
Rahasia
Bab 2
"Oh?"
Lea tentu tidak menyadari kalau ternyata ada orang di belakangnya. Saat Lea menoleh, seketika jantung Lea berdegup kencang. Dia menjadi panik. Pria berwajah masam itu menatapnya dengan kesal. Elver adalah pria yang tadi masuk ke dalam elevator bersamanya!
Lea menepuk dahinya.
"Pak Elver, kenapa kemejanya?" Ekspresi Tira kebingungan. Dia melihat noda merah di kemeja Elver.
Elver hanya tertawa sinis. "Aku baru saja dapat musibah. Seseorang yang bodoh dan ceroboh menumpahkan sesuatu ke kemejaku," Elver menyipitkan matanya, menghadang luapan emosinya. Sorot kebencian itu seakan-akan menyorongkan kesalahan ini kepada Lea. Lea hanya menggaruk dahinya, dia pun tidak akan mengira kalau lipstik itu bisa terselip dari tangannya.
"Ya, ampun. Tunggu sebentar, Pak Elver, coba saya cari pinjaman jas dulu." Tira bergerak keluar ruangan, menuju elevator meninggalkan Lea dan Elver berduaan di depan ruang rapat.
Elver menegakkan punggungnya di hadapan Leanna, gurat wajahnya mengeras, seakan-akan menantang Lea. Lea tidak bergeming untuk membalasnya, tetapi dia tidak takut. Lea hanya memaksakan dirinya untuk tersenyum.
"Kamu tidak meminta maaf?" Suaranya meninggi.
Lean membesarkan matanya. Logat bicara pria ini sedikit aneh. Ah? Lea masih tidak mengerti. "Aku sudah meminta maaf tadi. Apa kamu tuli?" pungkas Lea.
"Cih, kalau sampai aku bermasalah dengan pak Kalandra hanya karena noda merah ini. Aku akan memberi pelajaran kepadamu!" Elver menekan suaranya. Ujung tatapannya meledak-ledak, mata Almond itu jelas memegarkan kekesalannya.
"Lalu? Memangnya kamu tidak tahu aku ini siapa?" Lea melipat tangannya. Ya, anak mudah ini hanyalah anak kemarin sore yang... Tentu saja tidak baik mengatur emosinya. Seharusnya dia mengerti arti dari ketidak sengajaan. Apalagi dirinya adalah atasan pria pemarah ini.
Bola mata Elver bergerak, dia menatap perempuan yang sedikit berantakan itu. Matanya merayap turun dan membaca ID Card milik Leanna yang terkalung.
Manager?
"Oh, tante tua... Wajar saja kamu begitu ceroboh. Rupanya syarafmu mulai banyak yang terjepit." Elver mencetus ejekannya, dia tidak takut dengan Leannam
What? "A... Apa kamu bilang?" Lea langsung membalasnya dengan bernada tinggi. Dia sampai mengepalkan tinjunya.
"... Tante... Leanna..." Sebutnya lagi.
"Kurang ajar!" Lea jelas tidak suka dengan tingkah Elver. Apalagi dengan logat bicaranya yang aneh, sok bule!
"Siapa yang kurang ajar? Ini semua gara-gara lipstik sialanmu itu! Aku jadi ditertawakan orang satu gedung ini!" Elver menunjuk wajah Lea, ekspresinya sangat marah.
"Hei! aku benar-benar tidak sengaja!"
Suara elevator terdengar, membuat mereka menjauhkan jarak mereka. Mereka lalu bertingkah biasa saja, seakan-akan tidak pertengkaran.
Tira datang terburu-buru, dia membawakan Elver sebuah Jas pinjaman. Elver sangat lega melihat uluran jas hitam itu, walau pun tidak bisa menutup semua noda merah di kemejanya, setidaknya penampilannya terlihat lebih baik.
"Terima kasih..." ucapnya kepada Tira. Wajah Elver mulai santai.
"Sebentar lagi, Pak Kalandra akan datang..." Tira membukakan pintu ruangan untuk mereka. "Silahkah, masuk..." Elver langsung menerobos masuk ke dalam ruangan, dia sengaja menabrak bahu Leanna dengan keras.
"Si kampret," desis Leanna.
"Ada apa, Bu?" Tanya Tira mendengar celetukan Lea.
"Ti... Tidak apa-apa. Ehem!" Lea memaksakan dirinya tertawa. "Apakah pak Kalandra akan segera kemari?" Lea mengikuti langkah Tira yang masuk ke dalam ruangan.
"Iya, beliau akan segera kemari," Tira memeriksa ponselnya.
Lea mendudukkan dirinya di depan Elver. Pria muda itu tampak tidak memperdulikannya atau menunjukkan rasa hormatnya. Pria berkulit putih itu, masih saja sibuk dengan ponselnya. Dasar, tidak tahu sopan. Padahal jelas-jelas Leanna lah yang punya kedudukan lebih tinggi. Kalau begini sudah jelas, mereka tidak akan akur bekerja jika disatukan dalam satu tim!
"Selamat siang..."
Suara Pak Kalandra terdengar dari arah pintu. Elver segera berdiri, begitu pula Leanna.
"Pak Kalandra..." Leanna mengulurkan tangannya, menyalami sang Direktur.
"Leanna. Sudah lama kita tidak bertatap muka," Kalandra menyambut tangan Lea dengan hangat.
"Oh, lihat anak muda ini. Kamu benar-benar sangat gagah sekarang." Wajah Kalandra cerah, menangkap penampakan keponakannya. Dia senang dan menepuk-nepuk bahu Elver. Elver hanya tertawa.
Lea memincingkan matanya, menunjukan ekspresi mengejek mendengar pujian pimpinan perusahaannya itu.
"Bu Leanna, ini Elver Ra Said. Keponakan saya. Dia yang akan kita wawancara terakhir hari ini," ucap Kalandra. Lea mengangguk, hanya menyungging senyum tipis.
"Silahkan.. Mungkin, kita langsung saja?" Kalandra melihat jam di tangannya dan mempersilahkan mereka untuk kembali duduk.
"Iya, pak Kalandra," sahut Lea. Dia sekali lagi melirik sinis ke arah Elver merapikan jas hitamnya. Wajahnya tidak terlihat tegang.
"Pak Elver, perkenalkan ini adalah Bu Leanna yang memiliki banyak sekali prestasi dalam memajukan bisnis perusahaan ini. Dia bekerja dengan tekun dan berhasil menembus tender besar kelapa sawit ke Eropa yang sulit." Tira memperkenalkan Leanna dengan suara yang jelas. "Saat ini Ibu Leanna adalah manajer tertinggi di kantor cabang di daerah Tenggarong. Sesuai rapat top manajemen yang sudah di sepakati, Pak Elver yang akan mengisi kursi wakil manager di sana."
Elver tidak berekpresi apa pun mendengar perihal Leanna. Dia hanya menyimak, baginya wanita berantakan yang duduk di depannya ini tidak relevan dengan prestasinya. Dia bisa sudah menandai Leanna sebagai wanita yang sembrono.
"... Kami akan mewawancarai Pak Elver, sesuai ketentuan yang berlaku," sambung Tira sambil memberikan map kepada Pak Kalandra dan Leanna.
Leanna memandangi map itu. Dia sudah tahu... ini hanyalah formalitas.
"Bu Leanna ini adalah CV yang sudah dikirimkan oleh Tira melalui Email. Mungkin ada yang perlu ditanyakan?" tanya Kalandra.
Leanna melirik Pak Kalandra yang tampak santai. Dia tersenyum datar menatap Elver. Bukankah dia terlalu mudah dan kurang berpengalaman untuk langsung duduk di kursi jabatan terbaik!
"Selamat datang, Tuan Elver... Sebelumnya, perkenalkan namamu dan umurmu..." Leanna mengkaitkan tangannya. "Lalu.. Melihat latar belakang pengalamanmu. Kamu pernah membangun dan menjalankan startup yang mungkin tidak cukup bagus karena tidak ada kaitannya dengan lingkup perusahaan ini," sambung Lea. Langsung pada intinya.
"Oh..." Kalandra hanya menaikkan bahunya. Tapi dia akan membiarkan Elver menjawab pertanyaan Leanna.
"Saya Elver Ra Said, 23 tahun. Benar, sebelumnya saya pernah memimpin sebuah tim ketika saya berbisnis di New York. Saya harus belajar banyak hal, dan semuanya berjalan dari nol. Manusia mempunyai otak dan dari ketidak tahuan saya... Di setahun berikutnya, kami mendapatkan kesuksesan sampai menembus angka US$ 2,28 miliar atau 13,8 triliun, kurs 14.369 rupiah. Saya rasa, saya lebih pantas untuk duduk di kursi manajer marketing." Elver tersenyum dingin menatap, Lea yang membesarkan matanya. Elver langsung menembak untuk mengincar posisinya, langsung di hadapan pak Kalandra!
"... Well..." Lea mengingatkan dirinya untuk menahan dirinya, agar tidak membalas Elver.
"Lalu... Kenapa kamu tidak membuat startup saja di Indonesia? Bukankah lebih menjanjikan," ucap Lea. Tentu saja, insting Lea mencurigainya.. sangat aneh seorang enterpreneur sukses dengan penghasilan uang yang berlimpah, tiba-tiba saja beralih menjadi seorang karyawan dengan gaji 5 juta sampai 8 juta rupiah!
"Elver memang diminta pulang ke Indonesia karena permintaan keluarganya. Saat ini, dia tidak memiliki teman di Indonesia. Sementara.... Dia bekerja denganku " sahut Kalandra. Elver menatap Kalandra. Kalandra tampak menggelengkan kepalanya, pelan. Elver paham.
"Oh, berarti perusahaan hanya batu loncatan?" Tanya Lea lagi.
"Saya hanya memerlukan pekerjaan yang baik," jawab Elver. Dia jelas tidak menyukai Leanna, baginya wanita ini tampak senang untuk memulai perdebatan.
"... Leanna, sepertinya kamu ragu jika Elver menduduki kursi wakil manajer mendampingimu?" tanya Kalandra.
"Saya hanya tidak yakin. Di umurnya ini, dia tidak punya pengalaman bekerja di bawah tekanan orang lain sebagai karyawan biasa. Menurut saya, lebih baik Elver duduk dahulu di bagian administrasi atau perlengkapan, dan terus naik ke tingkat jabatan secara bertahap. Mungkin 5 atau 6 tahun dia baru bisa duduk di kursi manajer seperti saya." Lea mengutarakan pendapatnya.
"Oh, jadi saya akan seperti anda menua sampai berumur 40 tahun untuk sukses? Anda sepertinya tidak bisa menerima anak muda untuk maju," pungkas Elver. Dia sedikit mengejek.
Lea tertawa. "Aku hanya memberitahumu... memang seperti itu aturan di kantor. Bahkan untuk bank saja, kamu harus mau duduk di bagian kasir sebelum naik menjadi manajer," balas Lea.
Kalandra menaikkan alisnya. Belum apa-apa, Leanna sudah berkonflik dengan Elver. Terlihat mereka sama-sama keras kepala, mungkin akan saling bersaing menjadi yang lebih unggul. Instingnya bermain, jelas mereka berdua adalah orang-orang yang hebat. Kalandra yakin mereka akan bisa bekerja memberikan yang terbaik.
"Sudah... sudah..." Kalandra malah tertawa. "Mulai minggu depan, Elver akan pindah ke Tenggarong, dia akan bekerja sama denganmu, Lea," sambungnya.
"Ta... Tapi pak...."
"Leanna... Aku sangat yakin kalian bisa bekerja sama dengan baik." Kalandra menepuk punggung Leanna.
"Kalau begitu, terima kasih atas kesempatan ini, Pak Kalandra." Elver menyahut sambil tersenyum.
"Kita memang punya rencana, memulai eksport kelapa sawit ke Amerika tahun depan... Cukup sulit... Semoga Kamu bisa mengurus tim ini dengan baik, Elver."
"Saya akan berusaha sebaik-baiknya, Pak." Elver yakin.
"Bu Leanna adalah atasanmu. Kamu bisa bertanya banyak hal kepadanya jika mengalami kendala atau kesulitan." Kalandra berdiri dan menyerahkan mapnya kepada Tira.
Elver tidak menjawab lagi.
Sedang Leanna hanya bengong, sepertinya interview ini sudah berakhir. Itu artinya Elver sialan ini positif akan mengisi posisi wakil di kantornya?
"Aku harus kembali.." ucap Kalandra mendekati Elver. Elver pun berdiri dan bersalaman dengan Kalandra.
"... Apa ini?" Kalandra menyibakkan jas yang dikenakan Elver, dia melihat noda merah yang menyebar di kemeja. Elver langsung menatap dingin ke arah Leanna.
"Ada wanita gila di gedung ini. Dia menumpahkan lipstik di kemeja saya, Pak Kalandra," jawab Elver. Mendengar Elver menyebutnya wanita gila, Lea kembali naik darah, padahal jelas-jelas dia tidak sengaja!
"Oh, permulaan yang bagus. Mungkin kamu sudah diberi tanda wanita itu sebagai miliknya," seloroh Kalandra diakhiri ketawa yang lumayan keras. Leanna dan Elver langsung bergidik.
"Hah?" Sialan! Mana mungkin! Batin Elver langsung merinding melihat Lea. Dia benar-benar tidak menyukai wanita ceroboh seperti Leanna. Apalagi dari penampilannya saja, Leana terlihat tidak waras
"Ha ha ha, Pak Kalandra selalu suka berbicara aneh," sahut Lea pun ikut pura-pura tertawa. Batinnya jelas menolak! dia langsung merasa alergi dengan pria muda dan angkuh ini!
"Kalau begitu, sampai jumpa Elver... Bu Leanna..." Kalandra keluar ruangan rapat, begitu pula dengan Tira.
Leanna dan Elver membalas lambaian tangan pak Direktur sambil tersenyum palsu. Setelah pintu tertutup, mereka berdua langsung membisu dan kembali menunjukkan ekspresi sinyal kebencian.
"... Sialan! Kamu hampir saja membuat semunya kacau!" Elver kesal dan membuka jas yang dikenakannya.
"Hahaha... " Lea tidak perduli, dia memilih mengambil ponselnya. "Baiklah, aku juga pergi," Lea segera berdiri.
"Heh! Kamu harus tanggung jawab dengan kemejaku!" Elver melempar wajah Lea dengan jas yang dipegangnya.
"Kamu tidak tahu sopan! hah? Aku ini atasanmu!" Lea juga kesal. Dia melempar balik jas ke arah Elver.
"Atasanku? Hei... Aku belum mulai untuk kerja. dan kamu harus ganti kemejaku!" Elver mendorong bahu Lea dengan kasar, sampai-sampai Lea merasa kesakitan.
Lea melotot... Elver memang serius meminta ganti kemejanya. "Aku ganti! Aku ganti! Jangan menyentuhku atau mendorongku dengan kasar!"
---
Leanna meringis melihat nota yang diberikan kasir. Demi Tuhan, dia tidak rela jika harus mengganti kemeja merek gambar kuda itu seharga Rp1.765.000,00. Batinnya menangis keras!
"Sepertinya aku apes hari ini." Lea menitikkan air mata penyesalan. Siapa yang mau memberikan barang semahal ini! Apalagi untuk pria kasar dan angkuh yang menuduhnya sengaja mengotori kemejanya!
"Ok. Ini kemejaku, kamu bisa membuangnya." Elver melemparkan tas berisi kemeja yang bernodanya ke kaki Leanna.
"Kamu..." Lea hampir saja meneriakinya. Kalau saja mereka di luar mall, sudah pasti Lea menamparnya dan menginjak lehernya dengan sepatu heels miliknya! Bukannya berterima kasih, pria kampret ini malah memperlakukannya seperti manusia rendahan!
Elver hanya berwajah ketus sambil merapikan kancing lengannya. Tanpa basa-basi, dia langsung meninggalkan Leanna tanpa sepatah kata.
---
Anda Mungkin Juga Suka





