Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Rahasia Sang Suami Muda

Rahasia Sang Suami Muda

Keysa Andini merasa terjebak saat ibu tirinya memaksa ia menikahi Steven, pemuda desa yang tampak tak punya masa depan. Meski berniat segera bercerai, Keysa justru menemukan kenyamanan tak terduga saat mulai tinggal bersama suaminya yang lebih muda itu. Keyakinannya goyah seiring terungkapnya sisi menarik Steven. Sebuah rahasia besar pun menanti, siap memberikan kejutan yang akan mengubah seluruh garis hidup dan masa depan Keysa selamanya.
Bab
Bagikan

Bab 1

"Ma, Keysa tidak suka pria ini. Dia terlalu muda. Lagian pekerjaannya juga tidak jelas," rengekku pada Camila, ibu tiriku.

Dia memaksaku menikah dengan sembarang pria sesuai kemauannya hanya karena merasa malu pada teman-teman dan tetangga yang sering menyindirku karena aku belum menikah juga di usiaku yang sudah menginjak 36 tahun.

"Sampai kapan putrimu mau hidup sendiri Jeng? Malu loh dikatain perawan tua terus sama teman-teman kita." Kalimat sindiran itu hampir berulang kali terdengar dari Bu Imah, tetangga sebelah rumah kami.

Bu Imah hanya salah satu contoh dari sekian banyak penggosip yang tak pernah lelah membicarakan kehidupanku. Masih ada Bu Devi, Bu Siti, Bu Rosa dan banyak lagi. Mereka selalu membicarakan hal yang sama berulang kali, dan pada akhirnya membuat ibu tiriku juga turut menyindirku setiap hari.

Sampai pada suatu saat, teman-teman bedebahnya itu membawa foto beberapa pria, yang juga sedang mencari istri, untuk dijodohkan padaku. Totalitas sekali, kan?

Lelah menghadapi ibu tiri yang terus memaksaku untuk menikah, aku pun menyerah dan memilih foto salah satu pria yang sedikit lebih tua dariku, juga memiliki pekerjaan yang ku anggap baik dibanding calon lainnya, sebagai seorang ASN di kantor Kecamatan.

Tapi beberapa hari kemudian, dengan seenaknya ibu tiriku malah memilihkan pria lain. Pria yang fotonya pernah kusingkirkan setelah tahu kalau usianya terpaut 10 tahun, lebih muda, dariku.

Bukannya aku terlalu pemilih hingga hanya menilai seseorang dari usianya saja. Bukan berarti aku tidak suka dengan pria yang lebih muda. Bukan… Tentu saja bukan begitu maksudku. Andai dia lebih muda, setidaknya cukup dengan jarak 1 atau 2 tahun saja. Apalagi jika dia memiliki pekerjaan yang baik, tentu aku pasti akan menerimanya. Sungguh!

"Sepuluh tahun?! Oh..., yang benar saja. Jarak usia kami terlalu jauh untuk menjalin hubungan cinta, apalagi menjadi suami-istri," protesku setelah mengetahui calon suami yang ibu tiriku pilihkan.

Jika prianya yang lebih tua 10 tahun, mungkin tidak terlalu aneh. Kalau wanitanya? Entah untuk wanita lain, tapi bagiku itu sangat memalukan.

Selain itu, pria pilihan ibu tiriku juga tidak memiliki pekerjaan jelas. Belum lagi dia juga orang kampung yang tinggal di salah satu desa antah berantah yang berada di Pulau Kalimantan.

Bukan aku ingin meremehkannya. Aku bisa menebak, hidup di Jakarta bagi mereka tentu tidaklah mudah. Jangankan untuk mencari pekerjaan, untuk mencari makan saja dia mungkin akan kesulitan dan ujung-ujungnya akulah yang akan direpotkan.

"Cuma dia yang mau sama kamu, Keysa Andini!" Umpat ibu tiriku.

Aku tahu kalau ibu tiriku sudah menyebut namaku secara lengkap, dia sedang merasa gemas padaku. Andai sedang tidak ada maunya seperti ini, dia biasanya bukan hanya membentakku tapi juga tak segan mengambil dan melemparkan barang-barang yang ada di sekitarnya padaku.

"Lagian sudah untung Mama mencarikan kamu suami. Ingat, usiamu sudah mendekati kepala 4!" Tambahnya dengan nada ketus. Matanya mendelik padaku dengan sangat lebar seakan hendak keluar.

Aku hendak memprotesnya, tapi tatapan matanya membuatku menelan kembali kata-kataku. 'Masih ada empat tahun sebelum aku berusia 40 dan itu masih lama. Kenapa Mama membulatkan usiaku sesukanya saja?! Yah… membulatkan ke 30 memang lebih jauh sih.'

"Dia terlalu muda, Ma. Kerjanya juga tidak jelas," keluhku lagi.

"Tidak usah memikirkan pekerjaannya! Harusnya sudah cukup dengan penghasilanmu bekerja di perusahaan manufaktur itu, kan? Lebih baik juga kalau dia di rumah, mengurus rumah. Dia juga bisa kerja sambilan membantu adikmu di toko kelontong kita."

'Haiss… Yang benar saja!'

Ucapan itu membuatku meringis ngeri. Lelaki yang akan kunikahi sangatlah jauh dari yang kuimpikan selama ini —lagian keinginan untuk menikah sudah terhapus dari kamus hidupku.

Selain itu, aku juga tidak yakin apakah pria itu benar-benar mau menerimaku yang usianya jauh lebih tua darinya sebagai istri. Bisa saja dia memanfaatkanku, ingin hidup cukup sembari bermalas-malasan.

Beberapa teman segeng ku dari sejak SMA pernah bercerita kalau suami mereka hanya sibuk bermain game sepulang kerja, tanpa mau membantu mengurus rumah yang berantakan, juga anak.

Jika pria yang dalam pengawasan istri saat mereka sedang bersama di rumah saja seperti itu, bagaimana dengan suamiku nanti? Dia akan berada di rumah seharian selama aku bekerja.

Dia tentu akan bebas bermain game dan bermalas-malasan, atau malah membawa wanita lain untuk berduaan di rumah sementara aku sedang bekerja. Apalagi selama ini dia hidup di desa, tentu dia akan mudah tergoda untuk merayu wanita-wanita cantik Jakarta.

Harus kuakui jika melihat dari fotonya, dia cukup tampan —walau agak dekil juga sih—. Ku rasa dia tidak bodoh untuk tidak menyadari kelebihannya itu untuk digunakan memikat wanita.

Belum lagi aku pernah mendengar Bu Devi, orang yang merekomendasikan pria itu pada ibu tiriku, memberikan informasi kalau pria itu mungkin anak luar nikah dari seorang pengusaha besar di Jakarta yang dibuang ke desa.

Bu Siti waktu itu menyela dan mengatakan kalau sebenarnya dia dulu pernah buka usaha dan bangkrut karena membuka usaha saat masih berusia 18 tahun, jadi belum punya pengalaman. Karena malu, pria itu akhirnya pindah ke Kalimantan.

Yang membuatku ngeri adalah ucapan Bu Rosa yang mengatakan kalau pria itu mungkin anggota mafia yang kabur ke Kalimantan saat kelompoknya diburu polisi. Walaupun yang dikatakan Bu Rosa hanyalah terkaan, namun kata-katanya lah yang paling kuingat.

Karena perkataan mereka jugalah aku —saat pertama kali melihat fotonya beberapa hari lalu— langsung mengeleminasinya, selain karena alasan jarak usia dan status pekerjaaannya.

'Huft… Jika itu benar, membayangkannya saja sudah membuatku ngeri. Menikah bukan akan membuatku nyaman dan bahagia berada dalam lindungan dan tanggung jawab suami, malah justru akan menambah masalah dalam hidupku.'

Sebenarnya yang paling penting di sini adalah aku. Aku sebenarnya bukan tidak laku, bukan pula terlalu mematok standar yang tinggi sehingga tidak menikah-menikah juga. Ada banyak pria yang ingin melamarku, bahkan sudah melamarku, namun kutolak mentah-mentah.

Bukan karena aku angkuh atau sok cantik, melainkan karena aku memang ingin hidup sendiri. Aku ingin hidup bebas di hari tuaku. Berjalan-jalan keliling dunia dengan uang yang sudah kusisihkan hingga saatnya nanti aku akan memakainya.

"Mama sudah menghubungi dia. Kamu tunggu saja. Pokoknya siapkan saja foto ukuran 4x6 sebanyak dua lembar," ucap ibu tiriku sebelum berlalu pergi.

Aku hendak memprotes lagi, namun ibu tiriku sudah melengos pergi keluar rumah. Bisa kutebak, dia pasti ingin bergosip ke rumah Bu Imah tetangga kami yang terdekat.

"Woah… Benar-benar tiada hari tanpa bergosip, bahkan aku harus jadi korbannya."

Aku hanya bisa mengurut dada sembari menghela napas panjang, berusaha menyabarkan diriku sendiri. "Sial… aku harus menemukan cara untuk keluar dari nikah paksa ini," gerutuku sembari menatap punggung ibu tiriku dengan kesal.

Dari pintu tempat ibu tiriku baru saja pergi, tatapanku beralih pada pintu lain di mana ayah kandungku, yang lumpuh karena terkena serangan stroke selama 15 tahun ini, berada.

Karena dialah aku tidak bisa melakukan apa-apa. Maksudku, aku terpaksa selalu mengikuti kemauan ibu tiriku. Bukan hanya kali ini saja, namun di banyak hal yang jika kuingat satu per satu, akan membuatku sakit kepala.

"Kenapa nasibku sesial ini?"

Aku pergi menghampiri kamar ayahku, membuka pintunya sedikit lalu mengintip ayahku yang sedang terbaring lemah tanpa daya.

Aku hanya berharap kalau ayahku tidak mendengar apa yang baru saja aku dan ibu tiriku bicarakan. Aku tidak ingin menambah beban pikiran padanya, padahal dia sudah cukup menderita dengan penyakitnya.

Saat sedang memperhatikan ayahku, aku tiba-tiba teringat pada rumah yang kami tempati ini. Rumah yang memiliki tanah luas hingga terhubung ke dua jalan besar Kota Jakarta.

Ibu tiriku selalu ingin menjual rumah dan tanah kami ini karena ada beberapa pengusaha yang sudah menawar untuk membeli, namun aku menolaknya.

Sebagai ahli waris pertama dari rumah dan tanah ini, penjualannya harus dengan persetujuanku. Sayangnya ayahku telah melakukan kesalahan karena setuju dengan ide ibu tiriku yang pernah memintanya untuk membebaskanku dari status ahli waris ketika aku sudah menikah.

"Jadi Mama memaksaku menikah karena ingin mendapatkan rumah dan tanah ini, kan? Tsk…, halus sekali caranya."

❀❀❀❀❀❀❀

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Identitas Ganda Suamiku
9.1
Nadine terburu-buru menikah dengan pengusaha yang dikabarkan bangkrut. Ia siap menjadi tulang punggung keluarga, namun keajaiban mulai terjadi. Nadine memenangkan Porsche dan vila mewah secara tak terduga. Segala masalahnya tuntas berkat bantuan sang suami yang misterius. Semula ia tak curiga, hingga orang-orang memujinya karena bersuamikan pria kaya raya. Nadine akhirnya menyadari bahwa suaminya bukan orang biasa, melainkan seorang konglomerat ternama.
Sampul Novel Kupu-kupu Sang Miliarder
9.2
Niela tinggal di pesisir Jakarta yang penuh gemerlap malam. Meski sering dipandang rendah, ia selalu menjaga kehormatannya hingga desakan sang ibu memaksanya terjun ke dunia terlarang. Langkah ini mempertemukannya dengan Darren Alvaro Prayudha, seorang miliarder ternama. Darren menawan Niela demi menyangkal perasaan cintanya yang muncul seketika. Hubungan rumit ini justru menyingkap jati diri Niela yang misterius. Akankah Darren berani jujur pada hatinya?
Sampul Novel Mengungkap Hati: Istriku Seorang Miliarder?!
9.7
Melanie menikahi Ashton demi balas budi, namun ia justru terjebak dalam penderitaan. Puncaknya, Ashton dengan tega mencoba mengambil darah Melanie tanpa peduli rasa sakitnya. Sadar akan perlakuan dingin sang suami, Melanie memilih bercerai demi harga dirinya. Saat proses perpisahan, identitas asli Melanie sebagai miliarder terungkap dan memicu kegemparan. Di tengah badai tersebut, ia menyadari bahwa Derek, paman suaminya, selama ini diam-diam melindunginya.
Sampul Novel MENJADI ISTRI DADAKAN CEO AROGAN
8.2
Lavendra hancur saat menyadari pernikahannya dengan Daza, sang CEO angkuh, hanyalah alat demi warisan sang kakek. Luka hatinya kian dalam karena Daza masih mencintai kekasihnya, Lora. Meski begitu, Lavendra sempat bertekad berjuang memenangkan hati suaminya demi impian pernikahan bahagia. Namun, gangguan Lora dan sikap dingin Daza menguras tenaga serta batinnya. Kini, Lavendra terjebak dalam keputusasaan dan merasa naif telah mengharapkan cinta sejati.
Sampul Novel Pesona Duda Manja
8.8
Dikhianati sang istri justru memicu Rizaldi Takki bangkit mandiri. Berbekal kecerdasan teknologi, ia sukses memikat investor global hingga menjadi pengusaha ternama. Namun, saat luka hatinya mulai pulih, Rizaldi terjebak dilema rumit. Mantan istrinya mendadak minta rujuk, sosok wanita baik hati berubah drastis, sementara gadis sederhana justru menolak dinikahi. Di balik kesuksesannya, mampukah sang duda menghadapi kerumitan cinta dan sifat manja dalam dirinya?
Sampul Novel Pesona Gadis Camilan
9.4
Nathalie Benoit adalah primadona di dunia gelap Santa Marie, Los Angeles, yang terbiasa menghadapi kerasnya hidup. Namun, nasib baiknya seolah sirna saat ia bersinggungan dengan Adam Connor. Pertemuan dengan miliarder yang dirumorkan impoten tersebut memicu skandal besar yang menjungkirbalikkan dunia Nathalie. Di tengah kekacauan berita miring yang beredar, ia harus memilih antara terus berjuang melawan rintangan atau menyerah pada keadaan bersama Adam.