
Ranjang Panas Hot Daddy
Bab 3
Rania memaksa Ayu atau biasa dipanggil Kyle untuk menghentikan mobilnya. Rania turun dari dalam mobil. Ia bahkan membanting pintu saat menutupnya.
Ketika Rania baru melangkah hendak berjalan di tepi jalan, Kyle justru melajukan mobilnya dengan cepat meninggalkan dirinya. Kedua kaki Rania berhenti berjalan. Ia berjongkok lalu menelungkupkan kepalanya.
Tangis yang samar-samar terdengar menarik perhatian orang yang berjalan melewati Rania. Bahkan ada wanita paruh baya yang menegur dan bertanya mengapa Rania menangis. Tetapi Rania tidak menjawab membuat wanita itu pun pergi meninggalkannya.
Rania tidak bertahan lama di posisi itu. Ia segera bangkit dan menghentikan tangisnya karena tidak ingin semakin menjadi pusat perhatian. Ketika baru berjalan lima menit menuju halte busway, Rania tertegun mendapatkan sebuah telepon.
"Halo, Bu," sapa Rania ketika langsung menerima panggilan tersebut.
"Ran, kamu dimana? Gimana teman kamu? Kondisi David tambah kritis dan dokter menyuruh untuk segera melakukan operasi." Suara Bu Dewi terdengar sesenggukan seperti sedang menangis.
Rania terpaku. Kepalanya seperti hampir pecah mendengar penuturan Bu Dewi. Apa yang harus dilakukannya sekarang?
"Se-sebentar ya, Bu. Aku masih nunggu teman aku." Rania tergagap.
"Cepat ya, Ran. Kalau nggak ada langsung kabarin ya biar Ibu kasih tahu Bapak buat deal-in jual rumahnya," pinta Bu Dewi.
"I-iya, Bu," jawab Rania lemas.
Airmata Rania kembali menetes saat menjauhkan ponsel dari telinganya. Hatinya bergejolak. Pikirannya kalang kabut. Ia tidak tahu lagi harus melakukan apa.
Satu sisi Rania tidak ingin calon ibu mertuanya menjual rumah demi pengobatan David, tapi sisi lain dirinya tidak memiliki jalan keluar selain dari Kyle.
Rania mengusap airmatanya. Ia menarik napas dalam-dalam untuk membuatnya sedikit tenang. Menangis tidak akan membuatnya memiliki uang dua ratus juga dalam sekejap. Ia harus melakukan sesuatu.
Perhatian Rania mulai tertuju ke arah ponsel. Ia mencoba menghubungi Gea dan teman-temannya yang lain untuk meminta bantuan. Siapa tahu jika dirinya mengumpulkan masing-masing satu orang sepuluh juta, uangnya dapat terkumpul. Dan Rania akan memikirkan bagaimana caranya membayar hutangnya nanti.
Namun sepertinya keberuntungan sedang tidak ada di pihaknya. Rania sudah berusaha menghubungi hampir semua kontak di ponsel tetapi tidak mendapatkan keinginannya. Hanya ada satu dua orang yang bersedia membantunya meminjamkan uang hanya dengan nominal tidak kurang dari lima juta.
"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang?" desah Rania dengan satu tangan menyingkap rambut poni yang menutupi kening.
Rania mendesah kasar ketika nama kontak Bu Dewi tertera pada layar. Rania membuang napas kasar sebelum menerima panggilan dari Bu Dewi.
"Halo, Bu."
"Gimana, Ran? Ini dokter tanya sama Ibu karena David harus segera di operasi. Kamu sudah dapat uangnya belum?" desak Bu Dewi.
Rania diam sejenak. Ia masih berpikir. Keputusan apa yang harus diambilnya sekarang?
"Ran? Halo! Rania." Bu Dewi memanggil-manggil karena tidak ada respon dari Rania.
"Halo. Iya, Bu," jawab Rania pelan.
"Gimana Ran? Ada nggak? Ini Bapak juga dapat telepon dari orang yang mau beli rumah. Dia nanyain jadi nggak rumahnya dijual."
'Mak, maafin Rania. Nggak ada jalan lain lagi untuk menyelamatkan David. Rania nggak mau kehilangan David, Mak. Maafin Rania, Pak,' batin Rania.
"A-ada, Bu. Ada. Nanti aku langsung transfer ke rekening Ibu, ya," jawab Rania.
"Syukurlah. Terima kasih banyak ya, Ran."
"Iya, Bu," gumam Rania.
Setelah telepon dari Bu Dewi terputus. Rania langsung menghubungi Kyle. Rania tidak berhenti merutuki dirinya sendiri atas keputusan yang diambil.
"Apa?!" ketus Kyle saat menjawab telepon dari Rania. Wanita itu pasti masih marah dengan Rania.
"Aku … menerima tawaranmu," gumam Rania. Kepalanya menunduk merasa malu pada dirinya sendiri karena sudah menjilat ludah.
Seketika tawa Kyle terdengar nyaring. "Jadi, kamu mau jadi pelacur kaya aku?" tanya Kyle dengan nada menyindir.
"Aku hanya harus menjual keperawananku untuk mendapatkan uang sebesar itu, bukan?" Rania balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan Kyle. Ia tidak berniat menjadi seorang pelacur. Rania hanya ingin melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya hanya satu kali. Dirinya pun tidak ingin masalah ini diketahui oleh David.
"Ya. Tapi tunggu dulu. Aku telpon klienku untuk menanyakan apakah dia sudah dapat perawan atau belum. Soalnya tadi aku sempat membatalkan pesanannya," ucap Kyle.
"Aku ingin pembayaran dimuka sekarang," pinta Rania.
Lagi-lagi Kyle tertawa. Tetapi tawanya tidak sekeras sebelumnya. "Okay, tunggu sebentar. Kirim saja nomor rekeningmu. Nanti kalau deal, aku langsung transfer," ucap Kyle dan langsung memutuskan sambungan telepon.
Sedetik kemudian Rania langsung mengirimkan pesan pada Kyle. Ia memberikan informasi rekeningnya pada temannya tersebut.
Rania menunggu dengan cemas. Matanya tidak berhenti memperhatikan layar ponsel sedang hatinya terus berharap akan mendapatkan kabar dari Kyle. Hingga satu menit kemudian kedua mata Rania membelalak saat mendapatkan sebuah pesan notifikasi dari Kyle.
Wanita itu mengirimkan bukti transfer dengan nominal yang diinginkan Rania. Saat hendak menutup kotak pesan dari Kyle, Kyle kembali mengirimkan pesan singkat berisikan alamat hotel yang harus Rania datangi. Kyle juga mengancam akan melaporkannya ke polisi jika melarikan diri.
Namun Rania tidak membalas satu pun pesan dari Kyle. Ia langsung menghentikan sebuah taksi hendak pergi ke rumah sakit. Tidak lupa Rania langsung mentransfer uang tersebut ke rekening ibu mertuanya.
Mobil berwarna biru yang dinaiki Rania mulai melaju menuju rumah sakit tempat David dirawat. Sembari menunggu mobil itu sampai di tempat tujuan, Rania mencoba menghubungi Bu Dewi.
"Halo, Bu," sapa Rania.
"Iya, Ran. Gimana?"
"Aku sudah transfer ya ke rekening Ibu. Ini aku lagi di dalam taksi, mau pergi ke rumah sakit," jelas Rania.
"Syukurlah. Terima kasih banyak ya, Ran. Kamu hati-hati di jalan."
"Iya, Bu. Aku tutup teleponnya ya."
Usai mendengar jawaban dari Bu Dewi, Rania langsung memutuskan sambungan telepon. Dirinya bersandar di jok mobil seraya menarik napas panjang. Rania sangat ingin mendapatkan kelegaan, tetapi masalah lain justru menjeratnya hingga membuat Rania sulit bernapas dalam sekejap.
Rania membuka pesan dari Kyle. Ia menatap alamat hotel yang harus didatanginya malam ini. Rania menggelengkan kepala saat bayangan-bayangan buruk justru merayap masuk ke dalam pikiran. Dirinya menutup pesan dari Kyle dan menoleh ke arah luar kaca mobil untuk mengalihkan pikiran.
Beberapa menit kemudian mobil taksi itu berhenti di depan gedung rumah sakit. Rania segera turun dari dalam taksi usai membayar ongkosnya. Dirinya berjalan menuju tempat Bu Dewi berada.
"Rania."
Langkah Rania dihentikan oleh suara Bu Dewi yang memanggil dari arah lain. Bu Dewi tersenyum lebar dan langsung menghampiri Rania. Dirinya memeluk Rania membuat wanita itu membalasnya.
"David dimana sekarang, Bu?" tanya Rania.
"Dia ada di ruang operasi. Tadi setelah ibu menyelesaikan biaya operasinya, David langsung dibawa ke ruang operasi. Dan Bapak yang lagi ada di sana."
"Syukurlah." Rania mendesah lega. Ia tersenyum dan mengusap airmata yang tiba-tiba menetes. Sejenak hatinya merasa lega dan bahagia karena David langsung mendapatkan penanganan operasi.
"Ngomong-ngomong." Rania menatap Bu Dewi saat mendengar ucapan calon mertuanya tersebut. "Darimana kamu dapat uang sebanyak itu dalam waktu cepat?" tanya Bu Dewi.
Rania terpaku. Ia menjadi gugup. Tidak mungkin jika dirinya menjawab dengan jujur kalau ia baru saja mendapatkan uang dari menjual keperawanannya.
"Siapa teman kamu yang meminjamkan uang sebanyak itu sama kamu?"
Rasanya memang aneh ada orang yang mau meminjamkan uang sebanyak itu dalam waktu cepat. Bahkan tanpa jaminan apapun karena Rania memang tidak memiliki harta yang cukup digunakan sebagai jaminan.
"Teman sekolahku yang dari kampung, Bu. Kebetulan dia punya usaha di Jakarta," jawab Rania sembari tersenyum. Ia berusaha sebisa mungkin menutupi kebohongannya.
Anda Mungkin Juga Suka





