Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Rahim Yang Mengkhianati

Rahim Yang Mengkhianati

Rafif hancur saat dokter memvonisnya mandul, memupus harapannya menjadi ayah. Namun, kejutan datang ketika Lina, istrinya, tiba-tiba mengumumkan kehamilan. Di tengah kebingungan itu, sang ibu muncul membawa bukti foto Lina bersama lelaki lain yang memicu kecurigaan besar. Rafif kini terjebak dalam pusaran pengkhianatan dan misteri. Apakah istrinya benar-benar berselingkuh, atau ada rahasia gelap lain di balik kehamilan yang mustahil ini?
Bab
Bagikan

Bab 2

Pagi itu, Rafif bangun dengan perasaan campur aduk. Meski matahari sudah menyinari kamar, hatinya terasa gelap. Malam sebelumnya, ia tak tidur nyenyak. Setiap kali menutup mata, bayangan Lina bersama pria lain kembali muncul, membuat dada Rafif sesak.

Ia berdiri dari tempat tidur, menatap Lina yang masih terlelap di sisi ranjang. Wajahnya lembut, bibirnya tersenyum kecil dalam tidur. Rafif menatapnya lama-lama, merasa bingung. Ada cinta yang dulu tak pernah pudar, tetapi kini tertutup rasa curiga dan sakit hati. Hatinya terbelah, antara ingin memaafkan dan ingin menjauh.

Rafif pergi ke dapur tanpa sepatah kata pun. Ia membuat kopi, duduk di kursi dengan tangan menopang kepala, memikirkan semua yang terjadi. Foto-foto itu terus menghantui, namun satu pertanyaan tetap menempel di pikirannya: Siapa pria itu? Apa benar Lina selingkuh?

Ia memutuskan untuk bertanya pada Lina, meski suaranya tahu, konfrontasi ini akan menimbulkan pertengkaran.

Lina masuk ke dapur, rambutnya masih acak-acakan, wajahnya kusut karena tangisan semalam. Ia tersenyum lemah ketika melihat Rafif, tapi senyum itu tak sampai ke matanya. "Selamat pagi... Rafif," ucapnya pelan.

Rafif menatapnya tajam. "Lina... kita harus bicara. Sekarang."

Lina menelan ludah, hatinya berdebar. Ia tahu hari itu akan datang-hari dimana Rafif menuntut jawaban. "Baik... aku siap," jawabnya, suaranya bergetar.

Rafif menarik kursi, duduk di hadapan Lina. "Siapa pria itu, Lina? Aku ingin tahu semuanya. Jangan ada yang kau sembunyikan lagi."

Lina menunduk, menahan air mata. "Rafif... aku... aku bisa jelaskan. Aku tidak berselingkuh. Itu bukan apa yang kau pikirkan."

Rafif menatapnya dengan mata tajam, penuh curiga. "Kalau bukan selingkuh... maka jelaskan! Kenapa ada foto-foto itu?"

Lina menelan ludah, mencoba mengumpulkan keberanian. "Pria itu... itu teman lama ayahku. Dia datang dari luar kota beberapa minggu yang lalu, dan aku... aku bertemu dengannya untuk membahas beberapa urusan keluarga. Itu saja. Tidak ada yang lebih dari itu, Rafif. Aku berjanji."

Rafif memandangnya lama. Ada sesuatu di wajah Lina yang tampak jujur, tapi bayangan rasa sakit di hatinya menutup segalanya. "Kau mengira aku bodoh, Lina? Dokter bilang aku tidak bisa punya anak. Dan sekarang kau hamil. Apa kau pikir aku akan percaya begitu saja?"

Lina menunduk, menutup wajahnya dengan tangan. "Aku... aku tidak tahu harus bagaimana, Rafif. Aku juga kaget ketika tahu aku hamil. Aku janji... aku setia padamu."

Rafif diam sejenak. Kata-kata Lina terdengar tulus, tapi hatinya masih tercabik-cabik. Ia merasa dunia berputar di luar kendali. Ia ingin memeluk Lina, tapi takut kepercayaan yang retak semakin hancur.

Hari itu, Rafif memutuskan untuk menyelidiki lebih jauh. Ia mulai menghubungi teman-teman lama Lina, mencoba mencari tahu siapa pria itu. Ia bahkan menelusuri pesan-pesan dan email, mencari tanda-tanda kecurangan. Namun setiap jawaban yang ia dapatkan hanya menimbulkan pertanyaan baru. Tidak ada bukti nyata bahwa Lina berselingkuh, tapi bayangan foto-foto itu terlalu nyata untuk dihapus begitu saja dari pikirannya.

Sementara itu, Lina merasa semakin tertekan. Ia merasakan jarak yang semakin melebar antara dirinya dan Rafif. Setiap kali ia mencoba mendekat, Rafif menarik diri, menimbulkan luka yang tidak ia pahami. Ia merasa lelah, tetapi cintanya pada Rafif terlalu kuat untuk dilepaskan.

Beberapa hari berlalu, ketegangan di rumah itu semakin memuncak. Rafif menjadi pendiam, jarang berbicara, dan selalu tampak sibuk dengan urusannya sendiri. Lina berusaha tetap tenang, menjaga sikap, dan berusaha menunjukkan bahwa ia hamil anak Rafif. Namun, setiap kali Rafif melihatnya, keraguan tetap menempel di mata suaminya.

Suatu malam, Rafif duduk di ruang kerjanya, menatap laptop dan foto-foto yang sudah dicetak. Ia mencoba menganalisis semuanya dengan logika, mencoba memahami apakah ada kesalahan yang ia lewatkan. Ia menyadari satu hal: hatinya tidak ingin percaya, tapi ia juga tidak ingin kehilangan Lina.

Di sisi lain, Lina duduk di kamar, menulis di buku hariannya. Ia menuangkan semua perasaannya: ketakutan, kesedihan, cinta, dan rasa bersalah yang begitu berat. Ia menulis tentang kehamilannya, tentang rasa cintanya pada Rafif, dan tentang ketidakadilan yang ia rasakan karena foto-foto itu membuat semuanya menjadi salah paham.

Hari-hari berikutnya, ketegangan itu mulai memengaruhi hubungan mereka dengan orang lain. Ibu Rafif semakin sering menekan Rafif untuk mengambil keputusan, sementara keluarga Lina khawatir bahwa hubungan mereka akan hancur. Teman-teman dekat mereka mencoba menengahi, tapi jarak emosional antara Rafif dan Lina terlalu besar untuk dijembatani dengan kata-kata.

Suatu sore, Rafif menerima telepon dari seorang teman lama Lina. Teman itu memberinya informasi yang lebih jelas tentang pria dalam foto itu. Ternyata pria itu adalah seorang pengusaha yang bekerja sama dengan ayah Lina dalam proyek sosial. Mereka bertemu untuk membicarakan sumbangan dan kegiatan amal. Tidak ada hubungan romantis apapun, sama sekali.

Rafif menatap teleponnya, jantungnya berdetak kencang. Informasi ini seharusnya membuatnya lega, tapi rasa sakit yang sudah tertanam terlalu dalam. Ia merasa malu karena sudah menuduh Lina berselingkuh, namun hatinya juga tidak tahu bagaimana memaafkan dirinya sendiri dan Lina.

Ketika Rafif pulang malam itu, ia melihat Lina sedang duduk di ruang tamu, menatap jendela. Ia berjalan pelan, duduk di sebelahnya, dan hanya menatapnya dalam diam. Lina menoleh, matanya berkaca-kaca, berharap Rafif akan berkata sesuatu.

Rafif akhirnya menarik napas panjang. "Lina... aku... aku baru tahu semuanya. Ternyata... pria itu hanya teman ayahmu. Aku... aku minta maaf." Suaranya serak, penuh emosi yang ia tahan selama beberapa hari terakhir.

Lina menatapnya dengan air mata mengalir. "Rafif... aku sudah bilang. Aku tidak pernah selingkuh. Aku hanya ingin kau percaya padaku."

Rafif menggenggam tangan Lina. "Aku... aku ingin percaya, Lina. Tapi ini sulit... aku takut kehilanganmu, takut dibohongi lagi."

Lina tersenyum lemah, menggenggam tangan Rafif lebih erat. "Aku juga takut kehilanganmu, Rafif. Aku hamil anak kita... dan aku ingin kita bisa melewati ini bersama."

Malam itu, mereka duduk berdua dalam diam, tapi untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, ada rasa tenang yang muncul. Tidak banyak kata yang terucap, tapi kehadiran satu sama lain memberikan secercah harapan.

Namun, kedamaian itu hanya sementara. Rafif sadar, rasa curiga dan luka yang tertanam terlalu dalam tidak akan hilang begitu saja. Ia harus menemukan cara untuk memulihkan kepercayaan, sementara Lina harus membuktikan cintanya yang tulus.

Hari-hari berikutnya, Rafif mulai mencoba membuka diri. Ia mencoba berbicara dengan Lina lebih sering, meski masih ada jarak di antara mereka. Ia mulai memahami bahwa cinta tidak hanya tentang kepercayaan, tapi juga tentang kesabaran, pengorbanan, dan kemampuan untuk memaafkan.

Lina, di sisi lain, mulai merasakan perubahan pada dirinya. Ia lebih berhati-hati dalam bersikap, lebih terbuka dengan Rafif, dan berusaha menunjukkan bahwa ia selalu berada di sisinya. Kehamilan itu menjadi titik awal baru, sebuah kesempatan untuk memperbaiki hubungan yang hampir hancur.

Namun, Rafif tahu, perjalanan mereka masih panjang. Kepercayaan yang retak tidak bisa pulih dalam semalam. Ia harus menghadapi rasa sakitnya sendiri, menghadapi bayangan masa lalu, dan belajar mempercayai Lina lagi.

Sementara itu, Lina harus menghadapi tekanan dari keluarga, teman, dan lingkungan sekitar. Ia harus membuktikan bahwa cintanya tulus, bahwa ia tidak berselingkuh, dan bahwa anak yang dikandungnya adalah simbol harapan baru bagi keluarga mereka.

Malam itu, Rafif dan Lina tidur dalam kamar yang sama. Mereka tidak berbicara banyak, hanya berada di dekat satu sama lain. Rafif menatap Lina yang tidur dengan damai, dan untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan ini terjadi, ia merasakan sedikit harapan.

Harapan itu kecil, rapuh, tapi cukup untuk memulai perjalanan panjang menuju kepercayaan, pengampunan, dan cinta yang lebih kuat.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Banyu-2 tak tergenggam dan yang lepas.
9.2
Banyu menerima surat misterius yang menyatakan dirinya terpilih sebagai avatar setelah pengamatan enam bulan oleh tim rahasia. Meski bingung dan curiga, ia diminta datang ke Jalan Lembayungkuning No. 17, tepat di samping kantor MNG Group, untuk mendapatkan penjelasan lengkap melalui sesi wawancara. Didorong rasa penasaran sekaligus takut, Banyu akhirnya memutuskan memenuhi panggilan tersebut. Keputusan nekat ini menjadi awal mula petualangan besar dalam hidupnya.
Sampul Novel Dosa Yang Indah - Zina
8.8
Zina lahir dari rahim seorang wanita yang penuh noda masa lalu. Sebagai anak yang tercipta dari perbuatan terlarang, ia tumbuh di tengah penderitaan hidup yang tiada henti. Sang Ibu, yang menyimpan luka mendalam akibat siksaan seorang pria, bertekad melakukan segalanya demi membalas dendam. Dalam kisah romansa modern ini, Zina menjadi simbol dari dosa indah sekaligus alat untuk menuntaskan amarah ibunya terhadap sosok yang telah menghancurkan mereka.
Sampul Novel Gairah Liar Sugar Mommy
9.1
Cantika Paramitha, wanita karier berusia 36 tahun, kerap dicibir karena status lajangnya. Hidupnya berubah saat Arsenio Gunadharma, pemuda 25 tahun lulusan Oxford, hadir menggantikan ayahnya sebagai sekretaris. Pesona Arsen yang cerdas dan tampan memicu gairah tak terduga dalam diri Cantika. Meski terpaut usia jauh, ketertarikan di antara mereka berujung pada pernikahan. Namun, Arsen menyimpan rahasia besar tentang identitas aslinya yang akan mengejutkan keluarga Cantika.
Sampul Novel Hasrat Sang Guru
9.7
Vidwan Surya, seorang praktisi yoga dan dosen Sansekerta, sangat dihormati oleh mahasiswanya. Pertemuannya dengan Grisse Anggara, mahasiswi pendiam pecinta bahasa kuno, memicu obsesi tersembunyi. Grisse yang polos merasa nyaman atas perhatian Vidwan, tanpa menyadari bahwa sang guru memiliki hasrat mendalam untuk memilikinya. Saat benih cinta mulai tumbuh, Grisse mulai meragukan perasaannya. Apakah itu cinta tulus, atau sekadar nafsu yang menyelimuti hubungan mereka?
Sampul Novel Hubungan Sebatas Ranjang
8.1
Jonathan Prawira Maulana adalah CEO Maulana Grup yang jenius dalam bisnis namun buta soal asmara. Kesibukannya membuat orang tua Jo khawatir hingga mereka berencana menjodohkannya dengan anak rekan bisnis. Jo menolak keras rencana tersebut, namun ia justru terjebak syarat berat. Ia hanya punya waktu satu bulan untuk memperkenalkan calon istri pilihannya sendiri. Jika gagal, ia harus menerima perjodohan itu tanpa syarat. Mampukah Jo menemukan cinta dalam waktu singkat?
Sampul Novel Istri Rahasia CEO
9.5
Abia tak pernah menyangka nasibnya akan berubah drastis setelah merusak mobil mewah milik bosnya yang dingin. Arya, sang CEO duda beranak satu, memberikan tuntutan berat: Abia harus membayar ganti rugi selangit atau bersedia menikah dengannya. Terjepit masalah finansial, Abia terpaksa menerima tawaran gila tersebut. Kini, ia harus menghadapi tantangan besar tinggal seatap dengan pria galak yang selama ini ia hindari di kantor demi melunasi utangnya.