dirinya akan dijodohkan.
Saat hendak keluar dari kamarnya, tiba-tiba Ibrahim masuk ke dalam kamar Reyhan membuat Rey sedikit terkejut dibuatnya.
“Kamu sudah siap?”
“Ayah mau tanya aku udah siap atau belum, kan? Ayah liat sendiri penampilanku,” kata Reyhan sedikit memaksakan senyumnya.
“Rey kamu baik-baik saja?”
Reyhan tersenyum tipis lalu menghembuskan napas kasarnya.
“Ayah sudah tahu jawabannya, aku sedang tidak baik-baik saja tapi aku tidak bisa membatah Mama.”
“Semua yang Mama dan Ayah lakukan pasti terbaik untuk kamu, nak.”
“Tapi bukan terbaik untukku Ayah,” ucap Rey lirih. Pria itu meninggalkan Ibrahim bergitu saja lalu menuruni anak tangga. Di sana rupanya calon besan baru saja datang, Margaret melihat anaknya menuruni anak tangga dia menyuruh agar Reyhan mendekatinya dan bersalaman pada tante Collin. Reyhan melihat ada gadis cantik keluar dari mobil, mungkin Perempuan itu yang Mama maksud yang akan dijodohkan dengan dirinya, meski cantik jujur Reyhan tidak tertarik sedikit pun sama sekali dengan gadis itu. Dengan langkah malu gadis tersebut masuk dan mendekati Margaret.
“Amanda bagaimana kabarmu, Nak. Wah tante sudah lama sekali tidak melihat kamu sejak kamu kuliah di luar negeri.”
“Kamar Manda baik Tante.”
“Mari silakan masuk,” kata Margaret begitu sangat antusias mempersilakan tamunya untuk masuk. Gadis itu tampak malu-malu begitu berhadapan dengan Reyhan, namun dia menyunggingkan senyum kecilnya sepertinya dia sudah tertarik pada Reyhan meski baru pertama bertemu. Tidak berbasa-basi Margaret mengajak Collin untuk membicarakan inti dari pertemuannya. Dia menggiring Collin dan suaminya juga Amanda untuk makan sambil berbicara untuk acara pernikahan.
“Kalau memang tidak ada kendala, kami menginginkan acaranya di gelar lusa karena kami tahu Reyhan pasti sangat sibuk.”
Reyhan tersendak, dia terkejut mendengar apa yang diinginkan calon mertuanya, dia menggeleng tidak setuju sebab dia tidak menginginkan secepat itu.
“Ma, Rey tidak bisa mendadak, tidak bisa Rey harus menikah lusa banyak pekerjaan yang harus Rey selesaikan.”
“Sehari saja Rey, kamu yang mengendalikan Perusahaan itu, sehari tidak akan mempengaruhi semuanya, biar sementara Ayah yang mengendel atau Mama kabari sekretaris kamu.”
Reyhan menghembuskan napas kasarnya, dia segera mengakhiri makannya yang sebetulnya sedari tadi sudah tidak berselera, namun Ibrahim yang melihat Rey seperti itu langsung mengambil alih pembicaraan agar diberikan lebih waktu lagi, sepakat jika keduanya akan menikah akhir pekan ini. Setelah pertemuan selesai Reyhan langsung berkemas siang itu juga menuju Jakarta. Margaret lebih lega jika melihat anaknya kembali ke Jakarta padahal dia tidak tahu jika sebenarnya Sarah sudah lebih dulu berada di ibu kota tersebut.
“Rey kamu tidak perlu memikirkan rencana pernikahan kamu, kamu tinggal duduk dan ijab kobul saja Mama dan Ayah yang akan mengatur semuanya, bahkan Mama sudah mentransfer uang untuk acara pernikahan mewah kamu pada tante Collin barusan.” Reyhan hanya mengangguk dia tidak menanggapi semua ucapan Mamanya. Yang dia pikirkan saat ini hanyalah Sarah.
Anda Mungkin Juga Suka





