Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Rahim Lima Ratus Juta

Rahim Lima Ratus Juta

Demi imbalan ratusan juta, seorang wanita setuju menjadi ibu pengganti bagi pria kaya. Namun, peringatan keras menyertainya: ia dilarang mencintai janin di rahimnya agar perpisahan nanti tidak terasa berat. Begitu bayi lahir, sang ayah akan segera membawanya pergi tanpa memberi kesempatan untuk melihat wajah sang anak. Pernikahan kontrak ini dirancang agar mereka menghilang sepenuhnya dari hidupnya seolah-olah pertemuan itu tak pernah terjadi.
Bab
Bagikan

Bab 1

"Hanya sampai kau memiliki anak, Jihan. Itu tidak akan lama. Satu tahun lagi kau akan kembali lagi ke sini."

Satu tahun. Itu akan menjadi waktu yang sangat panjang. Bagaimana mereka katakan itu takkan lama? Kupandangi wajak Mak Tuah dan Tek Ida bergantian, sudah nyaris satu bulan ini mereka membujukku.

"Aku ...."

"Dengar, orang itu akan datang esok pagi. Kau harus bersiap. Mamak tidak ingin kau membantah."

"Hanya satu tahun, lalu semua akan baik-baik saja." Tek Ida mengusap rambutku perlahan, kepura-puraan begitu kentara ketika tangan itu menyentuh rambutku.

"Untuk apa uang seratus juta itu?" Aku menatap hampa ke luar jendela rumah, yang menampilkan pesona alam nan memukau.

"Untuk menebus semua harta yang telah tergadai akibat membesarkanmu." Suara Tek Ida berubah ketus. Benar, wanita paruh baya yang terpaksa merawatku dari kecil ini sangat pandai berpura-pura.

Harta, entah harta yang mana yang telah kuhabiskan. Bisa dikatakan aku besar dari belas kasihan orang.  Selalu saja ada orang yang datang tiap minggu, entah itu mengantar beras atau kebutuhan lainnya, dan kini mereka mengkambing hitamkanku atas semua harta yang tergadai.

"Aku akan bekerja, akan kubayar uang Mamak dan Etek yang sudah terpakai olehku, tapi bukan cara seperti ini."

"Jangan bertingkah, Jihan! Apa pekerjaan yang akan kau dapatkan, kau hanya menamatkan SMP! Bekerja di mana, menjual diri!" gertakan Mila membuatku semakin beku, aku sudah sangat biasa dengan suara keras dan makiannya. Anak sulung Mak Tuah ini, lebih tega dari siapapun di rumah ini.

"Aku akan bekerja," desisku menggigit bibir, memutar otak mencari pekerjaan apa saja.

"Sudah, tidak ada pertengkaran atau penolakan lagi. Besok orang itu akan datang. Kau harus bersiap!"

Aku memejamkan mata, memeluk lutut erat, suara Mak Tuah adalah final. Terdengar  langkah kaki meninggalkan kamarku lalu pintu yang ditutup keras.

Air mataku jatuh, tidak menyesal. Aku tidak pernah menyesali apa pun. Bagiku semua yang terjadi adalah jalan takdir yang telah tertulis. Hanya saja kadang aku tak bisa menahan sesuatu yang pedih di dalam dada, menyesakkan. Hingga aku harus meneteskan air mata.

Baiklah, kuceritakan awal ide buruk ini menghampiri Mak Tuah. Beberapa minggu lalu, seorang laki-laki bertubuh subur datang ke rumah, dan menawarkan sesuatu yang sangat buruk pada Mak Tuah. 

Aku tidak terlalu terkejut kenapa Mak Tuah langsung menawarkanku. Dari dulu, semenjak Ibu meninggal dia selalu mencari celah untuk mencampakkanku. Namun, tidak berhasil. Aku cukup diperhatikan di kampung ini, anak yatim yang malang. Sehingga Mak Tuah tak pernah berhasil dengan semua rencana jahatnya.

Tetapi kali ini rencana mereka untuk menyingkirkan akan terlaksana. Beliau akan mengumumkan bahwa aku akan bekerja di kota. Lalu aku menghilang, entah sampai kapan.

Aku tidak punya seseorang untuk berbagi, aku memang tidak suka bercerita pada siapapun. Jadi, kali ini mereka akan berhasil.

Aku tidak bisa membayangkan seperti apa orang itu. Apakah sudah tua atau cacat? Sehingga harus mencari wanita lugu di perkampungan untuk melahirkan anaknya.

Tetapi siapapun, mungkin kami bisa berteman. Mengingat melahirkan seorang anak berarti harus menikah dulu, dan aku akan menikah dengan orang asing.

Di usia delapan belas tahun, aku belum pernah menjalin hubungan dengan laki-laki manapun. Apa lagi membayangkan menikah. Almarhum Ibu pernah memberi petuah tentang pernikahan saat itu aku berumur enam tahun, beberapa bulan sebelum dia meninggal, tentang tanggung jawab besar menjadi seorang istri. Dan itu tidaklah mudah.

Aku menenggadahkan kepala, menatap langit-langit kamar. Benarkah malam ini malam terakhir aku di sini? Benarkah waktu itu hanya satu tahun dan semua akan selesai?

Azan magrib berkumandang dari masjid dekat rumah, aku bergegas menutup jendela kamar. Melangkah ke kamar mandi dan berwudhu. Satu-satunya tempat pulang adalah padaNya. Hanya padaNya aku menceritakan semua. 

Setelah memakai mukena aku kembali mengintip di celah jendela. Memperhatikan teman-teman sebaya shalat berjamaah di masjid. Aku rindu ingin ke sana juga, tapi tidak boleh. Mak Tuah melarang, mungkin beliau takut aku memiliki teman. Seperti dicerita-cerita dongeng, aku tidak pernah membantah Mak Tuah. Entahlah, aku memang tak menyukai pertentangan.

Selesai shalat dan bermunajat, aku ke luar kamar. Menuju meja makan, menikmati makanan sisa yang telah disediakan. Aku tak pernah diizinkan makan satu meja dengan keluarga Mak Tuah, kecuali jika ada tamu. Ya, Mak Tuah selalu kelihatan menyayangiku di depan orang-orang, meskipun itu tidak tapi aku tak berniat menceritakan cerita sedih ini pada siapapun.

Selesai makan aku membereskan piring dan langsung mencucinya. Lalu melangkah ke ruang keluarga. Pemandangan seperti biasa terlihat, keluarga bahagia. Lengkap, sepasang anak yang sudah hampir menginjak dewasa, dengan orang tua yang begitu menyayangi. Hanya ini yang membuatku iri. Hanya ini yang mampu mengusik keikhlasan betapa cepatnya Ayah dan Ibu dipanggil yang maha kuasa.

"Ada apa, tidur sana!" Mila yang pertama menyadari kehadiranku dia menatap sinis.

"Ingin gabung? Susul ayah dan ibumu ke dalam kubur," potong Rudi terbahak.

Aku menelan ludah yang terasa pahit. Aku mengerjapkan mata, berusaha mengusir kabut yang hendak mengalami pandangan. Kalau saja bunuh diri itu sah dalam agama, sudah kususul Ayah dan Ibj jauh-jauh hari.

"Kapan orang itu akan menikahiku, Mak?" Suaraku yang serang terdengar nyaring, membuat semua orang itu menatap ke arahku dengan keterkejutan yang nyata. Kemudian tawa mengejek Mila dan Rudi memenuhi ruangan keluarga.

"Nikah? Mimpi!" Rudi memegangi perutnya dan terus tertawa.

"Tidak akan ada pernikahan, Jihan." Suara Mak Tuah menghentikan tawa Mila dan Rudi. Mak Tuah menatap ke arahku tajam.

"Tapi ...."

"Orang itu hanya membutuhkan anak, bukan istri. Kau mengerti maksudku?"

Aku menggeleng, bagaimana memiliki anak tanpa menikah. Astaga, apakah orang itu akan mengajakku berzina? Bisa kurasakan darah surut dari wajahku, menggelengkan kepala cepat. Aku takkan memasuki lobang dosa itu.

"Ya, kau akan melahirkan anaknya tanpa menikah. Tidak akan ada orang yang tahu ...."

"Tuhan tahu, Mak! Tuhan tahu segalanya! Aku takkan melakukan dosa itu!" jeritku.

Ayah dan Ibu akan masuk neraka karena dosaku. Mereka berdua akan menyesal memiliki anak sepertiku. Jadi, aku takkan melakukan itu, tidak tanpa pernikahan.

"Kamu jangan aneh-aneh, Jihan. Mana ada orang kota kaya raya yang mau menikahi wanita kampung sepertimu. Meskipun dia bandot tua itu takkan terjadi. Sudahlah terima saja takdirmu," tekan Tek Ida.

"Aku tidak akan berzina untuk memberikan siapapun anak," geramku memutar tubuh dan melangkah masuk kamar. Rasanya tenaga tercabut habis dari ragaku, kenapa kenyataan begitu semengerikan ini?

"Jangan coba-coba bertingkah, atau aku akan kujual kau  ke rumah kuning kampung sebelah!" Tek Ida menyentakkan tanganku hingga kembali menghadap padanya. Mataku membulat tak percaya dengan apa yang dia katakan. Rumah kuning adalah tempat wanita yang menjajakan dirinya secara diam-diam. Penghuninya rata-rata janda genit. Tidak tersentuh hukum, kabarnya rumah itu milik seseorang yang berpengaruh.

"Etek takkan berani," tantangku.

"Jangan mengujiku, akan kuantar kau ke sana malam ini." Lalu tangannya menyeretku.

"Lepaskan!" 

"Jangan membantahku, Ayo, Pak. Kita antar saja dia ke rumah kuning itu!" Tek Ida berseru pada Mak Tuah dengan terus menyeretku ke luar.

"Tidak! Tidak!" Aku mencoba melepaskan diri ketika dipaksa naik mobil Avanza yang baru saja dibeli Mak Tuah dari hasil penjualan tanah tapi tak berhasil.

Tak berapa lama kemudian mobil sudah meluncur melewati jalan desa. Dari kejauhan rumah kuning itu sudah jelas, lampu temaram terasnya membuatku merinding. Tel Ida tak main-main, dia ingin menjualku. Ke mana semua orang malam ini, kenapa tak ada yang melihatku. Ya Allah ....

"Baik, baik! Aku akan memberikan anak pada orang itu, bawa aku pulang!"

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bayiku dibunuh Pelakor, Suamiku Tak Peduli
9.2
Novel romantis miliarder bernuansa misteri ini mengisahkan akhir tragis seorang istri yang keguguran dan meregang nyawa di rumah sakit Grup Dariawan akibat didorong oleh cinta pertama suaminya. Di saat-saat terakhirnya, sang suami, Ridwan, justru bersikap dingin dan menuduhnya berpura-pura demi mencari perhatian. Ridwan bahkan mengabaikan tangisan putra mereka yang terluka, melarang dokter merawat istrinya, dan mengusir anak kandungnya demi melindungi Mariana. Kekejaman tanpa belas kasihan ini berakhir dengan kematian ibu dan anak yang tragis.
Sampul Novel CEO Dingin Itu Penyelamatku
7.8
Embun terjebak dalam pernikahan yang menyiksa. Alih-alih kasih sayang, Putra justru menciptakan neraka karena hatinya terpaku pada wanita lain yang sudah Embun anggap kakak sendiri. Meski telah berkorban demi meraih cinta sang suami, perjuangan Embun selalu dipandang sebelah mata. Luka hatinya kian dalam saat Putra menyebut nama wanita itu usai mereka berhubungan intim. Di tengah kepedihan ini, mampukah Embun tetap bertahan saat kehadirannya tak lagi dianggap?
Sampul Novel CEO Itu Ayah Dari Anakku!
8.6
Risa, gadis desa yang mencari orang tuanya di kota, justru dikhianati teman dan dijual hingga berakhir menghabiskan malam bersama CEO muda, Arjuna. Hubungan singkat itu menghasilkan kehamilan yang mengancam reputasi sempurna Arjuna. Di tengah perbedaan kasta sosial dan intrik keluarga yang rumit, Arjuna terjebak antara menjaga citra atau melindungi Risa. Akankah cinta tumbuh di balik skandal besar ini, ataukah status sosial menghancurkan segalanya?
Sampul Novel Dosa Terindah
8.7
Andika, putra konglomerat, rela melepas segalanya demi Lisna meski ditentang keras oleh orang tuanya. Pengorbanannya berujung getir saat takdir memisahkan mereka. Bertahun-tahun kemudian, mereka bertemu kembali dalam situasi yang menyakitkan: Lisna telah menjadi milik pria lain. Meski begitu, Andika tidak menyerah dan terus memperjuangkan cintanya. Akankah takdir menyatukan mereka dalam ikatan sejati, ataukah mereka memang tidak ditakdirkan bersama?
Sampul Novel Istri Dadakan Presdir
9.0
Salsabila Ayu Hanifa mengadu nasib ke Jakarta demi mengubur masa lalu kelam. Namun, takdir menyeret gadis desa ini ke dalam pernikahan tanpa cinta dengan Raditya Wijaya. Sebagai pengusaha dingin dan acuh, Radit justru memperlakukan istrinya sendiri layaknya seorang pembantu. Di tengah tekanan batin, mampukah Salsa melunakkan hati suaminya dan diakui sebagai istri seutuhnya, ataukah mahligai rumah tangga mereka akan berakhir dengan kegagalan total?
Sampul Novel Kembar Manis: Memuaskan Diri dalam Cinta Ayah
8.1
Demi biaya operasi sang ibu, Ningsih rela mengandung anak dari pria asing. Lima tahun berselang, ia kembali sebagai dokter anak sukses dan bertemu Charles, pria misterius dari masa lalunya yang membawa seorang putra. Kejutan tak berhenti di sana, seorang pria lain muncul membawa bayi perempuan yang diklaim sebagai darah daging Ningsih. Di tengah pusaran rahasia lama yang mulai terkuak, mampukah Ningsih menghadapi takdir rumit yang menantinya?