
Rahasia Mantan Istriku
Bab 2
"Kalian sudah bercerai?" Ada sedikit rasa gembira dalam nada suara Vina selama beberapa detik, lalu dia melanjutkan dengan wajah tidak percaya, "Apa maksudmu ketika mengatakan kalian tidak peduli dengan hidupku? Dewi, bukankah dia yang membuatku menjadi seperti ini? Kamu bahkan memanfaatkan situasi tersebut dan memaksa Kresna untuk menikahimu. Sekarang kamu merasa menyesal? Apakah kamu tidak merasa malu pada dirimu sendiri? Kamu sangat menjijikkan!"
"Cepat atau lambat aku akan menemukan kebenaran tentang kecelakaan mobil pada waktu itu. Tapi, kamu memang benar akan satu hal. Aku sangat menyesal karena menikah dengan Kresna," ucap Dewi tanpa basa-basi.
"Kamu ...." Vina terdiam ketika mendengar perkataannya.
Dia merasa gelisah setelah mengetahui Dewi hendak menyelidiki kebenaran di balik kecelakaan mobil tersebut.
Kemudian, dia melihat pria berjas sedang berdiri di dekat pintu. "Kresna!"
Kresna baru saja memarkir mobilnya di tempat parkir bawah tanah. Saat tiba di bangsal, dia mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Dewi. Perkataan Dewi seolah menampar wajahnya dengan keras. Wajah Kresna seolah terbakar.
Ekspresinya berubah menjadi muram.
Dewi tidak menoleh meski tahu pria itu ada di bangsal. "Aku sudah menyampaikan apa yang ingin kukatakan. Nona Vina, lebih baik kamu segera mencari donor darah lain. Jika terlambat, mungkin sakitmu akan benar-benar menjadi parah."
Wajah Vina berubah menjadi pucat ketika memahami situasi yang sedang dihadapinya.
Dewi berbalik. Ketika berjalan ke arah pintu, dia menatap mata Kresna yang dingin dan bisa merasakan amarahnya.
Kesabaran pria itu pasti sudah habis jika mereka tidak berada di rumah sakit.
Bibir Dewi berkedut ketika berkata, "Selamat tinggal untuk selamanya."
Setelah itu, dia berjalan melewatinya dan meninggalkan bangsal.
Kresna berdiri di depan pintu sambil mengernyitkan alisnya dan tanpa sadar menatap Dewi.
Tubuh Dewi sangat kurus sehingga tulang belikatnya terlihat jelas dari belakang, dia berjalan dengan tegak dan menghilang dari pandangan Kresna. Dia tidak berhenti atau menoleh ke belakang. Tidak lama kemudian, sosoknya hilang dari pandangan Kresna.
Setelah meninggalkan rumah sakit, Dewi memanggil taksi dan kembali ke vila Keluarga Hartadi. Kemudian, dia mengemasi semua barangnya dan pindah.
Sejak kecil, orang tuanya selalu mengatakan bahwa hanya anak laki-laki yang boleh mewarisi bisnis keluarga. Jadi, dia mulai bekerja paruh waktu ketika menempuh pendidikan di universitas dan tidak pernah meminta uang dari keluarganya.
Beberapa tahun yang lalu, dia menggunakan tabungannya untuk membeli sebuah apartemen di pusat kota. Sekarang, apartemen itu sangat berguna.
Setelah membersihkan apartemen, Dewi menatap wajahnya di cermin. Dia tampak lelah dan kuyu, bahkan ada lingkaran hitam di matanya. Dia telah berubah dari wanita penuh semangat menjadi wanita pendiam yang rendah hati. Pernikahan dengan Kresna telah mengubah hidupnya.
Beruntung sekali, semuanya sudah berakhir.
Dia mengambil ponsel dari sebelah wastafel dan memblokir nomor Kresna tanpa ragu-ragu. Kemudian, dia melemparkan ponsel ke samping.
Tiga hari kemudian, berita anjloknya harga saham Grup Santoso menjadi tajuk utama. Sejumlah besar pemegang saham telah berkumpul di sekitar pintu masuk perusahaan untuk membuat masalah.
Dewi bangun pagi-pagi sekali karena ponselnya terus bergetar.
Dia menyalakan layar dan melihat pesan dari temannya yang bernama Leno Permana. Dia menyuruh Dewi pergi ke kantor Grup Santoso secepatnya karena terjadi sesuatu.
Dewi mencengkeram ponsel, lalu mengangkat selimut dan bangkit dari tempat tidur. Meski hatinya dipenuhi rasa benci dan amarah, dia masih menjadi bagian dari Keluarga Santoso.
Begitu mobil berhenti di gerbang gedung perusahaan, para wartawan bergegas mendekat dan memblokir pintu mobil.
"Nona Dewi, apakah Anda bisa menjelaskan utang Pak Lukman senilai 6 triliun, penggelapan dana publik dan dugaan korupsi yang dia lakukan?" Mikrofon disodorkan ke depan mulut Dewi.
Meski tubuh Dewi didorong oleh kerumunan, dia mengangkat kepalanya tanpa rasa takut dan berkata, "Dugaan Pak Lukman melakukan korupsi akan diselidiki oleh pihak yang berwenang. Sementara utang senilai 6 triliun ...."
Dahinya sedikit mengernyit. Grup Santoso memang mengalami masalah finansial. Akan tetapi, defisit perusahaan hanya senilai puluhan miliar. Kenapa tiba-tiba menjadi utang sebesar 6 triliun?
Hal ini menyebabkan perusahaan dalam bahaya!
"Nona Dewi, ada apa? Kenapa Anda tidak menjawab pertanyaan kami? Apakah Anda merasa bersalah?"
Selain wartawan, ada banyak pemegang saham di sini. Ketika akhirnya melihat anggota Keluarga Santoso, mereka menyerbu sambil membawa spanduk.
"Kamu harus memberi penjelasan yang masuk akal pada kami!"
Pada saat yang bersamaan, mobil Maybach berwarna hitam berhenti tepat di depan gerbang Grup Santoso.
Anda Mungkin Juga Suka





