Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Rahasia Sang Suami Muda

Rahasia Sang Suami Muda

Keysa Andini merasa terjebak saat ibu tirinya memaksa ia menikahi Steven, pemuda desa yang tampak tak punya masa depan. Meski berniat segera bercerai, Keysa justru menemukan kenyamanan tak terduga saat mulai tinggal bersama suaminya yang lebih muda itu. Keyakinannya goyah seiring terungkapnya sisi menarik Steven. Sebuah rahasia besar pun menanti, siap memberikan kejutan yang akan mengubah seluruh garis hidup dan masa depan Keysa selamanya.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Baru pertama kali ke Jakarta?" tanyaku, sekedar ingin membuat suasana sedikit mencair setelah seharian ini agak mengabaikannya.

Steven menoleh dan tersenyum padaku.

'Oh astaga, ayo bernapas Keysa... Oke baiklah, jantung? Aman...' Aku baru menyadari, selain tampan, dia memiliki senyum yang sangat memesona.

"Ya, ini pertama kalinya saya datang ke Jakarta," sahutnya sebelum kembali tersenyum, membuatku buru-buru mengalihkan mataku dari bibirnya.

'Astaga, yang benar saja! Bagaimana bisa ada pria yang tersenyum semanis ini?'

"Apa jalanan di Kalimantan tidak seramai ini?" tanyaku lagi seraya berusaha menjauhkan tatapan dari bibirnya.

"Di kotanya cukup ramai. Tapi tidak seramai ini. Dan...," ia mengernyitkan kedua alis sembari tersenyum aneh. "Jalanannya tidak berisik," lanjutnya.

"Tidak berisik? Bukankah semua jalanan pasti akan berisik kalau sedang ramai?" Aku tidak tahu dia ingin bercanda atau apa, yang pasti jawabannya membuatku bingung. 'Hmmm...'

"Tidak ada yang membunyikan klakson sesering ini." Sahut Steven sebelum akhirnya tersenyum kaku.

"Oh..."

Aku hanya bisa menanggapi dengan senyum kaku yang sama. Sepanjang hidup, aku cuma pernah pergi seputaran Jakarta, Bekasi, Tangerang, dan Bali. Jadi aku tidak bisa membayangkan jalanan padat kendaraan tanpa adanya keributan klakson.

'Di Bali yang tenang saja aku masih sering mendengar suara klakson,' kenangku.

Aku dulu kuliah di Bali dan seingatku jalanan di sana juga hanya sedikit lebih tenang saja dari jalanan di sini.

Taksi yang kupesan akhirnya tiba dan kami pun pulang menuju rumah pengantin baru kami.

Oh, ngomong-ngomong ibu tiriku membelikan kami sebuah rumah sederhana sebagai hadiah pernikahan.

Tidak... Sebenarnya tidak bisa disebut sebagai hadiah. Menurutku rumah itu disediakan untuk kami agar aku bisa pergi dari rumahku. Rumah ayahku.

Aku tahu, ibu tiriku ingin menjual rumah itu sejak lama. Seperti yang pernah kukatakan, beberapa pengusaha menginginkan tanah dari rumah kami yang berukuran sangat luas, sepertinya ingin membangun ulang rumah itu menjadi komplek rumah toko.

Tapi dia selalu gagal menjualnya karena aku terus-terusan menolak untuk pindah dan tentu saja menolak untuk menandatangani akta jual-belinya.

Setelah kupikir-pikir lagi, sindiran ibu-ibu tetangga kami yang selalu mengataiku perawan tua justru digunakannya sebagai kesempatan untuk menikahkanku secara paksa agar aku pindah dan tercoret dari daftar pewaris utama tanah milik ayahku itu.

Sekarang karena aku sudah pindah, ibu tiriku sudah pasti akan menjual rumah itu segera.

"Baru jemput adik ya, Neng?" Tanya sopir taksi, membuyarkan lamunanku.

'Haiss...'

Aku tersenyum canggung membalas tatapan pria paruh baya itu dari kaca spion di dekat kepalanya, lalu melirik pada Steven yang juga sedang tersenyum sambil menatapku.

'Argh... Tuh, kan? Pasti kelihatan sekali kalau aku lebih tua darinya. Untung saja tidak dikira keponakanku.'

"Kami suami-istri, Pak," sahut Steven menggantikanku.

Aku segera melirik kembali ke arah spion. Memicingkan kedua mataku, ingin melihat reaksi pak sopir setelah Steven memberi jawaban.

Pria paruh baya itu mengangguk-angguk kecil. Tidak ada ekspresi terkejut di wajahnya. Kalaupun ada, hanya sedikit. Tidak berlebihan.

"Saya pikir Neng ini kakaknya, Bang...," ucap pak sopir. "Menikah dengan jarak usia satu atau dua tahun dengan wanita yang lebih tua tidak jadi masalah sih, Bang," tambahnya lalu tertawa cekikikan.

'Apa?! Tidak, tunggu...'

Aku sebenarnya agak kesal dengan apa yang dia bicarakan. Topik pembicaraannya memang kurang sopan. Terlalu bersifat privasi. Tapi..., 'Satu sampai dua tahun? Apa jarak usia kami hanya terlihat sejauh itu?'

Aku tertawa. 'Terlihat 1-2 tahun kan, ya? Yuhu... Syukurlah tidak seburuk yang kukira.'

Pak sopir sampai menoleh padaku, terkejut saat aku tiba-tiba saja tertawa.

"Maaf Neng kalau ternyata seumuran atau Neng-nya malah lebih muda. Hehe..."

"Apa terlihat seperti itu, Pak?" Tanyaku dengan penuh semangat sebelum akhirnya tertawa lagi.

"Maaf Neng. Maklum sudah tua, mata bapak sudah agak rabun..."

Tawaku sirna seketika.

'Jiaahhh... si Bapak... Aku sudah melayang tinggi malah ditarik jatuh seketika. Jadi karena mata rabunnya maka dia tidak bisa melihat perbedaan usia kami yang sangat jauh ya? Hhh... Ternyata bukan karena aku terlihat awet muda.'

Aku tertarik untuk menoleh pada Steven, saat merasa kalau dia sedang menatapku, memperhatikan aku yang sedang mengobrol dengan pak sopir. Bukan hanya menatapku, dia ternyata sedang tersenyum juga.

'Haiss... Jangan tersenyum terutama untuk mengejekku! Kau tidak tahu kalau senyummu itu… Ah sudahlah!'

Saat aku mengernyitkan kedua alisku, Steven buru-buru mengambil ponsel dan mengetikkan sesuatu di sana, lalu mendekatkan ponselnya padaku.

Aku membaca tulisan "Anda memang terlihat awet muda," di layar ponselnya.

Setelah mendelik padanya selama beberapa saat, aku pun mengambil ponselku juga lalu menunjukkan balasanku padanya, "Tidak usah menghiburku."

Berikutnya dia membalas agak panjang, "Saya tidak sedang menghibur, apalagi berbohong. Jujur, saat saya melihat foto Anda, saya kira ibu Anda membohongi saya tentang usia Anda. Dan saat saya melihat Anda untuk pertama kalinya, saya tidak percaya jika Anda terlihat jauh lebih muda lagi dibandingkan yang ada di foto."

'Omong kosong! Hahaha... Huft… rayuan lelaki.'

Aku menyimpan kembali ponselku, tidak berniat membalas pujian Steven yang kuanggap hanyalah bualan kosong seperti yang sering para lelaki hidung belang ucapkan padaku.

Aku kemudian melirik sebentar pada pak sopir melalui kaca spion —melihatnya sedang senyum-senyum sendiri—. Sepertinya dia memperhatikan interaksi yang aku dan Steven lakukan.

Aku akhirnya memalingkan wajah dari mereka, memperhatikan kendaraan yang berlalu-lalang dari balik kaca mobil di sebelah kananku.

Dalam lamunanku, aku kembali ingat dengan apa yang baru saja Steven katakan, dan itu membuatku tidak bisa menahan senyum. Mungkin saja itu caranya untuk mencairkan suasana di antara kami agar bisa dekat denganku, dan pujian itu cukup membuatku sangat terhibur.

'Usahanya lumayan juga…'

Rasa takut akan terlihat berbeda jauh saat sedang jalan berdua dengannya —yang selama beberapa hari ini menghantuiku— agak sedikit berkurang.

'Hah? Kenapa aku malah terbujuk oleh kata-katanya?!'

❀❀❀

Steven memperhatikan keseluruhan tampak luar rumah sederhana kami selama beberapa saat, lalu tatapannya berhenti agak lama pada teras sebelum akhirnya mengikutiku masuk ke dalam rumah.

Rumah kami memang masih belum direnovasi. Rumah tipe 36 yang bahkan hanya memiliki teras seukuran 1x3 meter. Entah apa yang developernya pikirkan saat membuat teras seukuran itu. Mungkin, jika ukuran 1x2 meter tidak mirip seperti sebuah kuburan, mereka akan membuatnya seukuran itu.

Aku mempersilahkan Steven duduk di sofa bulu, satu dari dua perabotan yang ada di rumah kami yang kesemuanya kubeli secara kredit.

"Kau lebih suka teh atau kopi?" Tanyaku setelah menunggunya meletakkan tas ransel besar yang terlihat sangat berat itu, juga kantongan plastik yang sejak tadi ditentengnya, di lantai.

Entah apa isi plastik itu, kuharap bukan makanan khas daerahnya. Bukannya aku tidak suka makanan khas daerah lain, tapi makanan itu mungkin sudah basi setelah tertutup dalam plastik seharian.

Ia menatapku dengan mulut sedikit terbuka, seperti orang kebingungan, seperti baru saja mendapatkan pertanyaan yang agak berat untuk dimengerti.

'Apa di kampungnya teh dan kopi disebutkan dengan bahasa yang berbeda?'

"Air hangat saja," sahut Steven akhirnya.

"Oh…, ok..."

'Itu lebih baik. Aku jadi tidak perlu repot.'

"Apa saya boleh ke kamar mandi?"

Aku menatap wajahnya yang mengkilap dipenuhi keringat kering bercampur debu.

'Ah... dia pasti merasa gerah karena pertama kalinya ke Jakarta, kan? Tingkat kelembaban udara di sini dan di kampungnya pasti berbeda sangat jauh. Pantas sejak tadi dia terlihat gelisah.'

"Tentu. Kamar mandi ada di sana." Aku menunjuk salah satu dari 4 pintu yang ada di rumah kami. Bagi yang pernah tinggal di rumah tipe 36 pasti tahu, hanya ada 4-5 pintu di rumah bertipe tersebut. Pintu depan, pintu kamar, pintu kamar mandi, dan pintu menuju halaman belakang.

Aku memperhatikannya mengeluarkan handuk dan pakaian dari dalam kantongan plastik, lalu mengikutinya ke kamar mandi —tentu hanya dengan tatapan mataku saja.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95JCH" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95JCH
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Identitas Ganda Suamiku
9.1
Nadine terburu-buru menikah dengan pengusaha yang dikabarkan bangkrut. Ia siap menjadi tulang punggung keluarga, namun keajaiban mulai terjadi. Nadine memenangkan Porsche dan vila mewah secara tak terduga. Segala masalahnya tuntas berkat bantuan sang suami yang misterius. Semula ia tak curiga, hingga orang-orang memujinya karena bersuamikan pria kaya raya. Nadine akhirnya menyadari bahwa suaminya bukan orang biasa, melainkan seorang konglomerat ternama.
Sampul Novel Kupu-kupu Sang Miliarder
9.2
Niela tinggal di pesisir Jakarta yang penuh gemerlap malam. Meski sering dipandang rendah, ia selalu menjaga kehormatannya hingga desakan sang ibu memaksanya terjun ke dunia terlarang. Langkah ini mempertemukannya dengan Darren Alvaro Prayudha, seorang miliarder ternama. Darren menawan Niela demi menyangkal perasaan cintanya yang muncul seketika. Hubungan rumit ini justru menyingkap jati diri Niela yang misterius. Akankah Darren berani jujur pada hatinya?
Sampul Novel Mengungkap Hati: Istriku Seorang Miliarder?!
9.7
Melanie menikahi Ashton demi balas budi, namun ia justru terjebak dalam penderitaan. Puncaknya, Ashton dengan tega mencoba mengambil darah Melanie tanpa peduli rasa sakitnya. Sadar akan perlakuan dingin sang suami, Melanie memilih bercerai demi harga dirinya. Saat proses perpisahan, identitas asli Melanie sebagai miliarder terungkap dan memicu kegemparan. Di tengah badai tersebut, ia menyadari bahwa Derek, paman suaminya, selama ini diam-diam melindunginya.
Sampul Novel MENJADI ISTRI DADAKAN CEO AROGAN
8.2
Lavendra hancur saat menyadari pernikahannya dengan Daza, sang CEO angkuh, hanyalah alat demi warisan sang kakek. Luka hatinya kian dalam karena Daza masih mencintai kekasihnya, Lora. Meski begitu, Lavendra sempat bertekad berjuang memenangkan hati suaminya demi impian pernikahan bahagia. Namun, gangguan Lora dan sikap dingin Daza menguras tenaga serta batinnya. Kini, Lavendra terjebak dalam keputusasaan dan merasa naif telah mengharapkan cinta sejati.
Sampul Novel Pesona Duda Manja
8.8
Dikhianati sang istri justru memicu Rizaldi Takki bangkit mandiri. Berbekal kecerdasan teknologi, ia sukses memikat investor global hingga menjadi pengusaha ternama. Namun, saat luka hatinya mulai pulih, Rizaldi terjebak dilema rumit. Mantan istrinya mendadak minta rujuk, sosok wanita baik hati berubah drastis, sementara gadis sederhana justru menolak dinikahi. Di balik kesuksesannya, mampukah sang duda menghadapi kerumitan cinta dan sifat manja dalam dirinya?
Sampul Novel Pesona Gadis Camilan
9.4
Nathalie Benoit adalah primadona di dunia gelap Santa Marie, Los Angeles, yang terbiasa menghadapi kerasnya hidup. Namun, nasib baiknya seolah sirna saat ia bersinggungan dengan Adam Connor. Pertemuan dengan miliarder yang dirumorkan impoten tersebut memicu skandal besar yang menjungkirbalikkan dunia Nathalie. Di tengah kekacauan berita miring yang beredar, ia harus memilih antara terus berjuang melawan rintangan atau menyerah pada keadaan bersama Adam.