Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Ranjang Kakak Ipar

Ranjang Kakak Ipar

Maora terjebak dalam dilema besar saat Haidar Alvaro, pria yang memiliki sejarah intim dengannya, resmi menjadi kakak ipar. Situasi kian rumit ketika Haidar memaksa Maora tinggal satu atap. Di tengah gejolak perasaan dan kenangan masa lalu, Maora harus memilih antara menjaga kesetiaan pada kakaknya, Laura, atau menyerah pada hasrat terlarang yang membara. Akankah ia mengkhianati keluarganya demi cinta lama, atau sanggup bertahan dalam siksaan batin ini?
Bab
Bagikan

Bab 2

Kuta Bali, seakan tidak ada waktu untuk istirahat bagi daerah ini, padahal jam sudah tergelincir ke tengah malam. Tetapi keramaian masih dengan senang hati tercipta.

Langkah kaki Maora terhenti di trotoar, dia memilih duduk dan menyandarkan punggungnya di bangku kosong pinggir jalan.

Maora mengembuskan napas, dia berpikir kalau jalan-jalan seperti ini akan dapat menciptakan suatu kenangan yang indah untuk dikenang. Namun, semua itu nihil. Saat hatinya masih tertuju pada satu nama, yaitu Riky Suhendra.

Riky, si pria brengsek itu saat ini pasti sedang bergelut di atas ranjang bersama Sinta. Munafik memang.

"Mau minum?" Seseorang menyodorkan satu kaleng soda ke Maora.

Maora mendongak, dan ternyata Alvaro lah yang memberikan minuman. "Thanks."

"Sama-sama." Alvaro mendaratkan bokongnya di samping Maora, dia menatap lurus ke arah ruko yang berbaris rapi sepanjang jalan.

"Cinta emang sialan, mereka seenaknya aja mainin perasaan kita, padahal di sini kita sudah berharap banyak." Alvaro berceloteh seorang diri, sedangkan Maora dia tidak ada sedikitpun untuk menyahuti ocehan Alvaro.

"Kamu tau? Besok aku nikah, tapi cewek sialan itu ninggalin aku gitu aja, dan milih karirnya! … kadang aku mikir dia itu beneran cinta atau enggak." Ocehan Alvaro hanya ditanggapi ekspresi tidak menyenangkan dari Maora.

Maora, wanita asing yang dikenalnya di bar tadi karena salah paham akibat perempuan gila yang meneriakinya. Jelas sekali kejadian beberapa saat lalu masih berputar-putar di kepalanya.

Damn! Wanita gila ini membual, dan ayolah, Alvaro tidak akan tertarik pada perempuan setengah sinting ini. "Kamu gila, Nona! Saya tidak ada niat mau memperkosa kamu," tandas Alvaro kesal.

Akan tetapi ini adalah Bar, mereka hanya menoleh sekilas dan kembali melanjutkan kegiatan mereka. Tanpa perduli dengan yang terjadi.

"Syukur deh, nggak ada yang dengerin," gumam Alvaro.

Niat hati Alvaro ingin meninggalkan wanita sinting ini, tapi dia malah mendapatkan kejutan yang tidak terduga.

Seseorang memukul kepalanya dengan tas selempang dari arah belakang. "Sial! Sebenarnya ada masa …." Alvaro tidak melanjutkan perkataannya, ketika dia memutar tubuh dan mendapati sosok wanita cantik, tengah menatapnya nyalang.

Maora Salsabilla, dia melayangkan kembali pukulan untuk Alvaro, tetapi pria ini berhasil menangkis dan sialnya dia malah berada dalam dekapan orang asing. Saat Avaro menarik lengannya.

"Sepertinya kita tidak punya masalah, tapi kenapa aku mendapatkan hadiah seperti ini?" Alvaro berbicara dengan sangat lembut, bahkan Maora nyaris tidak mendengarnya. Jika saja, dia tidak benar-benar dekat dengan pria ini.

"Aku tidak suka dengan lelaki yang memainkan wanita! Itu sama saja mereka dengan binatang!" seru Maora.

Alvaro tersenyum menanggapi jawaban Maora, dia melepaskan tubuh wanita cantik ini, dan berkata, "kamu salah paham, aku bukan lelaki kaya gitu."

"Kenapa nggak tanya aja, daripada di sini. Ngoceh nggak jelas sama orang yang gak dikenal."

Jawaban Maora membuat Alvaro tertawa tersadar dari lamunanya, tetapi tawanya itu terlalu sangat dipaksakan dan menjadi sangat kaku. "Kalo aku mau bisa aja, tapi aku nggak mau. Bukan karena aku nggak punya HP, tapi jawaban yang nanti aku dapet pasti sama."

"Oh," jawabnya singkat.

"Iya, kamu kenapa bisa patah hati juga?" tanya Alvaro.

Maora seketika menoleh menatap Alvaro, dan mengerjap. "Jangan sok tau deh!" sungut Maora.

"Aku bicara sesuai fakta! Orang jauh-jauh datang ke sini udah pasti buat liburan, have fun bareng orang tersayang. Tapi kamu malah ngegalau di sini."

Maora menurunkan bahunya, sejenak menarik napas dan mengembuskannya kembali dengan kasar. "Pacar aku ketahuan wik-wik, sama sahabat aku sendiri!"

Pada akhirnya batu yang mengganjal dapat Maora singkirkan, dan saat ini rasa sesak di dada mulai sedikit berkurang.

"Oh, cowok emang gitu. Nggak bisa lihat yang bening dikit, langsung ngacir," ucap Alvaro santai, seakan dia lupa dengan gendernya sendiri.

"Kamu juga cowok kan, lupa diri atau gimana?"

"Nggak! Aku ngomong apa adanya. Meskipun aku lagi sakit hati, tapi aku bisa aja tetap senang-senang sama cewek."

"Terus kenapa nggak seneng-seneng? Kenapa malah di sini."

"Kalo kamu mau, aku bisa ajak kamu seneng-seneng, hotel di sini bebas kan." Alvaro mengerlingkan mata menggoda Maora.

"Ck, mesum!" Maora memilih mencari aman, dan meninggalkan Alvaro sendiri.

Alvaro menyusul Maora, langkahnya yang lebar sangat mudah untuk menyamai setiap ayunan kaki wanita ini. "Aku hanya bercanda, jangan dimasukin hati."

"Aku nggak masukin ke hati, aku hanya nggak suka aja sama omongan kamu!"

"Oke, aku minta maaf. Aku emang salah."

"Iya."

***

Matahari pagi menyembul di ufuk timur, sinarnya yang hangat menerobos masuk ke kamar hotel Angkasa. Di balik selimut putih yang tebal, tubuh wanita masih nyenyak dalam tidurnya.

Saat panggilan dari seseorang membangunkan Maora, gadis ini mengerjap, mencoba mengumpulkan kesadarannya yang belum sepenuhnya pulih.

Perut Maora seakan tertekan, seperti ada sesuatu yang menimpanya. Dia menyibak selimut dengan kasar, dan sebuah tangan yang sedikit berbulu dan berwarna melingkar sempurna di pinggangnya.

Maora menoleh ke samping, dan melihat Alvaro terlelap begitu nyenyaknya. Hidung yang mancung, alis mata hitam yang tebal, bibir yang tipis dan sedikit menghitam, serta garis rahang yang terbentuk sempurna. Pria ini begitu sangat tampan untuk lelaki Asia.

Alvaro lebih memiliki wajah pria Italia, dibandingkan Indonesia. Mungkin saja orang tuanya memang keturunan negeri yang terkenal dengan pastanya tersebut. Maora tidak tahu itu.

Semalam Maora mengajak Alvaro untuk berlomba minum wine, dan malah berakhir dengan malam panas bersama pria ini.

"Al, bangun!" Maora mengguncang tubuh Alvaro dengan keras, pria itu hanya menyingkirkan tangannya dari perut Maora. Lalu mengubah posisinya memeluk guling.

"Aihhs, udahlah!" Maora beranjak turun dari ranjang dan mengenakkan kembali pakaiannya.

Maora mengambil tas yang tergeletak di sofa panjang samping tempat tidur. Lalu gegas dia meninggalkan kamar.

Maora kembali ke kamar miliknya, dan mulai menghubungi Ayu, sahabatnya.

"Hallo." Suara Ayu terdengar santai di seberang sana.

"Lagi apa, Yu?" tanya Maora, dia tengkurap di ranjang sambil menekuk kedua kakinya.

"Sibuk, aku lagi di suruh sama bang Iqbal, belanja ke pasar, nemenin istrinya." Ayu menggerutu, seperti memaki seseorang di sana, tapi siapa itu, Maora tidak tahu.

"Oke deh, nanti telepon balik lagi ya, kalo udah sampai." Maora langsung mematikan panggilan, setelah Ayu menyetujui pesannya.

Maora memilih untuk membersihkan tubuh terlebih dulu, sebelum dia mencari sesuatu untuk mengisi perutnya.

Setelah selesai mandi dan mengenakan pakaian, Maora keluar kamar. Tujuannya saat ini adalah restoran di hotel ini yang terkenal dengan berbagai hidangan seafoodnya.

Maora mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru, dia mencari tempat yang sekira tidak terlalu mencolok, dan jackpot, meja di sudut ruangan yang terhalang rak minuman, menjadi pilihannya.

Hal yang paling disukai Maora saat memilih tempat untuk duduk, berada di pojokkan. Entah kenapa, tapi dia merasa sangat nyaman saja.

Maora mengambil buku menu yang tergeletak di meja, memilih makanan apa yang sekiranya cocok untuk perutnya yang agak rewel ini.

"Mas, aku mau cumi asam manis, gurame saus padang sama es jeruk," pinta Maora.

Pelayan yang mengunakan baju batik berwarna ungu dan ikat kepala, segera mencatat pesanan Maora.

Pelayan tersebut baru saja ingin melangkah pergi, tapi panggilan Alvaro menghentikan langkahnya.

"Bentar, Mas. Aku juga mau makan," ucap Alvaro, kemudian membaca buku menu. "Samain aja deh sama dia," lanjutnya setelah melihat-lihat daftar makanan tersebut.

"Baik, Pak. Ditunggu sebentar ya."

Maora memutar matanya jengah, dia menyandarkan punggung di kursi sambil menatap tajam ke arah Al. "Kamu ini mau ngapain sih? Belum puas ngajak aku minum sampai mabok?" tanya Maora.

"Kamu kenapa nggak bilang mau pergi, pas aku bangun kamu udah nggak ada." Alvaro mengambil bungkusan hitam dari saku kemeja, dan menyulut rokonya.

"Terus masalah gitu? Harusnya, yang punya masalah di sini itu aku!" sungut Maora kesal.

"Kita ngelakuinnya suka sama suka, Sa … apa perlu aku ingetin lagi," ujar Alvaro, dia mencondongkan tubuhnya ke arah Maora yang duduk di hadapannya.

"Ihss, nggak usah! Aku masih inget, dan bekasnya juga masih ada!" balas Maora asal.

"Hahaha, kalo kamu mau kita bisa ngelakuin sekali lagi, buat salam perpisahan."

"No, cukup sekali!"

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel A MAN IN A TUXEDO
9.7
Psikiater muda Auristela Indira mengemban tugas berat merawat Vincent Oliver, CEO penyiaran yang menderita Anterograde Amnesia pasca insiden tragis. Stela harus menyamar sebagai sekretaris dan pengawal pribadi sebelum akhirnya diminta menikahi Vincent yang ingatannya hanya bertahan sehari. Di tengah dilema itu, misteri besar menyelimuti penyebab kecelakaan Vincent serta hilangnya calon tunangannya tepat di malam sebelum hari pernikahan mereka.
Sampul Novel (Bukan) Salah Jodoh
8.9
Nayra Alfarani terjebak dalam pernikahan yang terasa salah. Di tengah kehancuran hari bahagianya, ia justru dipersatukan dengan Cakra Yudhistira, pria yang bersikeras bahwa mereka bukanlah jodoh. Meski kini menyandang status sebagai istri Cakra, hati Nayra masih terpaku pada sosok Ezhra. Konflik batin dan penolakan mewarnai awal hubungan mereka, saat keduanya meragukan takdir yang memaksa mereka terikat dalam janji suci yang tidak pernah mereka harapkan.
Sampul Novel Menikahi Gadis Bar-Bar
8.4
Malaika Arabella adalah siswi kelas XI penerima beasiswa yang dikenal pemberani namun sering membolos. Meski jadi target perundungan, ia tetap berprestasi di kelas. Masalah muncul saat orang tuanya harus dinas ke luar negeri dalam waktu lama. Karena Mala menolak ikut dan tak ada kerabat, ia dipaksa menikah muda dengan putra teman ayahnya. Pernikahan rahasia pun digelar. Akankah Mala mampu menjalani rumah tangga ini di tengah masa sekolahnya yang penuh gejolak?
Sampul Novel Penyesalan Mantan Suamiku
9.8
Kebahagiaan Sophia atas kehamilannya setelah dua tahun menikah seketika hancur saat Nathan justru meminta cerai. Di tengah insiden pembunuhan yang mengancam nyawanya, Nathan mengabaikan panggilan darurat Sophia hingga ia terpuruk dalam keputusasaan. Sophia pun memilih pergi ke luar negeri demi memulai hidup baru. Namun, saat ia hendak menikah lagi, Nathan muncul kembali dengan penuh penyesalan dan menuntut penjelasan atas anak yang telah Sophia lahirkan.
Sampul Novel Setelah Talak Tiga
8.1
Dalam hukum pernikahan, seorang suami yang telah menjatuhkan talak tiga kepada istrinya tidak memiliki jalan untuk kembali membina rumah tangga secara langsung. Ikatan pernikahan mereka telah terputus sepenuhnya secara hukum dan agama. Satu-satunya cara agar pasangan tersebut dapat rujuk dan menikah lagi adalah jika sang mantan istri terlebih dahulu menikah dengan pria lain, yang dikenal sebagai muhallil, sebelum akhirnya bercerai kembali.
Sampul Novel Song For Luna
8.9
Pertemuan singkat di Bandung menjadi awal mula hubungan antara Luna dan Alvino. Bermula dari pertukaran nomor telepon dan tawaran menjadi pemandu wisata, Luna tidak menyangka bahwa perkenalan sederhana itu akan mengubah hidupnya secara drastis. Kehadiran Vino membawa dinamika emosional yang penuh gejolak layaknya roller coaster. Kini, Luna harus menghadapi berbagai badai persoalan yang datang silih berganti dan menentukan apakah ia akan menyerah atau terus berjuang.