
Rasa Tertinggal
Bab 3
Setelah Reyhan menjemput Sarah dari kosannya Mayang sahabatnya, kini mereka tiba di apartemen, Reyhan sengaja membawa Sarah ke apartemennya agar keduanya bisa bersantai dan nyaman, mereka duduk bersama untuk berbicara. Reyhan mencoba menjelaskan situasinya dengan lebih rinci kepada Sarah menenangkan kekasihnya sebab Sarah masih terlihat murung dan Sedih. Namun untuk saat ini dia tidak ingin menambah beban Sarah dia tidak mungkin mengatakan bahwa dia sudah dijodohkan oleh keluarganya dan pernikahannya sudah diatur untuk akhir pekan ini. Namun, Reyhan juga ingin memastikan bahwa Sarah memahami bahwa perasaannya terhadapnya masih kuat. Egois memang namun Reyhan belum bisa mengatakan semuanya pada Sarah terlalu berat bagi dirinya menceritakan semuanya.
“Jangan melamun saja sayang, sudahlah kita sudah tidak lagi berada di kampungkan, ini tempatku kamu akan nyaman berada di sini.” Sedari tadi Sarah tidak memperhatikan sedikitpun ornamen atau isi dari apartemen Reyhan, dia masih sedih dan belum bisa diajak berpikir jernih. Sarah menatap Reyhan dengan saksama, melihat wajah kekasihnya yang begitu amat tampan menurutnya, Reyhan belahan jiwanya pria itu terlihat sempurna di mata Sarah, sehingga Sarah tidak mungkin begitu saja melepaskan Reyhan atas permintaan Ibunya karena wanita paruh baya tersebut begitu sangat kecewa pada Reyhan yang tidak bisa mengambil keputusan yang membuat harkat martabat keluarganya hancur.
“Sebelum aku pergi dari rumah Ibu merasa sangat kecewa dengan sikap aku, terlebih lagi dengan kamu Rey, kata Ibu kenapa kamu tidak berani mengambil sikap untuk menikahiku, meski Ibu tahu ibu tidak berharap banyak dia berkata semuanya mustahil terjadi. Aku merasa bersalah dan berdosa besar pada Ibu Rey.” Sambil tersisak Sarah teringat kembali momen dirinya dan Ibu saat hendak berpisah, Ibunya sedih sekaligus merasa kecewa dengan dirinya, namun entah semua sudah terlanjur terjadi karena kesalahan fatal yang Sarah lakukan.
Reyhan mengembuskan napas kasarnya, dia mengusap lembut rambut Sarah membiarkan kepala Sarah agar bersandar di bahunya meski dia tidak berucap sepatah kata pun karena dia tidak tahu harus mengatakan apa, dia memeluk Sarah erat lalu menitikkan air matanya, mengecup pucuk kepala gadis itu.
“Aku minta maaf sayang, aku memang pria bajingan yang tidak memiliki mental untuk melakukan itu.”
“Ibu mengatakan itu karena dia emosi, dia pun ingin ikut saat aku pergi dari rumah hanya saja aku menolak Rey karena aku belum tahu pasti kehidupanku bagaimana kedepannya.”
“Kamu jangan khawatir dengan semuanya sayang, aku yakin semua akan baik-baik saja, kamu juga tidak perlu khawatir dengan kehidupanmu di sini semua aku yang tanggung, aku nanti transfer uang ke Mayang untuk kamu, tapi aku mohon malam ini kamu menginap di sini ya sampai akhir pekan.”
Sarah menggeleng tidak setuju.
“Aku tidak mau berbuat ulah lagi Rey, aku takut.”
Rey tersenyum lalu mengecup pucuk kepala kekasihnya kembali kemudian menatap wajah kekasihnya mengusap air mata yang masih membasahi wajah cantik Sarah.
“Hey ini bukan di kampung Sarah, tidak ada yang tahu aku memasukan wanita, jika pun ada mereka cuek dan tidak akan berkomentar apa pun.”
“Apa jangan-jangan kamu sering memasukan Perempuan tanpa sepengetahuan aku?” tanya Sarah sambil menampilkan wajah muram.
“Memang aku kelihatan orang seperti itu?” tanya Reyhan sambil menjawil hidung Sarah. Wanita itu pun menggeleng karena dia yakin jika Rey bukan pria yang seperti itu.
Reyhan semakin gemas dengan kekasihnya Sarah, namun saat hendak menciumnya suara perut Sarah berbunyi membuat keduanya saling menatap lalu terkikik.
“Aku sampai lupa jika kamu belum makan dari pagi, aku pesan makan dulu ya sayang,” kata Reyhan, pria itu mengambil ponselnya hendak memesan makanan namun Sarah menolak.
“Tidak usah jika ada bahan-bahan kita masak aja, aku lebih suka masakan rumahan Rey, aku tidak bisa makan makanan luar selain pecel ayam dan pecel lele.”
Reyhan tersenyum dia memahami itu, dia pun membawa Sarah ke dapur keduanya masak bersama. Sarah tersenyum saat melihat dapur di apartemen Rey yang sangat kecil, dia melihat kompor namun tidak pandai untuk menyalakannya. Semua terlalu mewah untuk Sarah.
“Rey kompornya aneh, aku tidak bisa menyalakannya.”
Rey tersenyum dengan memeluk Sarah dari belakang pria itu mengajarkan Sarah bagaimana menyalakan kompor tersebut.
“Begini caranya, kamu tekan dikit langsung nyala, sama aja sama kompor biasa.”
Sarah tersenyum lalu dia pun mencoba untuk menyalakan seperti yang sudah diajarkan Rey dan berhasil. Keduanya akhirnya masak bersama. Rey senang dan dia membayangkan bagaimana kehidupannya nanti dengan Sarah, dia sama sekali tidak membayangkan bagaimana hidupnya nanti dengan calon istrinya Amanda, wanita yang kedua orang tuanya jodohkan.
Dua piring nasi goreng, ayam goreng juga sambal sudah tersaji di meja makan, keduanya langsung makan bersama, meski sebetulnya Rey sudah sarapan, karena menghargai kekasihnya dia kembali makan lagi.
“Jadi bagaimana kamu betah di kontrakan Mayang, ada yang lebih bagus lagi enggak sih kontrakannya selain di sana, biar aku yang bayar.”
“Aku belum cari kerjaan juga Rey, aku tidak mau terlalu merepotkan kamu, aku pikir itu sudah lebih dari layak bagiku.”
“Kamu kirim pesan ke dia sekarang, minta nomor rekeningnya dan aku akan kirimkan uang untuk kamu ke Mayang.”
Reyhan berkata demikian karena dia tahu jika Sarah tidak memiliki rekening, dia sering mengirimkan uang ke Sarah saat di kampung melalui tetangganya yang memiliki nomor rekening bank.
Sarah mengangguk dia mengirimkan pesan pada mayang untuk meminta rekening, memang saat ini Sarah sangat membutuhkan uang tersebut untuk menyambung hidupnya sebelum mendapatkan pekerjaan, sebab semalam Mayang mengatakan jika belum ada pekerjaan yang kosong di tempat kerjanya.
Setelah makan selesai Rey mengajak Sarah kembali ke ruang televisi untuk bersantai sementara dirinya tiba-tiba mendapat panggilan telepon dari kantornya. Panggilan itu sedikit lama hingga Rey sedikit menjauh dari Sarah, sementara Sarah menonton televisi sampai menunggu kekasihnya selesai.
“Aku sudah transfer sepuluh juta pada Mayang.” Sarah langsung menoleh juga sekaligus terkejut dengan apa yang barusan Reyhan katakan.
“Kamu Serius? Untuk apa kamu kirimkan uang sebanyak itu Rey, aku tidak butuh begitu banyak uang.”
Rey tersenyum lalu mendekati kekasihnya, dia kemudian memeluk Sarah lalu menatapnya.
“Ini Jakarta sayang, semua harga dan barang-barang mahal, kamu juga tidak banyak bawa pakaian, kan. Kamu bisa beli apa pun dengan uang itu.”
“Tapi nominalnya sangat banyak Rey, baru kemarin kamu belikan aku ponsel dan harga mahal juga.”
“Semua akan aku berikan karena aku sayang sama kamu Sarah, uang itu tidak seberapa.”
“Eum…gombal pasti ada maunya.”
Reyhan nyengir kuda lalu kemudian mengecup lembut bibir ranum kekasihnya.
“Rey…Eump!!”
Sarah hampir kehabisan napas karena Reyhan terus memperdalam pagutannya.
“Aku mohon lupakan dulu sementara apa yang sedang kamu pikirkan sayang, semua masalah pasti akan ada solusinya kamu akan nyaman bersamaku.”
Sarah mengangguk lemah dan menuruti apa yang Rey inginkan saat ini, berada disamping Reyhan Sarah merasa sangat nyaman. Rey terus memperdalam ciumannya lalu mengecup cuping Sarah hingga wanita itu meremang, benar saja karena begitu terbuai dengan sentuhan yang Reyhan berikan, sejenak Sarah melupakan permasalahan yang menghimpit kehidupannya, dia lupa pesan ibunya yang terakhir untuk mampu menjaga dirinya dan kembali bermain gila dengan Rey kekasihnya. Sarah tidak tahu saja jika Rey akan menikah akhir pekan nanti dengan wanita lain pilihan kedua orang tuanya.
“Rey_”
Anda Mungkin Juga Suka





