
Rahasia Dalam Dendam
Bab 2
Aurora mengoleskan selai strawberry ke roti tawar sembari pikiran melayang akan langkah selanjutnya. Setelah resmi menjadi pacar Gama, ia akan mencoba mendekat kepada keluarga Nugraha.
Aurora sudah enam bulan di Jakarta. Selama enam bulan itu fokus mengurus butik sang bibi yang sebelumnya dikelola oleh orang kepercayaan. Demi penyamaran semakin meyakinkan ia pun menjadi pengelola butik tersebut.
Selain butik, tentu saja melakukan berbagai cara untuk memikat Gama, usaha berjalan dengan mulus, lelaki tersebut jatuh dalam pelukannya.
Tok! Tok! Tok!
Kegiatan mengoles selai terpaksa dihentikan. Walaupun rumah itu lumayan besar tapi Aurora sama sekali tidak mempekerjakan orang lain sebagai pembantu.
"Tanpa melihat pun aku sudah tahu siapa yang sangat rajin datang di pagi hari," ucap Aurora dengan nada sedikit kesal.
Sebelum membuka pintu, ia menghela napas untuk memulai akting terlihat bahagia.
"Pagi, sayang," ucap Gama dengan senyuman lebar.
Aurora balas melempar senyum seolah senang menyambut kedatangan Gama.
"Brownies cokelat manis untuk pacarku yang manis." Gama menyodorkan sekotak brownies. Dia memang rutin datang di pagi hari dengan kejutan.
"Owh, makasih sayang. Pas banget aku lagi kepengen brownies nih. Yaudah ayok kita sarapan bareng," balas Aurora terkesan manja, padahal begitu risih dengan sikap Gama.
Ia akui lelaki itu sangat romantis, bisa meratukan seorang wanita. Walau bagaimana pun tetap saja, merasa jijik berperilaku seperti ini kepada kakaknya sendiri.
"Kamu memang baik kak Gama, tapi maaf aku hanya menjadikanmu alat balas dendam," batinnya. Menggandeng Gama ke ruang makan.
Aurora menyediakan roti, semenjak tadi lelaki tersebut terus memperhatikan dengan senyuman manis. Perempuan lain mungkin akan merasa beruntung dicintai oleh lelaki baik dan penuh perhatian seperti dirinya.
"Oh, ya sayang. Aku boleh nanya sesuatu, gak?" Tanya Aurora di tengah mereka menikmati brownies.
"Boleh dong, silahkan tanyakan apa yang mau kamu ketahui."
Aurora tersenyum, ini saatnya mengorek informasi.
"Hmm, kita sekarang kan sudah menjadi sepasang kekasih. Jadi aku ingin mengenal lebih jauh tentang kamu dan keluargamu."
Sebisa mungkin berhati-hati mengeluarkan setiap perkataan agar tidak terdengar mencurigakan. Identitasnya tidak boleh terbongkar dengan cepat.
"Iya, lalu apa yang ingin kamu tanyakan?" Gama seperti tertarik dengan obrolan mereka.
"Kemarin malam gak sengaja aku menemukan berita tentang nenek Akila. Dua puluh empat tahun lalu, nenekmu dikabarkan kecelakaan pesawat dengan tujuan ke Malang, tapi ada juga berita yang ...."
"Tidak ada data nenek sebagai penumpang pesawat," potongnya.
Lelaki itu meletakkan sendok dan menghela nafas panjang. Seperti ada beban yang ingin dibagikan.
"Aku juga bingung, sampai detik ini tidak ada kabar, apakah nenek masih hidup atau sudah meninggal. Papa telah menyuruh banyak orang untuk menemukan di mana keberadaan nenek. Mungkin karena papa tidak berhasil menemukannya. Dalam waktu sebulan, pencarian dihentikan."
"Apa! Secepat itu pencarian dihentikan? Sayang, aku bukannya bermaksud ikut campur dengan kehidupanmu. Keluargamu punya banyak uang, apa salahnya jika pencarian tetap dilanjutkan sampai beberapa bulan lagi. Satu bulan waktu yang terlalu cepat untuk menyerah."
Gama menatap Aurora, cara pikir mereka sama. Waktu itu ia masih belum mengerti karena terlalu kecil untuk berbuat sesuatu.
"Aku juga mengatakan hal serupa kepada papa. Percuma saja, papa tetap pada pendirian untuk tidak melanjutkan lagi pencarian nenek. Papa seperti yakin jika nenek sudah meninggal."
"Meskipun tak ada jasadnya?"
Gama terdiam, ada kondisi di mana ia tidak boleh terlalu jauh dalam mengambil langkah.
Aurora menggenggam tangan Gama. Menjadi semakin penasaran.
"Kalau kamu sendiri merasa bahwa nenek masih hidup, kenapa tidak kamu yang mencari secara diam-diam? Apa kamu tidak curiga, kalau di hari itu nenekmu tidak menaiki pesawat karena diculik? Bisa saja kan. Ada orang yang mendendam salah satu orang di keluargamu. Tidak ada yang tidak mungkin."
Dalam hati Aurora menyatakan jika dia adalah salah satu maut mereka. Senang sekali jika ternyata ada orang lain ikut bermasalah dengan keluarga Nugraha.
"Aku tidak punya hak untuk itu." Gama tiba-tiba berbicara datar dan kembali melanjutkan makan.
Dahi Aurora mengerut, apa maksud dari ucapan Gama? Kenapa tidak punya hak melakukan pencarian terhadap neneknya sendiri?
"Kamu cucunya, kamu berhak untuk melakukan pencarian tanpa sepengetahuan papamu."
"Sayang, aku mohon jangan terlalu ikut campur, kamu boleh mengetahui tentang keluargaku untuk lebih mengenal tapi bukan berarti semuanya harus diceritakan. Tolong jangan memaksa. Maaf kalau kamu tersinggung."
Atmosfer seakan berubah. Aurora harus menahan diri untuk memulihkan suasana yang mulai tidak enak. Meski banyak pertanyaan menyelinap dari perkataan Gama, ia harus bersabar untuk mengetahui secara perlahan-lahan.
"Maafkan aku sayang. Baiklah, kalau begitu kita berhenti membahas nenek. Bagaimana kalau kita bahas tentang ... aku gak enak ngomongnya tapi aku pengen tahu aja, gak papa sayang?"
Gama terkekeh dan mengacak rambut Aurora gemas.
"Tanyakan saja apapun itu, kalau aku bisa jawab, bakalan aku jawab."
Huh! Gama tidak tahu saja jika Aurora hanya berpura pura sungkan.
"Tentang tante Salena dan Freya. Apakah sampai detik ini papamu masih mengenang mereka?"
Gama yang telah selesai menghabiskan makanan, menegak air minum sampai tandas.
"Kenapa kamu ingin tahu tentang mereka?"
Gawat, Aurora tidak boleh membuat Gama curiga. Ia yang telah selesai menghabiskan roti beserta kue lekas menghadapkan wajah lalu berbicara sangat manja.
"Sayang, saking aku pengen mengenal keluargamu aku sampai menonton video ketika papamu menangis di pemakaman. Hari itu papamu pasti sangat berduka kehilangan dua orang sekaligus dalam kecelakaan.
"Aku sudah menceritakan semua tentang kehidupanku. Aku harap hubungan kita bukan hanya sekedar pacaran tapi sampai pada tahap pernikahan seperti apa katamu. Jadi gak papa kan kalau aku tanya tentang hal itu?"
Gama pernah menanyakan tentang keluarganya, Aurora harus mengarang cerita jika ia adalah yatim piatu sejak kecil. Dan hanya dirawat serta dibesarkan oleh sang bibi.
Gama sejak awal sangat tertarik dengan kemandirian Aurora ditambah wajah cantik natural dengan hidung mancung, kulit putih bersih dan tidak kalah penting adalah kebaikan hati Aurora yang senang berbagi kepada sesama membuat takjub, menyebabkan Gama semudah itu menaruh hati.
Padahal di balik itu semua telah direncanakan olehnya untuk menarik perhatian.
"Iya, tidak masalah. Baiklah aku akan menceritakan sedikit tentang ibu Salena dan Freya."
Inilah yang dinantikan. Meskipun harus menahan geram ingin berteriak bahwa dia dan ibunya masih hidup.
"Hari ketika ibu Salena dan Freya meninggal menjadi hari terburuk bagi papa. Bahkan sampai saat ini, meskipun sudah ada mami bersama papa. Papa masih sering merindukan ibu Salena dan Freya."
"Entah apa yang sangat spesial pada diri mereka sampai papa tak pernah bosan untuk mengenangnya."
Aurora tercekat. Ini tidak seperti yang dibayangkan. Harusnya mudah untuk Elviro melupakan mereka. Kenapa malah menjadi sebaliknya?
"Papa bilang, dia begitu mencintai ibu Salena dan Freya. Bahkan sampai kapanpun akan terus seperti itu. Meski papa sangat merindukan ibu Salena dan Freya. Sekalipun papa tidak pernah mau diajak ziarah ke makam mereka."
Aurora terkejut mendengar jika Elviro tidak pernah mau ziarah ke pemakaman. Ia menertawakan diri sendiri mudah sekali untuk terpengaruh. Elviro pasti telah membohongi Gama dengan memainkan peran sebagai suami yang mencintai istri dan anaknya.
"Cerita palsu dan kuburan palsu. Sekali seseorang berbohong maka akan kembali berbohong agar tidak terbongkar. Aku terlalu berharap jika Elviro baik. Sadar Aurora dia lelaki yang telah memberikan penderitaan," rutuknya dalam hati.
"Kenapa papamu tidak mau ke pemakaman mereka?"
"Aku juga tidak tahu, sepertinya papa tidak ingin kembali mengingat kematian ibu Salena dan Freya."
Aurora mengepalkan tangan, setiap kali dikatakan telah meninggal, ia harus berusaha menahan kekesalan agar tidak tumpah.
Gama melirik arloji di pergelangan tangan.
"Ya ampun sayang, gak kerasa udah jam delapan aja, aku sudah telat banget ke kantor nih. Aku langsung berangkat ya. Kamu mau barengan?"
Aurora dengan cepat menggeleng. Mana mungkin berangkat bersama Gama. Sekarang ada hal yang ingin dilakukan.
"Tidak sayang, tempat kita gak searah, aku gak mau nanti kamu malah makin telat. Aku agak siangan ke butik."
"Yaudah sayang, aku langsung berangkat ya."
"Iya, hati-hati di jalan."
Gama mengangguk. Aurora mengantarkan sampai teras. Selepas kepergian Gama, ia mengeluarkan ponsel dan menelepon seseorang bernama Vezha.
"Halo, Vezha. Aku mau kamu mencari seorang perempuan penggoda cantik dan masih muda, berapapun akan kubayar dia. Selidiki juga keseharian Elviro serta Hazel dan dapatkan nomor mereka berdua."
Wajah yang tadi banyak tersenyum kini berubah tajam dan nampak beringas, sisi kelembutan beberapa detik lalu telah hilang, hanya kedataran dan ekspresi tak terbaca.
Anda Mungkin Juga Suka





