Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Ranjang Panas Hot Daddy

Ranjang Panas Hot Daddy

Demi membiayai operasi David, tunangannya yang kecelakaan, Rania nekat menjual kesuciannya. Namun, sosok pembelinya ternyata Aslan, seorang duda kaya yang perlahan mulai mengisi hatinya. Saat benih cinta tumbuh, pengkhianatan David akhirnya terbongkar, menghancurkan sisa kesetiaan Rania. Di sisi lain, kehadiran masa lalu Aslan menguji hubungan mereka. Kini Rania terjebak dalam dilema antara luka lama dan cinta baru yang penuh rintangan pelik.
Bab
Bagikan

Bab 2

Langit semakin gelap. Malam ini mendung sehingga tidak terlihat satupun bintang. Bahkan awan hitam tampak menghalangi sinar bulan. 

Rania duduk melamun di salah satu kursi besi yang ada di lorong rumah sakit. Samar-samar ia mendengar suara kedua calon mertuanya yang sedang berunding untuk menjual rumah demi mendapatkan uang. 

Rania mengambil ponsel di dalam tas selempang miliknya. Ia diam sejenak menatap benda itu sebelum akhirnya mengetik sebuah kalimat di status pesan online. Dirinya tidak berharap banyak akan ada orang yang membantu, tetapi setidaknya ia bisa memberikan sedikit bantuan untuk pengobatan David. 

Belum ada satu menit Rania mengetik pesan itu, ia mendapatkan sebuah telepon dari salah satu teman. Rania tampak ragu untuk menjawab panggilan tersebut karena ia sangat tahu siapa orang itu. Tetapi kepalanya berpikir lain, mungkin saja temannya tersebut hendak meminjamkan uang. 

"Halo," sapa Rania saat menerima panggilan tersebut. 

"Kamu lagi butuh uang?" tanya wanita itu to the point membuat Rania hanya bergumam menjawabnya. "Aku bisa ngasih uang dalam waktu cepat." 

"Kamu mau meminjamkan uang untukku?" tanya Rania. Keningnya berkerut mendengar ucapan temannya itu. 

"Kamu dimana sekarang? Kita ketemu saja biar gampang." 

"Aku lagi di rumah sakit," jawab Rania. 

"Share aja lokasinya. Nanti aku jemput kamu di depan rumah sakit," ucap wanita itu dan langsung memutuskan sambungan telepon. 

"Halo!" Rania sedikit berteriak. Ia kesal karena temannya itu memutuskan sambungan telepon begitu saja. 

Rania menggigit bibirnya merasa gelisah ketika temannya itu memaksa untuk dirinya mengirimkan lokasi rumah sakit tempatnya berada. Namun Rania mengabaikan pesan itu. Ia mengalihkan perhatiannya dari benda yang terus bergetar ketika ada pesan masuk. 

Kyle atau nama aslinya Ayu, adalah salah satu teman sekolahnya di SMA dulu. Dirinya dan Kyle bertemu di restoran tempatnya bekerja sekitar tiga bulan yang lalu. Saat itu Kyle meminta nomor teleponnya dengan alasan ingin saling memberi kabar karena teman satu desa. 

Ayu mengganti namanya menjadi Kyle sejak dirinya terjun ke dunia gelap yang tidak ingin Rania dekati. Awalnya Rania tidak tahu apa pekerjaan Kyle hingga membuatnya memiliki banyak barang-barang mahal. Hingga akhirnya Rania tahu kalau temannya itu adalah seorang mucikari sekaligus seorang barista di salah satu klub di Jakarta. 

"Rania." 

Lamunan Rania teralihkan ketika mendengar suara Bu Dewi memanggil. Rania mencoba tersenyum saat Bu Dewi duduk di sampingnya. 

"Ibu mau ngomong sesuatu sama kamu," ucap Bu Dewi sungkan. 

"Kenapa, Bu?" tanya Rania menatap lekat calon mertuanya tersebut. 

"Pernikahanmu dengan David, Ibu sama Bapak berencana untuk menundanya dulu, Ran. Kamu kan tahu kondisi ekonomi kami yang sedang memburuk. Kami akan menjual rumah untuk biaya pengobatan David. Dan uang tabungan untuk pernikahan kalian pun, Ibu minta maaf banget harus Ibu gunakan buat tambahan biaya pengobatan David. Kamu … nggak papa kan?" tanya Bu Dewi. 

Rania tersenyum lalu mengangguk. "Nggak papa Bu. Lagipula ini untuk David juga. Biaya pernikahan kami, nanti biar kami menabung lagi. Yang penting keadaan David membaik dan cepat sehat, Bu." 

"Iya, Ran … Ibu juga berharap David cepat pulih," timpal Bu Dewi. 

"Memangnya," Rania diam sejenak memberikan jeda pada ucapannya. "Kalau Bapak dan Ibu menjual rumah, nanti kalian tinggal dimana?" 

"Kami bisa tinggal di kontrakan." 

Kepala Rania tertunduk. Hatinya semakin bergejolak. Mengapa dirinya tidak bisa membantu? 

"Bu, aku pamit dulu ya. Mau ada urusan." Tiba-tiba Rania bangkit berdiri. "Ibu, jangan jual rumah dulu. Aku mau coba tanyain teman, siapa tahu mereka bisa bantu." 

"Tapi, Ran—" 

"Tadi ada temanku yang bilang katanya dia bisa meminjamkan uang. Ibu jangan jual rumah ya. Kasihan Delia sama Gisel nanti," pinta Rania. 

Delia dan Gisel, dua adik kembar David masih berusia enam tahun. Rania tidak bisa membayangkan jika keluarga David harus tinggal di kontrakan. Dirinya juga tidak ingin Selvi sampai putus kuliah sepertinya dulu. 

Rania meraih tangan Bu Dewi untuk bersalaman. Tidak lupa ia mencium punggung tangan calon mertua yang sudah dianggap seperti ibunya sendiri. 

"Aku pergi dulu ya, Bu," pamit Rania. 

"Hati-hati ya, Ran." 

"Iya, Bu," jawabnya lalu melenggang pergi. 

*** 

Usai mengirimkan lokasi terkininya pada Kyle, Rania memilih menunggu temannya tersebut di seberang jalan. Ia tidak ingin keluarga David melihatnya. Rania hanya cemas kalau-kalau Kyle akan datang bersama om-om simpanannya seperti yang biasa dilakukan setiap kali pergi ke restoran tempat Rania bekerja. 

Rania menarik napas dalam-dalam. Jantungnya semakin berdebar-debar setiap detik. Ada rasa cemas sekaligus ragu untuk bertemu dengan Kyle meskipun niatnya hanyalah untuk meminjam uang. 

Setelah hampir sepuluh menit berdiri di tepi jalan, Rania tertegun melihat sebuah mobil berwarna putih berhenti di hadapannya. Pandangannya tertuju pada kaca jendela mobil yang terbuka perlahan. 

"Ayo masuk." 

Rania menatap ragu ke arah mobil serta sekeliling. Ia menelan saliva sebelum akhirnya menarik pintu mobil. Rania masuk ke dalam dan duduk di jok depan, tepat di samping Kyle yang ada di jok pengemudi. 

"Sudah nunggu lama?" Kyle membuka obrolan saat mulai melajukan mobil. 

"Nggak," jawab Rania gelisah. Sesekali matanya melirik ke arah Kyle. 

"Kamu itu kalau butuh uang tinggal hubungi aku saja. Nggak perlu bikin status kaya gitu. Mending hapus saja statusmu," ucap Kyle dengan mulut mengunyah permen karet. 

Rania tidak menjawab. Tetapi ia menuruti ucapan Kyle untuk menghapus pesan status di ponselnya. 

"Memangnya kamu butuh uang berapa?" 

"Dua … ratus juta," gumam Rania. Setidaknya uang sebesar itu sudah termasuk biaya pengobatan David. Sehingga dirinya dan kedua orangtua David tidak perlu mencari banyak uang untuk sisa kekurangannya nanti. 

"Oh." 

Rania menoleh ke arah Kyle ketika wanita itu memberikan respon yang sangat enteng. Seolah menganggap mencari yang sebesar itu adalah hal yang sangat mudah. Padahal jika harus bekerja di restoran, membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mengumpulkan uang sebanyak itu. 

"Jadi, kamu bisa pinjamkan uang sebesar itu padaku?" tanya Rania penuh harap. 

Namun Kyle justru tertawa. Sontak Rania pun tertegun karena tidak tahu alasan dibalik tawa temannya tersebut. 

"Memangnya apa jaminanmu meminjam uang sebanyak itu, Ran? Hmm?" Kyle menaikkan kedua alis saat menatap Rania membuat pandangan Rania tertunduk. 

"Kalau kamu mau pinjam uang, aku nggak bisa memberimu uang sebanyak itu. Aku memang punya uang banyak, tapi apa jaminannya? Kalau mau pinjam uang, aku bisa memberikan sekitar lima sampai sepuluh juta, nggak lebih." 

Tidak ada respon dari Rania. Hatinya merasa kecewa mendengar jawaban Kyle. Temannya itu seolah memberikan harapan tetapi menghempaskannya jauh dari harapan itu. 

"Kamu masih perawan kan?" 

Tiba-tiba pertanyaan Kyle menggertak hati Rania. Apa maksudnya bertanya masalah itu? Keningnya mengernyit menatap Kyle. 

"Aku bisa memberikan uang sebanyak itu. Tapi caranya kamu harus jual keperawananmu. Kali ini aku mendapatkan klien yang menginginkan seorang wanita yang masih perawan." 

"Aku bukan seorang pelacur sepertimu, Yu!" sentak Rania. Matanya sudah memerah. Dirinya tidak menyangka temannya tersebut sangat tega memberikan jalan keluar yang menghancurkan harga dirinya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta & Pengorbanan Alya
8.5
Alya terjebak dalam keputusasaan saat ibunya, Kartika, butuh biaya medis besar dan donor organ langka. Di tengah krisis ini, Niko, pengusaha kaya yang mendambakan anak, menawarkan kesepakatan menjadi ibu pengganti demi kesembuhan Kartika. Meski ragu, Alya setuju demi nyawa ibunya. Namun, benih cinta tak terduga tumbuh di antara mereka, memicu dilema emosional. Saat rahasia besar terungkap, pandangan mereka tentang arti cinta dan keluarga pun berubah selamanya.
Sampul Novel Dendam dan Hasrat Liar
9.5
Alyssa Hartanto bertekad membalas dendam pada Damian Valente, pengusaha yang menghancurkan keluarga dan bisnis orang tuanya. Dengan identitas samaran, ia menyusup ke kediaman Damian sebagai asisten pribadi demi menjalankan misi penghancuran. Namun, rencana Alyssa goyah saat kebencian mendalam tersebut perlahan berubah menjadi gairah yang tak terduga. Kini, ia terjebak dalam dilema antara menuntaskan dendam masa lalu atau menyerah pada cinta yang mulai tumbuh.
Sampul Novel Kala Hidup Mengalir dengan Damai
8.8
Tiga tahun pernikahan hanya mendatangkan kebencian dari Kayden Farista kepada Calista Lisano. Saat Nadia Farista kembali, Kayden merancang rencana ekstrem untuk memalsukan kematiannya demi melepas status pewaris dan kawin lari dengan Nadia. Namun, rencana yang diucapkan di ruang operasi itu terdengar oleh Calista. Tanpa ragu, Calista langsung meminta pengacaranya menyiapkan surat cerai dan menghubungi kakak laki-lakinya di luar negeri, memilih untuk menyerah dan pergi selamanya.
Sampul Novel Menikah Dengan CEO Posesif
8.9
Sheila harus menelan kepahitan saat pernikahan impiannya dengan Bryan hancur seketika. Ia terpaksa menjadi istri Bara Alexander Rodriguez, pria berkuasa yang menjadikannya jaminan atas utang Bryan. Kini, Sheila terjebak dalam obsesi Bara yang posesif dan mengklaimnya sebagai milik pribadi. Di tengah rasa benci dan kecewa, mampukah Sheila bertahan menghadapi lika-liku rumah tangga yang rumit? Ataukah ada kebahagiaan yang tersisa dalam ikatan paksa ini?
Sampul Novel Pak Theo, Nyonya Pergi Berkencan Lagi
8.1
Kontrak perceraian Kayla Sandio dan Theo Oliver mendadak viral karena menyebut sang suami tidak kompeten. Usai berpisah, Kayla yang semula pegawai biasa bertransformasi menjadi ahli restorasi budaya yang sukses. Ironisnya, Theo yang dahulu dingin kini justru terus membayangi hidupnya. Saat Kayla meluapkan kekesalannya tentang sang mantan suami di sebuah perjamuan, Theo langsung bertindak nekat untuk membuktikan kejantanannya dan merebut kembali hati wanita yang keras kepala itu.
Sampul Novel Perangkap Tuan CEO
8.1
Dalam jeratan obsesi sang CEO, tidak ada jalan untuk melarikan diri. Baginya, memiliki dirimu bukanlah pilihan melainkan sebuah keharusan yang mutlak. Ia menuntut pengabdian penuh atas tubuh, jiwa, hingga setiap jengkal kulitmu tanpa sisa. Di bawah kendalinya yang dominan, kamu terkunci dalam kepemilikan eksklusif yang tidak membiarkan siapa pun mendekat. Setiap napasmu kini menjadi milik sang penguasa yang hanya menginginkan dirimu seorang diri.