
Ranjang Panas Tuan Lucas
Bab 2
Tak lama setelah mobil mewah itu melaju, akhirnya berhenti di depan hotel lain yang tak kalah megah. Flora, yang mulai setengah sadar, merasakan dinginnya angin malam saat pria misterius itu membuka pintu dan kembali menggendongnya keluar.
Tubuhnya terasa lemah, tetapi kepalanya sudah mulai berusaha memahami apa yang terjadi. Dia mencoba meronta, menggerakkan tangannya untuk melepaskan diri, tapi tenaganya masih terlalu lemah dibandingkan kekuatan pria itu.
Pria misterius itu tak menunjukkan tanda-tanda terganggu oleh gerakan Flora. Dengan mudah, dia membawa tubuhnya ke dalam lobi hotel yang berkilauan dengan kemewahan. Para staf hotel menatap mereka sekilas, tapi tak ada yang mencurigai sesuatu. Pria itu tampak sangat percaya diri, seolah ini adalah hal yang wajar.
Sesampainya di meja resepsionis, dia berbicara singkat dengan petugas, dan tanpa banyak pertanyaan, pria itu memesan kamar kelas atas di lantai tertinggi hotel.
Tatapan ramah dari petugas resepsionis menyiratkan penghormatan, mengesankan bahwa pria itu adalah tamu yang sering datang atau seseorang yang sangat penting.
Flora mulai semakin sadar, dan kali ini dia benar-benar berusaha melawan. Tubuhnya meronta dengan lebih kuat, tapi genggaman pria itu tetap kokoh. Dia berbisik pelan, suaranya hampir tak terdengar, "lepaskan aku ...."
Namun, pria itu tidak menggubrisnya. Dia hanya mempercepat langkahnya menuju lift yang membawa mereka langsung ke lantai paling atas. Flora, yang kini sepenuhnya sadar akan bahaya, berusaha keras menahan napas dan menenangkan diri, meski rasa takut mulai menjalari seluruh tubuhnya.
Setiap detik terasa seperti ancaman, dan semakin lama, semakin jelas bagi Flora bahwa pria ini memiliki rencana lain yang tak pernah dia bayangkan.
Begitu mereka sampai di lantai paling atas, pintu lift terbuka dengan bunyi halus. Pria itu melangkah keluar, masih menggendong Flora dengan erat, menuju kamar yang sudah ia pesan.
Dengan suara yang sangat lembut, tetapi menakutkan, dia berkata, "tenang saja, jangan panik atau malah akan menyusahkan dirimu sendiri."
Flora yang kian dilanda ketakutan, dengan segenap kekuatan yang tersisa, nekat menggigit lengan pria kekar yang menggendongnya. Giginya menancap kuat, berharap bisa membuatnya terlepas dari genggaman.
Pria itu mengerang pelan, rasa sakit jelas tergambar di wajahnya. Flora terus menggigit sampai akhirnya pria itu melepaskannya tepat saat dia hendak menempelkan kartu akses ke pintu kamar hotel.
Tubuh Flora jatuh ke lantai dengan keras, tapi dia segera bangkit, terengah-engah, menatap pria itu dengan penuh ketakutan dan kemarahan. "Siapa kamu sebenarnya?" Suaranya bergetar, bercampur antara takut dan bingung.
Pria itu menatap Flora sejenak, ekspresinya dingin dan tak terbaca. Dia perlahan mengusap lengan yang digigit Flora, lalu tersenyum tipis, senyum yang tampak mengintimidasi. "Aku ...," katanya pelan. "Adalah pria yang seharusnya kau layani malam ini."
Flora terdiam, tubuhnya membeku mendengar jawaban itu. Otaknya berputar cepat, mencoba memahami maksud ucapannya.
"Apa maksudmu?!" Flora mundur perlahan, keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya. "Apa yang kau inginkan dariku?" tanyanya lagi dengan suara bergetar.
Pria itu berdiri beberapa langkah di depannya, matanya menatap tajam ke arah Flora. "Apa yang kuinginkan? Kau sudah tahu jawabannya. Kau hanya perlu menyerah tanpa banyak tanya."
Pria itu menatap Flora dengan sorot mata yang lebih serius. "Orang tuamu meninggalkanmu sebagai jaminan atas uang yang meraka pinjam dariku. Mereka meninggalkan banyak utang. Utang yang tidak pernah bisa mereka lunasi sebelum mereka meninggal."
Flora terdiam, hatinya seketika bergetar mendengar nama mendiang orang tuanya disebut. "Apa yang kau bicarakan?" tanyanya, suaranya terdengar lirih. "Aku ... aku tidak tahu apa-apa tentang utang mereka."
Pria itu mendekat lagi, kali ini tidak ada lagi senyum di wajahnya. "Kau mungkin tidak tahu, tapi itu tidak mengubah kenyataan. Keluargamu berhutang banyak, dan sebagai anak mereka, tanggung jawab itu jatuh padamu. Kau harus melunasi utang-utang mereka!"
Flora menggelengkan kepalanya, tidak percaya dengan apa yang ia dengar. "Aku tidak punya uang banyak. Aku bahkan tidak tahu berapa besar utangnya," ucapnya dengan suara pelan, hampir berbisik.
Pria itu berhenti tepat di hadapan Flora, menatapnya tajam. "Itulah sebabnya kau di sini, Flora. Sebagai penebus utang orang tuamu, kau harus bersedia menjadi pelayanku. Kalau kau tidak mau, maka kau harus menemukan cara untuk melunasi semua utang itu sendiri. Dan percayalah, jumlahnya sangat besar. Kau tidak akan pernah bisa membayarnya sendirian."
Flora merasa seakan lantai di bawah kakinya runtuh. Rasa takut mulai berubah menjadi kepanikan. "Ini tidak adil! Aku tidak tahu apa-apa tentang utang itu ... b-bagaimana mungkin kau meminta aku untuk membayarnya dengan ... dengan cara ini?!"
Pria itu menatapnya tanpa belas kasihan. "Adil atau tidak, ini kenyataan. Kau punya dua pilihan, Flora ... melunasi utang keluargamu dengan uang yang aku yakin kau tidak punya, atau ... dengan menyerahkan tubuhmu padaku."
Flora merasa tubuhnya gemetar. Dua pilihan itu sama-sama mustahil dan menakutkan.
Pria itu memasang senyum smirk yang membuat Flora semakin merinding. "Aku sangat yakin kau tak bisa melunasi utang itu, Flora. Jadi malam ini, tubuhmu adalah penebusnya." katanya dengan nada rendah nan mengancam.
Flora semakin pucat, wajahnya tampak ketakutan, tapi tubuhnya terasa kaku, seolah tidak bisa bergerak. Otaknya berteriak untuk lari, tapi kakinya seakan tertanam di tempat.
Dia mencoba mencari kata-kata yang pas untuk penolakan, tapi tak ada satu pun yang bisa keluar dari bibirnya. Napasnya semakin cepat, dadanya terasa sesak, dan rasa panik semakin menguasainya.
Pria itu tidak mempedulikan keterkejutan dan ketakutan yang jelas terpampang di wajah Flora. Dengan gerakan cepat dan kasar, dia menarik tangan Flora, menyeretnya masuk ke dalam kamar hotel.
Flora hampir tersandung saat pria itu membawanya masuk, tapi pria itu tak melepaskan genggamannya.
Pintu kamar tertutup rapat di belakang mereka dengan suara yang berat, dan tak lama setelah itu. terdengar bunyi klik kunci pintu. Flora melihat ke arah pintu yang kini terkunci, seolah itu adalah penghalang terakhir yang mengurungnya di dalam perangkap ini.
Flora mencoba menarik tangannya, meronta, tetapi kekuatan pria itu jauh lebih besar.
"Tolong ... lepaskan aku! Aku akan berusaha bayar utangnya, katakan jumlahnya dan akan aku usahakan!" teriak Flora, matanya mulai berkaca-kaca.
Namun, pria itu sama sekali tak mau menaruh iba, malah menatapnya dengan tatapan yang semakin menakutkan.
Dia mendekat ke Flora, membungkuk sedikit untuk menatap langsung ke dalam manik bening itu. "Jangan coba melawan. Flora. Semakin kau melawan, semakin sulit bagimu. Ini adalah bagian dari kesepakatan. Orang tuamu sudah menentukan nasibmu sebagai jaminan mereka!"
"Aku janji akan cari uang, atau pinjaman. Aku mohon ... lepaskan aku malam ini, aku tidak akan kabur ke mana-mana," rintih wanita cantik dalam balutan dress selutut berwarna hitam itu.
"Siapa yang memintamu untuk melakukan penawaran, hm? Aku tak butuh itu, yang ku butuhkan adalah ... tubuhmu malam ini!"
Anda Mungkin Juga Suka





