Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Ranjang Kakak Ipar

Ranjang Kakak Ipar

Maora terjebak dalam dilema besar saat Haidar Alvaro, pria yang memiliki sejarah intim dengannya, resmi menjadi kakak ipar. Situasi kian rumit ketika Haidar memaksa Maora tinggal satu atap. Di tengah gejolak perasaan dan kenangan masa lalu, Maora harus memilih antara menjaga kesetiaan pada kakaknya, Laura, atau menyerah pada hasrat terlarang yang membara. Akankah ia mengkhianati keluarganya demi cinta lama, atau sanggup bertahan dalam siksaan batin ini?
Bab
Bagikan

Bab 1

Siapa yang mengira, orang yang paling pendiam ternyata memiliki banyak topeng yang dikenakan, seperti Riky Suhendra. Kekasih Maora Salsabilla, pria itu tertangkap basah sedang bercumbu dengan Sinta, sahabatnya sendiri sekaligus teman kerjanya.

"Kamu Bajingan, Rik! Kamu lelaki nggak tau malu yang aku temui!" Maora memaki kedua orang yang saling tumpang tindih di atas ranjang.

Sorot mata Maora, yang selalu memancarkan cinta untuk Riky, kini tergantikan dengan rasa jijik untuk pria ini.

Riky mengambil pakaian yang berserakan di lantai, dia mulai mengenakan kembali bajunya satu persatu, sambil berusaha menjelaskannya pada Maora. "Kamu salah paham, Sayang. Aku di jebak oleh orang, pas kami lagi—i."

"Cuihh, bulshit!" Maora meludah ke arah Riky, baginya apa yang dikatakan pria ini tidak lebih dari sekedar pembelaan semata. Lagipula siapa Riky Suhendra? Hanya pria yang memiliki keberuntungan sedikit karena wajahnya yang elok. Sementara finansial pria itu, zonk! SPG pria di salah satu mall.

"Cukup, Rik! Kamu bukan CEO, apalagi anak Bupati. Kamu cuma orang biasa, siapa yang akan ngejebak kamu?! Nothing!" ujar Maora dengan emosi.

Sinta masih menutupi dirinya di atas ranjang, wanita itu seakan mentertawakan Maora dan itu terlihat dari raut wajah jalang ini.

Sial! Maora menghampiri Sinta, dia menatap tajam sahabatnya, atau mantan sahabat. Dengan emosi yang sudah di ubun-ubun, Maora melayangkan tamparan di wajah Sinta.

"Perempuan yang tidak punya harga diri kaya kamu itu, nggak beda jauh dari Jalang!" sungut Maora.

"Sialan! Berani kamu nampar aku, Ra?" Sinta beranjak dari duduknya, dia mulai menjambak rambut Maora yang panjang dan terurai dengan bebas.

Riky yang melihat dua wanita yang saling melerai itu hanya diam mematung. Dia seperti berada di atas angin, sebab merasa dirinya sedang menjadi bahan rebutan.

Maora yang dasarnya bar-bar, mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan menjadi semakin gila. Dia tanpa sungkan langsung menendang perut Sinta.

Sinta mundur beberapa langkah, dia memegangi perutnya yang terasa sakit, mual menjadi satu. "Itu pantas untuk wanita murahan seperti kamu!" ucap Maora, dan berlalu pergi begitu saja.

Hujan yang mengguyur ibu kota, seakan menjadi teman kemelut hati Maora, dia menumpahkan segala rasa sesak di dada.

"Riky bajingang! Brengsek!" teriak Maora, suaranya yang keras menyamai gemuruh di angkasa.

Satu tahun menjalin hubungan dengan Riky, siapa yang mengira akan berakhir dengan sangat mengenaskan.

Langkah kaki Maora yang begitu cepat, menimbulkan suara di koridor. Dia membuka pintu kamar kostnya dan langsung berhambur memeluk Ayu.

"Ada apa, Ra?" tanya Ayu heran. Dia juga tidak bisa menolak saat Maora menangis di dekapan, meskipun pakaiannya ikut basah.

"Riky … dia selingkuh, Yu." Maora semakin terisak dalam bahu Ayu. Sahabatnya itu terus menepuk punggung Maora, mencoba memberi rasa tenang.

"Kamu udah yakin dia selingkuh?" Ayu berusaha bersikap bijak dalam mencerna ucapan Maora.

"Aku yakin! Orang aku sendiri yang mergokin dia selingkuh sama Sinta, mereka lagi wik-wik!" tukas Maora, sambil sesekali menyedot ingusnya yang menerobos keluar.

"Ihh, jorok, Ra. Astaga." Ayu seketika mendorong tubuh Maora ke belakang.

"Aku-aku tadi nggak sengaja ngeliat dia sama Sinta, masuk Hotel Berlin. Aku kira mereka ada perlu di sana, tau-taunya mereka malah nganuuuu." Maora semakin kencang menangis, mata dan hidungnya juga mulai memerah. Ingus yang terus saja keluar dia lap dengan bajunya sendiri.

"Astaga, Maora. Kenapa jorok banget sih!" Ayu memilih beranjak dan mengambil kotak tisu di atas meja dan melemparnya pada Maora. "Pakai ini!" sambungnya lagi.

Maora mengambil lembaran tisu sebanyak-banyaknya, dia mengelap cairan ingus dan juga air matanya, sambil terus sesenggukan.

Seketika Ayu teringat akan undiannya yang memenangkan liburan ke Bali. Dia mendapatkan itu dari Giveaway di Instagram. Beruntung bukan, tetapi sayang, seribu sayang dia tidak bisa pergi. Mendadak kakaknya yang di kampung akan mengadakan hajatan, keponakannya akan di sunat.

"Ra, daripada kamu galau begini, mending kamu gantiin aku aja. Aku ada tiket buat ke Bali, dapat Giveaway, kamu mau nggak?"

Maora yang sedari tadi hanya menangis, dan menghabiskan puluhan lembar tisu untuk menghapus sisa air mata. Dia mendongak ke arah Ayu yang membelakanginya.

"Ke Bali? Serius, Yu?" Maora bertanya dengan nada tidak percaya.

"Iya, berangkat besok pagi. Aku cari tiketnya dulu, kayaknya aku taruh di sini." Ayu terus mencari-cari selembar kertas tersebut.

"Ketemu!" pekik Ayu setelah mendapatkan sesuatu yang ia cari.

Ayu dan Maora sedikit mengobrol tentang rencana sahabatnya ini yang batal ikut, dan menghubungi panitia penyelenggara untuk menggantikan dia.

Setelah semua beres, Maora mengganti pakaiannya, dan terlelap di ranjang empuknya. Saling berpelukan bersama Ayu.

Keesokan paginya, Maora sudah bersiap di bandara hanya tinggal menunggu keberangkatannya. Menurut waktu tempuh dari Jakarta ke Bali menghabiskan sekitar dua jam pernerbangan.

Menunggu cukup lama, Maora akhinya dapat duduk dengan tenang, saat pesawat mulai Take Off meninggalkan Bandara Soekarno-Hatta.

Dua jam berlalu di dalam pesawat, kini Maora sudah menginjakkan kakinya di Pulau Bali.

Maora segera menuju hotel tempat dia menginap nantinya, melepaskan rasa lelah di sekujur tubuh.

Semoga saja dengan menghabiskan dua hari di pulau ini, Maora dapat melepaskan rasa sakit hatinya tentang Riky.

***

Haidar Alvaro menatap nanar kelopak bunga mawar yang bertaburan di ranjang, seharusnya besok adalah hari bahagianya. Namun, Vivian malah pergi meninggalkannya begitu saja demi karier di Negeri Paman Syam.

Terkadang Alvaro berpikir, apa cinta Vivian tidak sama besar dengan dirinya? Mengapa wanita itu lebih memilih bekerja keras, dan merusak tubuhnya hanya untuk pujian dari para wartawan.

Sementara Alvaro mampu memberikan segalanya untuk Vivian, dia bisa menjamin kehidupan wanita itu akan mengalahi Luna Maya.

Alvaro mengembuskan napas kasar, dia berjalan keluar kamar, mencari kesenangan untuk melupakan masalah hatinya.

Bar Adrena menjadi tujuan Alvaro ketika dia dilanda masalah seperti ini, hiruk pikuk anak manusia yang bergoyang di bawah lampu disko, dan bau alkohol yang memenuhi tempat tersebut. Mungkin saja dia bisa mendapatkan sesuatu yang Amazing nantinya.

"Mas, wine satu," pinta Al kepada bartender.

"Oke." Bartender mulai meracik pesanan Alvaro, menuangkan segelas wine dan juga beberapa potong es batu. "Silahkan, Pak." Bartender menyerahkan segelas wine pada Alvaro.

"Thanks," ucap Al.

Alvaro mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru, matanya menangkap sosok bidadari yang telungkup di meja. "Mabok berat kayaknya."

Alvaro menghampiri wanita tersebut, wanita asing yang tidak sama sekali dikenal. "Hai," sapanya seramah mungkin.

Wanita tersebut mengangkat wajahnya, tatapan matanya sayu dan tanpa babibu, wanita ini mencium Alvaro begitu saja.

Bau alkohol menyeruak di bawah pangkal hidungnya, saat sang wanita mengembuskan napasnya.

Shit! Bukan ini yang diinginkan Alvaro, dia hanya mengajaknya berkenalan, dan tidak mengharapkan ciuman. "Maaf, Nona." Alvaro mendorong pelan kepala wanita ini, akan tetapi, perempuan ini malah berteriak kencang.

"Tolong! Tolong, saya mau diperkosa!"

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel A MAN IN A TUXEDO
9.7
Psikiater muda Auristela Indira mengemban tugas berat merawat Vincent Oliver, CEO penyiaran yang menderita Anterograde Amnesia pasca insiden tragis. Stela harus menyamar sebagai sekretaris dan pengawal pribadi sebelum akhirnya diminta menikahi Vincent yang ingatannya hanya bertahan sehari. Di tengah dilema itu, misteri besar menyelimuti penyebab kecelakaan Vincent serta hilangnya calon tunangannya tepat di malam sebelum hari pernikahan mereka.
Sampul Novel (Bukan) Salah Jodoh
8.9
Nayra Alfarani terjebak dalam pernikahan yang terasa salah. Di tengah kehancuran hari bahagianya, ia justru dipersatukan dengan Cakra Yudhistira, pria yang bersikeras bahwa mereka bukanlah jodoh. Meski kini menyandang status sebagai istri Cakra, hati Nayra masih terpaku pada sosok Ezhra. Konflik batin dan penolakan mewarnai awal hubungan mereka, saat keduanya meragukan takdir yang memaksa mereka terikat dalam janji suci yang tidak pernah mereka harapkan.
Sampul Novel Menikahi Gadis Bar-Bar
8.4
Malaika Arabella adalah siswi kelas XI penerima beasiswa yang dikenal pemberani namun sering membolos. Meski jadi target perundungan, ia tetap berprestasi di kelas. Masalah muncul saat orang tuanya harus dinas ke luar negeri dalam waktu lama. Karena Mala menolak ikut dan tak ada kerabat, ia dipaksa menikah muda dengan putra teman ayahnya. Pernikahan rahasia pun digelar. Akankah Mala mampu menjalani rumah tangga ini di tengah masa sekolahnya yang penuh gejolak?
Sampul Novel Penyesalan Mantan Suamiku
9.8
Kebahagiaan Sophia atas kehamilannya setelah dua tahun menikah seketika hancur saat Nathan justru meminta cerai. Di tengah insiden pembunuhan yang mengancam nyawanya, Nathan mengabaikan panggilan darurat Sophia hingga ia terpuruk dalam keputusasaan. Sophia pun memilih pergi ke luar negeri demi memulai hidup baru. Namun, saat ia hendak menikah lagi, Nathan muncul kembali dengan penuh penyesalan dan menuntut penjelasan atas anak yang telah Sophia lahirkan.
Sampul Novel Setelah Talak Tiga
8.1
Dalam hukum pernikahan, seorang suami yang telah menjatuhkan talak tiga kepada istrinya tidak memiliki jalan untuk kembali membina rumah tangga secara langsung. Ikatan pernikahan mereka telah terputus sepenuhnya secara hukum dan agama. Satu-satunya cara agar pasangan tersebut dapat rujuk dan menikah lagi adalah jika sang mantan istri terlebih dahulu menikah dengan pria lain, yang dikenal sebagai muhallil, sebelum akhirnya bercerai kembali.
Sampul Novel Song For Luna
8.9
Pertemuan singkat di Bandung menjadi awal mula hubungan antara Luna dan Alvino. Bermula dari pertukaran nomor telepon dan tawaran menjadi pemandu wisata, Luna tidak menyangka bahwa perkenalan sederhana itu akan mengubah hidupnya secara drastis. Kehadiran Vino membawa dinamika emosional yang penuh gejolak layaknya roller coaster. Kini, Luna harus menghadapi berbagai badai persoalan yang datang silih berganti dan menentukan apakah ia akan menyerah atau terus berjuang.