Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Rasa Sakit Yang Sama

Rasa Sakit Yang Sama

Trauma masa lalu yang kelam membuat Dara Ayra enggan berkomitmen dalam pernikahan. Luka batin akibat perbuatan jahat seseorang nyaris menghancurkan kewarasannya. Kini, ia terjebak dalam dilema saat cinta pertamanya kembali hadir setelah sempat pergi di masa sulit. Di sisi lain, atasannya di kantor juga mulai menunjukkan perasaan cinta. Mampukah Dara menyembuhkan luka lamanya dan memilih pendamping hidup yang tepat demi masa depan yang lebih bahagia?
Bab
Bagikan

Bab 3

Pagi hari setelah sarapan, Dara mengajak anak-anak pergi ke sawah. Kemarin sebelum tidur Dara bercerita tentang keindahan alam di desanya. Dan dia berjanji besok pagi akan mengajak Nindy dan Shaka jalan-jalan ke sawah.

Sekitar pukul tujuh mereka berangkat. Bu Maisaroh pun tidak mau ketinggalan. Meski setiap hari sudah melihat pemandangan di desanya, tapi ini kesempatan berbeda. Dia pergi dengan putrinya dan dua bocah cilik.

Saat berjalan menuju sawah, mereka melewati pemukiman warga. Baik Dara maupun Bu Maisaroh menyapa para tetangga yang ada di luar rumah. Sebagian mereka ada yang mulai berbisik-bisik. Pasti mereka membicarakan Dara. Karena selama ini jika Dara pulang kampung, dia tidak akan mau keluar rumah. Dan sekarang dia pulang dengan membawa dua anak.

Dara tidak peduli dengan apa yang dipikirkan tetangganya. Sebentar lagi dia akan pergi dari desa ini dan tak akan kembali lagi. Sudahlah, terserah mereka mau bicara apa. Dia hanya fokus pada celotehan anak berumur empat tahun itu. Selain super aktif, Shaka juga banyak bicara. Ada saja yang dia tanyakan. Sangat berbeda dengan kakaknya. Nindy sangat pendiam.

“Bunda, di mana Mbah?“ tanya Shaka saat baru tiba di area persawahan. Dia mencari keberadaan Pak Abdullah.

Sepanjang mata memandang, hanya terlihat hamparan tumbuhan padi yang masih hijau.

"Katanya tadi pergi ke sawah juga, kok tidak terlihat?“ lanjutnya sambil menoleh ke segala arah.

“Ayo, kita kesana!“ ucap Bu Maisaroh sambil menunjuk sebuah jalan setapak yang berada di tengah sawah. “Tapi hati-hati ya. Tidak boleh lari-lari!“

Mata kedua bocah itu berbinar. Mereka belum pernah menemui pemandangan seperti ini. Suasananya pun hening. Udaranya pun sejuk tidak seperti di kota tempat tinggal mereka selama ini.

“Itu gunungnya terlihat besar,“ ucap Shaka sambil menunjuk sebuah gunung yang terlihat begitu

dekat.

"Ayo kak kita ke gunung itu," ucap Shaka sambil menarik tangan kakaknya. Mereka berlari pelan. Mereka terlihat sangat senang. Dara dan Bu Maisaroh pun ikut tersenyum melihat tingkah bocah-bocah itu.

“Semoga kamu segera menikah dan dikaruniai anak seperti mereka ya, Nduk,“ Bu Maisaroh mencoba mengungkit kembali pembicaraan semalam yang tidak ada jawaban dari sang putri.

Karena semalam setelah mengantar Shaka ke kamar mandi mereka ikut melihat TV dan mengobrol tak karuan dengan adik Nindy.

Dara menoleh pada ibunya. Dia tersenyum kecut. Dia belum bisa menjanjikan apa-apa. Dia juga tidak bisa mengatakan sesuatu, takut orang tuanya terlalu berharap.

“Nindy, Shaka, belok sini!“ teriak Bu Maisaroh.

Kedua bocah itu sudah berlari jauh lurus ke depan. Sedangkan tujuan mereka belok menuju galengan di antara dua sawah. Dua orang dewasa berhenti, menunggu Nindy dan Shaka mendekat.

“Bunda bawa hp tidak?“ tanya Nindy.

“Buat apa, Kak?“ tanya Dara. Wanita itu biasa memanggil dengan adik kakak untuk Nindy dan Shaka.

“Buat foto-foto, Bun. Nanti mau ditunjukkan kakek dan nenek,“ ucap Nindy.

"Juga Papa,“ sambung Shaka dengan semangat.

Dara pun mengeluarkan ponselnya dari saku.

“Baiklah. Sekarang berdiri di sana biar bunda foto!“ ucap Dara mengarahkan bocah itu ke tempat yang menjadi spot untuk berfoto.

Dengan lincah mereka berpose layaknya seorang model. Sudah banyak sekali foto yang mereka ambil. Tidak hanya dua bocah yang berfoto, tapi Dara dan Bu Maisaroh juga ikut berfoto ria.

“Sudah, nanti foto lagi di tempat berbeda,“ kata Dara setelah merasa foto yang diambil cukup banyak.

Mereka segera berjalan menyusuri galengan. Bu Maisaroh yang berada di depan. Di belakangnya ada Shaka dan Nindy, sedangkan Dara di belakang sendiri.

Galengan adalah jalan sangat kecil yang berfungsi menyekat petak-petak sawah. Jadi mereka berjalan sangat pelan agar tidak terjatuh.

Sekitar lima menit mereka tiba di tempat tujuan. Sebuah sungai dengan air yang jernih dan dangkal karena terlihat batu-batu yang ada di dasar sungai. Arusnya tidak begitu deras. Dua bocah itu melompat kegirangan melihat pemandangan tersebut.

“Tidak boleh sampai basah ya. Bunda tadi tidak bawain kalian baju ganti,“ seru Dara yang melihat mereka langsung berlari ke arah sungai.

“Ya Bunda,“ keluh mereka kecewa. Dara pun paham dengan wajah kecewa mereka.

“Kita foto-foto lagi yuk!“ kata Dara sambil mengangkat hp dan menggoyangkan benda pipih itu, berharap agar mereka tidak kecewa.

Nindy melihat sang adik tetap murung. Dia menghampiri dan mengusap punggung sang adik.

“Kita foto-foto dulu nanti baru main air,“ ucap Nindy menenangkan Shaka.

“Tapi kata Bunda, Bunda gak bawa baju ganti, Kak,“ rengek Shaka.

"Shaka nanti bisa lepas bajunya terus main air. Anggap saja Shaka mandi. Setelah selesai bajunya dipakai lagi."

Raut wajah Shaka kembali ceria. Dia bersemangat lagi mendengar ide dari sang kakak. Dara memperhatikan mereka dari tadi. Dia pun senang. Gadis cantik itu bisa menjadi kakak yang baik. Walau pendiam tapi dia memiliki rasa peduli pada sang adik yang sangat aktif.

“Ayo Bunda, foto kami di sini dulu ya,“ kata Nindy.

Dirinya dan sang adik sudah berada di tengah sungai yang airnya hanya selutut Shaka. Mereka pun kembali berpose untuk pemotretan bak seorang model. Hari sudah beranjak siang. Bu Maisaroh mengajak mereka pulang.

Seperti biasa, Shaka yang sulit dibujuk, dia masih betah berendam di sungai itu. Walau tubuhnya sudah menggigil kedinginan, dia tetap tidak mau pulang. Dari tadi Nindy dan Dara hanya main di tepi sungai sambil mencelupkan kakinya di air.

Setelah benar-benar merasa kedinginan dan lapar, akhirnya Shaka mau diajak pulang. Dia sangat lelah dan tidak sanggup berjalan. Dara menggendongnya saat perjalanan pulang.

"Dara!!" teriak seseorang.

Wanita itu berhenti dan menoleh ke arah orang yang memanggilnya. Bu Maisaroh dan Nindy pun ikut berhenti. Seorang laki-laki sedang berlari mendekat.

“Ra, masih ingat aku?“ tanyanya seketika tiba di depan Dara. Pria itu terengah-engah mengatur napasnya.

Dara melotot tak percaya dengan apa yang saat ini dilihat. Dia terdiam membisu.

“Nak Dafi?“ Bu Maisaroh malah yang merespon. “Kapan kembali ke sini?“

Dafi meraih tangan Bu Maisaroh lalu mencium punggung tangannya.

“Kemarin malam, Bu“ jawabnya sambil menyunggingkan senyum.

Shaka yang dari tadi menyandarkan kepalanya di bahu Dara, segera mendongak melihat apa yang tengah terjadi.

“Aku lapar Bunda, ayo cepat pulang,“ rengeknya.

Fokus Dara pun beralih pada anak kecil yang digendongnya.

Dafi terlihat sedikit terkejut mendengar perkataan Shaka tadi. " Bunda. Ya anak itu memanggil Dara dengan sebutan Bunda," batin Dafi.

Dia sedikit kecewa mengetahui ada anak yang memanggil Dara bunda. Dia telah lama berharap bisa bertemu wanita pujaannya kembali, tapi bukan dalam kondisi seperti ini.

"Maaf ya Sayang," jawab Dara sambil mengelus rambut bocah itu. "Bu, aku duluan ya," wanita itu segera bergegas meninggalkan Dafi dan ibunya.

“Ayo Kak!“ lanjutnya sambil mengajak Nindy.

Bu Maisaroh pun merasa ada yang aneh dengan putrinya Beliau segera menoleh ke arah Dafi kemudian pamit, "Kami duluan ya, Nak."

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dendam Membara CEO Mesum
8.5
Jent adalah CEO sukses yang menghadapi keretakan rumah tangga akibat belum hadirnya buah hati. Kecurigaan menuntunnya mengikuti sang istri secara rahasia, hingga ia menyaksikan sendiri pengkhianatan istrinya di ranjang pria lain. Terbakar amarah, Jent menolak sekadar bercerai. Ia merancang rencana pembalasan dendam yang kejam bagi sang istri dan selingkuhannya. Tragedi ini mengubah Jent menjadi sosok pria berdarah dingin demi menuntut keadilan.
Sampul Novel Hanya Istri Kedua
9.3
Demi menyelamatkan ayahnya dari jeratan kebangkrutan, Anyelir terpaksa mengubur mimpinya sedalam mungkin. Ia setuju menjadi istri kedua bagi Serkan Alvaro, seorang pebisnis muda berdarah dingin yang sangat populer. Di balik bantuan finansial yang diberikan, motif Serkan menikahi Anyelir masih menjadi misteri besar. Kini, Anyelir harus menghadapi kerasnya kehidupan rumah tangga yang penuh tanda tanya. Akankah pernikahan ini memberikan kebahagiaan baginya?
Sampul Novel Istri ku tengil
8.8
Alexa memiliki paras menawan namun perilaku nakalnya sering memicu emosi. Meski hidup bergelimang harta, ia merasa kesepian akibat kurangnya kasih sayang dari orang tua yang gila kerja. Demi mencari perhatian, Alexa kerap berbuat onar hingga akhirnya ia dipaksa masuk ke dalam jerat perjodohan. Akankah pernikahan dengan pria misterius ini mengubah sikap iblisnya menjadi manis, atau justru ia akan semakin membuat kekacauan dalam kehidupan rumah tangga barunya?
Sampul Novel Janji untuk Berpisah
8.1
Vivian datang ke kantor Darren untuk meminta tanda tangan kontrak penting. Sebagai kekasih yang biasa mengabaikan formalitas, ia sempat ragu sebelum akhirnya mengetuk pintu. Namun, pemandangan di dalam menghancurkan hatinya. Ia mendapati Darren sedang bermesraan dengan Khloe yang tengah merapikan dasinya di bawah sinar matahari. Suasana intim itu membuat kata-kata Vivian tercekat saat Darren dan Khloe menoleh, menyadari kehadirannya yang tiba-tiba.
Sampul Novel Menikahi Mayat Palsu CEO
7.8
Angel terjebak dalam situasi mengerikan saat dipaksa menikahi jenazah CEO muda yang rupawan. Demi melunasi hutang budi serta imbalan dua miliar rupiah bagi keluarganya, ia terpaksa menyetujui pernikahan tak lazim ini. Namun, kejutan besar menanti di balik peti mati karena sang mempelai pria ternyata masih bernapas. Bagaimana nasib Angel setelah rahasia besar ini terungkap? Ikuti kisah romansa penuh misteri ini dalam Menikahi Mayat Palsu CEO.
Sampul Novel Penghinaan Saudari Tiri, Dusta Kekasih
7.9
Anindya Larasati, violinis berbakat, hancur saat video pribadinya disebar di gala megah. Pengkhianatan ini didalangi Bima Wiratama, kekasihnya, yang bekerja sama dengan kakak tiri Anindya, Safira. Setelah disiksa secara keji oleh rekan Bima hingga meninggalkan bekas luka permanen, Anindya menyadari cintanya hanyalah permainan balas dendam. Di tengah obsesi gelap Bima yang menginginkan kehancurannya, Anindya bertekad bangkit dari penderitaan dan menghilang demi kebebasannya.