
Ranjang Panas Tuan Lucas
Bab 3
Lucas menyeringai melihat raut ketakutan di wajah Flora, matanya penuh dengan niat yang gelap.
Dalam sekejap, tanpa peringatan, ia menarik Flora lebih dekat dan mencium bibir ranum itu dengan brutal. Ciuman itu penuh kekerasan, seolah ingin menguasai tanpa peduli pada protes dan ketakutan yang jelas terpampang di wajah cantik itu.
"Berhenti! Tolong, jangan!" isak Flora, suaranya bergetar di antara tangis yang tak tertahankan.
Dia meronta, mencoba mendorong tubuh Lucas agar menjauh. Kedua tangannya memukul dada pria itu sekuat tenaga, tetapi tidak cukup untuk melepaskan diri dari cengkeramannya.
Lucas dengan dingin dan tanpa belas kasihan, mencengkeram kedua pergelangan tangan Flora dan menahannya kuat-kuat di atas kepalanya, memaksa gadis itu berhenti melawan.
"Diam, Flora," bisiknya dengan suara rendah, tetapi penuh ancaman. "Kau tidak akan menang melawanku."
Tangisan Flora semakin keras, tubuhnya terasa semakin lemah. Ia tahu, di bawah kekuatan Lucas, dia tak bisa berbuat banyak. Meski begitu, hatinya tidak ingin menyerah.
Lucas mengangkat tubuh Flora dengan mudah, menggendongnya menuju ranjang hotel yang luas.
Dalam sekejap, dia menghempaskan Flora ke atas kasur putih, membuat tubuh mungil itu sedikit memantul. Flora bahkan belum sempat bangkit ketika Lucas sudah mendekat, menundukkan tubuh untuk mengurungnya di bawah bayangan tubuh kokoh nan besar.
"Kita lakukan malam ini, Flo. Penuhi kamar hotel ini dengan desahanmu, aku mau mendengar seperti apa seksinya suaramu," bisik Lucas.
Lucas mendekatkan wajahnya, menyentuhkan bibirnya dengan penuh gairah ke pipi dan dahi Flora.
Ciumannya terasa panas, sementara Flora hanya bisa memalingkan wajahnya, ketakutan besar menyelimuti dirinya sekarang. Tangannya berusaha menutupi wajahnya, tetapi Lucas terus mendesak, seolah tidak memberi ruang bagi Flora untuk bernapas.
Pria itu menegakkan tubuh, melapas dasi yang lantas ia gunakan untuk mengikat kedua pergelangan tangan Flora.
"Begini lebih baik," gumamnya saat berhasil menyatukan kedua tangan Flora di atas kepala. "Tanganmu itu hanya menggangguku!"
"Aku mohon ... jangan lakukan ini padaku. Tolong jangan siksa aku, aku mohon ...," rintih Flora, yang tentu saja tak mampu meraih rasa iba Lucas.
Lucas menatap Flora dengan senyum menggoda, suaranya rendah bernada dingin. "Kau tahu, Flora, ada sesuatu yang sangat menarik tentangmu. Aku bahkan sudah mengincarmu sejak lama. Sejak ... kematian kedua orang tuamu. Dan baru malam ini aku bisa membawamu setelah menyusup ke dalam hotel itu."
Setiap kata yang keluar dari mulutnya seakan memicu rasa takut yang semakin menguat dalam diri Flora.
Flora tak sanggup menjawab, hanya air mata yang menjadi saksi betapa tersiksanya ia malam ini. Manik bening itu membelalak saat lagi-lagi Lucas mendekatkan wajah padanya, kali ini lidah hangat itu menyapu leher jenjangnya.
"Tunggu ... jangan!" serunya dengan nada panik, dadanya berdegup kencang.
Flora berusaha menggerakkan kakinya, tetapi lagi-lagi Lucas langsung menindih dan membuatnya kembali tak berdaya.
Ciuman itu turun ke bahu, sedikit gigitan kecil hingga menimbulkan bercak merah yang Lucas tinggalkan di sana. Flora meraung dalam tangisnya saat Lucas menciptakan banyak kissmark di kulit mulusnya, kulit yang tak pernah tersentuh oleh pria manapun itu kini ternoda oleh Lucas.
"Aaah ...." Flora mendesah tanpa sengaja saat Lucas menggoda telinganya, membuat pria itu terkekeh senang.
"Aku sudah bilang, kan? Kau akan suka dengan permainanku malam ini," bisik Lucas, sambil terus menyapu telinga mungil itu menggunakan lidah hangatnya.
Flora sekuat mungkin menggigit bibir bawahnya, tak peduli sakit dan perih. Yang penting baginya, jangan sampai desahannya lolos lagi.
Dengan gerakan cepat, Lucas merobek dress hitam yang membalut tubuh Flora, membuat kain itu koyak dan jatuh, menampakkan tubuh mungil yang kini hanya terbalut underwear.
Flora tertegun, seluruh wajahnya memerah karena malu dan ketakutan.
"Berhenti, Lucas! Ini tidak benar!" teriaknya di sela-sela isak tangis.
"Apanya yang tidak benar, hm?" tanya Lucas sambil tangannya menyusup ke balik punggung, melepas tautan kain penyangga buah dada.
Lucas melemparkan kain itu, bersamaan dengan Flora yang memalingkan wajah saat dua gundukan sintalnya terekspos di hadapan pria asing.
"Wow ... sepetinya masih ranum. Apa belum ada pria lain yang menyentuhnya?" Lucas mengelus pucuk merah di atas gundukan sintal itu, ibu jari dan jari telunjuknya bergerak memilin dengan lembut. "Aku suka bentuknya."
Entah sudah sebanyak apa air mata yang tumpah, Flora tak peduli. Bahkan jika bisa, ia ingin pingsan saja daripada harus menahan semua penderitaan ini.
Setiap inci tubuhnya disentuh oleh pria asing, membuatnya merasa sangat ternoda.
Lucas mengulum buah dada sebelah kanan, sambil tangan kanannya meremas buah dada sebelah kiri.
"Jangan perlakukan aku seperti ini, aku mohon ... apa kau tidak punya adik perempuan, atau saudara perempuan? Ibumu perempuan, kan? Bagaimana kalau mereka ada di posisiku, apa kau tidak sakit hati?! Aku sebatang kara, tidak punya siapa-siapa. Dan kau dengan teganya merenggut mahkotaku," bisik Flora, suaranya serak lantaran terlalu banyak menangis.
Lucas menghentikan gerakannya, alisnya terangkat sebelah dengan pandangan menukik tajam. "Harus berapa kali aku ingatkan kalau kau itu jaminan utang mendiang orang tuamu. Bahasa kasarnya, kau sudah dijual padaku dan kau adalah barang yang ku beli!"
Lucas mengatakan itu sambil kedua tangannya terus meremas dua gundukan sintal yang menggantung indah di dada Flora, ia tak mempedulikan ribuan air mata yang menetes di pipi tirus itu.
Lucas beranjak turun, menarik kain segitiga yang menutupi inti tubuh Flora. Jemarinya bergerak cepat melepas kain itu, lantas melemparkan asal ke lantai.
Ia melirik Flora yang kini memejamkan mata, tetapi air mata masih bisa mendesak keluar.
Lucas tak peduli, ereksinya sudah sangat naik malam ini. Tanpa berlama-lama lagi, ia mendekatkan wajah pada pangkal paha dan mulai mengaduk area kewanitaan Flora hingga basah dan lembab.
"Sshhh ...!"
"Jangan ditahan, Flo. Mendesahlah, suaramu sangat seksi," bisik Lucas.
Lidahnya terus berputar, menusuk-nusuk di dalam sana dan sesekali Lucas memberikan gigitan kecil pada benjolan kecil seperti kacang di dalam sana.
"Ooough ... Aaahhh ...." Flora mendesah panjang tanpa bisa ditahan, diiringi isak tangis yang semakin meledak.
Tubuhnya menggelinjang hebat saat cairan cintanya tumpah karena ulah Lucas. Deru napasnya tersengal-sengal, kepalanya mendadak pusing detik itu juga.
Tak ingin menunggu lebih lama, Lucas langsung menanggalkan semua pakaian yang ia kenakan. Lantas memasukkan ereksinya yang sudah menegang sempurna ke dalam inti tubuh Flora.
"Aah ... Fuck! Sempit sekali, Flo!" racaunya, sambil terus mendorong miliknya agar bisa masuk.
Hingga akhirnya selaput dara itu robek juga, Lucas membenamkan ereksinya di dalam liang kewanitaan Flora.
Desahannya beriringan dengan tangisan Flora, seakan itu adalah sebuah musik yang mengalun indah di telinganya.
"Kau harus mengandung benihku, Flo!"
Anda Mungkin Juga Suka





