
Rahasia Gelap Istriku
Bab 3
Berita Duka
Kinanti langsung berdiri dan menghampiri jasad suaminya, wanita itu nangis tergugu Kinanti terus saja memanggil-manggil nama suaminya berharap agar suaminya itu bangun, dia masih tidak percaya jika suaminya pergi meninggalkannya secepat ini.
“Mas, bangun mas, kenapa kamu cepat sekali meninggalkanku mas,” ucap Kinanti di samping jenazah suaminya dia menggoyang-goyangkan tubuh suaminya.
Tim medis kemudian datang mereka akan mengeluarkan jenazah pak Lurah dan menutupinya dengan kain putih membawanya keluar untuk dibawa ke kamar jenazah.
“Maaf Bu, jenasahnya akan kami bawa ke kamar jenazah, silahkan ibu mengurus administrasinya, agar jenasah bisa cepat di bawa pulang,” ucap salah satu petugas medis kepada Kinanti.
Kinanti langsung menjauhkan dirinya dari jenazah suaminya dia melihat kedua tim medis itu menutup wajah suaminya dengan kain putih lalu membawanya pergi.
Kinanti lalu berjalan mengikuti di belakang jenazah suaminya wanita itu hendak mengurus segala administrasi di rumah sakit.
Jenazah pak Lurah akhirnya dibawa pulang karena waktu saat itu sudah sangat sore, jenazah pak Lurah, akan dimakamkan keesokan harinya.
“Maaf Bu, karena waktu sudah sore, dan tidak mungkin untuk di makamkan hari ini, maka jenasahnya akan kita makamkan besok pagi saja,” ucap pak RT kepada bu Lurah. Kinanti hanya menganggukkan kepalanya tanda sebagai dia setuju.
Di rumah Bu Lurah saat ini tengah ramai orang mereka pada berkumpul dan mengaji, membaca suruh Yasin untuk jenasah pak Lurah.
Beberapa lelaki dan ibu-ibu pun turut ada di sana sebagian wanitanya membantu Bu Lurah untuk menyiapkan makanan kecil untuk mereka yang mengaji di sana.
Malam harinya, Satria sedang berada di kamarnya, dia mematut dirinya di depan cermin. Melihat penampilannya saat ini.
Entah mengapa dia ingin terlihat rapi saat nanti datang ke rumah bu Lurah , supaya saat wanita itu melihatnya Satria berkesan di matanya.
“Sudah rapi, tinggal pakai parfum,” ucap satria sambil menyemprotkan parfum ke seluruh badannya.
Ibunya yang tidak sengaja lewat depan kamar Satria lalu melihat ke arah Satria dari luar.
“Sedang apa bocah itu?” ibunya lalu melangkah mendekat karena dia begitu penasaran dengan apa yang di lakukan satria di depan cermin.
“Mau kemana si Satria, malam-malam begini, untuk apa dia berpakaian rapi seperti itu?” gumam ibu Darno begitu lirih. Dia bertanya-tanya pada dirinya sendiri berusaha menebak.
Satria saat ini tengah rapi dan mengenakan parfum, ibunya bertambah penasaran, dia ingin tahu Satria hendak ke mana. Namun ibunya saat ini hanya berdiri saja di depan pintu kamar Satria sambil memperhatikan Satria anaknya.
Setelah memastikan penampilannya sudah rapi Satria langsung berbalik ke belakang, dia begitu terkejut saat melihat ibunya sudah berada di depan pintu kamarnya sambil terus melihat ke arahnya.
Satria mengikuti arah pandangan ibunya dia lalu memperhatikan dirinya sendiri dari ujung kaki hingga badannya.
“Ibuk, ibuk ngapain di situ? Diam-diam perhatikan Satria, Satria jadi kaget Buk, lihat ibu berdiri di depan pintu seperti itu, Satria kira tadi siapa,” ucap Satria sambil mengusap-usap dadanya.
Dia benar-benar merasa terkejut saat melihat ibunya tengah memperhatikannya di depan pintu tanpa berkata apapun.
“Satria kamu mau ke mana malam-malam begini, sudah rapi seperti itu?” Bu Darno langsung saja bertanya pada anaknya, dia benar-benar penasaran dengan penampilan anaknya yang begitu rapi dan wangi.
“Satria mau ikut berkumpul sama lelaki yang lain Bu di rumah pak Lurah, Satria mau ikut tahlilan di sana, dan bantu-bantu di sana,” jawab Satria sambil terus berjalan perlahan mendekati ibunya. Sampai tepat di hadapan ibunya, satria berhenti.
Bu Darno mengerutkan keningnya dia merasa curiga dengan tingkah laku anaknya, terlebih lagi anaknya itu sering memperhatikan Kinanti, istri pak Lurah.
“Halah kamu itu loh, mau ke tempat orang meninggal aja, sampai ngaca sampai seperti itu toh Sat, Sat, terus ini apa kamu pakai parfum segala sampai baunya kemana-mana seperti ini,” ungkap Bu Darno, sambil menarik ujung pakaian Satria dan mencium bau parfum anaknya.
“Loh ibu ini gimana toh ya, kan Satria, ini mau ke luar, ya kayak biasa harus berpakaian rapi. Biar enak dilihat orang, memangnya ibu mau melihat satria berpakaian kucel datang bertamu ke rumah orang?” Satria malah protes pada ibunya.
Satria merasa aneh pada ibunya karena ibunya begitu memperhatikan dia.
“Ya sudah terserah kamu saja, tapi jangan lupa besok pagi kamu harus buka toko. Pulangnya jangan terlalu larut,” ucap ibunya yang memperingati Satria. Ibunya itu memang selalu menasehati dan memperingati Satria setiap harinya.
“Oalah Buk, Buk. Satria itu loh tiap hari selalu ibu peringati dan nasehati, bosen Satria dengernya, Satria ini sudah besar bukan anak kecil lagi. Sudahlah Buk, Satria pamit ya, ibu hati-hati di rumah,” ucap Satria lalu berpamitan singkat pada ibunya, supaya dia bisa pergi secepatnya dari rumah.
“Harusnya ibu, yang ngomong begitu ke kamu. Kamu itu loh, harusnya jaga mata jangan jelalatan aja, liat ke sana kemari, lirik-lirik orang.
Satria merasa heran dengan ucapan ibunya, lelaki itu lalu menghentikan langkahnya. Satria langsung saja memutar tubuhnya lalu melihat ke arah ibunya.
“Maksud ibu apa, kok ngomongnya begitu sama Satria?” Satria langsung saja bertanya pada ibunya mengenai perkataan ibunya dia benar-benar tidak mengerti mengapa ibunya berkata seperti itu.
“Ibu tahu kalau kamu sering ngeliatin bu Lurah, kamu sering banget perhatiin bu Lurah secara diam-diam, dari di dalam rumah sampai di rumah sakit bahkan sampai jenazah dibawa pulang pun kamu masih tetap melihat dan memperhatikan ke arah Bu Lurah.”
Bu Darno menjeda ucapannya dia melihat ke arah satria memperhatikan ekspresi wajah anaknya.
“Sekarang ibu tanya sama kamu, kamu itu ngapain lihat-lihat si Kinanti itu, lirik-lirik Bu Lurah itu ngapain?”
Satria langsung kehilangan kata-kata, dia tidak menyangka jika ibunya akan tahu, saat dia melihat dan memperhatikan Bu Lurah.
“Siapa bilang Satria memperhatikan Bu Lurah, Satria hanya kasihan pada wanita itu Bu, Satria hanya ingin menolongnya, lihat saja anaknya yang masih remaja belum bisa bantu-bantu ibunya,” ucap Satria beralasan pada ibunya.
Pak Lurah dan Bu Lurah memang memiliki anak remaja namun anak itu adalah anak Kinanti dari suami sebelumnya sebelum dia menikah dengan pak Lurah dia sudah menikah terlebih dahulu dan memiliki satu orang anak laki-laki. Usianya saat ini mungkin sekitar 12 tahun
Setelah mengucapkan kata-kata itu Satria langsung saja keluar dari rumahnya dia tak ingin berdebat dengan ibunya tentang Bu Lurah.
Saat ini malam sudah menunjukkan pukul 09.00 di luar begitu gelap sekali, Satria berjalan seorang diri ke arah rumah Bu Lurah.
Saat Satria berjalan lewat di bawah tiang lampu, tiba-tiba lampu itu berkedip, Satria yang melihat itu langsung berhenti sebentar.
Dia merasa ada yang mengikutinya saat ini satria lalu menoleh ke kanan dan ke kiri tak ada siapapun di sana satria pun mengembalikan tubuhnya dan menoleh ke arah belakang.
Anda Mungkin Juga Suka





