
Ragu yang Berujung Temu
Bab 3
Mikha segera menjabat tangan Kholifah setelah sampai di sekolah. Kebetulan Kholifah sudah datang lebih dulu dan tengah menunggunya di depan gerbang.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Kholifah yang hanya dibalas dengan anggukan oleh Mikha.
Kemudian, keduanya segera memasuki ruang guru dengan langkah terburu-buru. “Assalamualaikum, Bu. Maaf banget nih aku telat,” ucapnya sambil menyalami para guru yang sudah lebih dulu datang.
“Nggak apa-apa, pengantin baru kan memang sering bangun kesiangan.” Kekehan kecil terdengar dari salah seorang di antara mereka. Sedangkan Mikha berusaha mengendalikan gemuruh dalam hatinya sebelum wajahnya semakin merona. Dia juga harus segera menyiapkan beberapa keperluan untuk mengajar.
Di dalam ruangan yang tidak seberapa lebar itu terdapat dua lemari yang terbuat dari kayu jati berpoles cat berwarna cokelat tua. Salah satu lemari terisi dengan dokumen-dokumen sekolah termasuk rapor siswa. Sedangkan yang satu lagi berisi penuh mainan. Seperti biasanya, Mikha mendekati lemari yang berisi mainan, mengambil beberapa buku gambar yang kebetulan terletak pada kotak teratas. Kemudian, dia membuka buku gambar tersebut satu per satu untuk mencari lembar kosong yang akan digunakan.
“Hari ini materinya tentang hewan yang hidup di air, kan?” Kholifah menyodorkan potongan kertas berpola ikan kepada Mikha.
“Iya, Lif, sepertinya kita selalu sama pembahasannya? Atau kamu udah masuk tentang tanaman?” Mikha segera meletakkan satu potongan kertas berpola ikan itu pada setiap buku gambar. Masing-masing murid akan mendapatkan satu pola yang sama.
“Iya sama, kok. Oh iya, tumben tadi kamu berangkat bareng Salwa? Biasanya dia diantar ibunya.”
Mikha mengangguk sambil tersenyum. “Tadi ketemu di jalan,” jawabnya. “Alhamdulillah, cukup gambarnya. Yuk masuk udah waktunya buat salat Duha.”
“Eh iya nih, anak-anak juga udah nungguin.” Kholifah lebih dulu beranjak meninggalkan ruangan, lalu mengajak muridnya berbaris di depan kelas sebelum masuk.
“Lif, pulang sekolah nanti kita ke warung bakso Bu Nani dulu, ya? Aku mau cerita,” pinta Mikha sambil berlalu di hadapan Kholifah. Setelah itu Mikha menghampiri murid-murid kelasnya yang sudah berbaris rapi. Kemudian, mempersilakan salah satu muridnya yang bertugas untuk memimpin barisan.
“Murid Syifatun Najjah, ambil antara!” Suara itu terdengar melengking—aba-aba agar seluruh murid berbaris dengan tertib.
“Siaaap!” Seluruh murid menjawab dengan serempak, lalu mereka mengambil posisi lurus.
Hari ini adalah jadwal Salwa untuk memimpin. Perempuan cantik itu tampak menyelisik satu per satu temannya yang sedang meluruskan tangan—menyentuh bahu teman lain yang berada di depannya.
“Tegaaaak! Nyanyikan lagu mars Syifatun Najjah!” perintahnya lagi.
Kemudian, seluruh murid menyayinyan lagu mars sekolah dengan begitu riangnya. Sedangkan Mikha masih berdiri di sebelah kanan Salwa, menunggu dan mengamati murid-muridnya yang sedang bernyanyi.
“Anak-anak Ibu yang tersayang, yuk kita masuk kelas dengan berurutan!” ucap Mikha setelah seluruh muridnya selesai bernyanyi. Dengan sedikit menggeser posisi berdirinya, Mikha mempersilakan satu per satu dari mereka untuk memasuki ruang kelas.
“Buruan pakai mukena! Kamu juga pakai kopiah! Buruan! Bu Mikha udah mau masuk tuh.” Salwa mengkoordinir teman-temannya untuk segera berpakaian rapi agar salat Duha bisa segera dilaksanakan. Tidak lama berselang, Mikha turut memasuki kelas, lalu memakai mukena putihnya. Dia melangkah ke barisan paling depan untuk menjadi imam salat Duha.
Setelah beberapa menit kemudian akhirnya kegiatan salat sebelum memulai pelajaran pun telah selesai. Mikha segera duduk menghadap murid-muridnya dengan senyuman paling manis yang dia miliki. Mikha tahu bila anak-anak seusia muridnya ini sangat menyukai rona wajah yang semringah, meneduhkan, dan tentu penuh kehangatan. Itulah sebabnya Mikha tetap terlihat baik-baik saja bila sudah berhadapan dengan peserta didiknya.
“Alhamdulillah murid-murid Ibu memang pintar, salatnya sudah rapi dan nggak berisik seperti teman-teman lainnya. Nanti setelah berdoa, Ibu akan memberikan pelajaran yang seru, lho! Sekarang ayo kita angkat kedua telapak tangannya dulu terus baca doa bersama.” Mikha segera mengangkat kedua telapak tangannya untuk memberikan contoh. Setelah itu dia langsung memimpin doa. Dengan antusias semua murid mengikuti kalimat yang Mikha ucapkan. Mereka sama-sama membaca doa setelah selesai salat duha sekaligus doa untuk kelancaran proses belajar pada hari itu.
Selepas berdoa, Nina yang tampaknya sudah tidak sabar pun mulai bertanya, “Ibu, hari ini kita belajar tentang apa?”
“Kemarin kan pelajaran tentang hewannya belum selesai. Iya kan, Bu?” timpal Salwa untuk memberi tahu tema-temannya.
“Iya, Salwa,” jawab Mikha lembut. “Yuk duduk dulu yang rapi!”
Mikha sudah meletakkan mukenanya kembali ke dalam tas seusai berdoa dan diikuti oleh murid-murid lain. Lantas mereka semua segera duduk di tikar yang sudah terhampar. TK Syifatun Najjah bukannya tidak punya kursi, hanya saja murid-muridnya lebih suka duduk melingkar di tikar agar leluasa bergerak daripada di kursi yang ruang geraknya terbatas.
Berselang beberapa menit, Mikha segera membuka pertemuan kali itu. “Assalamualaikum, Anak-anak. Bagaimana kabarnya hari ini?”
“Waalaikumsalam, Bu. Alhamdulillah, sehat, luar biasa, Allahu Akbar.” Masih seperti biasanya, mereka sangat semangat untuk menjawab salam. Binar keceriaan terpancar dari wajah-wajah polos itu. Momen seperti inilah yang Mikha suka, dia tidak akan pernah kehabisan kebahagiaan bila sedang bersama mereka.
“Hari ini kita akan melanjutkan pelajaran tentang hewan, ya. Nah, hewan yang hidup di air itu ada apa saja sih?” tanya Mikha, dia melakukan metode pengulangan supaya murid-muridnya tidak melupakan pelajaran hari kemarin.
“Ada ikan, gurita, dan anjing laut, Bu,” jawab Kevin semangat.
Tidak mau kalah, Reihan menimpali jawaban Kevin. “Ada kuda laut juga kok, kemarin aku lihat gambarnya.”
“Anak-anak Ibu pintar banget, sih. Semua yang kalian sebutkan itu memang benar. Tapi, hari ini kita akan belajar tentang ikan, ya?” Dengan hati-hati Mikha membagikan buku gambar yang sudah dia persiapkan sebelumnya. Kemudian, dia juga membagikan lem berdasarkan kelompok yang sebelumnya telah ditentukan.
“Boleh diwarnai kan, Bu, setelah nempelin ini?” tanya Salwa sambil mengangkat buku gambar dan potongan kertas berpola ikan miliknya.
“Boleh asal tidak rebutan,” jawab Mikha dengan halus. Entah mengapa, para murid selalu mudah dikondisikan jika diatur oleh Mikha. Menyadari hal tersebut, pikiran Mikha kembali berkecamuk. Andai kemampuan bicaranya itu dapat memengaruhi hati suaminya sedikit saja, mungkin suasana rumah akan terasa lebih hidup dan hangat. Sabar! Itulah satu-satunya hal yang terus dia tanamkan dalam hatinya sampai sekarang. Dia tidak ingin menyerah dengan rumah tangganya yang baru seumur jagung itu.
Sekarang Mikha harus lebih fokus membimbing murid-muridnya. Mengajari mereka cara mewarnai yang baik dan juga membantu mereka mengeja kalimat ‘i-k-a-n’ dengan benar, begitulah kewajibannya. Menjadi guru TK bukan suatu hal yang gampang, Mikha harus menyesuaikan dengan mood murid-muridnya dan telaten momong agar mereka tidak menimbulkan keributan.
Akan tetapi dia tidak pernah kesulitan untuk melakukannya. Mikha bahkan menjadi guru yang paling dekat dengan setiap murid yang bersekolah di TK Syifatun Najjah. Hal itu pula yang membuat Mikha terus berharap suatu saat nanti dia juga bisa meluluhkan hati suaminya. Dia ingin pernikahan benar-benar menuntunnya ke surga. Jadi, sudah pasti Mikha akan lebih banyak bersabar lagi dalam meniti jalan hidupnya.
Anda Mungkin Juga Suka





