Sampul Novel Ragu yang Berujung Temu

Ragu yang Berujung Temu

9.0 / 10.0
Dalam romance novel Ragu yang Berujung Temu, Mikha terjebak antara cinta lama Khalil dan Malik. Setelah memilih menikah, ia justru menghadapi malam pertama tanpa sentuhan dan ancaman cerai. Mikha harus berjuang mempertahankan rumah tangganya di tengah hadirnya wanita lain dalam modern novel ini.
Ringkasan Ragu yang Berujung Temu
Mikha terjebak dilema antara Khalil, cinta lamanya selama sedekade, dan Malik, pria baru yang memikat hatinya. Saat keduanya melamar, Mikha harus memilih demi menghindari luka yang lebih dalam. Namun, pernikahan yang ia jalani justru hambar tanpa kasih sayang sejak malam pertama. Di tengah ancaman perceraian dan badai rumah tangga, muncul wanita lain yang mencoba merebut suaminya. Mikha kini berjuang mempertahankan komitmennya sambil menanti sebuah keajaiban muncul.
Baca Selengkapnya

Ragu yang Berujung Temu Bab 1

Mikha duduk di ranjang dengan kedua telapak tangan bertumpu pada paha. Bulir bening masih melekat pada pipi meronanya. Dia terguguk mendengar omelan lelaki kurus berkopiah hitam yang baru saja menyelesaikan salatnya. Entah apa yang dipikirkan lelaki itu hingga selepas ibadah pun dia tetap bermuram durja.

Mikha masih menunggu apa yang akan lelaki tersebut ucapkan setelah berulang kali menuduhnya menduakan cinta. Akan tetapi isakan Mikha tidak kunjung mereda, walaupun sebenarnya bukan itu yang ingin dia lakukan. Dia tahu, seorang istri seharusnya menjelma sebagai bidadari surga ketika berada di dalam rumahnya. Sayangnya kali ini Mikha tidak dapat berbuat banyak selain menunduk untuk menyembunyikan air matanya sembari menanti apa pun yang akan suaminya lakukan atau pun katakan.

“Mikha, bisakah kamu mendengarkanku?” tanyanya sembari melirik ke arah Mikha.

Mikha lantas mendongak, menatap kedua mata lelaki yang tengah membenahi kopiahnya itu. Benar yang telah dia duga, hal seperti ini pasti akan terjadi. “Ada apa, Mas?” jawabnya lirih, degup jantungnya seperti saling berkejaran hingga menimbulkan sesak pada dada.

“Dengarkan aku, Mikha. Apa yang akan aku katakan ini adalah sebuah peringatan untukmu.” Lelaki itu terlihat menahan napasnya untuk sesaat. “Aku tidak akan menggaulimu selama hatimu belum bersih dari laki-laki lain!” lanjutnya terus terang, lalu beranjak menuju ruang tengah.

Sungguh perkataan itu sangat melukai perasaan Mikha. Air mata perempuan berhijab itu semakin tidak terbendung. Jilbabnya yang panjang, basah. Bibirnya bergetar, ingin menjawab tetapi mulutnya tidak kuasa bersuara. Sia-sia sudah usahanya untuk meluluhkan hati suaminya. Padahal, dia telah menghabiskan waktu hampir setengah hari untuk menyulap kamarnya serapi dan seindah mungkin mengingat mereka adalah pengantin baru. Sayangnya lelaki yang sudah menikahinya itu tidak akan tinggal di dalam kamar mereka lagi mungkin untuk hari itu, atau juga dengan hari-hari berikutnya. Entahlah! Mikha tidak bisa menduganya.

Akan tetapi Mikha merasa dirinya perlu kembali memperjuangkan rumah tangganya. Bagaimana pun dia baru saja memulai kehidupan barunya.

Karena tidak ingin keadaan semakin buruk, Mikha memutuskan untuk lekas bangkit, lalu mengusap air mata dan menyusul suaminya yang kini sudah berkacak pinggang membelakanginya.

“Mas, aku ingin menjelaskan—”

“Tidak, Mikha! Kamu tidak perlu menjelaskan apa pun lagi kepadaku,” potongnya dengan cepat dan tegas.

Setelah mendapatkan bentakan, Mikha segera merendahkan tubuh di belakang punggung lelaki yang terbalut kemeja biru itu, lalu tangannya memeluk erat kedua lutut suaminya. “Apa aku terlihat seperti perempuan yang sudah menduakan suaminya?” Mikha berusaha membuat pernyataan di balik pertanyaannya. Dia berharap ada seutas tali kepercayaan yang akan suaminya berikan.

“Menurutmu sendiri bagaimana? Sudahlah Mikha, aku tidak sebegitu membencimu hingga harus membuatmu memohon di kakiku. Yang kuminta hanyalah kesucian hatimu. Jangan pikir aku tidak tahu. Sekarang berdirilah! Aku tidak akan kasihan padamu.” Lelaki kurus itu mencoba mengentakkan kakinya agar terlepas dari dekapan Mikha.

Perasaan Mikha seperti tercabik-cabik. Bagaimana bisa suaminya tidak memiliki belas kasih seperti itu? Bahu Mikha semakin berguncang naik turun seiring menetesnya air mata, dia menyerah untuk yang kesekian kalinya setelah mendengar ultimatum suaminya. Mikha tidak mau berdebat. Dengan berat hati disudahinya permohonan yang terabaikan itu, lalu menjauh dari kedua kaki suaminya dan segera beranjak pergi.

“Aku ingin sendiri di sini, masuklah ke kamar! Tidak perlu menyelimutiku jika aku tertidur di sofa,” pintanya dengan nada memperingati.

“Baiklah, Mas. Aku akan menurutimu,” jawab Mikha lirih, walaupun hatinya enggan menyetujui.

Mikha memang harus menurut dan mengabaikan perasaannya yang sakit. Bagaimana bisa suami istri pisah ranjang sejak malam pertama. Bagaimana Mikha bisa hamil dan memberikan cucu seperti yang kedua orang tuanya harapkan sedangkan setiap malam suaminya tidak pernah menyentuhnya? Padahal, dia berharap pada malam pertama pernikahan, keningnya akan dikecup dengan lembut, lalu pakaian yang membalut tubuhnya akan terlepas satu per satu dengan penuh gelora cinta. Sesungguhnya hal tersebut merupakan harapan yang wajar bagi pengantin baru, terlebih karena usia pernikahan mereka baru tiga minggu. Namun, kenyataan manis yang selama ini dia dambakan hanya berbalas kepahitan.

“Mengapa kamu berubah, Mas? Bukankah dulu kamu berjanji akan memuliakanku sebagai seorang istri setelah kita menikah? Apa salahku kepadamu?” tanya Mikha pada dirinya sendiri. Kini dia kembali menginjakkan kakinya pada ruangan beraroma mawar itu—kamar pengantin, tanpa suaminya lagi. Entah sampai kapan akan seperti itu.

Kini tubuh langsing yang terbalut gamis berwarna merah muda itu terbaring di kasur. “Aku tidak bisa begini, seorang istri seharusnya tidak cengeng, aku harus kuat!” tuturnya, menguatkan hati yang masih teriris pilu.

Mikha mengusap pipinya yang basah. Kemudian, dia meraih pigura berisi foto pernikahan yang terletak di atas nakas. Sepasang mempelai berbusana hijau toska tampak serasi di sana. Mikha ingat betul bagaimana dia berjalan dengan iringan selawat Mahalul Qiyam. Saat itu kedua lengannya digandeng oleh orang tuanya, sedangkan keluarga yang lain berjalan iring-iringan di belakangnya. Mereka berjalan menuju musala yang kebetulan berada tidak jauh dari rumah. Dari arah yang berlawanan, keluarga mempelai pria berjalan dengan binar kebahagiaan yang serupa. Beberapa di antara mereka membawa oleh-oleh yang akan diberikan kepada keluarga mempelai perempuan. Momen yang sangat manis.

Mereka dipertemukan di dalam musala dengan kedua mempelai duduk bersisihan di hadapan penghulu. Mereka melangsungkan prosesi ijab kabul dengan khidmat. Sampai pada akhirnya para saksi berkata “sah” resmilah sudah keduanya menjadi suami istri. Rona bahagia terpancar dengan jelas. Saat itulah Mikha merasakan kecupan pada keningnya untuk yang pertama kalinya.

Hari itu kebahagiaan seolah-olah tidak akan pernah berakhir. Doa-doa dari para tamu undangan terucap silih berganti. Senyum semringah tiada pudar. Tatapan hangat terihat jelas, mereka bahkan sempat mengucap janji untuk saling mencintai seumur hidup di antara lelahnya berpose untuk foto. Namun, siapa sangka jika kebahagiaan yang tampak akan langgeng itu hanya berlangsung sehari saja. Malam pertama pengantin yang katanya akan penuh dengan gelora asmara ternyata malah berubah menjadi menakutkan. Bukan pelukan hangat yang Mikha dapat setelah selesai membersihkan diri, melainkan sebuah pertanyaan yang lebih condong pada penuduhan. Dan pada malam pertama itu pula suaminya mulai memilih tidur di sofa dibandingkan harus berada satu ranjang dengannya. Seolah-olah dia telah melakukan perbuatan zina hingga terlihat kotor di hadapan suaminya.

“Ya Allah, apakah aku sudah berbuat kesalahan yang sangat hina hingga Engkau memberi ujian seperti ini?” Mikha meneteskan air mata. Dia tidak kuasa lagi untuk mengingat kebahagiaan singkat itu. “Apakah masih ada cinta untukku di hatinya setelah dia mempertanyakan siapa lelaki yang ada dalam hatiku?” Mikha semakin terguguk. Tubuhnya terasa lelah hingga akhirnya dia terlelap.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Ragu yang Berujung Temu

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Bersama Kita Bangkit Dari Abu
8.0
Dalam kondisi hamil tua, mobilku ditabrak truk secara sengaja. Saat sekarat, aku menghubungi suamiku, Kian, namun ia justru mengabaikanku demi keluhan sakit kepala Florence. Pengkhianatan itu berujung tragis: bayi kami tewas dan kakakku kehilangan karier pianisnya selamanya. Kini, duka berubah menjadi amarah yang membara. Kian menganggap kami sampah, namun ia tak sadar bahwa kami akan bangkit dari kehancuran ini untuk menuntut balas atas semua penderitaan kami.
Sampul Novel Dihapus oleh Kebohongan dan Cintanya
9.8
Sepuluh tahun berkorban demi Baskara, Aria justru dibuang saat sang suami sukses. Demi Aurora, investor barunya, Baskara menghapus eksistensi Aria dan mengurungnya di gudang gelap meski tahu fobia yang dideritanya. Puncaknya, Baskara membiarkan Aria disiksa penculik demi menyelamatkan Aurora. Dalam kehancuran, Aria menghubungi Tante Evelyn, pengacara tangguh yang siap menjemputnya dengan jet pribadi untuk menuntut balas atas segala pengkhianatan ini.
Sampul Novel Misteri Hutan Gondoriyo: Perjalanan Malam yang Mencekam
8.5
Seorang pria terjebak dalam kengerian Hutan Gondoriyo setelah tersesat saat menjelajah. Di tengah fenomena ghaib kendaraan yang raib, ia bertemu pasangan lansia misterius di sebuah pondok terpencil yang memberinya peringatan. Meski berhasil pulang, rasa penasaran membawanya kembali, namun hutan itu seolah lenyap. Hubungan gelap antara kecelakaan bus di jurang dan misteri hutan ini mulai terkuak, memaksanya mempertaruhkan nyawa demi mengungkap kebenaran yang menghantui.
Sampul Novel My Prince Fauzan
8.2
Fauzan Arsyad adalah putra mahkota Kerajaan Arab yang sempurna, tampan, dan sukses berbisnis di usia muda. Sebagai calon raja, ia terikat aturan ketat untuk tidak mencintai gadis biasa karena jodohnya ditentukan oleh kerajaan. Meski bersikap lembut, Fauzan tetap dingin demi menjaga jarak dari para wanita yang memujanya. Kini, dunia menanti siapa sosok beruntung yang akan melamarnya. Akankah takdirnya jatuh pada seorang putri bangsawan atau justru gadis kalangan biasa?
Sampul Novel Rahasia Dalam Dendam
8.4
Selama dua puluh empat tahun, Aurora dan ibunya hidup dalam penderitaan mendalam. Kini, ia bertekad menuntut balas dengan misi tunggal: menghabisi nyawa ayah kandungnya sendiri. Namun, di tengah aksi nekat tersebut, berbagai rahasia kelam mulai terungkap satu demi satu, mengguncang keyakinannya. Akankah Aurora tetap teguh pada niat mautnya saat kebenaran terkuak? Ikuti perjuangan penuh aksi dan misteri ini dalam menuntaskan sebuah dendam masa lalu.
Sampul Novel Rumah Tanpa Buah Hati
9.3
Alice kerap menatap sendu anak-anak tetangga yang bermain di depan rumahnya. Baginya, keriuhan itu adalah pelipur lara di tengah kerinduan akan hadirnya buah hati. Namun, kebahagiaan sederhana itu sering terusik oleh bayang-bayang sindiran tajam ibu mertuanya. Konflik terus memanas karena sang mertua kerap menolak bertemu jika Alice belum menimang anak. Di tengah kucuran air mata, Alice harus menghadapi tekanan batin akibat tuntutan keluarga yang kian menghimpit.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan